Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Di serang


__ADS_3

Keesokan paginya, Naina demam tinggi dan Syam terbangun setelah mendengar suara adzan subuh. Syam membuka pintu dan terkejut melihat Naina tertidur di lantai tanpa alas dan tanpa selimut sementara AC menyala dan semalaman hujan, sudah pasti sangat dingin. Syam menggendong istrinya memindahkannya ke atas kasur dan Naina diam saat tubuhnya di angkat oleh siapa lagi kalau bukan oleh suaminya. Saat ini Naina sedang disuapi oleh suaminya, semangkuk bubur kacang ijo karena Naina menginginkannya dan Syam lekas mencari makanan yang istrinya inginkan.


” Kenapa kamu ada disini mas?” Naina bertanya dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi semalam, saat dia mendengarkan tangisan suaminya sampai tertidur pulas.


” Apa aku harus menjawab? padahal kamu tahu aku menangis semalam?” Syam menatap Naina lekat dan Naina menurunkan pandangannya. Syam meletakkan mangkuk lalu mendekatkan wajahnya, dia mengecup bibir mungil istrinya sekilas dan Naina terkejut.


” Mas" Naina menatap Syam lekat.


” Aku ingin melihat wajah kamu Naina, kenapa menunduk terus? lihat aku, lihat kedua mataku apa kamu masih ragu dan gak percaya sama aku Naina. Kenali aku dari selama kita bersama” Syam mengusap bibir istrinya lalu mengelus pipi istrinya lembut. Naina menggerakan tangannya dia tutup kedua mata suaminya dengan tangannya.


” Tanpa harus melihat matamu, tanpa harus mengenalimu dari awal lagi aku tahu kamu bukan ayah dari bayi itu" gumam Naina.


Syam menarik tangan Naina lembut dan menjauhkannya dari matanya.


” Kenapa?" suara Syam begitu serak, bertanya dengan sedih. Naina menggeleng kepala dan tersenyum manis, Syam tersenyum melihat istrinya seperti itu. Walaupun dia bingung kenapa Naina malah tersenyum dan tidak menjawab ucapannya.


Brak! pintu terbuka dan Naina yang tidak memakai hijabnya panik. Syam menghalangi Naina dengan tubuhnya seraya meraih hijab istrinya di atas meja.


” Mas" bentak Amira yang baru datang menyusul suaminya membawa dua koper berisi barang-barangnya untuk tinggal di rumah tersebut. Syam tidak menyahut dan membantu Naina memakai kerudungnya.


" Mas aku gak mau tahu ya, aku mau tinggal di sini juga" Amira setengah berteriak dan Syam turun dari ranjang lalu mendekatinya.


" Apa kamu gak bisa berbicara dengan pelan-pelan saja, Naina sedang sakit. Kamu memang istriku juga tapi kamu harus menghormati Naina yang sudah memberikan izin untuk kita menikah walaupun itu gak mudah Amira” Syam kesal dan melirik Naina yang sudah mengubah posisi dengan duduk di tepi ranjang.


” Aku gak mau, dari segi umur pun aku lebih tua dan dia yang harus menghormati aku mas. Dia gak menghargai aku, kita baru saja menikah dan dia memilikimu sendirian disini. Kamu harus adil mas" Amira kesal lalu Syam melirik Naina sekilas dan menarik tangan Amira ke keluar dari kamar tersebut, Naina membuang muka saat suaminya menyentuh istri kedua di hadapannya. Syam menutup pintu dan Naina mendengar perdebatan antara suaminya dan madunya. Ayah Rahman akhirnya mengiyakan saat Amira ingin tinggal di rumah yang sama dengan Naina dengan alasan supaya Syam tidak perlu keluar masuk dari rumah yang berbeda. Syam juga membuat jadwal untuk kedua istrinya dengan adil walaupun Amira terus protes Syam tidak perduli. Dan malam ini adalah jatah Naina sampai beberapa malam kedepannya,sudah di atur oleh Syam.


*****

__ADS_1


Keesokan paginya Naina kembali mau di antar oleh suaminya berangkat untuk mengajar, semua orang sarapan bersama. Amira mengunyah makanannya sambil menatap Naina entah apa yang dilakukan Syam dengan istri pertamanya semalam. Sementara dia di kecup keningnya pun tidak.


” Nai kalau masih sakit mending di rumah aja" kata mama Novi dan Naina tersenyum.


” Aku sudah sehat ma, Alhamdulillah” Naina berucap lalu mengusap bibirnya dengan tisu dia sudah selesai menghabiskan sarapannya. Naina berpamitan dan Syam pergi untuk mengambil tas kerjanya sekaligus memberikan uang nafkah kepada Amira yang sedang mengikutinya dari belakang.


” Naina sudah mulai bisa menerima kayaknya" Tari berbisik.


” Bukannya pernikahan Syam dan Amira terjadi karena Naina? Syam bersikukuh menolak tapi Naina rela meminta suaminya untuk menikah kembali karena keadaan sudah tak terkendali. Amira harus dijaga dengan baik jangan biarkan dia keluar sembarangan, kata-katanya salah walaupun sedikit akan membuat gosip semakin parah” kata ayah Rahman dan Tari terdiam, mama Novi mengangguk mendengar permintaan suaminya.


Di kamar Syam memberikan uang kepada Amira dan Amira menghitungnya.


” Harus cukup satu bulan” kata Syam dan wajah Amira begitu terlihat kaget.


” Satu bulan? satu Minggu aja ini gak cukup mas. Aku mau lagi, untuk aku shoping, belanja, ke salon belum perawatan yang lainnya gimana?” Amira protes.


Naina sedang menunggu suaminya di teras dan dia duduk, Naina menoleh saat kepalanya di sentuh begitu lembut oleh nenek Wilda sambil berurai air mata.


” Nenek kenapa?" Naina lekas berdiri dan nenek Wilda terlihat begitu sedih.


” Nenek minta maaf karena sering membuat kamu sakit hati Naina, setelah melihat semuanya kamu bukan hanya yang terbaik untuk Syam tapi kamu yang sempurna untuk mendampingi cucu ku. Apa pun keadaannya aku mohon jangan tinggalkan Syam, dukung dia dan bantu dia keluar dari permasalahannya. Naina mengangguk dan tersenyum.


” Nenek do'akan saja semoga aku kuat” lirih Naina dan nenek tersenyum. Nenek meraih tangan Naina lalu memakaikan gelang yang pernah diberikan Syam padanya." Nenek..” Naina terkejut dan merasa tidak pantas memakai gelang emas dengan desain modern karena Syam yang membuat desain gelang tersebut untuk ulang tahun neneknya.


” Sekarang ini milik kamu, semua yang Syam punya hanya milik kamu Naina” ucap nenek dan Naina tersenyum, nenek Wilda buru-buru pergi belum sempat Naina mengucapkan terima kasih padanya. Syam memperhatikan Naina dan neneknya bergantian.


” Apa nenek berbicara yang aneh-aneh Nai?" Syam khawatir.

__ADS_1


” Nenek baik mas” kata Naina lalu melangkah dan Syam mengernyit heran lalu menyusul istrinya dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.


****


Jam pulang sekolah tiba, Syam tidak bisa menjemput Naina dan Naina tidak mendapatkan taksi online. Naina melangkah sendirian untuk mencari kendaraan umum. Naina merasa gelisah, dan ekor matanya terus berusaha melirik ke belakang dia merasa ada yang mengikutinya lalu Naina masuk ke gang sempit memotong jalan. Dengan harapan mempersingkat waktu dan mencari tahu apa benar dia diikuti atau orang tersebut memang melewati jalan yang sama dengannya.


” Ya Allah lindungilah hamba" gumam Naina.


Naina semakin gelisah, berusaha berlari pun tidak mungkin. Siang hari ataupun malam gang tersebut memang selalu sepi dan kendaraan yang lewat pun bisa di itung dengan jari. Naina memberanikan diri untuk menoleh dan melihat orang yang mengikutinya adalah seorang pria. Naina terkejut saat melihat pria tersebut mengeluarkan senjata tajam dari saku jaket kulitnya. Naina berusaha untuk menghindar dan pria itu pun berlari menyusulnya.


” Tolong....” Teriak Naina berharap ada yang datang dan hijabnya sudah di tarik, tubuhnya di tarik dan punggung Naina membentur dinding besar. Naina merasakan sakit dan berusaha melawan saat pria itu mengarahkan senjata ke lehernya.


” Tolong" teriak Naina dan berusaha melepaskan diri.


Brug! pria tersebut terjatuh setelah di hantam keras oleh Rizal menggunakannya batu dari belakang.


” Bu..." Lirih Rizal dan Naina menangis.


” Tolong ibu Rizal" lirih Naina dan mencengkram kuat baju Rizal dan berdiri di belakang Rizal.


" Tenang Bu aku disini" kata Rizal dan tidak sengaja tangannya bergerak ke belakang menyentuh pipi Naina.


Plak... Naina memukul punggungnya sekuat tenaga.


" Maaf Bu gak sengaja, sumpah. Kan gak kelihatan Bu" kata Rizal dan Naina menatapnya tajam. Rizal dan Naina kembali melihat pria itu dan Rizal menghubungi kakaknya Aldi.


Rizal mengikat tangan dan kaki pria tersebut dengan tali yang menggantung di pagar, Naina terlihat syok dan ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2