Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Kecelakaan


__ADS_3

Hari ini, Naina sedang diperjalanan menuju ke kantor, dia diantar supir. Naura tidak mau ikut dan sibuk bermain dengan kakek, nenek dan kakek buyutnya di rumah. Naina panik saat melihat kemacetan terjadi, supir pun menghentikan mobil.


”Kenapa pak?” tanya Naina.


”Ada kecelakaan kayaknya Bu, macet. Kita putar balik aja” jawab supir.


”Enggak, saya mau naik taksi, jalan kaki lewat trotoar bisa kok. Putar balik lama, sebentar lagi jam istirahat kantor, pak Uwais sudah nungguin saya” ujar Naina dan supir panik.


”Jangan Bu, nanti saya kena masalah” memohon dan Naina menggeleng kepala.


”Saya mau turun, justru kalau kamu menolak kemauan saya. Saya bisa minta bapak buat mecat kamu” tegas Naina, dia terpaksa mengancam seperti saat Uwais mengancam seseorang, selalu dengan nada seperti itu. Supir akhirnya membuka pintu mobil dan Naina turun, Naina terus melangkah dan supir memperhatikannya. Tidak ada pilihan lain, supir pun menelepon Zidan atas kemauan Naina yang mendadak turun dari mobil, pak supir berharap masih ada rezekinya bekerja di keluarga Uwais.


Naina terus melangkah, dia berhenti saat melihat kecelakaan tersebut, orang di sekitar tempat kejadian, berbondong-bondong berusaha mengeluarkan korban dari dalam mobil, menunggu sampai ambulance datang. Seorang anak berumur 2 tahun tidak mau keluar, dia malah terus merapat menjauh dan membuat semua orang panik, Naina meletakkan rantang makanan dan berlari mendekati kerumunan tersebut.


”Sayang, ayo nak” seru Naina. Dia gerakkan tangannya dan anak kecil yang berlumur darah itu diam, terlihat begitu syok berat.


”Dia gak mau keluar" seru warga, Naina semakin panik dan akhirnya dia merogoh tas nya, mengeluarkan mainan Naura yang sempat dia masukan tadi. Karena memang niatnya Naura mau diajak.


"Lihat ini, sangat lucu, seperti kamu. Anak manis ayo keluar ya” ajak Naina, semua orang diam saat anak itu menggerakan tangannya. Mulai terbujuk oleh Naina, Naina tersenyum dan memberikan mainan Naura, setelah itu dia masuk sedikit dan merengkuh tubuh anak itu, Naina panik saat melihat baju anak itu tersangkut, berusaha menariknya sangat susah. Anak itu sepertinya ingin keluar tapi bajunya terjepit, kakinya juga terlihat meneteskan darah terus-menerus. Sempat terhimpit bagian body mobil.


”Susah!. Bajunya tersangkut!” teriak Naina. Ada yang menyodorkan gunting dan Naina menerimanya, dia robek baju anak itu secepat mungkin.


Kedua mata Naina membulat, tubuhnya berkeringat dingin, sekelebat bayangan masa lalu terus berputar-putar seperti sebuah komedi putar, Naina merasa pusing. Tubuhnya tiba-tiba di tarik dan Naina mengeratkan pelukannya pada anak itu. Semua orang diminta menjauh, takut terjadinya ledakan. Anak tadi langsung di ambil untuk segera dibawa ke rumah sakit, kerudung hitam dan baju putih Naina berlumuran darah dari anak itu.


”Mbak, mbak kenapa?" tanya seorang wanita. Naina menggeleng kepala, supir tadi belum pergi dan langsung mendekati Naina.


”Kepala saya pusing” ujar Naina kepada wanita itu, tidak lama tubuh Naina terhuyung lemas dan wanita tadi menahannya sekuat tenaga agar tidak jatuh. Pak supir meminta para wanita membantunya membawa Naina ke dalam mobil, Naina akhirnya dibawa menuju ke rumah. Naura diminta untuk dibawa ke kamar agar tidak melihat kondisi ibunya yang berlumuran darah, pak Fahmi panik dan tidak lama dokter datang, supir bergerak cepat menelepon dokter dan Zidan.


Pak Fahmi masuk ke dalam kamar, dokter Farhan langsung memeriksa Naina. Dia khawatir dan ternyata darah itu bukan darah Naina.


****


Uwais datang, dia terjebak macet dan kesal dengan Zidan yang malah salah arah, Zidan panik, dia tegang dan tidak fokus menyetir.


”Dimana Naina?” tanya Uwais saat melihat dokter Farhan.


”Dia pergi ke kamar” jawab bi Astri. Uwais pergi dan semua orang membiarkan keduanya. Sesampainya di kamar, Uwais melangkah perlahan dan memperhatikan Naina, Naina sudah berganti pakaian. Dia menoleh dan tersenyum lebar melihat suaminya.


”Bisa gak sih jangan bikin aku khawatir?” tegas Uwais dan Naina mendekat, begitu juga dengan dirinya.


”Suamiku, Uwais salam” ujar Naina sambil merapihkan kemeja suaminya yang begitu kusut, Uwais mengernyit heran.


”Iya aku suami kamu, kamu kenapa sih sayang?” Uwais merasa kesal sendiri, apa istrinya itu tidak melihat dia panik saat ini.


”Aku mencintaimu” ucap Naina lagi dan Uwais terdiam, setelah Naina hilang ingatan, dia belum pernah mendengarnya lagi.


”Aku juga, mana yang sakit? aku sudah bilang. Boleh ke kantor, tapi jangan turun sembarangan. Kapan kamu nurut sama aku, aku khawatir” tutur Uwais serak.


”Kamu pernah mengirimkan makanan ke ruko, membeli beberapa gamis tapi kamu kasih lagi ke aku, kamu melamar aku dipinggir jalan, kita honeymoon ke Turki, kita maternity, aku ingat. Tapi ada beberapa hal lagi yang sepertinya aku masih lupa” tutur Naina, Uwais terdiam. Dia tatap wajah cantik istrinya lekat, Naina terus tersenyum dan Uwais langsung memegang kedua pipi istrinya.


”Kamu ingat semuanya?” lirih Uwais dan Naina mengangguk.” Kapan? maksud aku, apa yang terjadi. Kamu kecelakaan? mana yang sakit?”


”Aku gak kecelakaan mas, aku melihat kecelakaan tadi"


”Kata supir kamu berdarah-darah, kamu kenapa?”


”Aku gak kenapa-kenapa, itu bukan darah dari tubuh aku. Itu darah dari anak korban kecelakaan. Aku merasa melihat anakku sendiri, aku berharap anak itu selamat. Aku pingsan karena kepala aku tiba-tiba pusing, aku ingat tapi masa lalu aku mas” tutur Naina dan Uwais masih tidak percaya, dia pandangi wajah istrinya itu. Naina tersenyum saat Uwais menciumnya berulangkali, dan terakhir adalah sebuah pelukan erat.


”Alhamdulillah, kamu gak bohong kan sayang?”


”Enggak mas" jawabnya sambil tersenyum dan Uwais tersenyum lebar, kedua matanya berkaca-kaca, dia merasa senang dan bahagia.


Kembalinya ingatan Naina, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk semua keluarga. Khususnya untuk Uwais dan Naura.


******


Hari ini, Syam duduk menyendiri di sebuah taman, menunggu Fatma. Dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melihat anaknya, Fatma bahkan melakukan tes DNA atas Syam dan putrinya, hasilnya terbukti jika Syahira adalah anak kandung Syam, Syam semakin terpukul dan merasa bersalah. Bayinya sekarang sudah berumur 2 bulan, Fatma mengajaknya bertemu untuk memberikan kesempatan Syam melihat anaknya dan memberitahu keputusan terakhirnya.


”Fatma" lirih Syam saat melihat kedatangan Fatma, Fatma yang sambil menggendong Syahira. Syam tersenyum, walaupun senyumannya sama sekali tidak dibalas oleh istrinya itu.


”Fatma, akhirnya kamu datang" ujar Syam dan Fatma mengangguk.


”Kamu sudah menunggu lama mas?” ujar Fatma dan Syam menggeleng kepala.

__ADS_1


”Aku juga baru datang” ujarnya berbohong, dia sudah menunggu satu jam, dia tidak mau Fatma dan bayinya terlalu lama menunggu. Fatma mengangguk lagi sambil tersenyum, Syam mengajaknya duduk dan Fatma memperhatikan tangan Syam yang merangkul bahunya.


”Kamu sudah menerima hasil tes DNA itu mas?” tanya Fatma tanpa menatap Syam. Syam mengangguk mengiyakan, jemari mengelus pipi bayinya lembut.


”Andai kamu memberi aku satu kesempatan, tak akan aku sia-siakan” gumam Syam masih berharap Fatma mengurungkan niatnya.


”Aku minta maaf, sudah meragukan kamu dan anak kita” ucap Syam begitu tulus dan Fatma terdiam terpaku. Belum pernah dia mendengar suara Syam selembut itu.” Jika bisa apa kamu mau memulai semuanya lagi dari awal sama aku? jujur, membayangkan kita berpisah, aku gak sanggup” lirih Syam dan Fatma terdiam.


”Jangan ajukan gugatan perceraian, aku gak mau, beri aku kesempatan untuk enam bulan ke depan, merubah semuanya. Aku akan berubah, jangan tinggalin aku ya” suara Syam berat dan Fatma memalingkan wajahnya.


”Aku janji akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik. Beri aku kesempatan Fatma, aku kangen sama kamu. Syifa butuh kamu, aku butuh kamu dan Syahira. Maafin aku fatma” suaranya semakin serak, di susul dengan buliran air mata yang jatuh membasahi pipinya. Fatma diam memperhatikan, memperhatikan pria yang penuh penyesalan itu. Syahira dalam pangkuannya dia berikan kepada Syam, dan Syam merasa senang bisa menggendong bayi nya.


”Anak ayah” ucap Syam begitu haru. Dia pandangi bayi mungil yang sedang tertidur pulas itu.” Anak kita cantik banget ya” ujarnya kembali sambil menoleh, menatap Fatma. Fatma tersenyum dan Syam terdiam.


”Seperti yang kamu bilang tadi, Syifa butuh aku, dan kamu butuh aku dan Syahira, aku sendiri juga butuh kamu sebagai seorang suami mas” lirih Fatma dan Syam merasa tidak percaya mendengarnya, dia raih tangan istrinya itu dan Fatma terus tersenyum.


”Kamu gak jadi ninggalin aku?” tanya Syam dan Fatma mengangguk.” Bilang sama aku, kamu gak bakal pergi” pintanya.


”Aku sama Syahira gak bakal pergi ninggalin kamu sama Syifa” ujar Fatma jelas dan Syam tersenyum lebar, air matanya tak berhenti menetes begitu juga dengan Fatma.


”Terima kasih” ucap Syam, lalu merangkul bahu istrinya dan mengecup kening istrinya sekilas. Fatma terus tersenyum, setelah dipikirkan baik-baik dan secara matang-matang olehnya, dia tak sanggup meninggalkan Syam, pria yang sangat dia cintai dan Syahira tidak akan bisa jauh dari ayah kandungnya. Syam merasa bersyukur, karena Fatma mau kembali padanya, perpisahan yang dia takutkan, akhirnya tidak terjadi.


******


Waktu berlalu, semuanya hidup dengan kebahagiaan dan kesedihan masing-masing. Kehamilan Naina sudah 9 bulan, tidur tidak nyaman, dan sering merasakan kram. Naina baru sempat melongok Ai yang sudah melahirkan, dia hendak datang dari kemarin-kemarin tapi terhalang Uwais yang melarangnya, karena dia sedang flu.


”Masya Allah gantengnya” puji Naina, dia memangku bayinya Ai dan Ai tersenyum.


”Mbak Nai semoga lancar ya lahirannya, aku minta maaf karena gak bisa nerusin kerja di ruko mbak Nai” lirih Ai, dia memutuskan berhenti untuk mengurus kedua anaknya, tapi dia akan selalu bertemu dengan Naina karena akan masih tetap tinggal di ruko.


”Sudah ada yang gantiin kamu, kita juga bisa tetep ketemu kan” ucap Naina dan Ai mengangguk. Uwais diam dan memangku Naura, Uwais memperhatikan bayinya Ai, dia menjadi semakin tidak sabar untuk kelahiran anaknya yang kedua. Betapa bahagianya dia, istri yang cantik dan luar biasa, anak yang begitu lucu dan istimewa, andai orang tua dan adiknya masih ada. Semuanya akan semakin indah terasa.


Setelah cukup lama mengobrol, Naina keasikan sendiri dan Uwais menusuk lengannya berulangkali.


”Emm aku pamit ya” ucap Naina dan Ai mengangguk, Naina mendelik sinis kepada suaminya dan Uwais tersenyum lebar. Bisa-bisanya istrinya lupa dengan dia dan Naura dan keasikan ngobrol, diajak pulang malah marah.


Uwais menggandeng tangan Naura dan ketiganya keluar dari rumah orang tua Ai. Sepanjang perjalanan, Naura tertidur pulas dan Naina mengelus perutnya terus-menerus, Uwais tersenyum dan mengelus perut istrinya juga.


”Mulai kerasa?” tanya Uwais tanpa menoleh.


”Aku janji pulang cepet” bujuk Uwais karena Naina terus cemberut.” Senyum dong” pintanya dan Naina tetap diam.


Uwais terus berusaha dan akhirnya memeluk Naina.” Senyum dulu, aku janji pulang cepat. Mau dibeliin apa?”


”Aku maunya kamu mas, jangan pergi” pinta Naina dan mencengkram kuat baju suaminya. Uwais menghela nafas panjang, dia menoleh dan menatap Zidan. Zidan yang sudah paham akhirnya pergi sendirian. Naina tersenyum lebar dan Uwais mengajaknya masuk.


”Papa gak jadi pergi?” tanya Naura bingung.


”Gak dibolehin sama mama” adu Uwais dan Naina terkekeh-kekeh. Naura terlihat sangat senang dan bahagia.


Malam hari tiba, jarum jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Naina terbangun dan merasakan perutnya terasa linu, pinggangnya apalagi. Dia menoleh dan menatap suaminya yang sedang terlelap.


”Mas” ucap Naina, dia goyangkan bahu suaminya itu dan Uwais langsung bangun, Uwais adalah sosok suami yang siap siaga. Satu kali Naina membangunkannya, dia akan langsung terjaga.


Uwais bangkit dan duduk, dia letakkan tangannya di perut besar istrinya.” Kenapa sayang?” tanyanya lembut dan melihat Naina terus meringis.


”Sakit mas, ini sudah waktunya.” Ucap Naina dan Uwais panik.


”Kita siap-siap ke rumah sakit ya” ajaknya dan Naina mengangguk. Uwais turun, dia keluar sebentar untuk meminta bantuan.


Naina langsung dibawa ke rumah sakit, Naura yang sedang tidur dibiarkan bersama Eva dan kakek. Sesampainya di rumah sakit, pembukaan sudah hampir selesai, Uwais diam saat Naina memeluk dan mencengkram lengannya.


”Sabar, kamu kuat sayang” suara Uwais serak, dan Naina mengangguk. Uwais tidak tega melihat istrinya kesakitan sampai seperti itu, bercucuran keringat dan air mata. Tidak lama, ketuban pecah. Naina menjerit-jerit saat rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.


”Istighfar sayang” Uwais berbisik ditelinga istrinya itu, ada ketakutan dibenaknya karena kelahiran Naura dilakukan secara operasi dan yang kedua ini Naina maunya normal. Tentu saja dengan kondisi kesehatan yang mempuni.


”Mas!” jerit Naina.


Uwais mengenggam kedua tangan istrinya itu, kuku tajam Naina sampai menusuk tangannya. Uwais terkejut saat bayinya sudah lahir, tangisan bayi menggema di seluruh ruangan.


”Selamat, bayinya laki-laki” seru dokter dan Uwais tersenyum. Senyuman dibarengi air mata, dia gendong bayinya itu dan Naina yang lemas hanya diam memperhatikan. Suara kumandang adzan terdengar, bayi laki-laki itu diam dan seperti selesai perawat meminta, untuk segera dibawa ke ruangan bayi.


Uwais keluar dan menunggu sampai Naina selesai dibersihkan. Uwais merogoh sakunya saat hapenya bergetar.

__ADS_1


”Wa'alaikumus Salaam pak, iya Naina sudah lahiran, bayinya laki-laki. Alhamdulillah” jawab Uwais dan pak Fahmi merasa bersyukur mendengarnya.


”Alhamdulillah, kami semua in sha Allah besok ke Jakarta.” Ujar pak Fahmi.


”Biar supir yang jemput pak, biar cepat juga”


”Bapak gak enak ngerepotin kamu terus”


”Enggak ngerepotin kok pak, nanti Uwais minta supir yang jemput ya” bujuknya lembut.


”Ya sudah, kirimin foto cucu bapak yang baru lahir itu ya. Bapak pengen lihat” pak Fahmi sudah tidak sabar, jika bisa dia ingin saat ini juga pergi ke Jakarta, tapi tidak mungkin karena harus persiapan dulu.


”Siap pak nanti” Uwais menyanggupi. Tidak lama, panggilan pun berakhir. Uwais menoleh saat dokter dan perawat keluar, Naina sudah bisa ditemui saat ini. Tanpa berpikir, Uwais langsung masuk dan menatap istrinya hangat.


”Mas” suara Naina begitu pelan, tak sanggup dia berbicara lebih tegas, tenaganya terasa habis saat ini.


”Sayang” lirih Uwais, dia menciumi istrinya itu dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih, kini keduanya memiliki dua orang anak. Perempuan dan laki-laki.” Mas, aku gak mau hamil lagi, cukup dua aja ya mas" bujuk Naina yang trauma.


”Iya sayang, dua aja cukup.” Uwais mengiyakan dan Naina tersenyum. Naina tiba-tiba kaget melihat kedua tangan suaminya yang lecet-lecet dan berdarah.


”Mas, tangan kamu berdarah karena aku genggam tadi ya?” lirih Naina dan Uwais menggeleng kepala, Naina meraih tangan suaminya lembut tapi Uwais mengenggam tangannya.


”Aku gak apa-apa, terima kasih karena kamu sudah dua kali berjuang mengandung dan melahirkan buah cinta kita sayang. Aku bahagia, semoga cepat sehat ya” tuturnya begitu lembut dan Naina mengangguk mengiyakan.


Keesokan harinya, Naina sudah bisa pulang, kembali ke rumah berkumpul bersama semua orang. Keluarganya juga dari kampung sudah datang, bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad Zeroun sekhand itu menjadi sorotan, sangat mirip dengan Uwais, bermata sipit dan bibirnya tipis.


”Dede” ucap Naura begitu senang, kedua matanya berbinar-binar melihat adiknya.


”Senang ya punya adek?” tanya Mirza dan Naura mengangguk.


”Ganteng nya” puji Bu Ratna dan memperhatikan Zeroun yang digendong oleh pak Fahmi.


Naina menoleh saat melihat Bu Astri datang. Mendekati suaminya.


”Pak, banyak tamu” Bi Astri berbisik.


”Oke” singkat Uwais dan dia mengelus pipi istrinya sekilas, kedua pipi istrinya itu sontak memerah dan Naina merasa malu karena banyak orang. Uwais pergi untuk melihat siapa yang datang.


Uwais terkejut melihat kedatangan semua keluarga Syam, mama Novi, ayah Rahman dan yang lainnya. Kabir yang sedang duduk di teras menunduk saat melihat Fatma.


”Assalamu'alaikum” seru ayah Rahman.


”Wa'alaikumus Salaam” jawab Uwais.


Mama Novi terperangah begitu juga dengan yang lain, melihat tempat tinggal Naina yang begitu besar dan mewah. Keluarga mama Novi mengetahui siapa suami dari Naina saat ini. Tapi tetap saja mereka terkejut melihat rumah tersebut, semuanya membawa hadiah yang dibungkus kertas kado untuk baby Zeroun.


”Kami kesini ingin menengok Naina, selamat atas kelahiran anak kalian yang kedua” ujar Syam dan Uwais mengangguk.


”Terima kasih banyak, silahkan masuk” ucap Uwais mempersilahkan. Semuanya masuk ke dalam rumah, Naina yang tengah duduk di sofa merentangkan kedua kakinya menoleh, begitu juga dengan yang lain.


Raut wajah pak Fahmi terlihat berubah saat melihat Syam, jelas dia tidak suka. Semuanya mengucapkan salam, dan dijawab oleh semua keluarga Naina.


”Mba Naina selamat ya” ucap Fatma dan Naina tersenyum.


”Terima kasih banyak” balas Naina begitu ramah. Dia melirik pelayan agar segera membuat minuman dan membawa kudapan untuk semua tamu, pelayan yang langsung paham pun bergegas pergi ke dapur.


”Nai” lirih mama Novi, kedua mata wanita itu terlihat berkaca-kaca, Naina lekas menyalami tangannya lembut dan di susul menyalami tangan ayah Rahman. Ayah Rahman tanpa ragu mengelus pucuk kepala Naina.


”Alhamdulillah, ayah senang. Semoga cepat sehat ya” lirih ayah Rahman dan Naina mengangguk. Semuanya menyapa Naina, saling menyapa juga dengan keluarga Naina. Syam tak berani mendekat, dia dan mantan istrinya itu hanya saling melempar senyuman. Uwais langsung menusuk-nusuk lengan istrinya, agar berhenti tersenyum kepada Syam. Dia cemburu.


”Apaan mas?” Naina berbisik.


”Jangan gitu” rengek Uwais berbisik.


”Ih gak tahu malu, udah punya anak dua juga, cemburunya gak bisa dikurangi apa?” sewot Naina berbisik dan Uwais cemberut.


”Adik aku namanya Syahira” ucap Syifa dan Naura tersenyum.


”Adik aku namanya Zeroun” balas Naura dan Syifa tersenyum. Keduanya tidak berhenti saling mengobrol, saling memuji Syahira dan Zeroun.


Naina diam-diam memperhatikan, betapa bahagianya dia saat ini, keluarga yang damai walaupun sempat bersitegang cukup lama, bahkan saling memaki, hubungannya dengan Uwais semakin baik, dua sangat mencintai suaminya, begitu juga sebaliknya. Hubungannya dengan Syam hanya sebatas teman, saling menyapa dan tidak akan pernah lebih dari itu, Syam sudah banyak belajar tentang nilai-nilai kesabaran, dan ketakwaan, Fatma tak lepas dari perubahannya, selalu mendukung setiap apa yang diputuskan Syam selama itu baik, Syam masih pemarah tapi tidak liar seperti dulu, dia sudah bisa mengontrol emosi nya, emosi dan amarah yang menjadi musuh utamanya. Yang membuatnya selalu mengambil keputusan yang salah, sampai kehilangan Naina yang tak bisa dia pungkiri, Naina masih bersemayam dalam ingatan dan hatinya.


Semuanya bahagia dengan takdir dan pasangan masing-masing. Hubungan Naina dan Uwais yang juga tak baik-baik saja saat diawal, menjadi sebuah hubungan harmonis sampai sekarang. Dua malaikat hadir menjadi pengikat kuat hubungan indah keduanya.

__ADS_1


\_TAMAT\_


__ADS_2