
Uwais sudah berada di sekitar rumah tua, dimana Naina dikurung. Dia berpencar dengan Zidan dan anak buahnya. Uwais mencium kerudung istrinya yang dia bawa bawa karena merasakan rindu sekaligus khawatir. Air matanya menetes takut Naina terluka, kekasih tercintanya terluka maka tangannya pun tidak akan ragu untuk membalas.
” Bos, bisa masuk lewat belakang. Bu Naina ada di lantai dua” ucap Zidan, Uwais menekan earphone nya. Dia bangkit dan melangkah dengan santai, dia tidak menggunakan senjatanya tapi menggunakan tangannya agar tidak membuat keributan.
” Kau” tunjuk anak buah Hamdan, Uwais meninju wajahnya sampai pingsan. Suara tembakan terdengar, Zidan melepaskannya untuk memberi kode agar semua anak buah Uwais memancing mereka keluar dan Uwais bisa membawa Naina.
Naina yang mendengar suara tembakan tersenyum, dia yakin suaminya datang.
” Jangan mengejekku Nai” tegas Amira dan menekan kedua pipi Naina kasar.
” Periksa di luar” titah Hamdan kepada anak buahnya.
” Jangan-jangan Uwais” ucap Rangga panik, Uwais sudah berubah dan Rangga takut. Naina memperhatikan Syifa yang terus menatapnya dengan tatapan polos, tidak paham dia dimana dan sedang apa dia ada di sana. Tangannya memainkan mainan dan sesekali mengambil biskuit favoritnya.
Amira menggendong Syifa dan dia tidak mau Syam mengambilnya, semua pergi meninggalkan Naina dan pintu dikunci kembali. Naina bangkit, dan dia harus melakukan sesuatu agar Uwais tahu dia ada dimana. Naina menggedor-gedor kaca saat dia melihat Uwais. Tapi Uwais tidak melihatnya, Naina terdiam melihat Syam yang melihatnya.
” Naina” lirih Syam, lalu dia memperhatikan semua pria yang memakai setelan baju hitam dan melihat Uwais sekilas.” Aku akan menyelamatkan mu Naina” lirih Syam, dia masuk dan Aldi menggeleng kepala melihat kecerobohan Syam yang asal masuk.
Naina menoleh saat pintu terbuka, Hamdan masuk dengan tatapan penuh nafsu. Naina terus mundur sampai merapat ke tembok.
” Jangan dekati aku” tegas Naina.
” Berhenti menolakku Naina, aku hanya ingin membuatmu merasakan kenikmatan sebelum mati.” Ujarnya dengan suara serak, Naina melirik kanan-kiri dan tidak ada benda apapun yang bisa dia pakai untuk melindungi diri. Hamdan menghambur memeluk Naina dan Naina berusaha melawan dan menendang area vital pria bejat itu, Hamdan meringis kesakitan dan kesempatan Naina untuk kabur.
” Sialan” umpat Hamdan, sambil memegang miliknya. Naina tidak bisa melangkah cepat dan Hamdan menarik kerudungnya sampai kerudung Naina terlepas, kedua mata Naina berair dan rambutnya tidak bisa dia lindungi. Hamdan merobek kerudung Naina dan ingin mengikat gadis itu agar diam dan dia bisa melakukan apapun. Naina melangkah cepat dan keluar, dia membanting pintu dan tangan Hamdan tidak sengaja terjepit.
” Kemari kamu Naina!" teriak hamdan.” Sial, tanganku sakit sekali” terus meringis.
Naina terus melangkah, dia hendak menuruni tangga ada Rangga disana Naina terpaksa berbalik arah tapi Rangga mengejarnya.
” Berhenti Naina” tegas Rangga, Naina mengangkat tangannya ke udara dan berbalik.
” Pak Rangga aku mohon, jangan begini" lirih Naina.
” Aku masih bisa terima Syam memilikimu, tapi Uwais tidak Naina dia musuhku siapapun yang dekat dengannya adalah musuhku termasuk kamu” Rangga tetap mengarahkan senjatanya, Hamdan yang mendengar memilih pergi dari pada Rangga tahu apa yang ingin dia lakukan. Naina tiba-tiba terkulai lemas dan terduduk di lantai. Dia pasrah. Naina menutup matanya, Rangga menangis dan tangannya gemetar. Dia tarik pelatuk senjatanya...
Dor! suara menggema di seluruh ruangan, Naina membuka matanya dan terkejut melihat Rangga tergeletak dengan luka di kepalanya. Naina menoleh dan melihat Zidan yang melakukannya. Naina diam dan mendengar suara tembakan dimana-mana, Naina hanya fokus pada suara langkah kaki. Uwais muncul setelah harus melewati beberapa musuh, dahinya terluka. Naina bangkit, Uwais tersenyum dan Zidan berbalik. Naina melangkah dan Uwais berlari mengarah padanya. Uwais memeluk istrinya erat, kedua kaki Naina sampai tidak menyentuh lantai.
” Hiks,,,” Naina menangis.
” Jangan, jangan menangis ini aku”
” Aku takut mas”
Uwais mengusap rambut istrinya lalu dia lepaskan pelukannya, Uwais menyentuh kedua pipi Naina dan kedua kening pasangan suami istri yang masih dalam mode pengantin baru itu menempel. Uwais mencium kening, pipi dan bibir istrinya lembut. Lalu menarik kerudung yang dia ikat di pinggangnya, dia tutupi aurat istrinya itu. Naina membetulkan kerudungnya dan menarik jarum yang biasa dia selipkan di ujung bajunya.
” Jangan jauh-jauh dari aku mas, aku takut”
” Iya sayang” Uwais merangkul bahu istrinya.” Aku gendong” Uwais khawatir dan Naina menggeleng kepala karena dia mampu untuk berjalan.
” Tempat ini akan meledak sebentar lagi" ujar Uwais.
” Syifa ada disini mas, aku gak tahu Syifa dibawa kemana” lirih Naina khawatir.
__ADS_1
” Biar aku yang mencari, bos mending segera keluar bersama Bu Naina” titah Zidan. Uwais ragu, tapi dia tidak bisa meninggalkan Naina.” Percayakan kepada ku bos”
” Oke, hati-hati" imbuh Uwais dan Zidan mengangguk lalu pergi.
*****
Kedatangan mendadak, Ai bingung harus menjelaskan apa. Keluarga Naina datang, ibu, ayah dan adiknya Kabir. Tapi Naina tidak ada begitu juga dengan Uwais, Ai akhirnya menelepon Zidan karena bingung. Zidan yang sudah mendapatkan sinyal di tengah hutan tidak bisa di hubungi tapi pesan dari Ai masuk walaupun lama. Zidan menelepon seseorang di rumah untuk menjemput keluarga istri bos kesayangannya, dan meminta semua orang melayani ketiganya dengan baik.
” Ai, ada apa sebenarnya?” Kabir bertanya, karena Naina juga tidak bisa ditelepon.
” Sebenarnya ada masalah” lirih Ai, ketiganya terkejut.
” Masalah apa?" pak Fahmi panik.
” Mbak Naina hilang, semua orang termasuk mas Uwais lagi nyariin mbak Naina. Ibu sama bapak tenang aja, mbak Naina pasti ketemu” tutur Ai menjelaskan sekaligus menenangkan. Ketiganya saling melirik, pak Fahmi menangis dan sangat kaget. Sebuah mobil mewah datang diikuti dua motor dari belakang atas perintah Zidan.
” Ai apa kamu tahu mas Uwais pergi kemana?” tanya Kabir, dia ingin menyusul.
” Para penculik itu entah kemana membawa mbak Nai, mending kalian semua berdoa, kita semua berdoa untuk keselamatan mbak Nai, mas Uwais dan semuanya” lirih Ai dan Kabir diam.
” Permisi, keluarganya Bu Naina?" tanya supir.
” Iya” singkat kabir.
” Untuk keselamatan semuanya, bos meminta kalian berdua menunggu di rumah. Mari ikut saya” ajaknya, Kabir melirik Ai dan Ai mengangguk. Akhirnya ketiganya pergi menuju ke rumah Uwais untuk dijaga di sana. Setibanya di rumah Uwais, ketiganya bingung mau masuk.
” Ini rumah menantu kita pak? salah rumah mungkin pak” Bu Ratna berbisik.
” Mbak Nai gak pernah cerita rumah mas Uwais seperti ini” imbuh Kabir, matanya terus berkeliling melihat-lihat pekarangan rumah yang begitu luas.
” Ibu siapa?” tanya Kabir.
” Saya pelayan disini, kalau ada apa-apa bisa bilang sama saya atau sama pelayan yang lain. Mari masuk” ajak Bu Astri, ketiganya masuk dan duduk saat dipersilahkan duduk. Semua jamuan disediakan, namun ketiganya hanya minum. Tidak selera, karena yang ada dibayangkan mereka adalah keadaan Naina dan Uwais.
*****
Kembali ke tengah hutan, Syam dan Amira sedang memperebutkan Syifa. Syifa menangis karena ditarik-tarik.
” Syifa anakku syam”
” Kalau kamu benar-benar sayang sama Syifa, kamu gak bakal seperti ini Amira” tegas Syam dan berhasil merebut Syifa, dia gendong Syifa dan dari belakang Hamdan ingin memukul kepala Syam tapi digagalkan oleh Rizal.
” Syam!” teriak Amira. Syam berlari membawa Syifa dan Rizal melindunginya hanya bermodalkan besi, dia tidak bisa bermain senjata. Suara ledakan terdengar dimana-mana, semua orang berusaha menyelamatkan diri. Amira juga panik tapi dia terjebak dan Hamdan pingsan.
” Hamdan, bangun” Amira berteriak-teriak lalu Hamdan sadar, Amira membantu Hamdan untuk berdiri dan keduanya berusaha pergi keluar dari rumah tua itu.
” Kejar!” teriak Hamdan, Uwais menggendong Naina dan berlari. Syam menggendong Syifa dan berlari bersama Rizal. Zidan dan Aldi serta bodyguard yang lain berusaha menghadang langkah anak buah Hamdan dan rumah pun meledak. Zidan tersungkur kasar ke tanah saat kepalanya di hantam benda tumpul dari belakang. Aldi menembak lalu keadaan tidak bisa dikendalikan lagi karena Zidan berdarah di bagian kepalanya. Zidan digotong oleh tandu dan dibawa beberapa bodyguard, Aldi juga berlari menghindari kejaran musuh dan rekan-rekannya belum juga sampai. Semuanya berlari ke arah yang berbeda dan hanya Zidan dan Aldi yang tahu jalan, sementara Uwais dan yang lain di buru para musuh dan berlari jauh lebih masuk ke dalam hutan.
” Mas” lirih Naina saat Uwais menurunkannya. Uwais mengarahkan senjatanya, Syam memberikan Syifa kepada Naina dan ketiga pria itu melindungi Naina dan Syifa di belakang mereka saat musuh berdatangan mengepung.
” Aaaa..” Naina menjerit saat musuh mulai menyerang, Uwais, Syam dan Rizal melawan mereka satu persatu dan tetap menoleh untuk memastikan Naina dan Syifa baik-baik saja.
” Jangan jauh-jauh” teriak Uwais dan Naina tetap di belakangnya. Syifa terlihat syok mendengar suara gaduh dari senjata.
__ADS_1
” Issh sial” Uwais tergores pisau di bagian alisnya. Sedikit saja dia tidak menghindar pisau sudah pasti berhasil melukai matanya.
” Awas” teriak Rizal dan menendang musuh yang hampir menusuk punggung Syam.
” Tenang nak, tenang ya” Naina terus menenangkan Syifa dan memeluknya. Dia sembunyikan wajah Syifa di bawah kerudung agar tidak melihat adegan kekerasan di sekitarnya. Semua musuh berhasil di selesaikan, tapi Uwais yakin masih banyak yang lainnya di belakang sana.
” Kita harus segera pergi” ajak Uwais dan memperhatikan Naina menggendong Syifa. Bibirnya tersenyum manis.
” Kita tidak tahu jalan” timpal Rizal.” Sebentar lagi juga gelap”
” Jika kita tetap disini, kita tidak akan selamat. Kita mulai kehabisan tenaga” kata Syam setuju dengan ucapan Uwais kali ini.
” Peluru ku tinggal sedikit” Uwais memperlihatkan senjatanya. Mau tidak mau, Rizal akhirnya mengikuti ketiganya. Naina memberikan Syifa kepada Syam dan tangannya digenggam oleh Uwais agar Naina berjalan di sebelahnya. Semuanya berjalan mencari jalan.
****
Di kediaman Syam, semua keluarga khawatir. Belum ada kabar dan Asil juga belum mendapatkan kabar dari suaminya. Tapi dia tidak menyerah dan terus menelepon, sampai akhirnya panggilan tersambung.
” Halo mas, mas” Asil panik.
” Ya” singkat Aldi.
” Gimana?”
” Aku sedang dirumah sakit, ada yang terluka parah tapi masalahnya. Syam dan Syifa, Uwais Naina dan Rizal masih di hutan sepertinya mereka tersesat”
” Naina dan Uwais? bagaimana mereka ada disana?”
” Hamdan dan Amira juga menculik Naina, Uwais datang untuk menyelematkan istrinya itu. Rekan-rekan ku mulai mencari mereka dibantu tim penyelamat, do'akan saja semoga mereka cepat ditemukan”
” Aamiin” lirih Asil.
” Nanti aku telepon lagi”
” Iya mas”
Panggilan berakhir.
” Asil, apa kata Aldi?” tanya ayah Rahman.
Asil menggeleng kepala.
” Naina sama Uwais juga disana ayah, Naina terluka dia diculik oleh mas Hamdan. Sekarang Syam sama Syifa dan Rizal juga tersesat di hutan ayah, bersama Naina dan Uwais” tutur Asil, ayah Rahman langsung duduk dan meremas rambutnya frustasi. Hamdan benar-benar menghancurkan nama baik keluarga dan sekarang Naina juga terlibat.
*****
Sungai dengan air yang begitu jernih dan segar, menjadi tempat semuanya berhenti untuk beristirahat dan minum. Uwais menampung air ditangannya lalu memberikannya kepada Naina sampai istrinya itu minum dari tangannya, Syam diam-diam memperhatikan keduanya. Setelah itu, Naina membersihkan luka di wajah suaminya. Penuh dengan darah kering.
” Aku benar-benar takut mas" lirih Naina, Uwais meraih tangannya lembut. Tangannya yang penuh dengan luka, karena memukuli mereka musuhnya.
” Kita sudah bersama sekarang, jangan khawatir. Bantuan pasti segera datang” Uwais menenangkan Naina, Naina mengangguk. Naina mengusap wajah tampan suaminya dengan ujung kerudungnya, Uwais diam dan melihat Naina juga terluka tapi malah terus mengkhawatirkannya.
” Apa tidak ada yang mau membantu ku mencari ikan? kita bisa kelaparan, woy” teriak Rizal frustasi, dia hanya ingin menganggu kemesraan Uwais dan Naina yang membuat matanya perih. Uwais tersenyum dan mendekatinya.
__ADS_1
” Naina, bisa aku titip Syifa” imbuh Syam.
” Iya mas” singkat Naina, lalu menggendong Syifa. Syifa sangat lapar dan terus menangis, Naina menepuk-nepuk bokongnya sambil memperhatikan ketiga pria yang terus berdebat itu, mereka tidak akan mendapatkan ikan jika terus berdebat. Naina menundukkan kepalanya dan melihat Syifa tidur dengan mengemut ibu jarinya untuk menahan rasa lapar yang dia rasakan. Naina sangat sedih, Syifa pasti merasakan trauma yang mendalam.