Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Maaf


__ADS_3

Syam sedang menggendong bayi perempuannya, Syifa begitu bahagia melihat adiknya. Fatma terus tersenyum, memperhatikan ketiganya. Senyumannya lenyap saat mengingat kembali bahwa anaknya diragukan.


”Mas, aku mau gendong anakku” pinta Fatma, agar pria itu memberikan anaknya. Syam menoleh dan terdiam mendengar ucapan Fatma.


”Ini anakku juga, sangat mirip denganku” kata Syam, tidak mau memberikan anaknya sekarang.


”Bukannya kamu yang meragukan anakku itu mas” tegas Fatma. Dia mendelikan matanya, dan Syifa diam mendengarkan ucapan ibunya itu. Syam meletakkan bayinya dan membawa Syifa keluar terlebih dahulu. Tidak lama, Syam masuk kembali dan menatap Fatma lekat.


”Pergi mas, ini anakku saja” ujar Fatma, dia membelakangi Syam dan tidak mau anaknya disentuh lagi oleh pria itu.


”Fatma, itu anakku kan?”


”Bukan, ini cuma anakku” lirih Fatma. Syam melangkah mendekat, tepat di hadapan Fatma yang tengah menggendong bayi mereka saat ini.” Anakku yang malang, yang kamu ragukan. Dia lahir bahkan sangat mirip sama kamu. Aku benci” sambung Fatma penuh amarah.


Kedua mata Syam nampak berair, saking cemburu dan buntu, dia meragukan Fatma dan anaknya. Dua hari yang lalu Kabir datang menemui Syam, menceritakan semuanya jika dia dan Fatma sudah putus sejak lama. Barulah Syam percaya.


”Aku minta maaf, maafin aku Fatma. Kita mulai semuanya dari awal ya, aku percaya sama kamu, aku percaya itu anakku. Aku mohon, berikan aku kesempatan Fatma” Syam memohon-mohon, dia sudah kehilangan Naina, wanita yang paling dia cintai karena kecerobohannya. Dia tak mau kehilangan untuk kedua kalinya, sekaligus dua orang. Dia benar-benar tidak mau.


”Maaf mas, aku gak mau. Aku sudah berniat untuk mengajukan perceraian. Kita hidup masing-masing aja mas, silahkan cari kebahagiaan kamu sendiri” tutur Fatma begitu tegasnya, sangat serius, walaupun suaranya sangat berat. Jujur dia juga tidak mau berpisah, namun jika Syam tak kunjung berubah, untuk apa dipertahankan.


Brak! pintu terbuka.


Kabir masuk dan membuat keduanya kaget, Fatma terus mengelus punggung bayinya dan dia duduk, merasakan rasa ngilu di area sensitifnya.


”Fatma, jangan gegabah” ujar Kabir, dia mendengar sekilas Fatma akan mengajukan perceraian.


"Ini juga gara-gara kamu, kalian berdua gak ada bedanya. Sama-sama jahat” maki Fatma dan menatap keduanya sinis. Kabir menunduk, karena ulahnya hubungan Syam dan Fatma terancam.


”Fatma aku minta maaf, aku udah jelasin semuanya sama bang Syam.” Kata Kabir dan Fatma memalingkan wajahnya.


”Semua itu gak bakal bisa memulihkan rasa sakit aku Kabir, kalian berdua mending keluar” usir Fatma. Syam mendekatinya dan Kabir mundur menjauh dan keluar dari ruangan tersenyum.


”Fatma” lirih Syam, dia raih tangan kanan istrinya itu lembut tapi Fatma menepisnya.” Aku menyesal Fatma”


”Aku gak butuh penyesalan kamu” ketus Fatma, ingin menepis tangan suaminya lagi, tapi suaminya menahan.


”Aku sayang sama kamu Fatma, jangan begini” suara Syam begitu berat.


”Kamu masih terbayang-bayang masa lalu kamu mas, kamu cuma sayang sama mbak Naina. Bukan sama aku, teganya kamu ngaku-ngaku suaminya mbak Naina, disaat mbak Naina sakit. Gak tahu mau itu kamu mas, sikap kamu” tutur Fatma, betapa sakitnya dia diperlakukan tidak baik oleh suaminya, Syam menangis, begitu juga dengan Fatma. Keduanya menangis bersama, yang satu ingin meninggalkan, yang satunya tidak mau ditinggalkan.


”Aku khilaf” ucap Syam, suaranya bergetar hebat dan Fatma diam.


Syam terduduk lemas, dia terus menggenggam tangan Fatma. Menangis sejadi-jadinya yang bisa dia lakukan saat ini.” Aku janji bakal berubah, bantu aku, terima kasih karena kamu sudah mengurus aku dan Syifa dengan baik selama kita menikah, aku masih mau diperlakukan seperti itu lagi, aku gak bakal kasar lagi sama kamu. Aku minta maaf” ucapan tulus dari Syam berharap meluluhkan hati Fatma, tapi Fatma tetap diam dan terus memalingkan wajahnya, hatinya seolah beku dan mati, dia tidak peduli Syam akan melakukan apa, dia tidak mau kembali bersama.

__ADS_1


”Keluar mas" hanya itu yang keluar, meminta Syam pergi. Syam menutup matanya rapat-rapat, apa harus dia menyerah? dia berharap masih ada satu kali saja kesempatan.


”Kalau kamu benar-benar mau belajar berubah, belajar dari satu hal lebih dulu yaitu kita pisah mas” suara Fatma melemah, dia lirik suaminya yang masih duduk di lantai menghadap padanya. Fatma menepis tangan Syam kasar saat genggaman tangan pria itu melemah.


”Tolong” lirih Syam dan Fatma menggeleng kepala, Syam menatap istrinya lekat, istrinya yang sedang menangis. Dengan berat hati, Syam bangkit. Fatma diam saat pria itu mendekat. Syam mengecup kening bayinya lembut.


”Anak ayah, Syahira Syafiq Ibrahim” ucap Syam di telinga bayi nya, yang terakhir dia mencium kening istrinya, turun ke pipi dan ke bibirnya. Entah mengapa Fatma tak sanggup menolak, sekalipun hanya untuk berkata tidak. Dia bahkan membalas ciuman suaminya, setelah merasa cukup, Syam berhenti dan Fatma memalingkan wajahnya. Melihat reaksi Fatma yang seperti itu, membuat Syam akhirnya melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut, semua orang diluar panik melihat Syam menangis.


”Syam” imbuh mama Novi, dia pegang kedua lengan putranya itu dan Syam menggeleng kepala. Dia malah meraih tangan Syifa dan menariknya.


”Aku mau lihat adek!” jerit Syifa, dia berontak dan tidak mau pergi.


Fatma menangis histeris, mendengar suara tangisan Syifa. Bu Anggi langsung masuk untuk melihat apa yang terjadi. Fatma terus menangis dan Bu Anggi mengambil alih Syahira.


******


Naina masih belum sadar, Uwais mengenggam tangan kanan istrinya lembut, tangan kiri Naina sudah di tusuk jarum infusan. Di luar, Naura terus merengek-rengek, dia tadi terus menangis dan Uwais susah payah menenangkannya.


”Sayang, bangun” suara Uwais serak, dia usap lembut kening istrinya. Uwais terlihat rapuh melihat istrinya tidak sadarkan diri, Uwais tiba-tiba menangis. Dia tidak sanggup untuk berusaha kuat, air matanya menetes deras. Dia membungkuk dan wajahnya menempel di tangan yang di genggam itu.


Kedua mata Naina terbuka, dia mengedarkan pandangannya dan kepalanya begitu terasa berat dan sakit. Naina menoleh dan memperhatikan Uwais yang sedang menangis, Naina langsung menjatuhkan tangannya dan genggaman Uwais terlepas, Uwais kaget dan menoleh menatap istrinya yang sudah sadar.


”Sayang” panggil Uwais.


”Jangan sentuh aku” pinta Naina, dia menjauhkan tangannya lagi saat Uwais ingin meraihnya.


”Aku sama sekali belum ingat apapun, aku percaya kamu suami aku karena semua bukti dan Naura, ini kesalahan. Aku sekarang hamil, ini salah” tutur Naina dan Uwais mengernyit heran. Uwais bangkit dan dia duduk di tepi ranjang tersebut, Naina diam saat Uwais mengangkat punggungnya, membuatnya bersandar di dada suaminya itu sekarang.


”Salah nya dari mana? karena kamu gak inget apa-apa, jadi anak kita anak haram begitu?" tanya Uwais dan Naina diam.


”Aku takut” lirih Naina.


”Iya aku tahu, tapi jangan berpikiran seperti itu. Aku khawatir sayang, aku akan meminta supir untuk menjemput bapak, kamu mau bapak disini? biar kamu tenang dan merasa aman ya. Aku janji gak bakal menyentuh kamu berlebihan lagi mulai sekarang, aku akan menunggu sampai kamu ingat semuanya” tutur Uwais sambil menggenggam tangan istrinya, Naina diam mendengarkan. Tidak lama dia mengangguk dan senang mendengar suaminya mau mendatangkan ayahnya, hanya untuk membuatnya nyaman dan tidak takut lagi, rasa takut yang sempat menyelimuti kini memudar, Naina mulai merasa nyaman kembali di dekat suaminya. Entah kapan ingatannya kembali, dia berharap secepatnya, dia lelah menerka-nerka dan terus mengira ini dan itu. Sesuatu yang tidak dia ingat, sosok dirinya dulu pun dia tidak ingat.


Tiba-tiba pintu terbuka, Naina dan Uwais tersenyum melihat Naura masuk dibawa oleh Zidan.


”Mama” suara Naura berat, bibirnya mengerucut, kedua matanya yang sudah merah kembali berair dan pipinya kembali basah dengan air mata.” Mama kenapa?”


Naina tersenyum, Zidan membiarkan Naura turun ke atas ranjang dan Naura langsung duduk serta memeluk Naina, Zidan bergegas pergi meninggalkan ketiganya. Uwais bergeser menjauh, dan mengganjal punggung istrinya dengan bantal.


”Jangan nangis anak mama” ucap Naina dan Naura tidak mau melepaskan pelukannya.


”Nau, masih mau peluk mama begitu? nanti dede nya nangis loh di dalam perut mama, kan Nau mau punya dede” ucap Uwais, menegur secara halus Naura yang menindih perut ibunya. Kehamilan Naina sudah 16 Minggu, dia sama sekali tidak merasakan apapun di awal-awal kehamilan, dan malah beberapa hari ini terus mual.

__ADS_1


”Nau punya Ade?” tanya Naura dengan raut wajah polosnya, Naina tersenyum dan merapihkan rambut Naura yang sedikit keriting itu.


”Iya Alhamdulillah Naura mau punya Ade” ucap uwais, kedua mata Naura berbinar. Dia lekas menjauh dan menggerakkan tangannya kepada Uwais agar segera digendong.


”Nau mau punya Ade, doain ya. Ade nya sama mama sehat” ujar Naina dan Naura tersenyum sembari mengangguk, Naura terus memandangi perut mamanya.


”Papa, besok Dede nya keluar belum?” tanya Naura begitu polos, dia sudah tidak sabar ingin melihat adiknya. Naina dan Uwais tertawa mendengarnya.


”Masih lama, sabar ya. Naura mau jadi kakak nih, kakak yang baik buat adiknya. Oke?” tutur Uwais sambil mengecup pipi Naura.


”Oke papa” Naura begitu lucu, dia berkata sambil mengacungkan ibu jarinya.


”Sini, cium mama dulu nak” pinta Naina, Uwais mendudukkan Naura di sebelah Naina dan memperhatikan keduanya, yang begitu mirip. Naina menciumi rambut Naura, dan Naura mengelus perut Naina terus-menerus. Betapa bahagianya anak kecil itu.


****


Hari ini, pak Fahmi dan istrinya datang, dijemput oleh supir. Naina tersenyum lebar melihat pak Fahmi, dia belum ingat. Tapi cara pak Fahmi yang begitu sabar merawatnya, membuat Naina yakin dia lah memang ayahnya.


”Assalamu'alaikum” ucap pak Fahmi.


”Wa'alaikumus Salaam” jawab semuanya.


”Bapak” ucap Naina, dia peluk tubuh pak Fahmi yang semakin kurus itu, banyak beban pikiran yang ditanggung oleh pak Fahmi, khususnya tentang Naina. Pak Fahmi mengelus kepala putrinya itu lembut dan kedua matanya berkaca-kaca.


Naura digendong Bu Ratna, dan Uwais mengajak semuanya masuk. Uwais akan pergi agak siangan hari ini, untuk tidak pergi tidak mungkin. Dia sedang banyak pekerjaan yang penting.


Semuanya duduk bersama penuh suka cita.


”Alhamdulillah kamu hamil lagi” ujar Bu Ratna dan Naina tersenyum lebar, pak Fahmi terdiam memperhatikan Naina yang nampak baik-baik saja, putrinya itu belum mengingat apapun, tapi kenapa bisa hamil lagi? apa Uwais memaksanya? tapi kenapa Naina malah terlihat bahagia dan tanpa beban. Banyak pertanyaan muncul dan membuat pak Fahmi gelisah.


”Nai, bisa ikut bapak sebentar” ajak pak Fahmi, sontak semuanya menoleh, apalagi Uwais yang langsung tegang. Naina hamil, apakah pak Fahmi mengira dia memaksa Naina? Uwais bingung dan memilih diam.


Naina dan pak Fahmi pergi, menuju taman, keduanya melangkah bersama dan sesekali pak Fahmi menatap putrinya.


”Ada apa pak? Naina merasa ini sangat serius” ucap Naina membuka percakapan. Pak Fahmi langsung mengangguk, dia ajak Naina untuk duduk dan keduanya terdiam lagi.


Tangan pak Fahmi bergerak, mengelus pucuk rambut Naina." Bapak sayang banget sama kamu, jujur sama bapak ya Nai. Apa Uwais memaksakan keinginannya, sampai kamu hamil lagi sekarang?” tutur pak Fahmi, Naina terdiam dan terlihat tegang. Harus bagaimana dia menjelaskannya, menjelaskan secara rinci tidak mungkin kan?.


”Kalau suami kamu kasar dan memaksa kamu, ayo kita pulang saja. Kita bawa Naura, bapak gak nyalahin Uwais. Bapak juga laki-laki, bapak tahu. Dia pasti gak bisa menahan gairahnya saat berdekatan dengan kamu. Dia maksa kamu?” tutur pak Fahmi kembali, terdengar seperti sedang menyelidiki dan mewawancarai putrinya. Naina menggeleng kepala, membantah semua pikiran jelek ayahnya.


”Enggak pak, Naina sama sekali gak di paksa. Kalau Naina di perlakukan kasar ataupun dipaksa, mana mungkin Naina masih betah disini” Naina berucap, lalu tersenyum lebar dan mengusap-usap bahu ayahnya.” Bapak gak usah khawatir ya”


”Kamu suka bohong Nai, jujur aja" pak Fahmi tak mudah percaya.

__ADS_1


”Beneran pak, mas Uwais baik, gak pernah kasar sama Naina walaupun dia pemarah. Naina gak apa-apa, Naina sayang sama mas Uwais, Naina cinta sama mas Uwais karena sikap lembut dan perhatiannya. Naina belum ingat apa-apa, tapi mas Uwais berhasil mendapatkan hati Naina dalam keadaan seperti ini” tutur Naina menjelaskan, pak Fahmi diam dan menyenderkan punggungnya di bahu kursi. Naina tersenyum manis, berusaha meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.


”Jangan sembunyikan apapun dari bapak ya” pinta pak Fahmi dan Naina mengangguk mengiyakan. Akhirnya pak Fahmi tersenyum dan sedikit merasa tenang mendengar ucapan Naina.


__ADS_2