
Hari ini seperti biasa Uwais akan pergi untuk bekerja, Uwais menoleh saat melihat ponselnya bergetar dan pesan masuk dari seseorang membuat kedua matanya berair. Uwais bergegas keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Naura yang sedang bersama pelayan. Uwais berjongkok di hadapan putrinya.
” Sayang, papah kerja dulu ya. Baik-baik di rumah” tutur Naina dan Naura diam.
” Fatin, papah” lirih Naura dan Uwais tersenyum kecut. Uwais mendongak menatap pelayan sekilas dan pelayan mengangguk.
” Ayo Naura main sama kakak” ajak pelayan lalu menggendong Naura, Naura dibawa pergi dan Uwais tersenyum sambil melambaikan tangan. Tidak lama Zidan datang mendekat.
” Ada dua ibu hamil yang akan melahirkan bos, aku sudah memeriksanya, berasal dari keluarga kurang mampu dan harus menjalani persalinan sesar" tutur Zidan.
” Baik, kita urus semuanya.” Tegas Uwais dan Zidan mengangguk. Sesuai nazar yang di janjikan Uwais saat itu dia akan membiayai persalinan para wanita kurang mampu.
****
Di bus
Seorang wanita terbangun dari tidurnya, dia sedang berada dalam sebuah bus. Ayahnya pak Fahmi yang sedari memperhatikan tiba-tiba berpaling karena sedang menangis.
” Bapak aku haus”
” Ini Nai, kamu minum” seru pak Fahmi.” Kamu baik-baik ya Nai, tanyakan sama bapak kalau kamu gak tahu”
” Iya pak” jawab Naina.
Naina tersenyum dan menatap keluar kaca bus, sebentar lagi dia akan sampai di ruko nya. Bus berhenti dan pak Fahmi mengajak Naina turun dari bus. Keduanya turun sambil menjinjing tas. Naina tiba-tiba memegang kepalanya yang terasa pusing dan pak Fahmi merangkul bahu putrinya itu.
” Naina, kepala kamu sakit lagi?” tanya pak Fahmi dan Naina mengangguk, pak Fahmi melirik Uwais yang berdiri di depan pintu mobilnya memperhatikan.
” Tiba-tiba kepala Naina pusing pak”
” Ayo kita pergi, kamu istirahat di ruko”
Naina mengangguk dan melangkah bersama pak Fahmi, pak Fahmi mengangguk kepada Uwais dan Uwais juga mengangguk. Sesampainya di ruko, Naina kebingungan melihat ketiga pegawainya.
” Kalian siapa?” tanya Naina. Dita, Mia dan Ai saling melirik.
” Kami bertiga pegawai mbak Naina, aku Dita, ini Mia dan ini Ai” tutur Dita, Naina terlihat kebingungan melihat ketiganya.
” Mbak Naina gak ingat apa-apa, ya Allah” gumam Ai.
” Apa kamu bekerja sudah lama? aku mengingat kamu” kata Naina kepada Ai, semuanya senang mendengarnya. Uwais dari dalam mobil mendengar semua percakapan tersebut, dia memasang cctv dan perekam suara untuk mengetahui pergerakan Naina dan bagaimana kondisi nya.
” Iya mbak, aku udah lama kerja sama mbak. Awalnya toko mbak buka di sebuah kontrakan, kita sering jalan-jalan dan makan sama-sama. Mbak inget?” Ai antusias, Naina meremas-remas tangannya lalu menggeleng kepala.
” Aku gak inget, aku cuma ingat wajah kamu” tutur Naina. Senyuman Ai lenyap, tidak menyerah Ai mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video kebersamaannya dengan Naina di toko yang lama. Naina terdiam, dia memperhatikan bagaimana cara berjalan nya dalam video tersebut. Ai merekam video saat Naina sedang mondar-mandir membereskan etalase saat itu. Naina menundukkan kepalanya dan melihat kakinya, dia pincang? kenapa dia bisa pincang?.
” Kaki aku sakit? aku pasti jatuh sampai berjalan pincang begitu” Naina tersenyum. Ai terdiam lagi karena Naina benar-benar tidak ingat apapun.
” Mbak Naina emang pincang udah lama, karena kecelakaan. Dari usia 15 tahun mbak berjalan seperti ini, mbak ingat kan? coba ingat-ingat” Ai memaksa dan Dota menyikut lengannya agar berhenti. Ai menoleh dan bertatapan sejenak dengan Dita.
” Aku,,,” lirih Naina.
” Naina kamu bisa istirahat di atas, bapak simpan tas di atas ayo” ajak pak Fahmi dan Naina mengangguk, Naina meninggalkan ketiga wanita itu dan pergi ke lantai dua rukonya.
” Bapak mau pergi sebentar” kata pak Fahmi.
” Bapak mau kemana?”
” Mau beli makanan, kamu disini jangan kemana-mana. Minta tolong Ai kalau mau apa-apa”
Naina mengangguk mengiyakan. Pak Fahmi kembali turun ke lantai satu.
__ADS_1
” Bantu Naina mengingat semuanya perlahan, Naina ingat sama kamu AI kemungkinan dia juga percaya sama kamu” ucap pak Fahmi dan Ai mengangguk.
” Saya akan berusaha untuk membantu pak”
” Terima kasih”
Pak Fahmi pergi meninggalkan ruko, dia terus melangkah dan Uwais sudah menunggu. Pak Fahmi ingin melihat cucunya Naura, pak Fahmi masuk ke dalam mobil dan mobil melaju dengan kecepatan sedang.
” Kabar Naura gimana nak?” tanya pak Fahmi.
” Naura sehat pak, apa Naina ada kemajuan?”
” Masih sama, tapi tadi dia bilang ingat sama Ai. Semoga saja Naina bisa segera ingat semuanya, bapak tahu ini gak mudah buat kamu dan buah kita semua. Kamu harus sabar, tolong jangan tinggalin Naina.” Tutur pak Fahmi.
” Naina istri aku pak, sampai kapanpun akan tetap seperti itu” Uwais tersenyum dan pak Fahmi juga tersenyum.
Naina mengalami koma selama 11 bulan, satu bulan yang lalu dia baru sadar dari koma nya, seolah ujian belum usai Naina mengalami amnesia. Dia melupakan semua hal, mengingat orang tuanya saja Naina kesusahan sampai pak Fahmi akhirnya bisa meyakinkan Naina jika dia adalah ayahnya. Naina ketakutan saat melihat Uwais, dia tidak mengenal suaminya sendiri. Uwais masih belum berani menampakkan diri kembali di hadapan Naina, dia takut kondisi Naina memburuk karena dia yang tidak sabaran.
Sesampainya di kediaman Uwais, Naura yang tahu kakeknya akan datang menunggu di depan rumah bersama bi Astri. Naura sangat sedih karena baby sitter nya tidak ada.
” Abah” imbuh Naura saat melihat pak Fahmi, Naura berlari menghampiri kakeknya itu.
” Cucu Abah udah besar” pak Fahmi langsung menggendong Naura dan Naura tersenyum, pak Fahmi merapihkan rambut Naura, semakin besar Naura semakin mirip dengan Naina. Uwais diam memperhatikan keduanya. Pak Fahmi membawa Naura masuk dan Uwais masih di luar. Dia merasa bahagia melihat Naina tadi walaupun dari kejauhan.
*****
Syam berubah.
Fatma sudah pulang dari rumah sakit, sikap kembali kasar padanya. Syam mengira bahwa anak yang dikandung Fatma anak Kabir, setelah di ingat-ingat Fatma sempat datang bulan setelah dia berhubungan dengan Kabir. Kehamilannya baru 6 bulan sementara perselingkuhannya jauh dari usia kehamilannya ini.
” Kamu mau kemana mas?” tanya Fatma.
” Bebas, terserah aku mau kemana pun” ketus.
” Jangan membahas itu dulu Fatma, kalau kamu gak bisa diam aku tampar kamu” ancam Syam tidak main-main, Fatma mundur menjauh dan duduk di tepi ranjang sambil menangis.” Enggak usah nangis, berisik banget sih” Syam protes, dia raih tas nya dan pergi meninggalkan Fatma.
Di tempat lain, di ruko Ali. Ai dan Ali sedang berbincang bersama. Naina terlihat keluar dari toko dan menanyakan kepada Mia dimana letaknya ATM karena dia ingin mengambil uang. Mia akhirnya mengantar Naina, tidak jauh dari ruko ATM berada.
” Bagaimana kondisi Naina?” tanya Ali.
” Mbak Naina sama sekali gak ingat apapun mas, kalau kamu berdiri di depan dia mbak Naina juga tetap gak kenal sama kamu. Mbak Naina malah kelihatan kayak orang linglung, gak kenal siapapun.”
” Naina pasti sedang bingung, aku takut ada yang memanfaatkan kondisinya yang seperti itu”
Ai menoleh menatap Ali.
” Mas Uwais, dia akan menjaga mbak Naina dengan baik dan kita harus tetap membantu supaya mbak Naina ingat semuanya lagi”
Ali mengangguk.
Naina mengantri, Mia berdiri di luar antrian dan memberitahu Uwais apa yang sedang Naina lakukan sekarang. Setelah cukup lama menunggu, Naina masuk untuk menarik uang. Dia bahkan lupa dengan kata sandi laptop, email, akun media sosial, akun jual beli dan yang lainnya. Ai yang tahu menuliskan semuanya di buku dan dibantu Uwais juga. Naina membuka buku kecilnya dan melihat sandi kartu atm-nya. Setelah berhasil dia tersenyum dan ingin menarik uang, tapi Naina ingin melihat saldo ATM nya terlebih dahulu. Kedua mata Naina membulat saat melihat berapa saldo ATM nya.
” Gak mungkin, ini kartu ATM siapa sebenarnya?” Naina bingung melihat saldo ATM nya yang hampir mencapai 2 M, Naina mengucek matanya takut dia salah lihat lalu menghitung jumlah angka di belakang nya lagi.
” Ini beneran milyar?”
Naina panik dan menoleh melihat Mia masih setia menunggu nya, Naina tidak jadi mengambil uang. Wajahnya merah saking paniknya, mendapatkan uang dari mana dia sebanyak itu.
” Apa aku mencuri? apa aku orang jahat?" imbuh Naina berbisik dan dia keluar dari dalam ATM.
” Mbak kenapa gak jadi?” tanya Mia. Naina merangkul tangan Mia dan menariknya.
__ADS_1
” Mia, orang seperti apa sebenernya aku ini?” tanya Naina.
” Ada apa mbak?”
Naina menggeleng kepala dan Mia kebingungan. Mia akhirnya mengajak Naina untuk kembali ke ruko karena takut Naina kenapa-kenapa.
Malam hari tiba, pak Fahmi pulang sore ini dan meminta semua orang menjaga Naina. Mia dan Dita bahkan balik lagi membawa mobil dan tidur dalam mobil untuk menjaga Naina yang sendirian di ruko. Di ruko nya Naina menatap bayangannya sendiri di cermin, dia memperhatikan bekas luka di perut bagian bawahnya yang memanjang. Luka tersebut adalah luka bekas operasi sesar.
” Luka apa ini?” Naina bertanya-tanya.” Kenapa di ATM aku saldonya sebesar itu?”
Naina benar-benar bingung. Naina menatap tangan kanannya tepat di jari manisnya, sebuah cincin yang sudah ada di jarinya saat dia bangun dari tidur panjangnya. Naina berusaha menarik cincin tersebut tapi tidak bisa.
” Susah sekali” ucapnya.
Naina menarik bajunya ke bawah, menutupi perutnya. Dia mengedarkan pandangannya tiba-tiba, Naina semakin penasaran siapa dirinya. Naina merasa akan menemukan sesuatu di dalam rukonya tersebut, Naina mulai mencari apapun, dia buka lemari plastik, menarik laci dan menari semua koleksi buku-buku nya. Entah apa yang dia cari tapi yang jelas pastinya itu akan membantunya menemukan dan tahu siapa dirinya. Naina berhenti saat kepalanya terasa sakit.
” Astaghfirullah hal adzim” imbuhnya, Naina meraih tas nya dan mencari obatnya di sana. Dia mengambil air dan meminum obatnya buru-buru. Naina berkeringat dingin dan dia menjerit saat rasa sakit di kepalanya tidak tertahankan.
****
Flashback on:
Satu bulan yang lalu, Uwais berlari menuju ke rumah sakit. Mobilnya terjebak macet dan dia tinggalkan begitu saja, Uwais sangat bahagia mendengar kabar bahwa istrinya sudah sadar dari komanya. Uwais masuk ke rumah sakit dan berlari menuju ruangan istrinya.
Brug! Uwais tidak sengaja menabrak seorang pria.
” Saya minta maaf” ujar Uwais dan dia kembali berlari. Sesampainya di ruangan istrinya, Uwais melihat Naina sedang duduk dan ketakutan. Naina tidak mau di sentuh oleh dokter ataupun perawat.
” Naina” lirih Uwais lalu menghambur memeluk istrinya yang baru bangun itu, dagu Naina menancap di bahu Uwais. Naina terkejut karena seorang pria tiba-tiba memeluknya, namun pelukannya terasa nyaman dan tidak asing.
” Lepas!" tiba-tiba Naina mendorong dada Uwais dan pelukan pun terlepas. Uwais terkejut karena Naina menolaknya.
” Sayang ini aku”
” Jangan menyentuhku”
” Sayang,,,,” Uwais melangkah mendekat dan Naina melemparkan bantal padanya agar menjauh. Uwais menoleh menatap semua dokter dan perawat dengan tatapan kesal. Pak Fahmi datang bersama istrinya dan melihat Naina ketakutan sambil mendekap kedua lututnya.
” Naina” pak Fahmi menyentuh lengan Naina tapi Naina menolak.
” Naina ini ibu sama bapak” kata Bu Ratna.
” Ikut saya sebentar” ajak dokter. Naina di tenangkan oleh perawat dengan menyuntiknya, Uwais dan yang lain keluar.
” Ada apa ini sebenarnya dokter?” Uwais bertanya.” Istri saya takut melihat suaminya sendiri”
” Maaf pak, Bu Naina mengalami amnesia. Dia tidak mengingat apapun” tutur dokter, pak Fahmi langsung duduk dan Bu Ratna menenangkannya.” Jangan memaksanya, karena itu bisa berakibat fatal”
Uwais diam. Dia duduk sambil tertunduk dalam, penantian panjang hanya membuat istrinya bangun dan tidak ingat dengan siapapun. Pak Fahmi dan Bu Ratna bahkan harus meyakinkan Naina susah payah, dan Uwais tidak diberikan izin untuk menemui Naina saat ini. Uwais memeluk Naina yang tidak tahu dirinya saja siapa membuat Naina ketakutan. Selang beberapa waktu Naina berangsur pulih, dia mulai percaya kepada ayah dan ibunya. Hari ini Naina akan dibawa ke kampung halaman, Uwais membiarkan mertuanya membawa istrinya untuk kebaikan Naina sendiri. Saat Naina dan orang tuanya keluar dari rumah sakit Uwais berdiri di tengah jalan yang akan Naina lewati, Naina masih lemah dan memakai kursi roda. Naina memperhatikan pria yang memeluknya sembarangan itu, pak Fahmi dan Uwais saling menatap sejenak dan Uwais mengangguk memberikan izin untuk Naina pergi. Naina melewati Uwais begitu saja, namun tangannya dan tangan Uwais tidak sengaja bersentuhan. Naina melihat jelas Uwais mengenggam pergelangan tangannya sekilas, setelah jauh Naina menoleh dan Uwais sudah menghilang entah kemana. Uwais duduk sendirian, meratapi nasibnya yang begitu malang. Putrinya Naura sama sekali belum pernah disentuh oleh ibunya Naina.
Flashback off
****
Mendengar jeritan Naina, Mia dan Dita keluar begitu juga dengan Ai dan Ali tang ada di ruko mereka. Namun suara tangisan Naina tiba-tiba lenyap, Dita membuka pintu dengan mencongkelnya dan pintu tetap tidak mau terbuka.
” Mbak!" panggil Ai.” Mbak kenapa?”
Naina tiba-tiba membuka jendela rukonya dan melihat semua orang berkumpul di bawah sana. Semuanya bingung melihat Naina baik-baik saja, Naina sudah tidak merasa sakit lagi setelah meminum obatnya.
” Mbak kenapa?” tanya Dita.
__ADS_1
” Enggak apa-apa, kalian pulang aja” sahut Naina.