
Naina sedang di terapi saat ini, Bu Ana begitu telaten untuk membantu kakinya supaya benar-benar cepat sehat. Setelah selesai, Naina meminta pelayan menyiapkan makanan dan minuman. Bu Ana sempat menolak namun Naina benar-benar ingin minum teh bersamanya, Bu Ana sangat merasa canggung berada di rumah mewah, megah dan besar itu apalagi ketika Uwais ada.
” Apa kaki Bu Naina sering sakit lagi?” tanya Bu Ana.
” Semakin baik, karena Bu Ana yang merawat saya” jawabnya sambil tersenyum lebar dan Bu Ana merasa senang sekaligus malu-malu dan canggung mendengarnya.
” Saya senang mendengarnya” Bu Ana tersenyum dan Naina juga tersenyum.
Keduanya menikmati teh hangat bersama-sama di selingi obrolan kecil dan keduanya tertawa bersama.
****
Fatma masuk rumah sakit.
Bu Anggi dan mama Novi bertengkar di luar ruangan, Fatma tertidur lelap setelah dokter memberikan obat yang membuatnya mengantuk agar Fatma bisa istirahat dengan tenang. Fatma mengalami trauma dan luka robek di organ intim nya yang begitu menyiksa membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit, bekas luka tembakan yang sudah hampir kering juga jahitannya terbuka kembali dan dokter harus segera menjahit luka di perut Fatma agar berhenti mengeluarkan darah. Di gauli oleh pria yang sedang mabuk memang sangat beresiko apalagi untuk Fatma yang baru pertama kali melakukannya. Bu Anggi menangis melihat kondisi tubuh anaknya, luka lebam di pipi dan bibir anaknya robek membuat Bu Anggi bingung apa yang dilakukan Syam kepada anaknya.
” Saya mau membawa anak saya kembali pulang, Fatma bahkan gak bilang apa-apa sama saya dia ketakutan Bu. Maaf, saya gak tega melihat anak saya begini” ujar Bu Anggi.
” Fatma dan Syam sudah menikah, keduanya baru saja menikah apa jadinya seorang istri dijemput kembali oleh orang tuanya. Biar saya yang mengurus Fatma, saya akan mendesak Syam untuk bicara apa yang sebenarnya terjadi. Syam memang anak saya tapi jika anak saya salah, biarkan saya yang memukulinya sendiri” tutur mama Novi seraya meraih tangan Bu Anggi, apa jadinya jika rumah tangga Syam sekarang juga berantakan.
” Saya mohon bu” lirih mama Novi.
” Saya gak bisa, seorang ibu akan khawatir sekalipun anaknya sudah dewasa dan menikah” imbuh Bu Anggi lalu melepaskan genggaman tangan mama Novi dan dia masuk serta melarang orang lain masuk untuk mendekati anaknya apalagi Syam.
Di luar rumah sakit, Syam datang saat mendapatkan kabar istrinya masuk rumah sakit. Kenapa? dia bertanya-tanya. Apa karena semalam Fatma sampai masuk ke rumah sakit. Syam setengah berlari masuk ke dalam rumah sakit dan dia berpapasan dengan Ayah Rahman dan nenek. Ayah Rahman tanpa ragu langsung mengangkat tangannya dan melayangkan pukulan keras di pipi anaknya.
Plak! suaranya begitu nyaring terdengar.
” Kamu apakan Fatma Syam? gadis kecil itu gak punya salah sama kamu. Kenapa kamu menyakitinya” geram ayah Rahman berucap.
” Kamu memang gak berubah, iblis kamu Syam sikap kamu bukan seperti sikap manusia” seru nenek Wilda.
” Aku gak tahu apa-apa ayah, nek” ucap Syam berusaha membela diri.
” Pura-pura bodoh kamu? anak sialan” maki ayah Rahman. Ayah Rahman mengajak nenek Wilda pergi meninggalkan Syam, tidak perduli Syam mau apa asalkan bukan lagi menyakiti Fatma. Syam juga pergi untuk segera melihat Fatma, sesampainya di kamar rawat Fatma Syam tidak di izinkan masuk oleh paman Fatma, Rudi.
” Saya mau lihat Fatma om” imbuh Syam.
” Jawab dulu apa yang kamu lakukan sama Fatma?” Rudi menatap Syam sinis, tangannya terkepal kuat. Ingin rasanya dia membalas perbuatan Syam kepada Fatma.” Jawab”
Syam hanya bisa diam membisu, mana bisa dia mengatakan jika dia mencampuri istrinya dalam keadaan mabuk dan dia sadar melakukan kasar kepada Fatma. Rudi menggeleng kepala dan duduk kembali, Syam melangkah mendekat pada jendela. Dia lihat Fatma di dalam sana yang sedang bersama ibu mertuanya. Syam memperhatikan Fatma, tadi pagi wajah Fatma tidak seburuk itu, sekarang lebam di sekujur tubuh istrinya itu terlihat jelas. Cekalan tangan Syam bahkan membekas di pergelangan tangan mungil Fatma.
” Bodoh kamu syam” maki Syam dalam hati kepada dirinya sendiri, sesal tiada guna, Fatma kini sudah trauma dan mungkin tidak akan mau kembali kepada suaminya.
*****
Kedatangan Kabir.
Kabir duduk menunggu Naina, Naina dalam perjalanan menuju rumah dari ruko. Kabir terlihat takut bertemu dengan Naina, Kabir terlihat begitu lusuh dan tidak seperti biasanya. Bagaimana bisa dia baik-baik saja, sementara gadis yang dia cintai tak tahu bagaimana keadaannya. Fatma sudah menjadi istri pria lain, dan Kabir yakin Syam tidak mungkin tidak menyentuh Fatma. Jika takdir membuatnya dan Fatma bertemu lagi dia tidak akan kuat.
” Assalamu'alaikum” suara Naina terdengar dan Kabir menoleh.
” Wa'alaikumus Salaam” jawab Kabir, seraya bangkit lalu menyalami tangan Naina. Naina tiba-tiba memeluk adiknya itu erat, dia benar-benar merindukan Kabir yang selalu menghindarinya. Kabir ragu untuk membalas pelukan kakaknya sendiri, dia juga rindu kepada kakak kesayangannya tapi kesalahan yang dia lakukan benar-benar membuatnya malu.
” Bagaimana kabar kamu Kabir?”
” Aku baik mbak, mbak gimana?”
” Alhamdulillah mbak baik-baik aja, ayo duduk.” Ajak Naina, Naina merasa bersalah karena waktu itu dia terlalu kasar kepada Kabir. Dia khilaf saat mendengar Kabir berhubungan dengan Fatma. Bi Astri datang membawakan minum untuk Naina, Naina dan Kabir diam belum berbicara apa-apa lagi. Setelah Bi Astri pergi Naina mulai berbicara.
” Mbak mau kamu jawab pertanyaan mbak dengan jujur, masih berhubungan sama Fatma?” tutur Naina bertanya lalu meminum airnya. Kabir menundukkan kepalanya sekilas. Melihat adiknya diam, Naina mulai kesal.
__ADS_1
” Kabir, kamu gak mau jawab pertanyaan mbak atau memang kamu gak mau lagi ngomong sama mbak?” imbuh Naina sedih, dan menatap adiknya sendu.
” Aku sama Fatma udah gak pernah ketemu mbak, aku jujur. Kami udah putus, mbak percaya kan sama aku?”
” Mbak percaya, tapi kalau kamu ketahuan bohong awas saja”
” Aku gak bakal bikin mbak kecewa lagi, aku janji” Kabir tersenyum, Naina juga tersenyum. Senyuman tipis dan dingin karena masih kecewa kepada Kabir.
Malam hari tiba, malam yang begitu dingin. Naina berdiri di depan jendela yang tertutup rapat, memperhatikan tetesan air hujan yang jatuh semakin deras. Dia butuh pelukan hangat suaminya saat ini juga, Uwais belum menelepon padahal dia sangat ingin bicara dengan suaminya itu.
” Kamu lagi ngapain disana mas? inget aku apa enggak?”
” Awas saja kalau kamu nakal disana mas, tapi aku yakin kamu setia” Naina tersenyum.
Naina menarik gorden jendela dan dia duduk di sofa sambil membuka laci dan mengambil album foto pernikahan dan resepsi pernikahannya, ada beberapa foto saat bulan madu juga di sana. Naina tersenyum menatap wajah suaminya.
” Suami aku ganteng banget ya, tapi tengil" cibirnya lalu tertawa kecil, jika Uwais ada dia sudah tidak akan selamat.
Naina tidak sadar jika di kamar ada kamera cctv, Uwais mengaktifkannya untuk melihat apa saja yang dilakukan Naina. Uwais juga selalu meminta Naina untuk tidak berganti pakaian di ruangan kamar karena ada ruangan khusus ganti baju sebelum masuk ke kamar mandi.
Naina menoleh saat mendengar ponselnya berdering, dia buru-buru melangkah untuk melihat siapa yang menelepon, berharap itu dari Uwais. Saat melihat layar ponselnya Naina langsung tersenyum lebar, kedua matanya berbinar-binar melihat suaminya yang menelepon.
” Halo, assalamu'alaikum mas”
” Wa'alaikumus Salaam, sayang lagi apa?”
” Lagi tiduran” kata Naina sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
” Oh” Uwais tersenyum.” Kangen gak?”
” Emmm” Naina malah tersenyum simpul.
” Kangen apa enggak? jawab”
” Bohong, aku aja kangen masa kamu enggak.”
Naina tertawa renyah mendengarnya.
” Malah ketawa, ayo jujur sayang”
” Iya mas aku juga kangen”
” Banget?”
” Iya, padahal baru tadi pagi kamu pergi”
” Aku juga baru pergi ninggalin kamu tadi pagi, malah pengen pulang sekarang”
” Kerja mas, jauh-jauh ke sana bekerja dengan baik. Udah ketemu sama kakek?”
” Belum, kakek lagi pergi. Keluyuran terus kerjaannya, gak tahu apa semua orang khawatir” Uwais terdengar kesal.
” Jangan begitu mas, minta bodyguard aja buat jagain kakek jangan sampai kakek sendirian”
” Iya sayang” Uwais tersenyum dan Naina juga tersenyum.” Sudah jam 9 malam, Naina ku tidur ya”
” Iya mas, kamu juga tidur ya. Pasti kamu capek”
” Iya, aku lagi sakit pinggang Nai”
” Main sama siapa sampai sakit pinggang?”
__ADS_1
” Idih, ya main sama kamu semalam. Lupa?”
Naina menahan tawa mendengarnya.
” Iya mas iya, ya sudah mas istirahat ya”
” Iya sayang, besok pagi aku telepon. Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Panggilan berakhir, Naina meletakkan ponselnya dan melepaskan ikatan rambut nya dia berbaring dengan rapih dan menoleh melihat tempat berbaring Uwais di sebelah kirinya. Naina tersenyum lebar lalu meringkuk dan berusaha untuk segera tidur.
*****
Fatma dibawa pulang.
Fatma berdiri di depan jendela di kamarnya, dia melamun dan kejadian malam itu terus membayanginya. Fatma menutup matanya dan mengusap wajahnya kasar saat dia benar-benar merasa takut, takut Syam melakukan hal lebih gila lagi daripada malam itu.
Krettt pintu kamarnya terbuka perlahan dan Fatma terkejut melihat kedatangan Syam, Syam masuk dan menutup pintu rapat-rapat tapi tidak dia kunci.
” Mau apalagi kamu mas?” tanya Fatma ketus.
” Kita masih suami istri Fatma, kamu istri aku. Minum obat kamu sekarang” kata Syam seraya mengambil obat Fatma di atas meja, Fatma melangkah mendekat dan menyambar obatnya.
” Aku bisa sendiri mas, ngapain kamu disini?” ketus.
Syam diam lalu duduk di tepi ranjang, dia memang tidak bisa membawa Fatma pulang tapi mertuanya mengizinkannya untuk tinggal di rumah mertuanya.
” Aku juga mau nginep di sini” ucap Syam dan Fatma terkejut.
” Aku mau sendiri mas”
” Jangan mengajakku berdebat!” tegas Syam dan Fatma terkejut, Fatma berbalik dan dia menangis. Melihat Fatma menangis Syam takut ada yang mendengar tangisan Fatma. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Fatma.
” Aku minta maaf, aku menyesal. Aku beneran gak sadar waktu itu Fatma” lirih Syam dan Fatma diam, dia meremas ujung bajunya sekuat tenaga. Syam melangkah lebih dekat lalu memeluk istrinya perlahan. Fatma diam dan hembusan nafas kasar menerpa kulit lehernya, Syam memperhatikan leher istrinya yang membiru karena ulahnya m Tangannya tiba-tiba bergerak dan memeluk perut Fatma lembut.
” Aku minta maaf” lirihnya lagi tapi Fatma sama sekali tidak mau menjawab, Fatma melepaskan pelukan Syam dan dia pergi keluar dari kamarnya dan Syam mendengus frustasi melihatnya.
****
Makan malam.
Ai dan Ali sedang menikmati makan malam bersama, berdua saja. Ali terlihat melamun memikirkan Rosa, Rosa makan apa, atau istrinya itu sudah tidur?. Ali khawatir, karena Rosa mengeluhkan sakit kepala akhir-akhir ini.
” Mas aaaa,,,,,” imbuh Ai yang tiba-tiba menyuapi Ali, Ali diam dan menatap istrinya lekat.” Enak?”
” Iya enak” Ali tersenyum dan mengunyah makanannya lembut.
” Mas aku mau belanja pakaian bayi besok” pinta Ai.
” Rosa juga belum, terlalu dini untuk membeli pakaian bayi sekarang. Kata orang tua jaman dulu pamali. Nanti aja”
” Itu Rosa, bukan aku mas. Aku maunya besok”
” Yang sopan, Rosa lebih tua dari kamu”
” Bukan itu maksud mas Ali, maksud mas Ali aku harus sopan karena dia istri pertama? mas Ali mencintainya tapi gak sayang sama aku” imbuh Ai sambil bercucuran air mata, Ali melirik kanan-kiri merasa tidak enak hati dengan pengunjung lain.
” Shut, shut jangan nangis. Rosa memang lebih tua dari kamu, gak ada hubungan dengan istri pertama dan kedua. Kalian berdua sama, jangan diulangi. Kamu harus sopan kepada siapapun” tutur Ali menjelaskan, tapi tetap saja Ai tidak percaya. Ai diam dan memakan makanannya kasar. Seorang pegawai rumah makan tersebut mendekati Ali karena Ali memesan makanan untuk di bungkus tanpa sepengetahuan Ai.
” Maaf mas, udang nya habis” imbuhnya.
__ADS_1
” Tolong diganti ikan aja mbak” sahut Ali dan wanita itupun mengangguk. Ai diam dan memperhatikan Ali yang masih saja perhatian kepada Rosa padahal ada dirinya yang jelas-jelas dekat.