
” Apa yang kamu mau?" tegas Naina bertanya lalu dia bangkit dari ayunan.
Uwais juga bangkit dan berdiri berhadapan dengan Naina. Kedua tangannya masuk kedalam saku lalu Uwais mencondongkan tubuhnya. Otomatis Naina menjauh karena jika tidak wajahnya dan wajah Uwais akan berbenturan.
” Baju dari ku di pakai apa tidak?”
” Aku tanya apa yang kamu mau, saya sudah bercerai dengan suami saya. Dan jangan ganggu saya lagi”
” Jangan kepedean”
” Kamu mengikuti saya?” tuding Naina.
” Kamu narsis juga ternyata”
” Saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke polisi”
” Silahkan”
Naina mendelik sebal lalu dia melangkah pergi meninggalkan Uwais dan Uwais tersenyum memperhatikan kepergiannya.
****
Malam hari tiba, Naina sedang menikmati udara segar bersama Ai. Ai akan menginap dengannya malam ini.
” Banyak bintang ya mbak malam ini”, imbuh Ai yang terus mendongak menatap langit gelap bertabur bintang.
” Ya, banyak. Seperti masalah ku”
Ai berhenti mendongak dan memperhatikan Naina di sebelahnya.
” Mbak jangan sedih ya, kan mbak sudah lepas dari mas Syam. Gak ada yang perlu di khawatirkan lagi”
” Selama mas Syam menganggu, tidak akan ada bedanya Ai”
Ai mengangguk dan Naina menyenderkan kepalanya di bahu Ai, Ai diam membiarkannya.
” Mbak sabar ya”
” Iya”
” Mbak pasti kuat”
” Iya”
Naina bingung harus meluapkan kegelisahannya bagaimana lagi, dia ingin Syam berhenti menganggu nya. Ponsel Naina bergetar dan Naina melihat, Syam yang meneleponnya. Naina menolak panggilan tersebut lalu mematikkan ponselnya. Padahal ponselnya harus selalu aktif karena banyak customer yang mengirimkan pesan dan menelepon. Dari kejauhan Syam yang sedari tadi memperhatikan dan mendengar keluhan Naina menangis, melihat Naina tidak mau mengangkat telepon darinya.
****
Keesokan harinya, Naina begitu terlihat malas memulai aktivitas. Pagi-pagi masih jam 8 sudah banyak yang datang, ada yang mengambang keep an barang dan ada juga yang baru memilih.
” Assalamu'alaikum” Ali datang.
” Wa'alaikumus Salaam” Naina menjawab sambil tersenyum.
” Nai, sudah sarapan?"
” Belum mas”
” Kebetulan, aku beli nasi uduk lebih satu. Nih buat kamu, di makan ya”
Naina diam sejenak lalu menerimanya.
” Terima kasih mas”
” Sama-sama”
Ai diam-diam memperhatikan keduanya dan tersenyum lebar, Ali dan Naina sama-sama terlihat malu-malu.
” Kalau begitu aku pergi dulu”
” Iya mas”
Ali pergi meninggalkan toko Naina menuju ke tokonya. Naina juga masuk untuk menikmati makanan yang diberikan Ali.
” Ciye Mbak Nai” goda Ai dan Naina tersenyum.
__ADS_1
Naina menikmati sarapannya dengan perasaan senang. Setelah selesai dia membereskan semuanya dan siap-siap untuk sholat Dhuha.
****
Di rumah Syam, Amira sedang menggendong Syifa. Semua orang sudah berusaha menahannya untuk tidak masuk tapi Amira membuat keributan. Suara langkah kaki tegas mengarah ke ruang tamu, Syam yang sedang bekerja terpaksa pulang saat mendengar Amira memaksa masuk ke rumahnya.
” Amira!" bentak Syam dan semuanya menoleh.
” Pak maaf pak” seru bibi dan baby sitter yang merasa bersalah dan takut di pecat.
” Bawa Syifa ke kamar” titah Syam.
” Apa-apaan kamu, ini anak saya” Amira menolak saat baby sitter ingin mengambil anaknya.
” Maaf bu” memaksa dan akhirnya berhasil mengambil alih Syifa dan membawanya pergi, Amira hendak menyusul tapi Syam mencengkram kuat lengannya.
” Syam dia anakku”
” Kapan kamu pernah menggendong Syifa, hah!” berteriak.
” Syifa anakku, aku mohon Syam”
” Perceraian kita sudah mulai di urus, siapkan pengacara untukmu sendiri. Dan kita lihat siapa yang berhak atas Syifa. Sekarang keluar dari rumahku” usir Syam dan Amira menggeleng kepala, air mata penuh drama menetes deras berharap hati keras Syam masih mau menegosiasikan tentang perceraian itu.
” Syam aku mohon”
” Keluar!” Syam sudah tidak kuasa menahan amarahnya lagi dia dorong tubuh Amira dan Amira tersungkur kasar dengan dahi membentur tepi meja.
” Aaghh” Amira meringis, lalu dia pingsan dan Syam diam. Dia mengira Amira hanya bersandiwara.
” Amira” panggil Syam dan Amira tidak merespon, Syam berjongkok dan mengangkat kepala Amira. Alangkah terkejutnya dia saat melihat darah menetes dari kening Amira tidak berhenti.
” Siapkan mobil” teriak Syam. Dia gendong tubuh Amira perlahan-lahan untuk segera dia bawa ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Amira langsung mendapatkan penganan dan Syam menunggu di luar. Jika terjadi sesuatu yang fatal, akan habis dia dimanfaatkan oleh Amira. Setelah cukup lama menunggu akhirnya dokter keluar. Syam bangkit dari duduknya dan mendekat.
” Dokter, bagaimana keadaannya?”
” Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pasien baik-baik saja. Sebentar lagi boleh pulang” ucap dokter sambil tersenyum dan Syam mengangguk.
” Terima kasih dokter”
” Sama-sama”
” Syam kamu tega bikin aku begini”
” Aku gak sengaja, itu masih kurang. Aku ingin melakukan hal lebih” ucap Syam tanpa membuat ekspresi, dia duduk sambil memangku satu kakinya.
” Tega ya kamu”
” Kamu yang jauh lebih tega, Syifa anak Miko. Dan kamu ibunya sama sekali tidak bisa dipercaya untuk membesarkan Syifa, di akte kelahiran nya jelas Syifa tertulis sebagai anakku tapi tes DNA tidak bisa di bohongi.” Suara Syam tegas dan menatap Amira malas.
” Ayo kita bicarakan baik-baik, aku gak mau cerai”
” Aku gak perduli Amira, semua administrasi sudah aku urus” ketus Syam lalu mengeluarkan uang dan melemparkannya ke wajah Amira.” Ambil itu, jangan datang ke rumah sampai urusan kita di pengadilan selesai. Setelah itu kamu tidak bisa datang untuk selamanya” Syam bangkit dan melangkah pergi.
Brakk! dia luar lalu membanting pintu.
” Syam” teriak Amira frustasi.
*****
Keesokan harinya, Amira mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat Naina berada. Sesampainya di depan ruko, Amira keluar dia melihat toko Naina begitu ramai. Amira melangkah mendekati Naina yang sedang melayani para pembeli.
” Aaaghh” Naina meringis saat kerudungnya di jambak oleh Amira, semua orang menoleh dan kegaduhan pun terjadi.
” Sini kamu” geram Amira lalu menarik kerudung Naina.
” Mbak” teriak Ai panik. Dia lirik toko Ali tapi Ali sedang tidak ada. Dia bingung harus meminta tolong siapa. Seorang pria bertubuh tinggi, tampan, dan gagah melewati Ai lalu melepaskan cengkraman tangan Amira dari kerudung Naina.
” Minggir” tegas Uwais dengan tatapan tajam dia menatap Amira. Dia tarik Naina ke belakang punggungnya, Naina merasakan ngilu yang begitu sangat sakit karena jarum pentul menancap di lehernya karena tarikan Amira dari belakang.
” Jangan ikut campur” Amira kesal dan tidak mengenali Uwais yang memakai masker hitam itu, tapi Naina mengenali Uwais dengan hanya melihat tahi lalat di bawah mata kiri pria itu.
” Jangan membuat keributan” Uwais terus menatap tajam Amira.
__ADS_1
” Saya tidak punya urusan dengan kamu” Amira tetap tidak mau pergi.” Naina murahan sekali kamu gangguin suami saya Syam” teriak Amira. Semua orang terkejut mendengarnya, hal tersebut mempengaruhi para pengunjung toko Naina.
” Gara-gara kamu aku di ceraikan mas Syam Naina!” Amira berteriak.
” Aku gak tahu apa-apa mbak” sahut Naina dan bergeser dari belakang tubuh Uwais.
” Naina” seru Uwais agar Naina diam.
” Sebaiknya kamu pergi, daripada di seret satpam disini. Silahkan” usir Uwais.
” Saya bicara sama Naina bukan sama kamu”
” Naina tanggung jawab saya. Saya tegaskan kepada semua orang disini, saya Uwais salam dan Naina Inayah akan menikah” bentak Uwais dan Amira diam, dia mundur karena takut. Amira melangkah pergi dan Naina terlihat terkejut mendengar ucapan Uwais. Uwais berbalik melihat Naina meringis kesakitan.
Amira terus melangkah dan tidak menyangka bahwa Uwais mengenal Naina sedekat itu. Naina terlihat mendorong tubuh Uwais agar pergi.
” Kamu keterlaluan” tegas Naina dan mendongak menatap tajam pria yang selalu menganggu nya itu. Uwais melangkah pergi dan bersamaan dengan Amira yang berbalik dan berlari lalu menyerang Naina membabi buta. Naina melawan, Uwais dan Ai berusaha melerai keduanya.
” Saya tidak pernah menganggu rumah tangga mbak, mbak yang menganggu rumah tangga saya. Saya sampai keguguran, saya di ceraikan dan sekarang mbak dan suami mbak masih menganggu saya. Saya ingin damai dan menjalani hidup saya dengan tenang” suara Naina begitu lantang, entah kenapa kedua mata Uwais nampak berair. Melihat wanita yang dia sukai menderita dan dia pernah membuatnya juga menderita, Uwais tidak pernah berpacaran. Dia hanya tahu sebatas suka dan tidak pernah tahu seperti apa makna terdalam bernama Cinta. Setelah lulus SMA kehidupannya berubah dan langsung di penjara. Karena kesalahan yang tidak dia lakukan dan keluarganya sendiri bahkan menjadi korban, tipu daya manusia dan kekuasaan yang dikuasai dengan namanya rupiah begitu mengubah kehidupan pria itu. Pria kuper dan langsung mengenal Syam yang anak kota dan sering berlaku semena-mena terhadap semua orang dan dia salah satunya. Masa depannya hancur, keluarganya lenyap dan hanya kakeknya yang tersisa.
” Berani kamu Naina” Amira mengangkat tangannya untuk menampar Naina, Uwais menahan tangan Amira dan Naina melayangkan tangannya ke pipi Amira.
Plak! terdengar suara yang begitu nyaring Naina pun tidak tahu kenapa dia bisa berbuat seperti itu. Amira bahkan sampai terkejut dan memegang pipinya yang terasa ngilu.
” Awas kamu Naina” ancam Amira dan dia akhirnya pergi karena tatapan mata semua orang malah mengintimidasi nya.
” Nai” panggil Uwais begitu lembut.
” Ai, tutup toko” titah Naina dan dia melangkah pergi masuk ke dalam toko. Ai meminta maaf kepada semua pengunjung dan tidak mungkin semuanya bisa dilanjutkan. Uwais menarik kursi dan meminta Naina duduk. Uwais berjongkok di hadapan Naina dan melihat kerudung berwarna silver itu berdarah. Uwais ingin menarik jarum di sana tapi Naina memalingkan wajahnya.
” Kenapa kamu berbicara seperti tadi?”
” Itu kenyataannya”
” Kamu peneror itu kan? dan seenaknya mengakui saya akan menikah sama kamu”
” Saya memang ingin menikahi kamu”
” Pernikahan bukan hal yang mudah, kamu hampir membunuh saya”
” Saya tidak pernah melakukan itu, saya minta maaf. Saya hanya meneror kamu untuk jauh dari itu bukan saya yang melakukannya. Kamu pikir Syam hanya bermusuhan dengan saya?”
” Keluar” usir Naina.
” Naina”
” Keluar” usir Naina dan mengarahkannya tangannya. Uwais bangkit tapi dia tidak mau pergi.
” Assalamu'alaikum Nai” suara Syam terdengar, langkahnya langsung terhenti saat melihat Naina bersama seorang pria. Uwais juga terlihat terkejut melihat kedatangan Syam yang tiba-tiba.
” Uwais” lirih Syam dan Uwais melepaskan masker dari wajahnya, kedua mata Syam membulat. Naina memperhatikan keduanya bergantian dan melihat tangan Uwais terkepal kuat setelah melihat Syam.
Bersambung...
****
Penampakan Uwais salam
Bermata sipit, hidung mancung, bibir tipis dan tinggi.
Naina Inayah( visual baru, jangan hate komen)
Syamsul kesayangan Readers
Muhammad Ali Farhan Kesayangan Author
__ADS_1
Rizal kesayangan Bu Nai