Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Kembali ke ibukota


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Naina dan Uwais sampai di ibukota. Naina tertidur pulas, tangannya bergenggaman dengan tangan suaminya. Uwais diam dan sesekali menyenderkan kepalanya di kepala Naina yang bersandar di bahunya. Bodyguard menyetir, Zidan juga ada. Sibuk dengan laptopnya.


” Semua persiapan honeymoon ke Turki sudah siap, tidak ada pekerjaan untukmu selama seminggu bos”


” Berhentilah memanggilku begitu Zidan”


” Tapi,,,,”


” Aku pecat mau?”


” Jangan” Zidan tersenyum.


Uwais mendelik sebal, dan Zidan kembali sibuk dengan laptopnya. Naina menggeliat, dia bergeser sampai wajahnya menempel di dada suaminya. Uwais merasakan tangannya kram tapi dia tetap diam. Naina membuka matanya dan melihat keluar kaca mobil, setelah sadar sudah sampai di ibukota Naina menjauh dari suaminya.


” Kenapa?” tanya Uwais. Dan melihat Naina terus menatap keluar kaca jendela.


” Enggak, aku cuma senang aja sudah sampai di ibukota lagi mas” jawabnya sambil tersenyum dan Uwais tersenyum.


Sesampainya di rumah, Naina keluar dan mengenggam tangan suaminya erat. Pak Fahmi melangkah setengah berlari mendekati keduanya, dia peluk anak dan menantunya itu. Uwais dan Naina tersenyum.


” Alhamdulillah ya Allah” lirih Bu Ratna, Kabir juga mendekati keduanya.


” Nai kamu terluka nak” lirih pak Fahmi seraya menyentuh pipi anaknya itu.


” Nai gak kenapa-kenapa pak, bapak gak usah khawatir. Mas Uwais juga gak kenapa-kenapa” tutur Naina tapi tetap saja pak Fahmi khawatir.


” Sebaiknya kita masuk” ajak Uwais dan semuanya mengangguk. Di dalam rumah semuanya langsung menuju ke meja makan, kakek juga baru datang.


” Cucu ku” lirih kakek, memeluk sekaligus memukuli punggung Uwais.


” Sakit kek sakit”


” Aku hampir gila memikirkan mu dan Naina, syukurlah kalian berdua baik-baik saja” ucap kakek dan memukul dada cucunya kesal, Uwais cemberut dan Naina cengengesan. Uwais menggoda Naina dengan mencengkram paha istrinya dibawa meja. Naina melotot dan menurunkan tangannya ke bawah meja berusaha melepaskan tangan Uwais, karena dia merasa geli. Uwais mengenggam tangannya dan Naina tidak bisa apa-apa lagi.


” Silahkan di nikmati, jangan sungkan-sungkan” imbuh kakek kepada keluarga Naina, pak Fahmi mengangguk penuh hormat. Takut-takut salah dia melakukannya. Semuanya menikmati makan malam bersama dengan sesekali berbincang hangat, setelah selesai Naina diajak orang tuanya untuk ikut dan Uwais memilih menikmati kopi di taman bersama Kabir.


Di kamar, Naina duduk bersama orang tuanya.


” Uwais baik nak?” tanya pak Fahmi khawatir, melihat menantunya sekaya apa dia takut Uwais tak merasa cukup satu wanita.


” Mas Uwais baik pak, bapak gak usah khawatir” Naina tersenyum.


” Bapak tenang mendengarnya” pak Fahmi tersenyum, pura-pura tenang padahal dia tetap khawatir.


” Kamar kamu paling besar ya Nai” ucap Bu Ratna, Naina mengangguk pelan. Dia membawa orang tuanya masuk ke kamar yang menjadi privasi atas izin Uwais, Naina tidak suka ibunya terlalu berlebihan. Setelah selesai mengobrol Naina dan orang tuanya keluar dan menuju lantai satu. Semuanya bergabung dengan Kabir dan Uwais di taman.


” Bu, pak saya sama Naina mau ke Turki, do'ain ya semoga selamat sampai pulang lagi ke tanah air”


” Pasti ibu sama bapak do'ain kalian, semoga lancar”


” Butuh fotografer dadakan?" tanya Kabir ingin ikut. Naina menoleh menatap suaminya.


” Boleh tapi jangan ganggu mbak kamu sama saya” ujar Uwais dan Naina mencubit pahanya agar tidak berbicara macam-macam dan menjurus ke hal-hal berkaitan dengan ranjang.


” Siap bang” Kabir merasa senang.


Bapak dan ibu pamit untuk beristirahat begitu juga dengan Kabir, Naina dan Uwais melangkah bersama menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar Uwais dan Naina membersihkan diri untuk bersiap tidur, Naina memakai skincare terlebih dahulu dan Uwais bermain ponsel di atas kasur sambil melirik istrinya.


Setelah Naina selesai dia mendekati Uwais lalu naik ke atas ranjang, belum menarik selimut Uwais merangkul pinggang nya dan menarik nya ke dalam pelukannya.


” Apa?” Naina bertanya.


” Kamu sayang sama aku gak?”


Naina mengangguk.


” Ngomong, jangan ngangguk aja”


” Iya”

__ADS_1


” Bilang ' sayang' sama aku” pinta Uwais dan Naina diam.” Kamu gak sayang saka aku Nai? kamu masih ngerasa terpaksa sama aku?” Uwais sedih dan kecewa pelukannya mengendur.


” Kamu beneran gak ngerasain apa yang aku rasain kalau lagi sama kamu selama ini, Nai jawab,,,,,,”


Deg,,, Uwais terkejut saat Naina membungkam mulutnya dengan ciuman sekilas. Dan kini bibirnya tidak bisa menahan untuk tersenyum, Uwais membalas kecupan mesra istrinya berulangkali dan Naina menyesal sudah memulainya.


” Cukup cukup mas” ucapnya seraya menahan bibir Uwais, Uwais tersenyum tipis dan berhenti.


” Beneran? kamu sayang dan cinta sama aku?”


” Iya”


” Kenapa?” Uwais ingin mendengar apa yang membuat Naina memiliki perasaan padanya.


” Tidak ada alasan, jika ada akan ada juga alasan untuk meninggalkan” lirih Naina lalu jari telunjuknya menekan tahi lalat di bawah mata suaminya lembut, Uwais meraih tangan Naina lalu mencium telapak tangan istrinya itu.


” Aku mencintaimu Naina” ucap Uwais sembari menatap Naina dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang. Naina mengangguk.


” Aku juga mas” jawabnya, Uwais merasa senang lalu memeluk Naina erat dan Naina menarik selimut, Naina menempel di tubuh suaminya. Keduanya saling memberi kehangatan satu sama lain dan tidak lama keduanya tertidur pulas.


*****


Di rumah sakit.


Rizal membuka matanya, perutnya terasa ngilu. Rizal ingin minum dan semua orang yang sedang menjaganya pergi.


” Assalamu'alaikum” suara Naina terdengar.


” Wa'alaikumus Salaam” jawab Rizal, bibirnya tersenyum lebar. Rasa sakitnya sedikit berkurang setelah melihat Naina, tapi saat melihat Uwais senyumannya lenyap seketika.


” Rizal mau minum, biar aku aja” kata Naina dan meraih gelas. Dia ingin membantu Rizal minum tapi Uwais menyambar gelas sampai sedikit tumpah.


” Minum ya anak baik” kata Uwais mengejek, enak saja mau disuapi oleh istrinya. Mending dirinya walaupun malas. Rizal minum dan menatap sinis Uwais.


” Bagaimana keadaan kamu Rizal?” tanya Naina.


” Aku baik-baik aja, ibu gimana?”


” Kita gak bisa lama-lama iya kan sayang? jangan lupa buah dari kami dimakan ya” ucap Uwais dan Rizal mendelik sebal, dia merasa ingin lama-lama dengan Naina tapi Uwais tidak memberinya kesempatan.


” Iya, kami ada urusan. Cepat sembuh ya Rizal, jangan lupa istirahat. Kami pergi assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam” jawab Rizal, dia robek plastik penutup buah-buahan dan mengambil satu pisang.” Huff cuh” Rizal lupa tidak membuka kulit pisang lebih dulu dan dia memuntahkannya.


Naina dan Uwais terus melangkah sampai keduanya berhenti saat berpapasan dengan Syam.


” Nai” sapa Syam, tanpa melihat Uwais.” Kamu disini?” kepedean karena Syam kira Naina khawatir padanya.


” Iya habis lihat Rizal, emm gimana keadaan Syifa mas?”


” Alhamdulillah Syifa baik-baik aja”


Uwais masih bisa sabar. Dia diam.


” Oh Alhamdulillah kalau begitu” singkat Naina.


Setelah bercakap-cakap sebentar, Naina dan Uwais berpamitan untuk pergi. Syam berbalik dan menatap kepergian keduanya dengan penuh rasa iri, Uwais tidak pernah berhenti mengenggam tangan Naina dan dia tidak memberikan kesempatan untuk pria lain lebih lama berbincang dengan istrinya.


*****


Fatma.


Di rumah orang tua Syam, seorang gadis cantik yang memakai baju syar'i itu terlihat sedang diam tertunduk dalam. Orang tuanya mengajaknya ke rumah Syam untuk bertemu dengan Syam, perjodohan sudah diatur. Ayah Rahman dan mama Novi mau Syam menikah lagi dengan Fatma. Syifa juga membutuhkan kasih sayang seorang ibu dan mereka yakin Fatma yang paling pantas.


” Syam nya dimana?” imbuh ayah Farma, Egi.


” Lagi dijalan, sebentar lagi datang” ujar Ayah Rahman menjawab.


” Oh iya” Egi tersenyum. Fatma diam dan tidak mengeluarkan satu patah katapun, suara mobil terdengar. Mama Novi yakin itu adalah Syam dan Syifa yang baru pulang setelah dari rumah sakit.

__ADS_1


” Kami ikut prihatin atas kejadian tersebut pak Rahman, semoga semuanya sehat dan baik-baik saja” ucap ibu Anggi, ibu Fatma.


" Aamiin terima kasih” mama Novi tersenyum.


Suara langkah kaki terdengar, Fatma mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria gagah tampan menggendong seorang anak perempuan yang sangat lucu.


” Assalamu'alaikum” ucap Syam.


” Wa'alaikumus Salaam” jawab semuanya, Syam terlihat bingung melihat tamu yang terlihat berbeda itu.


” Kemari nak” titah mama Novi dan Syam mendekat. Syam duduk dan mama Novi menggendong Syifa.


” Ini Syam” kata ayah Rahman.


” Kita sudah lama gak ketemu, lihat Syam pangling banget ya” ujar pak Egi.


Syam diam tidak paham apa maksud keluarga ini memujinya, Fatma yang awalnya ragu dia tiba-tiba terpesona melihat ketampanan Syam dan melirik lirik nya malu-malu.


” Jadi kapan mau melamar anak saya?" tanya pak Egi. Syam semakin bingung.


” Minggu depan” ucap mama Novi.


” Mama” tegur Syam dan mama Novi melotot padanya, Syam tidak menyangka gadis oekalu, itu dijodohkan dengannya.


” Kami tunggu ya bu” kata Bu Anggi dan mama Novi mengangguk.


Setelah obrolan selesai, dan keluarga Fatma merasa yakin mereka pulang meninggalkan kediaman Syam dan Syam marah setelah mereka pergi.


” Ayah sama mama ngapain jodohin aku sama dia aku gak mau nikah lagi ma” tegas Syam.


” Kamu mau nungguin Naina begitu?" ketus atau Rahman dan Syam terdiam sejenak.


” Hidup aku gak sepantasnya mama sama ayah yang ngatur, aku sudah dewasa aku gak perlu dicarikan gadis seperti ini ma” lirih Syam kesal, tapi dia tetap menjaga nada suaranya takut-takut orang tuanya semakin nekad.


” Kamu gak sayang sama mama Syam? aku gak sayang sama Syifa?" lirih mama Novi.


” Aku gak mau ma" lirih Syam.


” Diam kamu Syam” tegas ayah Rahman dan berlalu pergi meninggalkan istri dan anaknya itu. Syam memeluk mama Novi dan terus merengek tidak mau dinikahkan dengan Fatma.


” Nurut sama ayah sama mama, ini yang terbaik untuk kamu sama Syifa. Syifa ditelantarkan oleh ibunya, neneknya dan semua keluarganya walaupun kamu mengurusnya dengan baik Syifa tetap saja butuh seorang ibu Syam” tutur mama Novi berusaha membuat Syam agar paham, Syam diam dan kedua matanya berair dia hanya menunggu Naina tapi orang tuanya malah menjodohkannya dengan gadis lain.


*****


Di supermarket, Naina dan Uwais dan keluarganya sedang berbelanja. Terserah mertuanya mau apa, sebelum itu mereka juga sudah belanja baju. Uwais memperhatikan Naina yang terlihat melihat-lihat rak perabotan kebutuhan rumah tangga. Naina meraih dua gelas dengan tulisan inisial nama dan tanda hati.


” Apa itu?” tanya Uwais dan Naina menyembunyikan gelas di belakang punggungnya, dia takut diejek." Kamu kenapa?”


” Bukan apa-apa mas, temani Kabir aja sana” kata Naina dan Uwais terlihat kesal lalu melirik rak di hadapannya.


” Oh jadi kamu beli gelas dan inisial namanya mantan kamu begitu?" Uwais memancing.


” Enggak mas mana mungkin aku begitu” Naina membantah.


” Kalau begitu mana aku mau lihat” pinta Uwais, Naina memperlihatkan dua gelas di kedua tangannya dan Uwais tersenyum. Inisial namanya dan nama Naina yang Naina pilih.


” Kayaknya kamu udah bucin sama aku Nai, beli gelas segala” Uwais mengejek, Naina yang kesal dan malu-malu meletakkan kembali dua gelas dan Uwais terkekeh-kekeh.” Dia marah” ucapnya lalu meraih dua gelas yang Naina pilih tadi.


Setelah dari supermarket, semuanya diajak ke restoran oleh Uwais. Raut wajah pak Fahmi terlihat tegang dan merah. Naina dan Kabir saling melirik.


” Sayang, bapak sakit?” tanya Uwais dan Naina menggeleng kepala tidak tahu.


” Pak, bapak sakit? bapak kenapa?” imbuh Naina.


” Kita pindah aja ya, disini makanannya mahal-mahal" ujar pak Fahmi, suaranya sangat pelan takut pengunjung lain mendengar.


” Bapak gak usah khawatir, saya sengaja bawa kalian semua kemari. Saya yang bayar” kata Uwais.


” Tapi nak...” Pak Fahmi tetap tidak enak hati.

__ADS_1


” Bos, semuanya selamat sore” sapa manager restoran, memanggil bosnya dengan penuh hormat dan keluarga mertua bosnya juga. Kedua mata Kabir nampak membulat. Restoran mewah itu milik kakak iparnya.


” Bawa makanan paling enak, ini keluarga saya jangan sampai membuat semuanya kecewa” tutur Uwais dan manager restoran dan pegawainya mengangguk. Uwais meminta semua makanan paling enak karena Pak Fahmi, Bu Ratna dan Kabir sama sekali belum memilih makanan yang mana yang mereka mau setelah melihat harganya.


__ADS_2