Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Tidur bersama


__ADS_3

Naina masih berdiri mematung di depan pintu kamar Uwais, dia melihat Uwais sedang menonton televisi dan Naura masih tertidur pulas. Uwais tahu Naina masuk tapi dia diam dan pura-pura acuh, Uwais merebahkan tubuhnya di sofa cukup besar dan panjang itu hanya memakai celana kolor dan kaos kutang berwarna putih, selimut berwarna putih menutupi kedua kaki panjangnya.


” Aku harus apa sekarang? udah malam lagi” gumam Naina, Naina merogoh sakunya dan dia membuka kerudungnya. Naina membawa parfum baru, baru dia beli. Naina mengoleskan parfum ke leher dan ke pergelangan tangannya. Dia letakkan parfum tersebut lalu melangkah mendekati Uwais, setelah berdiri di sebelah sofa yang suaminya duduki Uwais menoleh.


” Kenapa?” tanya Uwais.


” Aku takut petir” kata Naina. Uwais diam, memperhatikan Naina dari ujung rambut sampai ujung kaki, melihat Naina memakai piyama yang begitu ketat sampai pinggang rampingnya terlihat. Uwais juga memperhatikan satu kancing baju istrinya terbuka, melihat dada putih istrinya di balik piyama berwarna navy itu.


” Kemari” ajak Uwais seraya menepuk sofa tempatnya berbaring kini, Naina melangkah perlahan lalu duduk di hadapan Uwais yang masih berbaring. Melihat Naina hanya duduk, Uwais sedikit bangkit lalu menarik bahu Naina agar berbaring. Naina akhirnya berbaring, sofa tersebut cukup untuk keduanya berbaring. Uwais menutup matanya saat rambut Naina menyentuh hidungnya. Aroma tubuh yang khas di tambah aroma parfum membuat Uwais tergoda dan menelan ludahnya kasar, Uwais menarik selimut sampai menutupi tubuhnya dan tubuh Naina. Televisi terus menyala dan Naina merasakan tangan Uwais bergerak memeluknya erat.


” Mas” lirih Naina.


” Aku mohon jangan menolak, kamu datang kemari. Kamu pikir aku bisa tahan Naina, hanya sebuah pelukan.” Ucap Uwais dan bibirnya menempel di telinga Naina. Naina mengangguk dan Uwais tersenyum. Tidak lama kemudian keduanya tertidur pulas, Naina berbalik sampai berhadapan dengan Uwais dan wajahnya tenggelam di dada suaminya. Pelukan Uwais begitu membuatnya nyaman tapi kadang membuatnya juga takut. Apa Uwais akan meminta sebuah kegiatan dalam rumah tangga normal antara suami dan istri? apakah begitu, entahlah Naina merasa belum siap.


******


Pertengkaran kembali.


Pagi ini seperti biasa Naina menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, Fatin yang merasa belum puas karena belum bisa membuat Naina keluar dari rumah tersebut merasa kesal dan akhirnya mencari ide lain untuk mengusir Naina dan mendapatkan pembelaan dari Uwais.


Naina menoleh sekilas dan melihat Fatin datang.


” Kamu mau apalagi Fatin? mau ngajakin saya ribut”


” Ibu baru tidur sama pak Uwais baru semalam kan? sementara saya...” Ucap Fatin terhenti saat Naina menoleh menatapnya tajam.


” Suami saya gak seperti itu ya Fatin, hati-hati kamu kalau bicara” Naina marah.


” Ini koma satu tahun lebih, pria mana yang tahan. Pak Uwais mau Bu Naina kembali hanya untuk Naura tapi tidak untuk dirinya karena sudah ada saya Bu, saya mengurus Naura dari lahir. Sementara ibu? ibu sekarang datang setelah Naura udah besar, saya ketemu sama pak Uwais setiap hari setiap saat kami berdua ngasuh Naura sama-sama. Ibu pikir pak Uwais gak tergoda untuk main sama saya, ibu bisa lihat saya juga Cantik Bu" tutur Fatin, Naina terdiam dan memang Fatin lumayan juga. Bajunya bahkan selalu dia lihat sangat ketat.


” Enggak, suami saya gak begitu” kata Naina tetap percaya Uwais setia padanya.


” Ibu koma itu lama, pak uwais juga pria normal. Enggak ada pria sebaik itu Bu, ibu gak kenal pak Uwais seperti apa. Saya pernah di sentuh di sini sini sini dan di sini” tunjuk Fatin tanpa ada rasa malu sedikitpun dan Naina menutup telinganya.


” Cukup Fatin!” bentak Naina, Uwais yang mendengar menoleh dan melihat Naina dan Fatin sepertinya sedang berdebat. Uwais terkejut saat melihat istrinya melemparkan segelas air ke wajah Fatin.


” Pergi kamu” usir Naina dan Fatin sibuk mengusap wajahnya yang basah, dia geram dengan cara Naina.


” Saya juga bisa Bu, saya juga bisa” kata Fatin dan mengambil segelas air untuk membalas Naina, namun Uwais datang memeluk istrinya erat dan air tumpah membasahi punggungnya, kedua mata Fatin membulat melihat punggung Uwais basah.


” Pak saya minta maaf” lirih Fatin.


” Pergi kamu Fatin, jangan bicara sembarangan” kata Naina kesal dan menangis, Fatin keluar dan Uwais menutup pintu dapur karena melihat Naura datang bersama pelayan lain. Uwais menutup kaca dapur dan menenangkan Naina.


” Naina apa yang kamu lakukan? jangan kasar seperti itu, aku gak mau kamu kasar begini kamu gak kasar Naina. Naina” ucap Uwais seraya memegang kedua bahu istrinya tapi Naina menepisnya kasar.


” Kamu belain dia mas? istri mana yang gak marah kalau suaminya di bilang ini itu, aku gak suka mas”


” Apa ini Nai? Fatin ngomong apa? ayo bilang sama aku?”


Naina diam, dia malah berbalik dan terus menangis. Uwais meremas rambutnya frustasi dan mencoba bersikap lemah lembut terhadap istrinya.


” Naina, ayo ngomong sama aku baik-baik” ajak Uwais.


” Kamu marah sama aku karena aku gak sengaja nampar kamu waktu itu, aku udah berusaha minta maaf tapi kamu gak maafin aku mas. Kamu malah mesra-mesraan sama Fatin di depan aku” lirih Naina, Uwais menarik bahu istrinya agar berbalik padanya. Dia paksa sampai Naina berbalik.


” Kapan aku mesra-mesraan sama Fatin? kapan? aku udah maafin kamu"


” Bohong, aku tahu kamu belum maafin aku. Kamu senyum sama Fatin tapi kamu gak senyum sama aku, kamu gak tahu kan sakitnya itu kayak gimana mas? atau kamu emang punya hubungan sama dia? percuma kamu bawa aku kemari kalau aku cuma dibikin nangis terus” tutur Naina dengan berbicara cepat, dia menabrak tubuh suaminya kasar lalu pergi keluar dari dapur.


” Naina!” teriak Uwais.


Naina tidak perduli.


” Mamah” ucap Naura begitu polosnya dan Naina buru-buru mengusap air matanya, Uwais juga terdiam saat melihat Naura.” Mamah nangis?” tanya Naura dan Naina menggeleng kepala lalu menggendong Naura.


” Enggak sayang”

__ADS_1


” Mamah nangis” Naura menyentuh pipi basah ibunya.


” Kepala mamah cuma sakit, mamah gak kuat jadinya nangis. Mamah enggak apa-apa kok”


Raut wajah Naura sedih mendengarnya.


” Kita sarapan di taman ya, ayo” ajak Naina dan membawa mangkuk berisi sarapan Naura dan minumannya juga, Uwais dia melihat Naina dan Naura pergi. Uwais mengepalkan tangannya kuat dan dia melangkah pergi untuk segera ke kantor tanpa sarapan pagi.


*****


Ai hamil lagi.


Ali memangku Alika dan melirik kamar mandi berulangkali, Ai begitu lama di kamar mandi dan membuatnya khawatir.


” Abi” kata Alika saat ayahnya itu berhenti menyuapinya.


” Ayo makan lagi nak” ucap Ali sambil tersenyum dan menyuapi Alika kembali, bubur ayam menjadi sarapan ketiganya pagi ini. Ali tersenyum saat melihat Ai keluar.


” Mas..” Lirih Ai, dia sudah mengatakan kepada Ali jika dia sudah telat dua bulan dan semalam Ali membeli testpack.


” Gimana?” tanya Ali begitu antusias.


” Positif, terus gimana?” tanya Ai bingung sambil mendekat dan duduk di dekat suami dan anaknya.


” Alhamdulillah, Aisyah sama Alika mau punya adek. Kenapa kamu sedih?”


” Alika masih kecil, Aisyah juga. Toko bulan ini sepi apa yakin mas?” lirih Ai.


” Istighfar, rezeki Allah yang ngatur dan kita yang sudah seharusnya ikhtiar. Nafkah, urusan aku. Semua anak sudah ada rezekinya masing-masing, jangan begitu aku gak suka” lirih Ali dan Ai diam, Ali mengelus pipi istrinya lembut.” Yakin, berdoa, dan berikhtiar jangan stress.”


” Iya mas" Ai tersenyum dan Ali juga tersenyum.” Biar aku suapi Alika”


” Enggak biar aku aja, kamu sarapan gih nanti bubur nya keburu dingin” titah Ali dan Ai mengangguk, akhirnya Ai menikmati buburnya dan Ali menyuapi Alika yang sedang bermain itu.


****


Di rumah keluarga Fatma, suasana tegang saat Syam datang ke rumah membawa Syifa yang terus meminta bertemu dengan Fatma. Fatma turun menuruni tangga dan Syifa berlari mendekat.


” Ibu” lirih Syifa, Syifa menyalami tangan ibunya itu lalu menariknya agar mendekat kepada ayahnya.


” Mas” sapa Fatma, dia raih tangan suaminya itu ingin menciumnya tapi dengan cepat Syam menepisnya.


” Ibu, aku mau pegang dede” pinta Syifa dan Fatma menoleh.


” Boleh, pelan-pelan ya” kata Fatma dan Syifa mengangguk, Syifa meletakkan telapak tangannya di perut besar Fatma lalu dia tersenyum merasakan tendangan adiknya itu.


” Ayah, ayah adik aku bergerak ayah” kata Syifa begitu antusias.


Syam hanya diam membisu, tidak bereaksi apa-apa untuk merespon ucapan Syifa.


” Bagaimana kabar kamu mas?” tanya Fatma.


” Kamu bisa lihat kan aku gimana?” ketus.


” Jangan bergadang terus mas, udah makan?”


” Enggak usah sok perhatian sama aku urus aja selingkuhan kamu Fatma”


” Terserah mas, terserah kamu mau ngomong apapun juga” balas Fatma ketus. Dia merasa percuma saja berbicara baik-baik dengan Syam, Syam mendelikan matanya dan memperhatikan Syifa yang terus tertawa. Syifa sangat bahagia bisa bertemu dengan ibunya lagi, apalagi merasakan tendangan adiknya.


****


Naina pergi.


Malam hari tiba, jam 10 malam Uwais baru pulang. Dia pulang dengan terburu-buru saat mendapatkan kabar bahwa istrinya pergi entah kemana. Sesampainya di rumah Uwais melihat Naura sedang menangis, jam segini Naura biasanya sudah tidur.


” Papah” imbuh Naura lalu Uwais menggendongnya.

__ADS_1


” Sayang, ini papah nak”


” Mamah hilang pak” lirih Naura sambil terus menangis. Uwais melirik bi Astri dan bi Astri menggeleng kepala tidak tahu kemana Naina pergi.


” Papah mau cari mamah, tapi Naura janji sama papah Naura tidur ya nak”


” Enggak, mau sama mamah”


” Iya papah cari dulu mamah nya, kalau mamah pulang terus Naura belum tidur nanti mamah sedih. Naura bobo ya”


Naura terdiam.


” Papah janji bakal bawa mamah pulang”


” Janji?"


” Iya sayang papah janji"


Naura akhirnya mengangguk, dia juga sudah mengantuk.


” Bi” kata Uwais dan Bi Astri mendekat.” Ajak Naura tidur, saya pergi dulu”


” Iya bos" kata Bi Astri dan Uwais pergi. Naura memeluk bi Astri dekat dan bi Astri membawanya. Sesampainya di luar rumah Uwais benar-benar marah.


” Bagaimana bisa kalian memberikan izin istri saya keluar?” tegas Uwais.


” Bu Naina bilang mau keluar sebentar bos, tapi gak ada kembali”


” Bodoh kalian semua” maki Uwais dan dia masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi untuk mencari kemana istrinya pergi. Uwais menelepon Naina berulangkali tapi tidak di angkat, Zidan juga mengirimkan pesan kepada Uwais jika Naina tidak ada di ruko.


” Kemana kamu Nai, jangan tinggalin aku sama Naura. Tega kamu Nai" ucap Uwais dan terus mencari Naina, hujan deras turun mengguyur ibukota. Uwais berhenti sesekali dan menanyakan kepada beberapa orang sambil memperlihatkan foto istrinya. Hari sudah malam, entah kemana Naina pergi dan Uwais sangat khawatir.


” Saya gak lihat pak" jawaban yang sama Uwais dengar. Dia kehujanan dan akhirnya masuk ke dalam mobilnya.


” Naina!” Uwais setengah berteriak dan memukul setir mobilnya berulangkali.” Kemana kamu Nai" lirih Uwais dan air matanya menetes deras, dia usap rambutnya yang basah dan ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Ai.


” Halo mas Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam, kenapa?”


” Mbak Naina baru datang mas, jalan kaki hujan-hujanan. Di tanya juga gak jawab malah terus nangis, mas bisa gak ke ruko sekarang?”


” Iya saya kesana Ai, jangan ganggu Naina. Lihatin aja dari jauh ya. Saya takut dia pergi lagi”


” Iya mas”


Panggilan berakhir, tanpa menunggu lama Uwais melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ruko istrinya.


Sesampainya di sana, Uwais melirik Ai dan Ali. Ali dan Ai masuk kembali ke ruko mereka dan merasa lega karena Uwais sudah sampai. Uwais membuka rolling door ruko Naina karena dia punya kuncinya, tubuh nya basah kuyup dan Uwais menaiki tangga menuju lantai dua. Naina yang mendengar suara langkah kaki merasa ketakutan apalagi dia yang hanya memakai jubah handuknya. Naina meraih vas bunga dan Uwais membuka pintu lalu masuk.


” Kamu” kata Naina dan Uwais mendekat.


” Berani sekali kamu pergi Nai, kamu gak sayang sama aku sama Naura?” ucap Uwais seraya mengambil vas bunga dan tangan Naina dan meletakkannya di atas meja.


” Aku sayang sama Naura, tapi kamu yang gak sayang sama aku mas”


” Atas dasar apa kamu bisa bilang begitu Nai?”


” Kamu lebih belain Fatin, kamu bilang aja kalau kamu punya hubungan sama Fatin Fatin juga udah bilang sama aku”


” Fatin bilang apa sama kamu? dia bilang apa!” bentak Uwais dan Naina terkejut. Naina sampai merapat ke dinding karena takut.” Aku bisa berhubungan dengan wanita manapun kalau aku mau, kalau aku gak takut dosa. Tapi aku tahan, aku cuma mau sama kamu. Aku cuma pernah melakukan itu semua sama kamu Naina” tutur Uwais dan Naina diam.


” Fatin gak ada apa-apa nya dibandingkan kamu, kamu yang punya hubungan sama aku Nai. Dia emang selalu bersikap kelewatan, apa kamu gak bisa percaya sama aku?”


” Gimana aku mau percaya kalau aku minta maaf aja enggak kamu maafin”


” Diam Nai, diam” bentak Uwais dan memukul dinding tepat di sebelah telinga istrinya, kedua mata Naina berair dan dia benar-benar takut.

__ADS_1


__ADS_2