Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Hamil


__ADS_3

Hari ini Naina benar-benar sudah bisa pulang, Syam mendorong kursi roda yang ditumpangi istrinya masuk ke dalam rumah. Mama Novi dan yang lain sudah menunggu kepulangan Naina, Naina ingin berdiri tapi Syam menahannya. Menekan bahu istrinya lembut agar tetap duduk.


” Assalamualaikum” ucap Naina, dia tidak tahu jika semua orang datang ke rumah hanya untuk menunggunya.


” Waalaikumsalam, Naina apa kabar?” Asil merasa senang saat melihat raut wajah Syam sudah bahagia kembali karena Naina sudah kembali ke rumah.


” Aku baik mbak Alhamdulillah” Naina tersenyum lebar.


” Syam bawa aja Naina untuk istirahat" pinta mama Novi dan Syam tersenyum, padahal Naina ingin bergabung bersama yang lain dan dia mengurungkan keinginannya secepat mungkin saat melihat Hamdan ada di rumahnya. Syam mendorong kursi roda dan membawa Naina yang terlihat ketakutan masuk ke kamar. Di kamar Syam menggendong istrinya dan dia dudukan perlahan-lahan di atas kasur.


” Mas" lirih Naina seraya menarik lengan suaminya dan Syam tertarik sampai dahi dan hidungnya membentur hidung dan dahi Naina.


” Auw” kata Syam meringis tapi diselingi tawa begitu juga dengan Naina yang mengusap dahinya serta hidung dan tertawa juga.


” Maaf mas" Naina mengusap dahi dan hidung mancung suaminya lembut. Naina dan Syam saling menatap lekat dan keduanya tersenyum, Syam mendekatkan wajahnya dan menggesekkan hidungnya ke pipi Naina lembut sampai Naina merasa geli lalu tertawa-tawa kecil.


Di lantai dua rumah Naina dan Syam, Asil akan pulang namun terlebih dahulu dia ingin berbicara dengan Tari. Ada pembahasan yang sangat penting untuk dia bahas bersama Tari. Sejujurnya, Asil juga pernah mendapatkan perlakuan buruk dari Hamdan dan Tari menutup mata sekaligus menutup telinga. Dan untuk sekarang Asil tidak mau lagi berdiam diri.


” Aku ingin berbicara serius Tari” imbuh Asil dan Tari mengangguk.


” Aku mendengar kabar yang kurang menyenangkan dari salah satu bibi di rumah, katanya Naina mendapatkan perlakuan buruk dari suami kamu tapi kamu malah mengancam Naina. Banyak mata dan telinga di rumah, walaupun kamu berbicara di kamar suara kamu akan tetap terdengar oleh orang-orang yang penasaran Tari" tegas Asil dan seketika raut wajah Tari berubah. Yang tadinya santai menjadi tegang.


” Kamu ngomong apa? aku gak ngerti" Tari masih berusaha mengelak.


” Kamu harus ingat suami aku seorang polisi, aku memberi kamu kesempatan untuk menegur suami kamu. Jika mas Aldi tahu istrinya pernah dilecehkan, suamiku itu gak bakal diam Tari" Asil mulai tersulut emosi karena Tari selalu melindungi kejahatan yang dilakukan suaminya. Asil memegang kedua bahu Tari kuat-kuat dan Tari merasa kesakitan.” Kalau kamu benar-benar seorang manusia kamu gak akan diam selama ini sampai Naina menjadi korban juga, suami kamu benar-benar gila. Kamu mau menegur dan berusaha menyadarkan suami kamu atau aku yang harus menyeretnya ke jeruji besi” kata Asil dan Tari menatapnya lekat.


” Aku sayang dan cinta sama mas Hamdan, dia suami aku" Tari menangis setelah berbicara seperti itu, Asil menghempaskan cengkraman nya dan sangat kesal kepada Tari yang tidak bisa tegas kepada Hamdan.” Aku gak bisa, aku minta maaf karena mas Hamdan pernah melecehkan kamu. Tapi jangan melaporkan suami aku ke polisi mbak” Tari memohon-mohon agar Asil mengurungkan niatnya.


” Kamu bodoh Tari, kamu gak akan bahagia kalau begini terus” bentak Asil lalu melangkah pergi meninggalkan Tari, dia harus segera pulang karena anak-anaknya sebentar lagi pulang sekolah dan suaminya Aldi pulang untuk makan di rumah, suaminya selalu pulang jika Asil memintanya untuk makan siang bersama. Hamdan yang mendengarkan percakapan keduanya mengepalkan tangannya kuat dan menatap kepergian Asil. Dia kesal dan jengkel karena Tari xi ancam seperti itu dan sekarang Tari tidak berhenti menangis.


Malam hari tiba, semua orang sudah pulang dan Naina sempat mengajak ibu mertuanya untuk menginap tapi mama Novi menolak karena ayah Rahman akan pergi keluar kota dan mama Novi selalu mempersiapkan pakaian, obat dan juga yang lainnya. Saat ini Naina sedang menyenderkan kepalanya di dada Syam, keduanya sedang menonton televisi di kamar sambil menikmati cemilan. Naina tertidur setelah meminum obat dan sekarang dia tidak bisa tidur walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


” Mas" panggil Naina seraya mendongak sekilas, menatap suaminya yang sedang memainkan rambutnya.


” Ada apa Nai?” Syam terus mengelus, menyisir dan mencium rambut istrinya.


” Kapan kita honeymoon?” Naina yang sudah dijanjikan oleh suaminya tidak sabar untuk honeymoon ke luar negeri, Naina belum pernah naik pesawat dan dia ingin mencobanya.


” Ke puncak?” goda Syam dan Naina cemberut.


” Katanya ke luar negeri mas?” Naina menatap Syam lekat. Lalu Syam mengecup pipinya sekilas dan bibir Naina. Naina menundukkan wajahnya sambil tersenyum tipis. Syam jelas melihat kedua pipi Naina merah padam karena dia melakukan itu, Naina mendongak menatap suaminya kembali dan Syam mencium kening nya.

__ADS_1


” Mas”


” Apa?”


” Jadi gak kita honeymoon?”


” Kamu sehat aja dulu gak usah mikirin bulan madu, di rumah juga kan bisa Nai” Syam menenggelamkan wajahnya di leher Naina dan Naina merasa dibohongi.


***


Hari ini Naina akan kembali mengajar setelah istirahat dua hari di rumah, Naina semakin gugup saat suaminya berada dekat dengannya. Entah karena cintanya kepada Syam semakin besar ataupun Syam yang berhasil membuatnya terpesona, sekarang pria itu sedang menghantam perban di kakinya. Kaki Naina berada di pangkuan suaminya, Syam melirik Naina berulang kali dan Naina menundukkan kepalanya.


” Kalau sakit pulang saja" kata Syam.


” Mana bisa begitu mas” Naina menatap suaminya kembali.


” Jangan memaksakan diri, aku takut jahitannya terbuka” kata Syam yang selalu takut dengan jahitan operasi yang tidak terlalu lebar tapi tetap saja membuatnya tidak tega kepada istrinya itu.


” Mas jemput aku kan seperti biasa?” Naina tersenyum lebar dan Syam mengangguk. Perlakuan Syam semakin hari semakin membuat Naina merasa tidak bisa jauh dari suaminya itu, Syam begitu terlihat manis walaupun memang sesekali selalu berteriak. Setelah selesai keduanya bersiap untuk berangkat, Naina mengajar dan Syam bekerja.


***


” Amira, bilang sama mamah sekarang siapa yang menghamili kamu” Hani berteriak-teriak dan Amira bingung, sudah lama dia tidak mendengar kabar ayah dari bayi dalam kandungan nya. Naina hanya diam dan tangannya sudah memar-memar karena dicubit dan dipukul.


” Aku gak tahu” jawab Amira dan menutup matanya berusaha menahan rasa sakit dan Rani terus menahan ibunya.


” Mamah udah, kasihan kakak.” Kata Rani dan Hani menatapnya tajam.


" Rani, jangan sampai kamu seperti Amira. Murahan” maki Hani dan Rani melirik Amira dan Amira juga meliriknya. Hani yakin Amira tidak mungkin lupa siapa ayah dari bayi itu.” Mama tunggu sampai kamu mau ngomong Amira, kalau kamu gak mau ngaku juga dan gak bisa bawa ayah bayi kamu itu dalam waktu satu bulan awas kamu. Mamah bakal bawa kamu buat gugurin kandungan kamu Amira!" berteriak dan Amira tersentak kaget, dia tidak mau melakukan kesalahan yang kedua kalinya yaitu membunuh bayinya sendiri.


” Sekolah cepat kamu” usir Hani kepada Rani dan Rani melangkah pergi untuk segera pergi ke sekolah.


*****


Di sekolah Naina sedang mengajar, Zidan melirik kepada gurunya itu berulang kali. Naina sedang menunggu murid-muridnya selesai mengerjakan soal yang dia berikan sebelum jam pelajaran berakhir tanpa mencontek. Beberapa murid sudah selesai dan saling bercanda dengan teman sebangku mereka.


” Jangan berisik anak-anak” seru Naina dengan suara lantang dan anak-anak yang sedang berisik itu buru-buru duduk dengan rapih.


Jam istirahat tiba, bel sudah berbunyi dan anak-anak antusias untuk keluar dan menikmati waktu istirahat mereka.


” Yang belum selesai maju, yang sudah selesai boleh keluar” kata Naina dan mereka semua menurutinya. Banyak murid yang belum mengerjakan soal sampai selesai Naina mengizinkan mereka istirahat dan soal yang belum selesai harus di setorkan kepadanya besok. Semuanya senang dan Naina juga bersiap untuk menikmati jam istirahat.

__ADS_1


” Bu Naina” panggil Zidan dan Naina menoleh sekilas.


” Kenapa Zidan? kamu gak keluar sama teman-teman kamu” Naina bangkit dari duduknya dan memeluk buku di dadanya.


” Ibu Nai kenapa makin cantik ya Bu?" puji Zidan dan Naina mengernyit.


” Kemari kamu! gak sopan”


Brak! Naina menggebrak meja, dia memang guru favorit tapi dia juga tidak suka ketika ada muridnya yang tidak sopan. Zidan langsung kabur keluar dari kelas dan Naina mengusap dadanya agar selalu bisa sabar menghadapi murid-murid nya dengan berbagai karakter dan sifat yang berbeda-beda. Naina keluar dari kelas dan berpapasan dengan Bu Nurul, guru yang terkenal dengan ketegasannya dan juga jutek.


” Bu Nai kenapa? kok kaya kesel gitu?" pura-pura tidak tahu padahal dia mendengar pujian Zidan sangat jelas.


” Enggak kenapa-kenapa Bu" jawab Naina dan melangkah bersama Bu Nurul.


” Sebaiknya Bu Nai jangan terlalu dekat dengan anak-anak, kita sebagai guru harus tegas jangan lembek. Kalau ada murid yang kurang ajar guru gak bakal menang Bu Nai, sudah saatnya Bu Nai berubah” mengkritik cara mengajar Naina dan Naina hanya tersenyum lebar seraya terus melangkah begitu juga dengan Bu Nurul.


Bug... Sebuah bola menghantam kaki Naina dari arah lapangan dimana anak-anak sedang bermain bola. Naina reflek berpegangan pada bahu Bu Nurul dan meringis kesakitan.


” Bu Nai gak kenapa-kenapa kan Bu?" Bu Nurul panik dan Naina tersenyum seraya terus menahan rasa sakitnya. Dia merasakan kakinya basah sekarang dan jahitannya tersenggol sangat keras sampai terbuka dan berdarah kembali.


Seorang guru laki-laki yang baru masuk menggantikan guru olahraga sebelumnya panik saat melihat wajah Naina kesakitan. Dia Romi dan dia adalah guru olahraga.


” Bu Nai tadi aku yang nendang bola, sumpah Bu aku gak sengaja" ilham takut Naina kenapa-kenapa dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan walaupun tidak sengaja.


” Ibu gak kenapa-kenapa kok, ayo sana main lagi" Naina membungkuk lalu meraih bola dan memberikannya kepada Ilham, Ilham mengangguk dan telinganya di jewer Bu Nurul.


” Sakit Bu" Ilham meringis.


” Main bola jangan kencang-kencang" Bu Nurul melotot dan Ilham terus meringis.


Naina melangkah perlahan-lahan dan Bu Nurul membantu membawakan buku yang dia bawa tadi. Naina berhenti melangkah saat melihat sepasang kaki menghadangnya. Naina mendongak dan melihat seorang pria menghadangnya.


” Guru baru” berbisik Bu Nurul dan Naina tidak perduli, dia bergeser dan kembali melangkah.


” Apa Bu guru baik-baik saja?” Romi belum tahu siapa Naina dan Bu Nurul menoleh.


” Iya Bu Naina baik-baik saja, pak Romi pergi saja" seru Bu Nurul dan Romi mengangguk.


” Bu Naina kenapa?" tanya Rangga khawatir.


” Aku baik-baik saja" jawab Naina dan Romi dari kejauhan terus memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2