Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Melayat


__ADS_3

Mungkin ini saatnya, saatnya dia memberikan apa yang seharusnya Uwais dapatkan. Naina merias diri dan bersiap, rambutnya terurai panjang. Dia ganti baju, dia oleskan parfum di leher dan dadanya. Uwais juga sedang bersiap, tapi di kamar lain dia membiarkan Naina berhias diri dengan leluasa. Naina berhias setelah semua pelayan selesai merias kamar secara mendadak atas perintah Uwais, taburan kelopak bunga mawar dimana. Naina bahkan belum pernah menginjak kelopak bunga seperti itu dan membuat telapak kakinya terasa aneh tapi dia suka.


” huff” Naina membuang nafas kasar,.dia matikan lampu lalu menyalakan lilin aromaterapi sekaligus sebagai penerang. Di luar kamar Uwais terlihat diam didepan pintu kamar, keperjakaan nya akan dia berikan untuk istrinya tercinta. Selama ini dia tidak tahan itu sebabnya melampiaskannya dengan mencium Naina, tapi sekarang setelah Naina mau dia yang malah grogi.


” Oke, bekerja kau dengan baik, menanam lah di sana yang memang menjadi tempatmu anak-anak” ucap Uwais berbisik sambil menunduk. Uwais akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok


Naina di dalam sana terkejut.


” Mas" panggil Naina memberi kode jika dia sudah siap, Uwais merentangkan kedua tangannya ke udara sekilas lalu membuka pintu kamarnya. Uwais langsung berpaling melihat istrinya yang begitu sangat cantik, hujan tiba-tiba turun malam ini. Naina yang berdiri di depan jendela terbuka mengusap bahunya merasa kedinginan. Uwais mengunci pintu lalu melangkah perlahan mendekati istrinya. Naina menutup matanya saat Uwais memeluk dan menjatuhkan dagunya di bahu Naina.


” Dingin" imbuh Naina dan Uwais mengeratkan pelukannya, Naina tersenyum tipis.


” Siap?”


” Apa?" pura-pura tidak paham dan Uwais menekan perut Naina sampai Naina merapat padanya. Uwais tersenyum dan mengendurkan pelukannya, dia tarik tapi piyamanya sampai piyamanya jatuh ke lantai dan kini ia bertelanjang dada. Naina menoleh sekilas dan melihat dada besar suaminya. Uwais melangkah ke hadapan Naina lalu menutup jendela, hembusan angin yang meniup lilin kini terlihat api di lilin tenang setelah jendela tertutup. Naina mendongak dan Uwais mencondongkan kepalanya, dia terlihat menelan ludahnya kasar dan fokus pada bibir Naina. Naina tertawa kecil saat Uwais menggesekkan hidungnya ke hidungnya. Uwais mencium pipi istrinya lembut lalu bibirnya, Naina yang sudah mulai terangsang meremas bahu dan rambut suaminya. Uwais tersenyum dan sesekali membuka matanya, dia tersenyum dan ciuman terus terjadi. Uwais berhenti lalu menggendong Naina dan membawanya ke atas ranjang yang penuh dengan kelopak bunga itu. Uwais menggeser sebagian kelopak bunga dengan lengannya. Naina terus tersenyum dan Uwais menciumnya lagi.


” Baca doa dulu" titah Naina dan menahan tangan suaminya. ,Uwais tersenyum lalu mengangguk.


Keduanya hanyut dalam kenikmatan itu, Naina mulai kewalahan melayani suaminya tapi dia masih mampu. Uwais bermain dengan hati-hati dan sangat lembut, tapi tetap saja Naina merasakan rasa ngilu dan perih di pangkal pahanya. Suara kecupan dan desahan memenuhi ruangan, tidak akan terdengar keluar karena kamar Uwais sangat luas. Setelah selesai, Naina berkeringat dingin apalagi Uwais yang lebih banyak bergerak. Keduanya diam, mengatur nafasnya yang tersengal. Selimut menutupi tubuh keduanya sampai dada.


” Mas aku mau ke kamar mandi” ucap Naina dia ingin bersih-bersih dan membasahi area sensitifnya yang terasa perih.


” Sakit?” tanya Uwais dan Naina menggeleng kepala lalu menarik selimut sampai ke lehernya.” Coba aku lihat”


” Enggak”


Uwais menarik selimut dan melihat apa yang ingin di lihat, dia usap perlahan dan Naina menutupi wajahnya dengan bantal dia benar-benar malu dan malam ini dia seperti bayi. Uwais juga mengusap miliknya, lalu mencium perut istrinya. Berharap benih-benih nya ada yang berhasil tumbuh di sana.


” Aaaagh, mas jangan" Naina terkejut saat dadanya yang penuh dengan bekas kecupan itu di remas suaminya. Uwais tertawa-tawa dan Naina bergidik ngeri.


” Mau mandi?”


” Iya”


” Aku juga mau mandi, diam disini” titah Uwais, dia meraih piyama kimono panjang sebetis itu untuk menutupi tubuhnya. Setelah Uwais pergi, Naina melihat miliknya yang terasa lecet. Bekas kecupan sampai di paha nya.


Naina dan Uwais mandi bergantian, walaupun Uwais ingin mandi bersama Naina menolak dan dia tidak berani memaksa. Uwais tahu istrinya capek, karena dia juga capek. Pelayan datang membawa kue, potongan buah dan jus jeruk untuk Uwais dan Naina. Naina mandi terakhir dan Uwais mengeringkan rambut istrinya dengan hairdryer, Naina malas mandi subuh-subuh karena sekarang juga sudah jam 2. Setelah selesai mengeringkan rambut Naina Uwais berbaring dengan punggung bersandar lalu Naina bergeser ingin bersandar di bahu suaminya itu.


” Capek?” tanya Uwais dan Naina mengangguk. Uwais mendekap tubuh istrinya erat, lalu menepuk-nepuk bahunya lembut Naina tertidur dan hanya memakan buah itu juga tidak habis, Uwais benar-benar membuatnya lelah. Setelah Naina tertidur Uwais menggendong dan memindahkannya ke atas kasur. Naina membuka matanya sekilas dan mencarinya.


” Aku disini” kata Uwais lalu memeluk Naina, Uwais menahan tawanya melihat Naina yang manja padanya tidak seperti kemarin-kemarin, mungkin karena Naina sudah tahu dia tidak kasar seperti yang dia bayangkan selama ini.


*****

__ADS_1


keesokan paginya, Syam sudah datang ke ruko Naina pagi-pagi buta ingin melihat Naina sekaligus ingin memberitahu jika Tari sudah meninggal. Syam melihat ke lantai ruko dan tidak ada tanda-tanda Naina ada di sana, bersama Uwais. Syam menoleh saat mendengar suara orang membuka pintu, dia melihat Ali. Syam akhirnya berniat untuk bertanya kepada Ali.


” Ali” panggil Syam dan Ali menoleh.


”Ya, kenapa?”


” Naina masih tinggal disini?”


” Tidak, dia tinggal di rumah suaminya.


Syam terdiam sejenak.


” Dimana?”


” Aku gak tahu”


” Jangan bohong Ali, ini sangat penting aku harus bertemu sama dia”


” Aku gak tahu, Ai aja karyawannya gak tahu rumah Uwais dimana” Ali mulai kesal. Syam mendengus sebal karena Ali berbicara dengan nada tinggi.


” Baiklah, terima kasih" ujar Syam dan dia pergi meninggalkan Ali, Ali hanya menggeleng kepala menatap kepergian Syam. Syam masuk ke dalam mobilnya dan dia pergi meninggalkan area ruko. Tiba-tiba ponselnya berdering dan Syam melihat ibunya yang menelepon.


” Halo ma, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam, kamu dimana Syam? semua orang sibuk dan sedih kamu malah keluyuran. Syifa nangis terus ini” mama Novi berbicara dengan suara serak karena dia sedang menangis.


" Mama udah ngasih kabar sama dia, dia pasti datang. Kamu pulang sekarang” mama Novi kesal lalu mematikkan panggilan. Syam meletakkan ponselnya dan bergegas menuju ke rumah.


***


Di rumah Uwais dan Naina. Naina sedang mengganti seprai dan setelah itu dia membuka jendela lebar di kamar besar itu untuk melihat pemandangan dan udara segar di pagi hari. Naina menutup matanya, semalaman hujan bisa dibayangkan sesegar apa pagi ini.


Naina membuka matanya dan tersenyum saat Uwais memeluknya erat dari belakang, Uwais mengendurkan pelukannya saat mendengar ponsel Naina berdering, notifikasi pesan masuk. Naina melangkah untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya dan Uwais diam.


” innalillahiwainnailaihirojiun” lirih Naina dan mengenggam ponselnya, Uwais yang mendengar melangkah cepat mendekati Naina.


” Ada apa?" Uwais merebut ponsel Naina ingin melihat pesan masuk itu, Uwais buru-buru memeluk Naina dan Naina menangis.


Sore hari. Di area pemakaman sebuah mobil mewah Lamborghini berwarna hitam datang dan menjadi sorotan semua orang. Naina diam dan Uwais menghentikan mobilnya


” Mau pulang?” ucap Syam dan Naina menoleh lalu menggeleng kepala.” Tidak apa-apa kalau mau pulang, kita pulang aja. Atau aku yang masuk kamu diluar” ucapnya lagi seraya merapihkan kerudung istrinya itu dan Naina menggeleng kepala.


” Kita udah disini, mana mungkin balik lagi mas. Aku enggak apa-apa kok” Naina tersenyum, meyakinkan Uwais.


” Baiklah” Uwais membuka laci dan mengambil kaca mata hitam disana. Uwais keluar dan Naina melihat para wanita dan gadis remaja di sana memperhatikan suaminya dengan tatapan penuh kekaguman, sudut bibirnya naik membuat simpulan sinis di bibir istri Uwais itu. Uwais membuka pintu mobil untuk istrinya, Naina meraih tangan suaminya itu dan keluar perlahan. Naina dan Uwais beruntung tidak telat. Mama Novi yang melihat Naina langsung mendekat dan keduanya berpelukan.

__ADS_1


” Tari udah gak ada" seru mama Novi dan terus menangis, Naina tidak kuasa menahan air matanya.


” Mama yang sabar ya, kita semua sayang sama mbak Tari" ujarnya menenangkan mama Novi, Naina merangkul bahu mama Novi dan mama Novi hampir pingsan. Naina berjongkok dan memeluk mama Novi erat dan terus mengusap bahunya.


” Yang sabar ma” itu yang terus Naina katakan, Syam memperhatikan Naina dan ibunya Uwais yang sadar menoleh dan berjongkok di sebelah Naina karena melihat Syam melangkah. Syam berhenti dan mundur.


Acara pemakaman berjalan lancar, mama Novi sudah dibawa pulang duluan oleh Syam karena terlihat sangat lemah. Hamdan sama sekali tidak terlihat hadir dan membuat keluarga Tari geram.


” Ayo pulang” ajak Uwais. Dan Naina mengangguk.


Naina masuk ke dalam mobil dan Uwais juga. Naina diam, dia benar-benar sedih dan Uwais sesekali meliriknya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju pulang, Naina terlihat sangat lelah.


****


Ai ketahuan.


Ai panik saat Akbar datang ke toko, mentang-mentang Naina belum datang. Keduanya memang sedang bertengkar dan Akbar datang untuk meluruskan masalah.


” Keluar” usir Ai.


” Aku mau ngomong sebentar”


” Mau ngomong apalagi? kamu jalan sama aku terus kamu jalan sama penjaga counter itu” Ai kesal.


” Aku minta maaf Ai”


” Aku gak mau ngomong sama kamu, keluar. Kalau mbak Naina lihat kamu disini gimana? aku juga sibuk” Ai mendorong-dorong tubuh Akbar tapi Akbar mempertahankan diri. Uwais dan Naina masuk ke dalam toko lalu keduanya diam melihat Akbar ada di sana.


” Aku gak mau putus sama kamu” lirih Akbar. Akbar meraih tangan Ai dan Ai diam.


” Ekhem,, ekhem” Uwais berdehem dan Ai terkejut, dia tarik tangannya sampai genggaman tangan Akbar terlepas.


” Apa ini? Akbar?” Naina menatap Akbar dan Akbar melirik Ai sekilas.


” Permisi mbak” Akbar pergi begitu saja dan Ai kesal.


” Aku mau bicara, di atas” pinta Naina lalu Ai naik ke lantai dua ruko. Naina menggeleng kepala melihat pemandangan tidak baik di dalam tokonya.


” Sayang, aku mau pergi” tegur Uwais dan Naina menoleh.


” Oh iya hati-hati" Naina tersenyum lalu meraih tangan Uwais dan menyalaminya.


Uwais mencium pipi kanan Naina dan Naina memukul dadanya.


” Nanti ada yang lihat, sembarangan” Naina kesal dan Uwais tersenyum.

__ADS_1


” Cium aku” goda Uwais


” Enggak" Naina terus menggeleng kepala dan Uwais memeluk pinggangnya, mendekatkan bibirnya yang mengerucut agar Naina menciumnya. Naina menjauhkan kepalanya terus-menerus dan keduanya tertawa kecil. Naina berhenti saat melihat Ali sekilas, Uwais mendengus sebal melihat Naina melihat Ali seperti itu. Naina mendorong dada suaminya dan pelukan terlepas, Ali buru-buru masuk ke tokonya melihat pemandangan itu membuatnya malas untuk menjadi sarapan.


__ADS_2