
Alexa, Larisa, Jordi dan Johan akan pulang. Naina dan Uwais mengantarkan semuanya sampai keluar dari rumah.
” Kapan-kapan aku bakal main kesini” ujar Larisa.
” Haha, gak usah, beneran gak usah” Uwais menolak secara langsung dan senyuman Larisa langsung lenyap. Tapi Larisa berusaha untuk tenang.
” Aku pergi” Larisa melangkah maju ingin memeluk Uwais tapi Uwais menahan bahunya, Naina menatap suaminya lekat dekat menatap Uwais yang menahan Larisa seperti itu.
” Hati-hati” imbuh Uwais singkat, Larisa melangkah pergi dan masuk ke dalam mobil dengan suasana hati yang begitu buruk. Naina dan Uwais diam menatap kepergian dua mobil keluar melewati gerbang.
” Kamu kenapa sih mas sama saudara kayak begitu?” tegur Naina dan Uwais menoleh.
” Saudara sejak kapan Nai, disaat aku susah mereka sama sekali gak ada yang datang untuk bantuin aku. Gak suka aku Nai” Uwais kesal dan Naina menggeleng kepala.
” Mereka tamu loh mas, gak boleh begitu harus dijamu dengan baik”
” Lihat juga tamunya kayak gimana, mereka malah mau merendahkan kita Nai kemari. Johan apalagi lihatin kamu terus, kamu pikir aku gak kesel?”
” Kamu cemburu mas?" tanya Naina sambil tersenyum tipis lalu Uwais menoleh dan memperhatikan senyuman mengejek istrinya.
” Siapa yang cemburu” katanya, membantah. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengomel. Naina tersenyum dan menyusul suaminya.
***
Kedatangan mama Novi.
Naina sedang menyapu di depan ruko nya, kedatangan mama Novi membuat Naina terkejut karena tidak ada menghubungi sebelumnya.
” Nai” lirih mama Novi, Naina menyalami tangannya lalu mengajak mama Novi duduk. Naina melirik penjual es cendol yang baru datang dan biasa mangkal sejenak di area ruko.
” Mang dua ya” pinta Naina dan mamang cendol mengangguk lalu tangannya sigap menyiapkan gelas dan yang lainnya.
” Kenapa mama kemari gak bilang-bilang? kalau Nai lagi gak ada gimana?”
” Nai, mama mau tanya”
” Iya ma, tanya apa?”
” Kamu beneran sudah nikah lagi?” lirih mama Novi bertanya, Naina diam lalu dia tersenyum dan mengangguk.” Sama Uwais? dia mantan narapidana Naina. Mama khawatir sama kamu”
” Mas Uwais memang dipenjara, tapi dia gak salah ma. Dia baik sama Naina” Naina meyakinkannya, jika bukan untuk Syam Naina juga berpikir dua kali untuk menerima Uwais tapi dia juga dibingungkan dengan petunjuk dari sholat istikharah nya saat itu.
” Syam sakit, dia mau ketemu sama kamu. Mama kemari buat minta kamu ketemu sama Syam”
Naina menundukkan kepalanya begitu dalam, dia belum mencintai Uwais tapi dia juga tidak bisa mengkhianati suaminya.
” Aku butuh izin dari suami aku ma, maaf” Naina tidak yakin Uwais mengizinkan, mama Novi membuang nafas kasar merasa bingung dan Naina tidak bisa menjanjikan apa-apa. Lagipula, kenapa harus dia yang menjadi penawar sakitnya Syam. Dia bukan penyembuh.
” Ini mbak es cendol nya” seru mamang dan Naina mengangguk, Naina dan mama Novi menikmati es cendol bersama walaupun mama Novi terlihat sedih dia tidak bisa menolak apa yang sudah Naina berikan.
Waktu berlalu, hari sudah sore dan Uwais datang untuk menjemput Naina. Dia menunggu karena Naina sedang sholat ashar di lantai dua ruko.
” Mas Uwais” panggil Ai dan Uwais menoleh.
” Iya ada apa?”
” Mbak Nai lagi sakit mas"
” Sakit apa?" panik.” Naina gak bilang apa-apa sama saya.”
” Kakinya mas yang sakit, padahal udah dioperasi tapi kayaknya gagal deh. Mungkin mbak Naina gak bilang karena takut mas Uwais khawatir nanti” tutur Ai. Dia juga sangat khawatir dengan kondisi Naina.” Sebenarnya saya gak boleh bilang-bilang sama mas Uwais, tapi kan mas sama mbak Nai udah nikah mas harus tahu. Bawa ke dokter aja mbak Naina nya lagi, mas kan orang kaya pasti bisa mengobati berapapun untuk kesembuhan mbak Naina itu juga kalau mas Uwais benar-benar sayang sama mbak Nai.” Ujarnya, dan memperhatikan Uwais yang terlihat khawatir.
” Mas sayang kan sama mbak Nai?”
” Kalau saya gak sayang, gak cinta ngapain saya nikahin” ketus Uwais dan Ai tersenyum, Uwais bangkit dan masuk ke ruko untuk melihat istrinya. Naina sedang melipat mukena dan sajadah, dia menoleh saat Uwais datang.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam, mas udah nungguin dari tadi?” Naina melangkah mendekat, dia menyalami tangan suaminya dan terkejut saat Uwais tiba-tiba memeluknya. Menciumi rambutnya.
” Aku minta maaf” lirih Uwais, Naina mendongak dan melihat raut wajah suaminya terlihat sangat sedih.
” Kamu kenapa mas? minta maaf kenapa?” Naina bingung, Uwais meraih tangan Naina lalu mengecup punggung tangan Naina sekilas dan Naina semakin tidak paham dengan tingkah laku suaminya. Uwais menekan dagu Naina lalu mencium bibir istrinya sekilas.
” Kamu kenapa sih mas? bikin takut aja” Naina cemberut.
__ADS_1
” Aku kangen sama kamu, ayo pulang”
” Mas”
” Hemm?”
” Aku mau jalan-jalan boleh? aku mau jalan-jalan sama kamu” pinta Naina dan Uwais tersenyum lebar lalu mengangguk.
Keduanya pergi meninggalkan toko, di perjalanan Uwais berhenti di sebuah taman yang begitu ramai. Naina meraih tangan suaminya yang terulur setelah Uwais membuka pintu mobil untuknya. Keduanya berjalan memasuki taman tidak lupa tangan Naina yang terus digenggam Uwais, Naina juga membalas genggaman tangan suaminya.
” Duduk disini” ajak Uwais dan menunjuk kursi, Naina mengangguk dan keduanya duduk sambil melihat anak-anak yang sedang bermain dan diperhatikan ibu mereka.
” Anak-anak itu lucu ya mas, apalagi yang rambutnya keriting” imbuh Naina dan Uwais memperhatikan anak yang Naina maksud.
” Lebih lucu anak-anak kita nanti Naina” ujar Uwais, memberi kode. Naina menoleh dan menatap suaminya lekat.
” Apa?” Uwais tersenyum dan Naina menggeleng kepala lalu melihat anak-anak kembali. Uwais melirik tangan Naina dan dia bergeser seraya meraih tangan Naina dan dia genggam lagi. Naina tersenyum dan Uwais juga tersenyum, Naina merasa suaminya sudah tidak marah lagi padanya. Ya Uwais tidak marah dan dia malah khawatir sekarang.
” Untuk resepsi pernikahan, temanya mau apa sayang?”
Kedua mata Naina membulat mendengarnya, dia kira suaminya hanya bermain-main dengan resepsi hanya untuk membungkam bibinya waktu itu.
” Serius? aku kira mas cuma bercanda”
” Ngapain bercanda, teman-teman ku, keluarga ayah, keluarga kakek dan semua rekan bisnis perlu tahu istri aku siapa.”
” Aku gak mau pernikahan yang mewah mas, aku udah bilang mas"
” Ini resepsi, dan ini penting. Mau ya, tapi kita honeymoon dulu” Uwais tersenyum mesum dan Naina bergidik ngeri.
” Aku gak mau Honeymoon mas”
” Jadi mau dirumah aja?”
” Bukan begitu” panik.
” Aku bisa membuat setiap hari kita seperti Honeymoon Naina" ucap Uwais dan dia akan merencanakan sesuatu supaya Naina mau menyerahkan diri seutuhnya hanya untuknya. Naina diam dan menatap ke arah lain.
” Mas aku mau itu” tunjuk Naina, dia sengaja mengalihkan pembicaraan dan perhatian Uwais dan Uwais sadar apa yang istrinya itu lakukan. Naina menunjuk penjual balon sabun.
” Kamu sudah besar Nai, mau balon?”
” Aku beli, kamu tunggu disini”
Naina mengangguk. Naina memperhatikan kepergian suaminya, Uwais membeli balon dan Syam juga ada di sana membeli balon untuk Syifa.
” Kau” Syam langsung emosi dan mencengkram kuat kerah baju Uwais dan Uwais membalasnya, Naina yang melihat suasana tegang itu panik dan bergegas untuk menahan keduanya.
” Kita belum membuat kesepakatan kamu sudah menikahi Naina Uwais?” Syam geram.
” Dimana masalahnya? aku menikahi Naina karena aku ingin, aku mencintainya, dan jangan pernah berharap Naina akan kembali sama kamu Syam” tegas Uwais.
” Dasar penipu, mantan narapidana yang benar-benar karakter dan identitas nya sebagai narapidana sangat cocok untukmu Uwais" maki Syam, Uwais melepaskan cengkeramannya. Namun di bawah saja tangannya terkepal kuat, Naina yang melihat tatapan dan tangan Uwais seperti itu buru-buru melangkah lalu meraih tangan Uwais dan menggenggamnya, Syam yang melihat pemandangan menyakitkan di pelupuk matanya tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Uwais. Uwais menoleh dan bertatapan lekat dengan istrinya, Uwais membalas genggaman tangan Naina lalu tersenyum.
” Jangan, mas udah janji sama aku jangan melakukan kekerasan kalau nanti kamu dipenjara aku gimana?” lirih Naina dan kedua matanya berair, Uwais mengangguk dan mengecup kening Naina di hadapan Syam.
” Nai" lirih Syam.
” Aku tidak akan melakukannya sayang, ayo” Uwais mengajak Naina pergi, Naina menatap Syam yang terlihat memperhatikan tangannya dan tangan Uwais, Uwais menarik dagu Naina agar berhenti menoleh ke belakang.
” Kamu hanya milikku, sekarang dan selamanya” gumam Uwais lalu menatap Naina yang memperhatikannya.
Naina dan Uwais semakin jauh, Syam mengepalkan tangannya dan meremas rambutnya frustasi. Sementara Uwais dan Naina berhenti di sisi taman lain jauh sari Syam dan duduk bersama. Uwais tiba-tiba mencium pipi Naina lembut sangat lama.
” Nanti ada yang lihat” lirih Naina.
” Kenapa kamu terlihat sedih Naina? kamu gak suka aku cium?"
” Aku khawatir kamu main kasar tadi, jangan ya mas. Aku sendirian nanti, aku gak bisa kalau kamu pergi apalagi masuk penjara” lirih Naina dan Uwais mengangguk.
” Aku disini” Uwais tersenyum.” Senyum, jangan sedih-sedih”
” Janji?"
” Ya, aku janji"
__ADS_1
Naina tersenyum lalu menyenderkan kepalanya di bahu suaminya itu dan Uwais tersenyum lebar. Uwais meniup balon busa dan Naina sibuk memecahkan balon busa yang berterbangan di hadapannya.
****
Malam hari tiba, Tari berdiri di atas jembatan sambil memegang botol minuman keras. Hamdan sama sekali tidak mau melepaskan Amira, sudah tidak pulang menemuinya. Dari kejauhan mobil Hamdan datang karena sebelum itu Tari menelepon dan mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Hamdan tidak datang. Hamdan keluar dari mobilnya dan berlari mendekati Tari.
” Kau gila” maki Hamdan berteriak. Semua orang yang melintas berhenti untuk menonton.
” Kau yang gila!” teriak Tari.” Apa yang tidak aku berikan selama ini mas” suara Tari melemah.
” Tari, berhenti bicara dan kemari lah" pinta Hamdan tapi Tari terus mundur.
” Kamu jahat mas, aku capek aaaaaa....” Berteriak-teriak sangat kencang, semua orang sadar jika pria itu Hamdan adalah suami wanita yang sedang mabuk itu.” Sudah tua Bangka tapi kamu tidak sadar diri mas" memaki.
” Tari, jangan banyak bicara ayo kemari" Hamdan mengulurkan tangannya dan menggerakkannya.
” Bunuh diri itu dosa mbak” teriak semua orang agar Tari menghentikan niatnya.
” Aku benci kamu mas, aku benci"
Tari naik ke pagar jembatan dan semua orang panik, Hamdan meraih tangan Tari dan menahannya.
” Turun, aku minta maaf. Aku menyesal, ayo turun”
” Aku mau mati aja mas, buat apa aku hidup. Gak bisa punya anak, dan kami juga gak sayang sama aku. Aku butuh dukungan, aku juga ingin hamil tapi aku bukan tuhan yang bisa mengatur aku hamil atau tidak” lirih Tari, rumah tangganya sama sekali tidak pernah baik-baik saja dia stress dengan kondisinya yang tidak bisa hamil, dia juga stress karena suaminya selalu kasar dan menyiksanya. Tidak ada lagi semangatnya untuk hidup.
” Syam bantu aku!" teriak Hamdan kepada Syam yang baru datang.
” Mbak tari, ini aku mbak ayo turun" ajak Syam.
Tari menutup matanya, semua orang panik apalagi Hamdan saat tangan Tari terlepas karena Tari melepaskannya.
” Mbak!” teriak Syam.
Tari jatuh ke bawah jembatan, ke dalam air. Semua orang melihat Tari yang tidak terlihat sama sekali, Syam ditahan oleh Hamdan karena akan melompat untuk mencari kakaknya.
” lepas!” teriak Syam.
” Syam, sadarlah” Hamdan terus menahan dan Syam menangis dan tidak tahu kondisi Tari, ambulance datang dan polisi pun datang.
****
Di rumah Uwais dan Naina, Uwais memperhatikan kaki Naina dan Naina sudah tidur. Dia tarik rok istrinya sampai di atas lutut dan Naina yang merasakan sentuhan Uwais terkejut.
” Mas kamu mau apa?”
” Mau lihat kaki kamu”
” Enggak kenapa-kenapa mas”
Naina terlihat ketakutan, Uwais meraih tangannya lalu mengenggamnya.
” Lihat aku Naina, apa aku sangat menyeramkan sampai kamu takut sama aku. Kamu gak mau aku sentuh berlebihan, aku suami kamu. Kamu nolak suami kamu sendiri” lirih Uwais dan Naina menatapnya.
” Aku takut mas, kamu kasar sama aku” lirih Naina.” Aku minta maaf mas”
” Selama kita menikah aku pernah kasar sama kamu?”
Naina menggeleng kepala.
” Terus kamu masih takut?”
Naina mengangguk. Uwais mendengus sebal lalu membuka kancing bajunya, Naina panik dan memalingkan wajahnya. Uwais meraih tangan Naina dan menempelkan telapak tangan Naina di dada kekarnya. Naina menutup matanya apalagi saat Uwais menurunkan tangannya ke perut kotak-kotak itu. Naina menarik tangannya buru-buru.
” Pakai baju yang bener mas”
” Aku dan Syam berbeda, tidak akan sama. Karena aku mantan narapidana aku akan berbuat kasar sama kamu begitu? kamu berpikiran seperti itu Nai?” lirih Uwais lalu mendekatkan wajahnya. Naina diam dan Uwais menciumnya.
” Sekarang cium aku” pinta Uwais.
” Apa?” Naina terkejut, kedua matanya membulat mendengarnya.
” Cium”
” Aku, aku mau ke kamar mandi” berusaha menghindar.
__ADS_1
” Aku ikut” Uwais tidak akan melepaskan Naina dan Naina tidak jadi turun dari ranjang.” Aku tidak sekasar itu Nai apalagi sama kamu, mana aku bisa”
Uwais bergeser lebih dekat dengan Naina dan Naina diam Uwais menekan bahunya membuat Naina berbaring dan Uwais berada di atasnya, tapi belum menindih.