
Hari demi hari Naina lalui dengan penuh rasa syukur dan bahagia, Naina memperhatikan Ali yang terlihat sedang duduk di dalam toko nya. Dan karyawannya bekerja melayani pembeli, Ali menoleh saat sadar ada yang memperhatikannya. Naina berbalik dan melangkah masuk ke dalam tokonya lalu duduk. Ali tersenyum tipis lalu melihat ponselnya berdering, panggilan masuk dari Rosa padahal keputusan Ali dan ayahnya sudah sepakat. Ta'aruf tidak akan dilanjutkan, karena selama tiga bulan keduanya tidak mengalami perubahan yang membuat keduanya semakin mengenal dan malah sebaliknya.
” Kenapa gak diangkat bang Ali?” tanya pegawainya, Akbar. Ali hanya menggeleng kepala sambil tersenyum lalu mengaktifkan mode silent di ponselnya.
****
Keesokan harinya, Rosa memberanikan diri untuk datang ke ruko Ali yang paling dekat yaitu ruko yang berseberangan dengan ruko Naina. Naina dan Ali terus saling melirik jika ada kesempatan dan Rizal yang menyadarinya kesal.
” Bu Nai suka sama dia?” Rizal bertanya langsung, tidak mau berbasa-basi. Naina menoleh dan menatapnya.
” Apaan sih kamu” ketus Naina.” Pulang sana, mbak Asil pasti nyariin”
” Aku kemari justru ingin membicarakan tentang yang meneror Bu Naina, ada petunjuk dan peneror itu sekarang meneror bang Syam terus-menerus” tutur Rizal membuat Naina yang sedang merapihkan pakaian ke dalam rak menoleh lagi padanya.
” Apa ada ciri-cirinya? aku harus waspada. Dua hari yang lalu peneror itu mengirimkan sesuatu padaku” kata Naina mengadu, dan Rizal melangkah lebih dekat padanya tapi Naina mundur menjauh.
” Dia ngasih sama ibu?” Rizal penasaran.
” Bunga dan cokelat, dia tahu ruko ini. Tempat tinggal baruku, penjahat memang tidak ada yang bisa dipercaya. Padahal dia bilang jika aku lepas dari Syam dia tidak akan mengejar ku lagi. Tapi nyatanya” Naina kesal dan cemas. Dia wanita, dan tinggal sendirian. Tidak ada yang melindunginya.
” Gila” maki Rizal.” Kenapa ibu baru ngomong sekarang?”
__ADS_1
” Ya kamu juga baru nanya, aku baru inget”
” Nanti aku ngomong sama mas Aldi”
” Terima kasih” Naina tersenyum dan Rizal mengusap wajahnya kasar.
” Jangan senyum begitu Bu, gak kuat aku lihatnya”
Plak Naina memukul dada Rizal dengan baju di dalam plastik, Rizal terkekeh dan Naina mengerucutkan bibirnya kesal.
Sementara di ruko Ali, Ali diam mendengarkan ucapan Rosa.
” Aku mau lanjut mas” kata Rosa. Ali diam dan sibuk dengan laptopnya.
” Saya gak bisa, saya sudah mengungkapkan bagaimana pekerjaan saya, hobi saya tapi kamu gak paham juga Rosa. Kamu menganggap saya seperti anak remaja sebaya kamu, itu berbeda. Saya gak mau bermain-main”
” Itu sebabnya aku ngajakin kamu lanjut mas, kita menikah” Rosa berusaha membujuk dan ingin meraih tangan Ali tapi Ali menjauhkan tangannya.
” Pernikahan itu bukan hanya tentang laki-laki dan perempuan, pernikahan itu ibadah, godaannya aja banyak yang gak kuat. Dengan pemikiran kamu yang menganggap semuanya gampang, semuanya mudah. Itu, gak akan berhasil Rosa. Maaf, silahkan pulang nanti ayah kamu nyariin” imbuh Ali pelan, tapi tegas dan jelas. Rosa menangis dan Ali memalingkan wajahnya.
” Sekalipun kamu berteriak-teriak itu gak akan merubah keputusan saya, belajarlah dewasa. Silahkan pulang” seru Ali, kini dia menunjuk keluar dari tokonya. Rosa bangkit dari duduknya dan melangkah pergi keluar dari toko Ali. Ali menggeleng kepala lalu dia juga keluar, Ali terdiam saat melihat Naina sedang berdiri di depan tokonya dan melihat Rosa keluar sambil menangis. Jelas Rosa bukan pembeli, Naina paham betul. Ali melangkah tapi Naina masuk ke dalam tokonya.
__ADS_1
” Apa dia salah paham?” lirih Ali.
****
Di rumah Syam, seisi kamar Syam berantakan. Habis dibanting dan di injak oleh Syam, Amira mendengarkan suara gemuruh dari kamar tersebut di ruang tamu. Berulangkali dia menggeleng kepala lalu meraih ponselnya, menelepon seseorang.
” Halo, ikuti mantan istri suamiku kemanapun. Aku bayar nanti, ikuti kemanapun Naina pergi. Jika dia terlihat berniat mendekati suamiku. Jangan diberi ampun” tegas Amira memerintah, lalu mematikkan panggilan. Amira sudah mulai mendapatkan uang kembali dari pekerjaannya sebagai model.
Amira menutup kedua telinganya saat mendengar tangisan Syifa ditambah suara Syam mengamuk.
” Mbak, bawa keluar. Saya pusing tahu” bentak Amira kepada pengasuh Syifa.
” Syifa pasti mau digendong sama ibu, bapak sama ibu akhir-akhir ini sibuk.” Lirihnya pelan, takut salah bicara tapi juga tidak tega dengan Syifa.
” Sok ngatur saya kamu!" Amira kesal dan bangkit dari duduknya." Kamu saya bayar ya, urus Syifa. Kalau gak mampu bilang, gak usah sok tahu apalagi nyuruh nyuruh saya. Paham kamu?"
” Maaf bu” suara berat, dan hampir menangis.
” Saya harus pergi, sekali lagi kamu kayak tadi. Saya pecat kamu”
” Jangan bu”
__ADS_1
Amira mendelik sebal dan melangkah pergi meninggalkan mbak dan Syifa.
***