Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Malam pertama


__ADS_3

Naina dan Syam menandatangani surat surat yang menyatakan mereka sudah sah menjadi suami istri,Syam berdiri begitu juga Naina.Syam berhadapan dengan Naina dan fotografer meminta keduanya berdiri lebih rapat dan Syam harus mencium kening istrinya.Naina menutup matanya rapat-rapat saat Syam mengecup kening nya sekilas,semua orang bersorak gembira dan sekarang adalah waktunya untuk sungkeman kepada orang tua mereka.Naina menangis, kepalanya di usap lembut oleh mertua dan orang tuanya.Andai ibunya masih ada,Naina benar-benar merindukan ibunya di saat-saat seperti ini.


Naina bahkan gugup saat harus benar-benar dekat untuk mengambil foto bersama suaminya itu,Syam memeluk pinggangnya erat dan Syam terus menatap bibir Naina.Naina menundukkan wajahnya saat tatapannya dan tatapan Syam bertemu.


”Ini terlalu dekat mas"imbuh Naina saat hidung mancungnya beradu dengan hidung Syam yang tak kalah mancung itu.


”Memang harus begini"kata Syam dan mama Novi serta yang lain tertawa kecil melihat kegugupan Naina.


***


Malam hari tiba,Syam membuka pakaiannya dan hanya memakai celana di atas lutut, menunggu Naina yang sedang mandi.Kamar mandi hanya ada satu,Syam menyapu sekeliling melihat-lihat isi kamar Naina yang begitu rapih.Keluarganya sudah pulang dan Syam akan berada di kampung tersebut selama beberapa hari.Syam meraih foto Naina di atas meja,foto Naina saat kecil dengan rambut di kuncir dua dan senyuman lebarnya.


”Manis"puji Syam dan tersenyum lebar lalu meletakkan pigura foto kembali,Syam melihat sebuah buku.Dan dia mengambilnya,Syam duduk di tepi ranjang dan membuka buku tersebut.


Di luar kamar, Naina ragu untuk masuk ke kamarnya sendiri.Karena ada Syam, suaminya.


”Nai,kenapa gak masuk?"tanya Husna dan Mirza yang baru datang,keduanya juga akan menginap malam ini.


”Iya”Naina akhirnya masuk dan menutup pintu rapat-rapat.Naina tidak mau berbalik dan menatap pintu kamarnya,Syam mengernyit heran dan melihat Naina tetap berdiri didepan pintu kamar.


”Naina,ini buku apa?"Syam bertanya dan Naina menoleh.Naina buru-buru berbalik saat melihat Syam hanya memakai celana pendek seperti itu.


”Itu buku aku mas,jangan dibuka simpan kembali.Gak sopan buka-buka buku orang"ketus Naina takut Syam membuka buku diary nya.


”Tapi aku sudah membuka dan membacanya sedikit,aku suami kamu Nai”seru Syam dan Naina membuang nafas kasar,dia benar-benar frustasi dengan tingkah laku Syam.


”Simpan lagi"Naina bersikukuh.


”Oke!"Syam kesal dan melemparkan buku kembali ke atas meja.Dengan raut wajah kesal.Syam meraih jubah handuk dan melangkah mendekati Naina.Naina terkejut dan berbalik, namun matanya langsung melihat jubah handuk yang terbuka di bagian dada besar Syam.Naina buru-buru menutup matanya.


”Naina aku mau mandi”imbuh Syam,agar Naina menyingkir dari jalannya.


”Iya"singkat Naina lalu bergeser dan Syam keluar dari kamar.


”Apa dia selalu memakai jilbab seperti itu?"Syam bertanya-tanya sambil membawa perlengkapan sabun dan terus melangkah menuju kamar mandi.


****


Mirza dan Husna sedang berbaring dikamar,bersiap untuk tidur.Husna menjadi ingat malam pertamanya dengan Mirza saat itu.


”Husna,apa Syam benar-benar baik?"tanya Mirza khawatir, melihat Syam yang salah menyebutkan nama membuat banyak pertanyaan muncul di benaknya,pria seperti apa Syam? pekerjaannya seperti apa?dan Amira siapa sampai Syam menyebutkannya.

__ADS_1


”Iya baik,mana mungkin bapak mau menikahkannya sama Nai kalau Syam gak baik"jawab Husna lalu bergeser dan memeluk suaminya erat.


Mirza tersenyum dan membalas pelukan istrinya.


*****


Naina berbaring dengan posisi miring,Syam masuk dengan rambut basah dan raut wajahnya kesal.Naina menutup matanya, pura-pura tidur.Bukan menolak untuk melayani suaminya,itu adalah kewajibannya.Tapi Naina terlalu malu untuk melihat Syam sekarang.


”Nai,bangun.Apa gak ada shower air di kamar mandi kamu Naina?aku gak bisa mandi pakai gayung seperti itu"protes Syam tapi Naina tidak menjawabnya.Syam berdesis berulang kali lalu memakai pakaiannya.


Syam naik ke atas kasur dan Naina mencengkram kuat selimut.Dia benar-benar takut.


”Nai”panggil Syam dan Nai tidak menjawabnya."Dia benar-benar tidur?"Syam berbisik.


Satu jam berlalu,Naina yang merasa pegal akhirnya menggeliat lalu berbalik.Dia tidak bisa tidur,Naina kaget melihat Syam juga belum tidur dan sedang menatap punggungnya sedari tadi, sekarang tatapan keduanya bertemu.


”Pura-pura tidur?"Syam bertanya seraya terus menatap Naina.


”Aku baru bangun, sekarang gak bisa tidur"Naina menundukkan wajahnya,kedua matanya sembab karena menangis.Naina menangis pelan,tanpa suara dan Syam yang sadar Naina menangis sedari tadi tidak bisa tidur begitu saja.


”Kenapa menangis?"Syam tersenyum tipis.


”Aku mau tidur"Naina sudah akan berbalik tapi Syam menahan dengan menarik bahunya.”Kenapa?"Naina bingung.Apa Syam akan meminta hak nya saat ini?


”Terus?"Naina benar-benar tidak paham.


”Aku harus memelukmu supaya bisa tidur, boneka ku sangat mirip denganmu”kata Syam dan Naina mendelik sebal.Naina mengambil bantal guling lalu memberikannya kepada Syam.


”Naina"Syam menendang bantal guling lalu bergeser dan memeluk Naina paksa.Naina terkejut dan menatap wajah Syam lekat.Hembusan nafas segar keduanya beradu,Syam hanya ingin melihat wajah panik Naina tapi juniornya menegang dibawah sana.


Syam langsung melepas pelukannya dan berbaring membelakangi Naina,Naina meraih bantal guling di lantai lalu meletakkannya di antara dirinya dan Syam,Syam hanya menggodanya.Naina juga berbalik,dan pengantin baru itu saling membelakangi sekarang.Syam menggigit bibir bawahnya kelu,dia berusaha menahan juniornya,Naina berusaha untuk tidur.Padahal apa salahnya Syam meminta hak nya, Naina juga akan memberikannya.Tapi rasa cinta kepada Naina sama sekali belum tumbuh di hati Syam, dan membuat Syam ragu untuk melakukannya.


*****


Keesokan harinya,Naina dan Husna sedang membantu ibu mereka memasak.Kabir sekolah hari ini, Syam,Mirza dan pak Fahmi mengobrol diruang tamu.Diam-diam Husna memperhatikan Naina,tidak ada tanda-tanda jika Naina dan Syam sudah melakukan hubungan suami istri semalam,Husna jadi penasaran dan melirik ibunya.


”Nai"panggil Husna berbisik.


”Iya mbak?"Naina menoleh dan menatap Husna.


”Enggak sakit?"Husna bertanya dan Naina kebingungan.

__ADS_1


”Apanya?"Naina bertanya seraya membenarkan kerudungnya.


”Ih kamu beneran belum ya Nai?"Husna merasa gemas sendiri.


”Mbak ngomongin apaan sebenarnya?"Naina menggeleng kepala,dan akhirnya mengerti apa yang ditanyakan Husna.


Pak Fahmi meninggalkan Mirza dan Syam,Mirza terus menatap Syam dan Syam risih.Mirza merasa kasihan kepada Naina, reaksi Syam kemarin yang salah menyebutkan nama sangat jelas kalau Syam sama sekali tidak tertarik kepada Naina.


”Saya ingin bertanya"imbuh Mirza dan Syam menoleh.


"Apa?”Syam menatap Mirza.


”Saya harap kamu bersikap baik sama Naina,Naina gadis baik-baik jangan sampai kamu menyakiti Naina"tegas Mirza namun masih dengan nada rendah.


Syam tersenyum kecut.


”Urus saja rumah tangga anda sendiri"ketus Syam lalu memilih pergi ke kamar.Di kamar,Naina baru saja masuk dan melihat ponselnya bergetar di atas meja.Naina tersenyum karena Ai menelepon.


”Assalamualaikum mbak"


”Waalaikumsalam,Ai apa kabar?kamu sampai di rumah dengan selamat kan?"Naina khawatir karena Ai pulang bersama rombongan keluarga mertuanya.


”Iya mbak, jangan khawatir.Keluarga mas Syam baik banget hehe"Ai berbicara apa adanya, walaupun dia kesal karena tingkah laku sombong nenek Wilda.


”Alhamdulillah,aku senang mendengarnya"Naina tersenyum lebar lalu menoleh melihat Syam masuk dan melangkah mendekatinya."Sudah dulu ya Ai, untuk toko kita bicarakan nanti assalamualaikum"


"Waalaikumsalam”


Panggilan berakhir,Naina meletakkan ponselnya di atas meja dan Syam menarik lengan lalu mencengkram kuat kedua bahunya.


”Mas kenapa?"Naina ketakutan.


”Bilang sama kakak ipar kamu jangan ikut campur rumah tangga kita,ada apa sebenarnya Naina?dia sangat perduli sama kamu dan kemarin dia bahkan terus-menerus menatap kamu Nai"tegas Syam kesal dan tidak suka dengan perhatian Mirza kepada istrinya,Naina istrinya dan hanya dia yang berhak melakukan apapun tanpa harus di tegur oleh Mirza.Naina tidak mengira Mirza masih perhatian padanya,jelas bukan hanya Mirza yang khawatir.Semua tetangga pun terus membahas Syam yang menyebutkan nama wanita lain saat ijab kabul.


”Iya aku bicara sama mbak Husna nanti,sekarang lepas.Aku kesakitan mas"imbuh Naina lalu Syam melepaskan cengkeramannya.


"Aku gak suka sama kakak ipar kamu itu,jangan dekat-dekat sama dia"suara Syam lantang.


"Iya"singkat Nai lalu melangkah untuk keluar dari kamar tapi Syam menahannya.


”Mau kemana kamu?"ketus Syam.

__ADS_1


”Aku mau bantuin ibu"Naina menjawab.


”Jangan sekarang, Mirza masih diluar aku gak suka.Duduk disini”Syam menarik tangan Naina dan Naina duduk ditepi ranjang bersama Syam dan lekas melepaskan genggaman tangan Syam.


__ADS_2