
Syam diam menunggu Naina masuk ke kamar, sebuah informasi yang dia dapat dari Kabir membuat Syam berpikir keras.Apa Mirza yang pernah bertunangan bahkan hampir menikah dengan Naina masih memiliki perasaan kepada Naina yang sudah menjadi istrinya sekarang? pantas saja Mirza sangat perhatian kepada Naina bukan hanya sekedar kepada adik ipar tapi sebelumnya Naina pernah berhubungan dengannya.Syam menoleh saat pintu terbuka,Naina membawa secangkir kopi untuk suaminya.Kopi susu yang diminta suaminya hari ini.
”Nai kemari"pinta Syam dan Naina mengangguk,Naina meletakkan kopi di atas meja lalu mendekati Syam yang sedang duduk di kursi yang sudah di tambal oleh bantal dan merasakan semilir angin segar dari jendela yang terbuka lebar itu,dari kamar Naina Syam bisa langsung melihat sawah yang terhampar luas.Udara segar alami dan tidak memerlukan AC.
”Kamu masih suka sama Mirza?"Syam bertanya,dahi Naina terlihat mengerut mendengar pertanyaan Syam.
”Apa?"bingung.
”Kamu jujur aja"Syam menatap Naina lekat.
Dari mana Syam tahu?Naina bertanya-tanya.Masa lalunya dan Mirza hanya angin lalu,yang sama sekali tidak perlu dipertanyakan suaminya,apa Syam benar.perduli padanya? Naina tersenyum tipis dan tak kunjung menjawab pertanyaan Syam.
"Jawab Nai”titah Syam.
”Kita sudah menikah,sama sekali gak pantas menanyakan hal seperti itu mas.Itu masa lalu”lirih Naina."Aku mau ke dapur lagi”Naina pamit,Syam meraih tangan Naina dan menariknya membuat istrinya jatuh ke pangkuannya.
”Diam Nai"Syam sudah tidak tahan lagi dan terus memeluk Naina dalam pangkuannya.Syam berusaha menahan hasratnya,semakin hari dia semakin sadar jika istrinya sangat baik, lembut,dan sangat cantik.
”Mas”Naina akhirnya diam.
”Jawab pertanyaan ku tadi Naina,aku gak mau kamu berbohong.Aku suami kamu"lirih Syam dan menghirup aroma tubuh Naina,sangat segar dan Naina memang selalu memakai parfum favoritnya.
”Jujur,aku sedang berusaha melupakan mas Mirza.Dan sedang berusaha menerima kamu mas, karena kamu suamiku"lirih Naina, berbicara dengan suara gemetar takut Syam marah,Syam diam dan menancapkan dagunya di bahu Naina.
”Beneran?"Syam bertanya dan Naina mengangguk,entah kenapa Syam merasa senang dan kesal mendengarnya.Berarti selama ini Naina benar-benar berkorban untuk Husna,dan tidak ada yang memikirkan perasaan Naina istrinya dirumah tersebut.
”Mas,aku boleh pergi kan?”Naina menutup matanya rapat-rapat,Syam semakin mengeratkan pelukannya.Lengan Syam menyenggol buah dada ranum nya berulang kali,Naina benar-benar gugup dan tidak tahu harus melakukan apa.Dia tidak bisa menolak sekaligus ingin pergi sekarang juga.
”Aku sedang memeluk kamu Nai,diam sebentar"Syam menutup matanya.Naina ternyata sangat mampu menghangatkan tubuhnya,tubuh Naina sangat empuk dan Syam terus tersenyum sementara Naina gugup dan takut.
*****
__ADS_1
Di Jakarta,di rumah orang tua Syam suasana tegang terjadi saat Amira datang dan marah kepada keluarga Syam.Amira terus berteriak dan memanggil Syam,dia tidak tahu jika Syam sudah menikah dan sekarang masih sibuk di kampung bersama istrinya.
”Kamu sama sekali gak sopan Amira, bicarakan baik-baik jangan berteriak.Telinga saya pusing dengerin teriakan kamu"ketus nenek Wilda dan Amira tersenyum kecut.
”Aku cuma mau ketemu sama Syam nek,tolong bilang sama aku Syam dimana?"Amira memaksa,dia tidak mau kehilangan Syam.Dia sangat mencintai Syam, walaupun Syam hanya melihatnya sebagai gadis cantik dan seksi.Syam tidak pernah mencintai gadis manapun dengan tulus, dia hanya bermain-main dengan semua gadis.
”Syam gak ada,dia masih di rumah mertuanya di kampung.Hubungan kamu sama Syam sudah berakhir kan?aku juga tahu karena Syam bilang sama aku sebelum dia menikah"tutur Tari dan Amira terdiam,Tari menatap Amira sinis agar gadis itu segera keluar dari rumahnya.
”Menikah?Syam sudah menikah mbak?"tanya Amira seraya melangkah mendekati Tari.
”Iya,kamu terima aja.Kalian gak berjodoh Amira”Nuri menepuk bahu Amira dan Amira benar-benar syok,dalam bayangannya pasti Syam dan istrinya sedang bersenang-senang, menikmati malam bersama,saling bercumbu mesra dan seterusnya.
”Dasar gak sopan”maki nenek Wilda,Amira pergi meninggalkan rumah Syam tergesa-gesa.
****
Malam hari tiba,Rangga sedang menatap langit gelap bertabur bintang.Rangga benar-benar sedih karena gadis yang akan dia lamar lebih dulu sudah menikah dengan Syam.
”Perempuan yang aku maksud waktu itu,sudah menikah nek"lirih Rangga begitu sedih tapi dia tetap tersenyum tipis.
”Hah? kenapa begitu nak?dia ninggalin kamu?"nenek Rangga terkejut.
”Bukan nek, sebenarnya aku belum pernah mengutarakan maksud aku sama guru itu.Aku kira dia belum menjalin hubungan serius dengan siapapun.Eh tahu-tahu nya dia sudah menikah sekarang hehe”Rangga tersenyum tipis,dia benar-benar sedih dan neneknya merangkul pinggang nya.
”Sabar, berarti dia bukan yang terbaik buat kamu.Nenek yakin,masih banyak perempuan cantik dan baik diluar sana.Sabar"imbuhnya menenangkan sang cucu,dan Rangga tersenyum.
*****
Miko dan Amira sedang berada di sebuah restoran,Miko melirik orang-orang yang memperhatikannya dan Amira.Lebih tepatnya mereka terganggu dengan suara isakan tangis Amira, Amira mengajak Miko bertemu agar ada yang menemaninya.Miko dan Amira juga berteman sejak sekolah,Amira dan Syam saling mengenal lewat Miko.
”Mir,udah jangan nangis terus”pinta Miko lalu meraih tangan Amira di atas meja, sejujurnya.Miko memiliki perasaan untuk Amira,tapi karena keduanya berteman cukup lama,Miko takut perasaannya malah akan membuat Amira marah padanya.
__ADS_1
”Aku sakit hati hiks...”Amira terus menangis.
”Iya aku tahu,tapi jangan terus menangis begini.Masih banyak laki-laki yang suka sama kamu dan kamu pasti akan bahagia Amira”Miko sedih dan menatap Amira lekat.
”Aku gak bisa,aku cuma sayang dan cinta sama Syam”Amira tetap bersikukuh."Aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu,aku pastikan dia akan di ceraikan oleh Syam.Kamu mendukung aku kan Miko"Amira mengenggam tangan Miko dan Miko menelan salivarnya kasar,Miko mengangguk walaupun takut Amira melakukan hal yang mustahil untuk membuat Syam kembali padanya.
****
Hari ini Naina dan Syam akan kembali ke Jakarta,Syam sedang memanaskan mesin mobilnya.Pak Fahmi dan istrinya merasa berat untuk melepas kepergian keduanya,rumah akan sepi lagi dan hanya Kabir yang ada.
”Kamu jaga diri baik-baik disana, turuti semua ucapan suami kamu ya nak"lirih pak Fahmi dan Naina mengangguk,kedua mata Naina merah dan berair.Dia sering pergi dan tinggal jauh dari keluarganya,namun pergi meninggalkan rumah sebagai seorang isteri dan seorang menantu benar-benar terasa berbeda.Syam mengeluarkan uang untuk adik iparnya Kabir, Kabir merasa senang karena mendapatkan uang jajan.
”Makasih bang"seru Kabir dan Syam mengangguk.
”Jaga diri baik-baik,ibu dan bapak sudah tidak sabar ingin mendengar kabar baik nak"lirih Bu Ratna,Naina dan Syam saling melirik.Keduanya paham apa yang dimaksud oleh Bu Ratna,kabar baik yaitu kabar kehamilan Naina nanti.
”Hamil apanya,aku lihat saja belum.”Syam bergumam.
”Iya Bu,ibu dan bapak jaga diri ya.Nai bakal menelepon kalau sudah sampai di rumah orang tua mas Syam nanti"Naina tersenyum lalu memeluk ayahnya,Naina menangis tersedu-sedu dan Syam menggeleng kepala.
Syam dan Naina menyalami tangan pak Fahmi dan Bu Ratna,Syam berpelukan dengan Kabir.Kabir cukup nyaman untuk di ajak bicara,dan Syam menjadi tidak terlalu bosan selama di rumah Naina.Syam membuka pintu mobil dan Naina masuk,pak Fahmi dan Bu Ratna tersenyum melihat keduanya.
”Kami pamit Bu, assalamualaikum"seru Syam lalu masuk ke dalam mobil.
”Waalaikumsalam"seru orang tua Naina dan adiknya.
Naina tidak berhenti menangis,dan terus melihat ayah ibu dan adiknya.Mesin mobil menyala,Syam menekan klakson mobil lalu mobil melaju meninggalkan pelarangan rumah mertuanya.Naina menatap keluar kaca mobil,Syam meliriknya berulang kali sambil mendengus sebal.
”Kenapa nangis terus Naina,kamu sudah biasakan jauh dari keluarga kamu"ketus Syam.
”Kalau kamu gak bisa bicara baik-baik, mending kamu diam mas"timpal Naina lalu mengusap air matanya dan Syam mendelik sebal.
__ADS_1