Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Berkunjung


__ADS_3

Hari ini hari Minggu datang bulan Naina pun sudah berakhir.Naina sudah takut Syam berpikir jika dia mencari-cari alasan saja. Hari ini juga Naina dan Syam akan melihat keluarga Syam dengan membawa makanan yang Naina masak sendiri untuk mertuanya, Syam menyetir sambil melirik Naina berulang kali.


” kenapa mas lihatin aku terus? aku cantik?” Naina tersenyum lebar.


” Cantik banget" puji Syam dan Naina mengernyit heran padahal dia hanya bercanda.” Aku sudah memutuskan untuk acara resepsi pernikahan kita masih tiga bulan lagi setelah kamu operasi kamu harus banyak istirahat Nai."


” Terus honeymoon kapan mas?" Naina menatap Syam lekat, dan Naina bingung karena Syam menepikan mobilnya dan berhenti sekarang.


” Kamu beneran mau honeymoon sama aku Naina?" Syam antusias dan menatap Naina dari atas ke bawah sontak Naina menutupi dadanya.


” Mas jangan mesum” Naina takut.


” Boleh aku cium Nai?" Syam tersenyum.


” Aku masih datang bulan mas”


” Aku mau cium doang Nai gak bakal sampai kesana” Syam mulai kesal.


” Iya" Naina tersenyum lalu menunjuk pipi nya. Syam mengecup pipi Naina lembut.


” Sudah?” Naina tersenyum.


” Aku mau cium ini Nai” Syam menunjuk bibir Naina dan Naina terdiam, tidak mengiyakan apalagi menolak. Diam nya Naina seperti lampu hijau untuk Syam dan akhirnya dia melakukannya perlahan-lahan Syam menekan tengkuk istrinya dan ciuman terjadi sangat singkat. Naina merasa geli karena kimia dan jenggot suaminya. Syam tersenyum lalu mengecup kening istrinya sekilas.


*****


Di kediaman Husna. Husna sedang menunggu suaminya dia dan Mirza akan jalan-jalan hari Minggu ini walaupun Mirza masih marah Mirza tidak bisa membuat Husna semakin sedih.


” Mas lama banget sih" teriak Husna dan dia sudah berada di luar rumah. Mirza keluar lalu mengunci pintu.


” Lama" protes Husna.


” Sabar sayang, aku cari kunci mobil dulu tadi. Kita mau ke rumah orang tua kamu?" Mirza menatap Husna yang sudah sangat cantik itu.


” Gak mau mas, males” Husna mendelik sebal lalu melangkah mendekati mobil, Mirza membuka pintu mobil dan Husna masuk. Mirza menggeleng kepala melihat tingkah laku istrinya.


*****


Di rumah nya pak Fahmi sedang melamun di kursi yang terbuat dari bambu kayu, pria paruh baya itu mengkhawatirkan Naina yang akan dioperasi dalam waktu dekat.


” Pak ini kopinya bapak jangan ke sawah hari ini istirahat saja" imbuh Bu Ratna seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja.


” Terimakasih bu, iya bapak gak ke sawah dulu hari ini lagi gak tenang juga kepikiran Naina terus" pak Fahmi kembali melamun.


” Bapak mau ke Jakarta? Naina juga sudah pindah dibawa suaminya. Ibu jadi mau lihat rumah Naina kayak gimana" tersenyum.


” Ibu mau ikut kalau bapak ke Jakarta? terus Kabir sama siapa?" pak Fahmi menatap istrinya lekat.

__ADS_1


” Ya bawa aja, sabtu depan kan tanggal merah kita berangkat hari minggunya kita pulang pak" usul Bu Ratna dan pak Fahmi terdiam.


Pak Fahmi tersenyum dan memutuskan untuk pergi hari Sabtu dan pulang hari Minggu sesuai yang dikatakan istrinya.


****


Di rumah orang tua Syam, Naina duduk di antara mama Novi dan Asil. Naina tidak nyaman karena terus diperhatikan oleh Hamdan. Dia kira Hamdan tidak ada tahu-tahunya ada, Syam memperhatikan Hamdan dan Arthur yang memperhatikan Naina lekat.


"Istriku memang cantik tapi memiliki kekurangan, bisa-bisanya mereka menatap Naina seperti itu." Gumam Syam.


Naina tersenyum menanggapi ucapan mama Novi dan kakak iparnya, Resta menatap Naina sinis dan melirik Syam yang memperhatikan Naina sedalam itu. Bukan masalah Resta sebenarnya karena Syam memperhatikannya istrinya sendiri, Naina semakin pandai mengurus wajahnya. Walaupun tidak memakai make up dan hanya memakai lipstik saja.


” Bias mas Syam percaya mas Hamdan seperti apa aku harus memancing mas Hamdan tapi aku takut, aku gak tahu mas Hamdan seperti apa. Tatapannya benar-benar tidak baik dan berpusat pada satu titik, dada ku." Gumam Naina.


Padahal Naina memakai gamis longgar dan dia tutupi lagi dengan hijab segiempat ukuran jumbo itu.


” Kamu harus banyak istirahat sebelum operasi" lirih mama Novi khawatir.


” Iya mama, do'ain semoga lancar ya ma" Naina tersenyum.


" Tentu saja mama pasti do'ain kamu semua anak dan menantu mama do'akan yang terbaik" mama Novi tersenyum lebar.


” Naina ikut aku sebentar" agak Tari dan Naina mengangguk.


” Nai aku ngomong sebentar" Syam bangkit lalu meraih tangan Naina dia ingin membawa Naina ke kamar dan meminta ciuman lagi tapi malah Tari yang mendahuluinya.


” Ishhh" Syam berdesis lalu menatap kepergian Naina yang kesusahan menaiki tangga. Naina menoleh dan menggeleng kepala meminta suaminya diam karena Naina mendapatkan ucapan sinis dari Tari sekilas. Syam khawatir melihat raut wajah Naina dan dia memutuskan untuk mengikuti Naina dan Tari.


Di kamar Tari Naina duduk ditepi ranjang seraya mengedarkan pandangannya, kamar yang begitu sabar dan mata Naina tertuju pada pakaian bayi menggantung dan berwarna kuning. Bukannya mbak Tari belum memiliki anak? Naina kebingungan.


” Auw mbak sakit” Naina meringis saat Tari menjambak hijabnya.


” Aku tahu apa yang suami aku lakukan sama kamu Naina, dan kamu jangan ngomong sama Syam. Kamu gak berhak ngomong aneh-aneh tentang suami aku Nai” suara Tari memang rendah tapi tatapan dan cengkeramannya membuat Naina takut.


” Mbak tahu suami mbak salah seharusnya mbak menegur suami mbak, bukan mengancam saya" Naina berusaha melepaskan cengkraman tangan Tari dan Tari melepaskannya.


” Karena aku cinta sama suami aku Nai, biarkan dia jangan sampai kamu bilang sama mama dan ayah. Aku sudah menikah 5 tahun tapi belum juga di karuniai anak aku hanya bisa membiarkan suami aku bermain-main sama gadis lain Nai agar dia gak pergi ninggalin aku" Tari menangis setelah mengatakan apa yang dia alami dan rasakan selama ini. Naina diam seraya terus merapihkan hijabnya. Di luar Syam menaiki tangga untuk menyusul Naina dan Tari perasaannya tidak tenang saat ini.


” Syam" panggil Hamdan dan Syam menoleh.


” Iya mas" Syam diam dan Hamdan melangkah mendekatinya.


" Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan ayo" ajak Hamdan seraya merangkul bahu Syam.


” Tapi aku ada urusan sebentar mas" Syam menolak. Dan melepaskan tangan Hamdan lalu dia Kembali melangkah menuju kamar Tari.


” Gawat kalau Tari sedang macam-macam sekarang” Hamdan berbisik dan menatap kepergian Syam.

__ADS_1


Naina sedang melangkah setelah dia berdebat dengan Tari, Naina melangkah menuju kamar Syam dan dia berpapasan dengan suaminya saat ini. Naina langsung berbalik seraya mengusap air matanya Syam melihat hijab istrinya terkoyak tidak rapih seperti tadi.


” Nai" panggil Syam lalu mendekati Naina dan Naina tersenyum padanya.


” Aku mau ke kamar kamu boleh gak mas?" Naina terus tersenyum dan Syam melihat kedua mata Naina merah.


” Kamu nangis Nai?”


” Enggak mas ada debu masuk tadi" Naina mengucek matanya dan Syam tetap tidak bisa percaya, Syam merangkul pinggang Naina lalu mengajak Naina ke kamarnya. Di kamar Syam masih belum percaya dan terus mendesak Naina agar mau mengatakan apa yang terjadi.


” Aku gak kenapa-kenapa mas aku cuma mau istirahat disini" kata Naina berusaha menghindar.


” Kamu kalau ada masalah itu ngomong Naina, jangan sampai kayak kemarin Amira datang dan ngomong aneh-aneh terus kamu nuduh aku macam-macam" Syam kesal.


” Kamu kenapa sih nyebut mantan kamu di depan aku mas? aku baik-baik saja kamu yang berlebihan. Kamu masih ingat sama mantan kamu ya mas yang cantik itu" kesal Naina lalu duduk ditepi ranjang.


” Aku cuma meluruskan saja aku gak niat apa-apa aku cuma takut kamu berpikiran aneh-aneh lagi sama aku, aku gak suka kamu diam kayak begini Naina” Syam semakin kesal lalu duduk di sebelah Naina.


Naina diam semakin dia meladeni ucapan Syam semakin Syam berusaha menekannya agar dia mau berbicara, bagaimana bisa Naina mengatakan apa yang terjadi dia sudah menganggap Tari seperti kakaknya sendiri tapi ternyata Tari lebih melindungi kebusukan suaminya, cinta memang membuat semua orang yang terperdaya tidak bisa berpikir jernih.


” Naina" teriak Syam dan Naina menoleh.


” Berisik mas jangan teriak-teriak"


” Awas aja kamu Naina kalau gak mau jujur sama aku terus aku denger dari orang lain, aku siksa kamu Naina” ancam Syam sudah bingung karena Naina tidak mau bicara.


" Siksa saja kalau berani, kalau kamu berani kita gak bakal sama-sama lagi mas kamu emang kasar aku juga bisa laporin semua tindakan kamu ke polisi” Naina balik mengancam.


” Kamu emang gak niat hidup sama aku ya Nai?" Syam menarik pergelangan tangan Naina kasar dan menatap Naina tajam.


” Tuh kan kamu kasar lagi sama aku" Naina menatap cengkraman tangan suaminya dan Syam buru-buru melepaskan tangannya.


” Nai jangan tega sama aku Nai, aku minta maaf kamu jangan aneh-aneh bawa-bawa polisi segala Naina" Syam merengek dan memeluk Naina erat Naina menahan tawanya karena Syam ketakutan sekarang.


” Ya mangkanya kamu jangan marah-marah terus mas” Naina berusaha menggeliat agar Syam melepaskan pelukannya, dia merasa tidak bisa bernafas.


” Kapan aku marah Nai" Syam tersenyum tipis.


” Gak mau ngaku?" Naina tersenyum kecut.


” Aku minta maaf” Syam tersenyum lebar dan Naina memegang tangan suaminya di perutnya. Syam mengusap perut rata istrinya gemas, Naina diam dan terus tersenyum.


” Nai kapan kita punya anak?" Syam bertanya.


” Anak apaan mas ketemu juga belum” Naina ingin bangkit tapi Syam menahannya.


” Ya sudah ayo” ajak Syam.

__ADS_1


__ADS_2