Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Paling berharga


__ADS_3

Suasana di meja makan begitu canggung, Syam dan Fatma saling melirik sinis. Mama Novi memperhatikan keduanya, pasangan pengantin baru yang tidak terlihat baik-baik saja.


***


Cek kandungan.


Naina sudah mulai merasakan tendangan bayi dalam perutnya, masih pelan dan Uwais belum bisa merasakannya. Mungkin dua Minggu ke depan tendangan bayi mereka bisa terasa lebih jelas dan kuat. Kini, Naina sedang berbaring dengan perut terbuka. Dia melakukan cek kandungan sekaligus USG. Naina tidak mau sering melakukan USG karena takut akan kondisi bayinya. Uwais tertegun melihat bayinya sudah dalam bentuk sempurna. Uwais merasa gemas melihat bayinya di layar monitor.


” Kondisi kehamilan ibu baik-baik saja, bayinya juga sehat. Apa masih merasa mual Bu?"


” Alhamdulillah enggak, saya sudah bisa makan dengan baik lagi dokter” jawab Naina.


” Baiklah kalau begitu” ucap dokter. Setelah selesai Naina merapihkan bajunya kembali lalu duduk bersama suaminya, setelah menerima resep obat yang harus di tebus. Keduanya keluar, Uwais merangkul pinggang istrinya sambil melihat foto USG yang sedang dilihat Naina. Uwais masih memakai setelan formal, jas hitam dan kemeja putih namun dasinya sudah dia lepas di mobil.


” Mirip aku” imbuh Naina sambil tersenyum.


” Anak kita mirip aku, ayahnya”


” Mirip aku” tegas Naina dan menyikut dada suaminya, Uwais tertawa renyah melihat istrinya kesal.


” Iya mirip kamu sayang, kira-kira nama anak kita siapa nanti?”


Naina terdiam dan berpikir keras.


” Aku akan mencari nama yang terbaik”


” Terserah istriku saja” Uwais tersenyum dan Naina merangkul pinggangnya karena merasa senang, Uwais membalas dengan merangkul bahu istrinya itu. Keduanya melangkah bersama, Uwais yang khawatir meminta Naina untuk duduk dan dia yang mengantri untuk menebus obat. Setelah itu keduanya pergi meninggalkan rumah sakit menuju ruko Naina, Uwais harus kembali ke kantor setelah mengantarkan istrinya. Naina sempat akan pergi sendiri tapi Uwais tidak mengizinkannya. Sesampainya di ruko, Naina menoleh dan menatap suaminya lekat dia merasa tidak mau Uwais pergi saat ini.


” Kenapa?” Uwais bertanya seraya merangkul dan menarik bahu istrinya itu.


” Mas mau ke kantor lagi, beneran?” tanya Naina dan Uwais mengernyit heran, Uwais menatap jam tangannya dan Naina memandangi jam tangan suaminya itu.


” Iya sayang, aku harus bekerja. Aku usahakan pulang cepat, kamu jangan terlalu capek di toko. Ada 3 pegawai, manfaatkan mereka dengan baik. Aku gak mau kamu sama anak kita kecapean” Uwais tersenyum lalu membelai pucuk kepala istrinya. Naina mengangguk pasrah. Uwais keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya tercinta. Naina keluar perlahan dan Uwais mengajaknya berjalan bersama, dia ingin mengantarkan Naina sampai masuk ke ruko. Naina berbalik dan berhadapan dengan suaminya sesaat setelah masuk ke rukonya.


” Aku pergi” imbuh Uwais dan Naina mengangguk ragu.” Senyum, jangan cemberut begitu” imbuhnya lagi seraya menjepit bibir Naina dengan jari telunjuk dan jari tengahnya sampai membuat Naina terkekeh.


” Iya mas, hati-hati di jalan ya”


” Iya” Uwais tersenyum lalu mengecup pipi kanan istrinya sekilas, kedua mata Naina membulat. Dia sentuh pipinya yang merah merekah dan menyapu sekeliling takut ada yang melihat.” Mas, kamu...” Naina sedikit kesal dan memukul dada suaminya manja.


” Biarin” Uwais tersenyum dan cengengesan.” Aku pergi, nanti ada supir yang jemput kamu kesini”


” Iya mas” Naina tersenyum lalu menyalami tangan suaminya.

__ADS_1


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Uwais melangkah pergi dan Naina menatap kepergian suaminya itu. Uwais menoleh saat membuka pintu mobil dan Naina melambaikan tangannya, Uwais mengedipkan matanya genit dan Naina menggeleng kepala. Uwais tertawa renyah melihat istrinya yang masih sering gugup saat dia goda, Naina benar-benar selalu membuatnya tersenyum sampai tertawa.


” Aku sangat bahagia memiliki nya” imbuh Uwais dan menatap Naina cukup lama dari dalam mobilnya, Naina sendiri bingung karena suaminya tak kunjung pergi. Uwais tersenyum dan menyalakan mesin mobilnya di situlah Naina juga merasa senang melihat suaminya tersenyum, setelah mobil Uwais pergi Naina juga masuk.


****


Rumah Syam.


Fatma sedang berada di kamar mandi, dia tidak memakai bajunya. Karena kesusahan memakai perban di perutnya jika dia memakai baju. Dia pun harus berhadapan dengan cermin supaya bisa melihat bayangan lukanya dengan jelas. Lukanya masih basah, bergerak pun dia harus penuh dengan kehati-hatian.


Brak! pintu di buka kasar dari luar.


Alangkah terkejutnya Fatma saat melihat Syam masuk dalam keadaan tidak baik-baik saja, Syam masuk dalam keadaan mabuk. Dia benar-benar bau alkohol. Fatma menyilang kan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.


” Mas, jangan aku mohon” lirih Fatma, dia sudah menangis dan bajunya menggantung di belakang pintu tadi. Fatma benar-benar takut.


” Aku suami kamu Fatma, berani menolakku?” geram Syam, malam ini adalah malam keempat keduanya menjadi suami istri. Biasanya Syam tidur dengan Syifa dan tidak pernah menyentuh Fatma sama sekali, Fatma tidak bisa membuat gairah **** nya bangkit. Di tambah Fatma yang sedang sakit dan tidak pernah memancing suaminya yang memang tidak dia cintai itu.


” Mas, kamu mabuk. Aku,,,” gugup.” Aku harus lebih lama di kamar mandi” katanya dan berusaha menutup pintu tapi di dorong oleh Syam dari luar. Fatma tidak bisa menahan tenaga besar Syam, Syam masuk dan mendorong tubuh istrinya. Kedua pergelangan tangan gadis itu dia genggam dengan tangan kirinya dan mengangkatnya, punggung Fatma menempel di dinding kamar mandi. Dada ranum masih bersegel itu benar-benar terlihat oleh Syam, tanpa basa-basi Syam yang mulai terpancing melihat dada istrinya langsung memasukkan tangannya ke dalam bra istrinya, dia keluarkan kedua buah dada istrinya itu.


” Mas, emmmm” hanya itu yang dia ucapkan, di sela Syam berhenti mengambil nafas. Fatma sendiri bahkan tersengal dan Syam berhenti sejenak untuk membiarkannya bernafas. Setelah ada kesempatan, Fatma mendorong tubuh suaminya itu sampai Syam terjatuh dan meringis.


” Fatma!” teriak Syam. Fatma keluar dari kamar mandi, bra nya sudah entah kemana. Fatma meraih handuk dan berusaha membuka pintu. Pintu di kunci dan kuncinya entah kemana, betapa bodohnya dia lupa mengunci pintu sebelum ke kamar mandi tadi sampai bisa masuk dan menyiksanya.


” Mau kemana kamu?” imbuh Syam dan menarik handuk yang di pakai Fatma dan melemparnya. Fatma berontak saat tubuhnya di gendong paksa oleh Syam dan dia di jatuhkan kasar ke atas kasur.


” Tolong!” teriak Fatma tapi tidak berhasil, Syam menindihnya seraya melepaskan pakaiannya. Lalu melepaskan pakaian Fatma yang dari tadi hanya tersisa rok dan ****** *****. Fatma tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya mulai bergetar dan berkeringat. Merasakan sakit, ngilu sekaligus kenikmatan dari suaminya. Kenikmatan yang selalu dia hindari, semuanya hilang malam ini.


****


Keesokan paginya, pagi ini menjadi pagi yang sibuk untuk Naina. Wanita yang melakukan terapi padanya akan datang hari ini, suaminya juga akan pergi hari ini ke luar kota. Kakek sudah menunggu Uwais di luar kota. Uwais harus belajar banyak untuk kelangsungan bisnis kakek yang diwariskan padanya. Kakek sudah tua, hanya traveling kegiatannya sekarang. Menikmati hidup dalam kesendirian. Naina menangis karena suaminya akan pergi, 4 hari Uwais harus pergi. Dia bilang akan berusaha menyelesaikan pekerjaan nya secepat mungkin.


” Sayang” panggil Uwais, dan dia masuk ke kamar untuk melihat Naina yang sedang menyiapkan semua perlengkapannya. Pakaian, berkas penting, obat, dan yang lainnya. Uwais melihat Naina menghapus air matanya tapi saat berbalik Naina berusaha tersenyum untuknya. Naina merapihkan kemeja suaminya lalu meraih dasi, Uwais menahan tangan Naina dan Naina mendongak sambil berhenti berjinjit. Keduanya saling menatap lekat dan Uwais memperhatikan mata dan hidung Naina merah karena menangis tadi. Naina terkejut saat suaminya tiba-tiba memeluknya.


” Kenapa? apa aku gak boleh pergi?”


Naina menangis lagi, dan membalas pelukan suaminya.


” Enggak mas, aku gak mau kamu gak jadi pergi. Kakek kasihan sendirian di sana, temani kakek dan bekerja dengan benar supaya kakek gak kecewa sama kamu mas.” Tuturnya dengan suara serak, Uwais melepaskan pelukannya begitu juga dengan Naina. Uwais mengusap air mata istrinya itu lalu menciumi seluruh wajah istrinya lembut.

__ADS_1


” Tentu, aku harus bekerja dengan baik supaya bisa cepat pulang. Komunikasi yang utama, angkat telepon jika aku menelepon. Kirimkan pesan kalau kamu gak sibuk, jangan lupa tidur siang, vitamin, susu, makan dengan benar,,,,,” tutur Uwais panjang lebar dan dia berhenti saat Naina menarik kedua bahu lebar nya lalu mencium bibirnya agar diam, Naina tahu apa yang harus dia lakukan tapi tetap saja Uwais sangat cerewet mengingatkan nya ini dan itu. Uwais tersenyum lalu membuka mulutnya sedikit dan membalas ciuman istrinya itu. Setelah selesai keduanya berpelukan lagi.


” Bu Ana sebentar lagi kemari, Kabir aku minta kemari untuk menemani kamu sayang selama aku pergi. Jangan matikan telepon, aku khawatir jika itu terjadi” ucap Uwais dan Naina mengangguk.


” Ayo mas, kamu harus pergi.” Imbuh Naina seraya melepaskan pelukannya dan kembali memasang dasi untuk suaminya itu, Uwais diam memperhatikan wajah cantik istrinya. Naina sangat seksi dengan tubuhnya yang semakin berisi, pipinya cabi membuat Uwais gemas. Naina tertawa kecil dan menepis tangan Uwais yang terus mencubit pipinya.


****


Pertengkaran Rosa dan Ai.


Rosa marah, saat Ai datang ke rumahnya untuk tinggal bersamanya. Padahal Ali sempat menawarkan rumah kontrakan untuk Ai tapi Ai malah menolak dan dia sekarang datang menganggu nya. Ali sedang pergi membeli sarapan, Rosa ingin nasi kuning pagi ini.


” Harusnya mbak ngasih aku kesempatan sama mas Ali supaya kami dekat, tapi mbak malah menjauhkan mas Ali dari aku. Aku juga istrinya” tegas Ai.


” Apa kamu bilang? kapan aku begitu Ai. Mas Ali sudah berusaha bersikap adil tapi kamu yang banyak menuntut, mas Ali membelikan semua yang kamu mau dan kamu butuhkan. Walaupun bayi itu bukan anak mas Ali, tapi mas Ali sudah mau bertanggung jawab. Apa kamu gak bisa bersyukur untuk hal itu?” amarah Rosa semakin memuncak.


” Aku mau masuk mbak" kata Ai berusaha menerobos masuk ke rumah Rosa tapi Rosa tidak mau. Rosa menutup pintu rumahnya buru-buru.


” Mending kamu pulang Ai”


” Aku mau ketemu sama mas Ali mbak”


” Mau apa?” Rosa mulai ketus.


” Ada hal penting”


” Kenapa kamu gak ngomong semalam? mas Ali dari rumah kamu kan semalam. Kenapa harus menganggu di saat mas Ali lagi sama aku. Aku juga gak pernah ganggu waktu kamu sama mas Ali, atau nanti siang aja kamu kerja kan? kamu bisa ketemu sama mas Ali di ruko. Aku benar-benar mau istirahat” pinta Rosa, meminta Ai untuk segera pergi dan dia merasa pusing saat ini.


” Aku mau nunggu aja mbak” Ai bersikukuh.


Rosa menggeleng kepala dan dia duduk karena merasa kepalanya semakin pusing, Ai juga duduk dan memperhatikan Rosa yang terus memijat dahinya. Ai memperhatikan gelang baru yang dipakai Rosa, Ai tahu itu gelang baru karena kemarin pegawai Ali bilang jika Ali pergi dan mengatakan untuk membeli sesuatu ke toko perhiasan. Rosa di kasih tapi dia tidak, rasa iri dan cemburu mulai menyelimuti. Rosa menoleh karena sadar Ai memperhatikannya, dia takut Ai macam-macam dan berharap Ali segera pulang.


****


Fatma sakit.


Fatma sudah mandi tiga kali dari subuh, dia tidak bisa menghilangkan bayangan semalam. Apa yang terjadi semalam padanya, Fatma memperhatikan sekujur tubuhnya di depan cermin di kamar mandi. Lehernya terdapat 4 bekas kecupan kanan-kiri, begitu jelas. Buah dadanya terasa sangat sakit dan bengkak, Fatma membasuh dadanya dengan air hangat apalagi bagian tengahnya yang lecet. Rasa perih, ngilu juga dia rasakan di area sensitifnya, Syam menyerangnya dua kali dan sangat kasar karena pengaruh alkohol. Fatma menangis dan dia teringat lagi dengan Kabir. Sementara Syam, pria yang merasa lelah dan puas itu terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa pusing. Syam duduk di atas kasur dan memperhatikan seprai kusut bekas semalam, noda putih terlihat berkerak di selimut berwarna coklat itu. Syam mengangkat selimut dan melihat tubuh polosnya di bawah selimut.


” Sial, kenapa bisa?” imbuhnya, Syam meremas rambutnya frustasi dan mulai mengingat apa saja yang terjadi semalam. Dia raih handuk di lantai dan memakainya, Syam bergegas untuk segera mandi karena dia harus ke kantor namun saat akan membuka pintu kamar mandi, Fatma membuka pintu dari dalam dan keluar. Keduanya berhadapan sekarang, Syam memperhatikan pipi istrinya yang lebam karena semalam dia menamparnya tanpa sadar. Fatma terus menolak untuk melayaninya, membuatnya yang sudah tidak tahan akan nafsunya melakukan hal itu.


” Aku,,,” ucap Syam dan tangannya diangkat untuk menyentuh pipi Fatma tapi Fatma meleos pergi dari hadapannya, Fatma menggosok rambut panjangnya dengan handuk kecil dan tidak mau melihat Syam. Syam mengepalkan tangannya kuat dan dia masuk ke kamar mandi.


Brak! Syam membanting pintu. Fatma bahkan sampai menoleh karena terkejut, dia takut Syam melakukan hal seperti semalam lagi. Fatma merasa tubuhnya sangat lemas, rasa perih dan ngilu di sekujur tubuhnya membuatnya hanya ingin berbaring saja hari ini. Hal yang paling berharga dalam hidupnya direnggut oleh pria yang tidak berprikemanusiaan.

__ADS_1


__ADS_2