Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Diam-diam suka


__ADS_3

” Kamu tinggal dimana sekarang?”


” Aku masih tinggal di kota ini, kamu baru bebas mana tahu aku tinggal dimana” Kaindra tersenyum. Uwais juga tersenyum lalu makanan keduanya datang dan keduanya mulai menikmati makanannya.


” Bagaimana dengan rencana mu Uwais?"


” Aku merubahnya”


” Maksudnya?” Kaindra bingung.


” Aku mengubah semuanya Kai, tidak ada balas dendam lagi dan aku sudah menikah. Aku tidak mau membuat wanitaku kecewa lalu dia pergi meninggalkannya ku hanya karena masa lalu, bukan berarti juga aku bisa dengan mudah memaafkan mereka. Tapi biarlah hukuman Tuhanku Allah yang paling berhak memberikan hukuman” tutur Uwais, Kaindra tersenyum lalu menepuk bahu Uwais.


” Aku senang dan bangga mendengarnya, dan kamu menikah tidak mengundang ku kurang ajar” Kai mendengus sebal lalu meninju otot lengan Uwais dan Uwais tertawa kecil.


” Haha, semuanya diluar perencanaan. Semuanya serba mendadak karena aku takut keduluan orang lain, tapi aku berniat untuk menggelar acara resepsi pernikahan” Uwais tersenyum lalu meminum airnya.


” Aku tunggu undangannya”


” Kamu orang pertama yang akan menerimanya”


Keduanya tersenyum lebar lalu melanjutkan aktivitas makan mereka.


****


Di ruko, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore kata Uwais dia akan menjemput tapi sepertinya Uwais akan telat. Naina sedang mengompres kakinya, kakinya terasa sakit lagi. Setelah operasi itu kakinya sama sekali tidak menunjukkan perubahan yang jelas, kakinya masih pincang. Di ruko Naina naik turun tangga itu yang membuat kakinya lelah dan sering sakit.


” Mbak minum dulu” imbuh Ai memberikan teh hangat kepada Naina.


” Terima kasih Ai, kamu kalau mau pulang pulang aja. Aku nungguin mas Uwais”


” Enggak mbak aku nunggu aja sampai mas Uwais datang, kaki mbak juga lagi sakit aku khawatir. Apa kaki mbak harus di operasi lagi ya?”


” Aku gak tahu Ai, setelah operasi aku tidak pernah kontrol karena aku juga hamil terus mbak Amira datang dan semuanya sangat kacau.” Imbuh Naina sedih lalu menatap kakinya.


Tidtt.. Suara klakson mobil, Naina dan Ai menoleh dan mereka melihat Uwais datang. Naina menyembunyikan kompresan dan berbisik kepada Ai agar diam lalu Ai mengangguk.


” Assalamu'alaikum” ucap Uwais sambil tersenyum.


” Wa'alaikumus Salaam”


” Sudah selesai?”


” Iya mas, mas bisa ajak Ai sekalian gak ya? sampai pertigaan”


” Iya, gak masalah”


” Enggak usah mbak, mas. Aku bisa sendiri hehe” Ai melirik Akbar yang sudah menunggunya untuk mengantarnya pulang. Naina dan Uwais saling menatap lekat.


” Kalau begitu aku duluan ya Ai, hati-hati di jalan, istirahat” ucap Naina dan Ai mengangguk sambil tersenyum, dia takut Naina tahu jika dia dan Akbar menjalin hubungan. Dia harus sembunyi-sembunyi pulang di antar begitu juga saat dijemput.” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam” jawab Ai.


Uwais dan Naina melangkah bersama, Uwais meraih tangan istrinya lalu membuka pintu mobil. Tidak lama Uwais pun masuk, Ai melambaikan tangannya dan Naina membalasnya setelah mobil mewah itu pergi Ai merasa lega. Ai melangkah mendekati Akbar.


” Nih” Akbar memberikan helm dan Ai menerimanya.


” Besok jangan nungguin di sini, lebih jauh dikit mas kalau mbak Nai tahu gimana?”


” Kamu takut banget sih sama mbak Naina?”


” Mbak Nai udah kayak kakak aku sendiri mas, dia percaya kalau aku gak bakal pacaran tapi sekarang aku pacaran”


” Terus kamu nyesel Ai?”


Ai diam lalu menggeleng kepala.


” Ayo cepat naik” titah Akbar dan Ai naik ke atas motornya.


****


Peluk aku.

__ADS_1


Naina membawa segelas jus jeruk untuk suaminya yang sedang berenang. Naina meletakkan gelas di atas meja dan Uwais menoleh.


” Naina kemari” titah Uwais padahal dia sedang berada cukup jauh dari tepi.


” Aku gak bisa berenang mas” Naina menundukkan kepalanya lalu melihat kakinya, Uwais menatap wajah sedih istrinya itu dan dia merasa bersalah. Uwais berenang ke tepian, dan Naina bingung.


” Duduk disini” pintanya seraya menepuk tepi kolam renang, Naina bingung tapi dia duduk perlahan dan Uwais meraih tangannya lalu mengenggamnya. Kedua kaki Naina sudah masuk ke dalam air.


” Mas hanya memintaku menjadi penonton?”


” Bukan, aku akan mengajakmu berenang” kata Uwais lalu memegang pinggang Naina dan mengangkatnya, Naina terkejut dan reflek memeluk suaminya erat.


” Ini sangat dalam, aku takut” Naina berpegangan pada kedua bahu bidang suaminya, Uwais membuka kedua kaki Naina di bawah air agar kedua kaki istrinya memeluk pinggangnya, setelah itu Naina baru merasa nyaman. Uwais tersenyum dan memperhatikan wajah cantik istrinya dengan jarak yang begitu dekat, hembusan nafas segar menerpa wajahnya.


” Mau aku bawa ke bawah air?"


” Tidak mau, aku tidak bisa”


Uwais menenggelamkan tubuhnya dan otomatis tubuh Naina terbawa, Naina membuka matanya begitu juga dengan Uwais. Tidak lama keduanya kembalikan muncul ke permukaan air, Naina mengusap-usap wajahnya yang basah dan memukul dada suaminya kesal.


” Bagaimana?”


” Dingin” lirih Naina dan terus memeluk leher suaminya, Uwais membawa istrinya ke arah tangga, setelah kakinya menyentuh tangga dia melepaskan kaki Naina dari pinggangnya, lalu menggendong istrinya dan menaiki tangga. Naina mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan menatap wajah suaminya lekat. Air jatuh menimpa wajahnya dari dagu Uwais.


” Diam di sini” imbuh Uwais lalu merebahkan Naina di atas kursi. Naina mengusap wajahnya dan melihat Uwais mengambil handuk. Uwais mengeringkan wajah istrinya yang basah perlahan-lahan.


” Lepas kerudung kamu sayang”


” Aku takut ada yang melihat”


” Tidak akan ada, kamu flu nanti”


Naina mengangguk dan melepas kerudungnya, Uwais mengeringkan rambut istrinya dan Naina diam. Setelah rambut istrinya kering Uwais menutupi rambut istrinya dengan handuk. Naina menundukkan kepalanya berulangkali karena Uwais menatapnya begitu dalam, menatap bibir dan kedua mata Naina. Uwais membelai wajah cantik istrinya itu lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Naina.


Cup kiss,,,, satu kecupan.


Karena Naina diam dan melihat bibir Naina sedikit terbuka, Uwais kembali menciumnya perlahan-lahan sampai dia bisa menguasai bibir manis istrinya. Suara kecupan terdengar sangat jelas, Uwais berhenti dan menatap Naina yang terus menutup matanya. Tangannya terkepal kuat. Naina membuka matanya dan Uwais hendak mencumbu lagi tapi Naina bangkit dan melangkah pergi, Uwais menyambar gelas lalu meminum jus jeruk tiga kali tegukan dan meremas gelas di tangannya sampai pecah. Naina yang melihat hal itu bergidik ngeri dan ketakutan, Uwais menoleh dan melihat Naina memperhatikan tangannya. Naina kembali melangkah dan memegang kakinya yang terasa ngilu.


****


” Mau saos?” tanya Naina dan Uwais bangkit dari duduknya lalu pergi.” Mas" panggil Naina dan bi Astri memperhatikan keduanya.


” Biar bibi yang rapihkan” imbuh bi Astri.


” Oh iya bi terima kasih” Naina tersenyum dan dia malas untuk sarapan melihat tingkah dingin Uwais, Naina meninggalkan dapur dan meraih tas nya lalu dia keluar dari rumah.


” Kamu berangkat diantar Zidan, aku ada pekerjaan penting" imbuh Uwais, walaupun dia sedang kesal kepada Naina dia tidak bisa untuk tidak mencium kening dan pipi istrinya setiap pagi seperti biasa. Naina diam lalu menatap suaminya.


” Jadi aku tidak penting? aku bisa berangkat sendiri” Naina tidak mau satu mobil dengan pria asing, dia raih tangan Uwais menempelnya ke dahi, ke pipi, ke hidung lalu menciumnya.” Assalamu'alaikum” Naina melangkah tapi Uwais meraih tangannya.


” Aku antar”


” Bukannya ada pekerjaan penting” lirih Naina.


” Tidak, kamu yang paling penting. Ayo” Uwais meraih tangan Naina lalu mengenggamnya, tanpa memberikan senyuman karena sedang kesal. Naina sadar Uwais marah padanya karena kejadian di kolam renang itu.


” Ayo masuk" titah Uwais dan Naina masuk. Zidan memperhatikan bos muda dan istrinya sedang bertengkar saat ini.


” Bos marah” bodyguard berbisik dan Zidan menyikut lengannya.


Di perjalanan menuju Ruko, Naina diam. Dia menatap keluar kaca jendela dan Uwais meliriknya terus-menerus, melihat Naina diam ternyata tidak enak juga tapi Uwais tidak berani mengatakan bahwa dia tidak suka dengan penolakan Naina. Lampu merah menyala, Uwais menghentikan mobilnya lalu meraih tangan istrinya dan Naina menoleh.


” Ada apa?"


” Apa harus ada alasan menyentuh tangan istriku sendiri?”


Naina menggeleng kepala.


” Kalau begitu diam” ketus Uwais dan Naina menatapku penuh tanda tanya.


Sesampainya di ruko, Naina turun tanpa menunggu Uwais membuka pintu mobil untuknya.

__ADS_1


” Aku pergi”


” Hemm, hati-hati”


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Naina diam menunggu sampai suaminya meninggalkannya, Uwais melajukan mobilnya perlahan dan memperhatikan Naina dari kaca spion.


” Aku sedang marah, aku ingin marah tapi aku tidak bisa. Naina, aku ingin kamu tidak menolakku. Tidak menolak sentuhan ku” gumam Uwais frustasi dan Naina masih di tempatnya memperhatikan kepergian Uwais.


****


Kedatangan bibi.


Hari ini Uwais tidak pergi kemana-mana dan Naina juga dia minta untuk istirahat, bibinya akan datang. Naina diam-diam memperhatikan Uwais yang tidak berbicara apapun sedari tadi.


” Mas aku mau ke kamar”


” Ngapain? bibi datang sebentar lagi tunggu dulu” Uwais menahan dan Naina akhirnya diam.


Naina dan Uwais menoleh, lalu melihat kedatangan tiga orang. Paman, bibi, seorang laki-laki dan seorang wanita dengan pakaian seksi anak paman bibi Uwais. Kedua mata Naina membulat melihat pakaian wanita itu.


” Uwais” imbuh bibi Alexa lalu berpelukan dengan Uwais, cipika-cipiki lalu di susul wanita seksi itu anaknya, Larisa dan kedua mata Naina membulat melihat suaminya di sentuh wanita lain. Uwais berpelukan dengan pamannya Jordi dan Johan.


” Ini istriku Naina” imbuh Uwais dengan penuh kebanggaan memperkenalkan Naina istrinya, Alexa dan Larisa berpelukan dengan Naina walaupun terlihat terpaksa. Johan yang juga ingin memeluk Naina ditahan oleh Uwais dan didorong sedikit.


” Kenapa kamu mendadak sekali menikah Uwais?” tanya paman Jordi.


” Iya memang semuanya mendadak.”


” Istrimu cantik juga ya” puji Alexa dan Uwais tersenyum lalu merangkul bahu Naina, Larisa yang melihat pemandangan itu terlihat tidak suka.


” Kamu harus mengadakan acara resepsi pernikahan Uwais, kakek kamu seorang pengusaha pasti dia ingin menggelar acara besar. Dulu ibumu sama sekali tidak merayakan apapun karena pernikahannya dengan ayah kamu adalah keterpaksaan dan kakek kamu gak setuju, sekarang kamu harus mengadakan resepsi pernikahan” ujar Alexa, Uwais terlihat tidak suka dengan ucapannya yang mengandung hujatan. Naina memperhatikan rahang suaminya yang mengeras.


” Ya, untuk sekarang aku sedang memikirkan honeymoon. Iya kan sayang kita akan honeymoon?" Uwais tersenyum lebar kepada Naina.


” Mau honeymoon kemana? minyak kalian butuh orang yang membantu kalian, aku siap” kata Larisa, alasan. Dia ingin menganggu Naina dan Uwais.


” Rahasia" jawab Uwais sambil tertawa kecil karena dia tahu Larisa seperti apa, melihat pria bening dikit sikat. Larisa berhenti tersenyum mendengarnya jawaban Uwais, Naina tidak banyak bicara, takut salah dan Johan terus memperhatikannya. Itu sangat tidak nyaman untuk Naina.


Setelah obrolan kecil selesai, Jordi ingin pindah ke lantai dua. Menaiki tangga. Semua tamu itu tahu Naina cacat dan ingin melihat seperti apa? Naina dan Uwais melangkah paling belakang. Larisa menyerobot masuk di antara Uwais dan Naina sampai Naina tertinggal dan Naina sadar Larisa sedang menggoda suaminya.


” Naina, kenapa tidak naik?" imbuh Larisa bertanya, nada bicaranya mengejek melihat Naina yang hanya diam menatap tangga panjang itu. Uwais turun menuruni tangga kembali dan mendekati Naina yang ingin naik lift saja daripada diejek Larisa, Naina terkejut dan sontak mengalungkan tangannya ke leher suaminya saat Uwais menggendongnya. Larisa terkejut apalagi yang lain, semua pelayan dan bodyguard memperhatikan bos mereka yang menggendong istrinya tanpa ragu lalu menaiki tangga. Naina mengalungkan kembali tangan kirinya dan Uwais menunduk menatapnya, Naina tersenyum dan Uwais juga tersenyum.


” Dia cacat” maki Johan.


” Entah kenapa Uwais memilihnya, dia janda terus cacat apalagi kekurangannya untuk menodai Uwais yang sempurna” timpal Alexa kesal.


Sesampainya di lantai dua, pelayan sedang menyiapkan jamuan untuk para tamu tersebut. Uwais menurunkan Naina dan Naina duduk saat Uwais menarik kursi untuknya. Uwais juga duduk di susul semua orang.


” Ayo di makan, kalian mau apa? bilang saja kepada pelayan” imbuh Uwais dan semuanya mengangguk.


” Uwais, bibi tunggu undangan resepsi pernikahan kamu dan Naina” ucap Alexa.


” Iya” singkat Uwais.


Johan terus menatap Naina dan Naina sedang memakan potongan buah mangga.


” Mau ini?" Uwais menawari Naina minuman dingin dan Naina memgangguk, keduanya minum di satu botol yang sama di bekas bibir satu sama lain. Larisa dan ibunya saling melirik.


” Uwais, kamu dan Naina menunda momongan?" tanya Jordi iseng.


” Enggak, aku dan Naina tidak melakukan itu. Mungkin sebentar lagi kita semua akan mendapatkannya kabar bahagia, iya kan sayang?” Uwais tersenyum kepada Naina dan Naina bingung, berhubungan intim saja belum mana bisa kabar bahagia hadir Naina mengangguk dan Uwais tersenyum tipis.


” Aku ke toilet sebentar” Naina berpamitan kepada Uwais.


” Bisa ambilkan satu botol soda lagi?" tanya Johan dan Naina bingung, tapi dia mengangguk. Uwais meraih tangan Naina dan dia bangkit lalu melangkah pergi untuk mengambilkan satu botol soda. Uwais kembali dengan tatapan tidak suka kepada Johan yang memerintah istrinya, Naina menarik baju Uwais agar tidak ada keributan melihat tatapan suaminya seperti itu.


” Soda” imbuh Uwais dan memberikannya kepada Johan, Johan melirik ibunya lalu menerimanya.” Aku sendiri tidak pernah meminta istriku apa-apa, kau buta? banyak pelayan disini dan istriku bukan pelayan” tegas Uwais. Naina tidak punya pilihan lain dan dia duduk kembali.

__ADS_1


” Aku,,,,” Johan bingung.” Aku tidak bermaksud untuk begitu” Johan sedikit kesal karena Uwais sangat membela dan melindungi Naina. Wajah Johan terlihat pucat, dan bingung harus melakukan apa sekarang.


__ADS_2