Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Istri Uwais


__ADS_3

Syam duduk menunggu toko Naina buka, Ai telat datang karena di jalan sangat macet dan beberapa pelanggan pun banyak yang putar balik karena toko belum buka. Syam menoleh saat melihat kedatangan Ai.


” Ai" panggil Syam dan Ai menoleh, dia baru saja ingin membuka kunci.


” Iya mas?”


” Naina masih tidur atau kemana?”


” Mbak Nai pulang kampung, gak tahu pulangnya kapan”


” Dia sakit?” Syam cemas.


” Bukan, mbak Naina nikah” jawab Ai dan Syam terdiam sejenak.


” Menikah? nikah sama siapa jangan main-main kamu Ai” suara Syam meninggi, dia kesal.


” Sama bang Uwais” jawab Ai ketus lalu dia pergi meninggalkan Syam yang marah-marah padanya tidak jelas. Syam mengeluarkan ponselnya dan menelepon Naina, satu kali Naina tidak mengangkat nya dan Syam kembali menelepon untuk yang kedua kali.


****


Di kampung, Uwais meraih ponsel Naina yang terus berdering. Panggilan masuk dari Syam membuat semu wajah Uwais terlihat kesal. Naina sedang memasak dan dia baru saja masuk ke kamar. Uwais mengangkat telepon dari Syam dan tersenyum kecut.


” Halo” tegas Uwais.


Di seberang sana, Syam mengernyit heran karena mendengar suara laki-laki.


” Siapa kamu? dimana Naina?"


” Apa suaraku beda jika ditelepon? aku Uwais. Istriku sedang memasak untuk suaminya yaitu aku”


” Jangan macam-macam kamu Uwais”


” Terserah” singkat Uwais lalu mematikan panggilan sepihak, pintu terbuka dan Uwais menoleh melihat Naina masuk.


” Ini ponsel aku mas”


” Ya, ada yang menelepon tadi”


” Siapa?” Naina bingung lalu Uwais memberikan ponselnya, Naina ingin memeriksa riwayat panggilan dan Uwais menarik lengannya sampai Naina jatuh ke pangkuannya. Kedua mata Naina membulat, Uwais mencubit hidung mancung isterinya gemas dan Naina semakin gugup.


” Mantan kamu yang menelepon”


Naina diam.


” Aku gak suka kamu berhubungan sama dia lagi atau sama pria manapun”


” Aku enggak yakin kalau kamu gak pernah komunikasi sama cewek lain”


Uwais tergelak, Naina ingin bangkit tapi Uwais menahannya.


” Periksa ponsel ku kalau tidak percaya”


” Males” singkat Naina lalu dia ingin bangkit lagi tapi tetap saja Uwais menahan.” Mas, aku lagi masak sama ibu”


Uwais membiarkan Naina bangkit dan dia juga bangkit, belum Naina melangkah jauh dia menarik tangannya dan mencondongkan kepalanya. Kedua mata Naina membulat saat bibirnya menempel di bibir suaminya, ingin menolak tidak bisa. Karena melihat reaksi Naina seperti ketakutan, Uwais tidak jadi melanjutkan niatnya.


” Aku tidak bermaksud memaksa, aku hanya tidak tahan. Ini normal, jangan memarahiku” pinta Uwais dan dia gugup lalu menatap ke arah lain karena dia tidak tahan jika melihat Naina.


Naina mundur menjauh dan menundukkan kepalanya.


” Aku mau lanjut masak” imbuh Naina dan dia pergi, Uwais menyentuh bibirnya dan Naina juga sepanjang perjalanan menuju dapur dia menggigit bibirnya, wajar suaminya menciumnya tapi Naina takut.


” Nai kamu di KB?” tanya Bu Ratna tiba-tiba.

__ADS_1


” Enggak Bu, belum sempat”


” Loh kok begitu, ya enggak apa-apa. Gak boleh, Uwais sudah pantas menggendong seorang anak begitu juga kamu. Ibu sama bapak juga mau cucu dari kamu Nai, Husna sebentar lagi lahiran di susul kamu hamil, betapa bahagianya ibu sama bapak” tutur Bu Ratna dan Naina mengernyit heran, bagaimana bisa dia hamil melakukan hubungan intim saja belum. Tunggu, kenapa dia mengharapkannya sekarang.


” Aku sudah tidak waras sepertinya” gumam Naina.


Setelah selesai memasak, semuanya berkumpul kecuali Kabir yang sekolah. Bu Ratna dan pak Fahmi memperhatikan Naina yang melayani Uwais dengan baik sampai Uwais terpaku melihatnya.


” Ini semua Naina yang masak, pasti nak Uwais belum pernah mencoba masakan Naina” imbuh Bu Ratna dan Uwais tersenyum lalu mengangguk.


Uwais menikmati makanannya dengan lahap, dia sangat suka dengan masakan istrinya.


” Kalian masih lama kan disini?” tanya pak Fahmi.


” Besok kami kembali ke Jakarta pak, saya harus kerja soalnya” jawab Uwais.


” Kerja apanya?” cibir Naina dalam hati.


” Nai juga banyak kerjaan di toko”


” Mendadak sekali, bapak sama ibu masih mau kalian disini”


” Insya Allah nanti kalau ada waktu kami pasti pulang” ucap Uwais sambil tersenyum.


Malam hari tiba, malam kedua Naina dan Uwais tidur bersama. Kemarin malam Naina pura-pura lelah malam ini dia beneran lelah, dia membantu suaminya berkemas dan merapihkan kamar. Karena tidak mau merepotkan orang rumah. Naina berbalik dan berhadapan dengan Uwais yang sedari tadi memiringkan tubuhnya memperhatikan punggung dan rambut istrinya. Uwais menatap tangan Naina yang memeluk lehernya, mungkin dia dikira bantal guling.


” Masya Allah, cantiknya" puji Uwais sambil tersenyum lebar lalu mencium hidung Naina sekilas.


Uwais menyisir rambut Naina dan menarik rambut yang menghalangi wajah istrinya yang sedang dia tatap itu, Uwais tidak pernah melihat status Naina seorang janda. Dia sayang dan cinta status terburuk pun tidak akan bisa memerangi perasaannya, Naina sangat istimewa dan dia bersyukur.


****


Di kediaman Syam, Syam meratapi nasibnya. Bayangan kebersamaan Naina dan Uwais terus menyiksanya. Mama Novi dan ayah Rahman datang saat bibi menelepon karena Syam juga mabuk.


” Ayah sudah mengusirku, kenapa kemari?”


” Syam!” bentak ayah Rahman. Dia dekati anak yang menjadi kebanggaannya itu, ayah Rahman membantu Syam berdiri untuk meninggalkan balkon dan pergi ke kamar. Setelah di kamar Syam terus muntah-muntah dan ayah Rahman membiarkannya. Dia tinggalkan anaknya itu dan meminta satpam membuang semua alkohol dari kamar dan dari rumah anaknya itu.


Di kamar Syifa, mama Novi menggendong Syifa. Untuk pertama kalinya, dia tatap wajah polos tidak berdosa itu. Syifa yang tadinya menangis kini tertidur pulas di pangkuan mama Novi.


” Kamu sangat mirip dengan ayah kamu, Miko" lirih mama Novi lalu mencium pipi Syifa lembut.


” Apa Syam sering begini?” tanya mama Novi kepada baby sitter yang juga ada di sana bersamanya, baby sitter menundukkan kepalanya ragu untuk menjawab.


” Enggak apa-apa, bilang aja” mama Novi membujuk.


” Ibu Bu, pak Syam sering seperti ini. Kata bibi yang udah lama kerja, dulu gak separah ini setelah mbak Naina pergi pak Syam jadi lebih parah bu” lirihnya menjelaskan, dan takut Syam mendengar lalu dia akan di pecat.


” Saya minta nomor kamu, kalau ada sesuatu tentang Syifa hubungi saya. Tolong jangan biarin Syifa sama Syam kalau Syam lagi marah ya”


” Iya Bu”


Mama Novi memberikan ponselnya, lalu dia mengetikkan nomor lalu menyimpannya atas perintah mama Novi.


*****


Keesokan harinya, Naina dan Uwais akan kembali berangkat ke Jakarta. Naina berpelukan dengan ayah dan ibunya lalu dengan Kabir, Naina menangis karena harus kembali dan dia tidak sendirian karena sudah menjadi seorang istri dan Uwais salam.


” Hati-hati ya”


” Iya, kami pamit pak, Bu. Kabir nanti main ke rumah Abang ya, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam"

__ADS_1


” Insya Allah bang, Wa'alaikumus Salaam” sahut Kabir.


Naina masuk setelah Uwais membukakan pintu mobil untuknya, di susul oleh Uwais. Uwais menyalakan mesin mobilnya dan menekan klakson, Naina melambaikan tangan sambil tersenyum dan keluarganya membalas. Mobil pun melaju pergi meninggalkan kediaman keluarga Naina. Naina terus menangis dan Uwais menarik tisu lalu mengusap air mata Naina sambil teliti memperhatikan jalan yang hanya muat satu mobil itu.


” Jangan nangis, udah. Nanti kapan-kapan kita pulang” imbuh Uwais dan Naina merebut tisu lalu mengusap air matanya sendiri. Uwais tersenyum lebar. Perjalanan memakan waktu 6 jam jika tidak macet, Naina dan Uwais diam tidak banyak bicara. Tiga jam berlalu, dan sudah memasuki waktu sholat Dzuhur Naina dan Uwais terjebak kemacetan. Naina terlihat kelelahan dan dia merasa lapar tapi gengsi untuk meminta.


” Kamu capek?” Uwais menjatuhkan telapak tangannya di kepala Naina dan mengelusnya.


” Kok macet ya mas, waktu aku pulang lancar loh ini kan bukan hari weekend”


” Mungkin karena hari ini tanggal merah banyak yang liburan” ujar Uwais dan menyenderkan kepalanya lalu menatap Naina sekilas. Dia melirik penjual boneka yang menawarkan bonekanya di tengah-tengah kemacetan ke setiap mobil. Uwais menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya. Senyuman dari si penjual terlihat begitu senang dan bergegas menghampiri Uwais. Naina diam memperhatikan Uwais entah mau apa pria itu. Uwais membeli boneka berbentuk hati lalu membayarnya.


” Terimakasih mas"


” Oke, sama-sama” Uwais menutupi kembali kaca mobil dan menoleh kepada Naina lalu memberikan boneka berwarna merah dan berbentuk hati itu, Naina terlihat bingung.


” Untuk istriku” ucap Uwais sambil tersenyum simpul lalu Naina menerimanya, boneka tersebut sedikit berdebu walaupun terbungkus plastik. Uwais melihat Naina ingin membukanya dan dia membantunya.


” Terima kasih” ucap Naina dan Uwais mengangguk, memeluk boneka tersebut di dada lalu menatap keluar kaca mobil dan Uwais tersenyum lalu mobil kembali melaju dan Naina mencari masjid.


Sore hari, Naina dan Uwais sudah sampai di ruko. Karena ruko yang paling dekat dan Naina juga terlihat kelelahan. Perjalanan di Jakarta lancar dan tidak terlalu macet seperti sebelumnya, keduanya sampai sebelum Maghrib.


” Ya ampun bang Uwais sama mbak Nai udah sampe, pengantin baru” seru Ai dengan lantang untuk memanasi Aku yang sudah membuat Naina sedih waktu itu. Ai tidak suka Naina di permainkan.


Naina tersenyum dan Uwais mengunci mobilnya, Ali diam-diam melirik Naina dan Uwais. Uwais merangkul pinggang main dan Ali merasakan sesak melihatnya.


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


” Ai kamu belum pulang?”


” Belum, sengaja nungguin mbak tadi juga masih rame gak mungkin di tutup gitu aja. Selamat ya mbak Nai dan bang Uwais semoga sakinah mawadah warahmah Aamiin” Ai begitu senang.


” Aamiin” sahut Uwais dan Naina mengangguk. Uwais masuk ke toko dan Naina menggeleng kepala, Uwais tidak sabar ingin melihat bagaimana penampakan rumah Naina di ruko itu. Sangat sempit tapi rapi, Uwais yang lelah menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Kasur tempat Naina tidur. Uwais terlihat senang. Uwais bangkit lalu dia membuka jendela melihat pemandangan dari atas sana. Tiba-tiba ponselnya berdering dan panggilan masuk dari kakek.


” Assalamu'alaikum kek”


” Wa'alaikumus Salaam, aduh cucu kakek kedengarannya seneng banget. Sudah dimana?”


” Apaan sih kek” Uwais cemberut, tak suka di goda kakek.” Sudah di ruko”


” Kenapa gak pulang ke rumah, Kakek nungguin ini”


” Naina kecapean, istirahat dulu disini nanti malam insya Allah ke sana”


” Ya sudah kalau begitu, Uwais jangan lupa”


” Apa?” bingung.


” Kakek udah pengen punya cicit”


” Ya, ya ya” Uwais bingung.


” Kakek tunggu kalian berdua nanti malam ya"


” Iya kek”


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Panggilan berakhir

__ADS_1


__ADS_2