
Hari ini Naina berangkat menggunakan taksi, Syam ada urusan dan subuh-subuh sudah pergi.Naina sedang menikmati makan siangnya bersama guru-guru yang lain, semua guru bertukar lauk pauk yang mereka bawa dari rumah masing-masing.Naina tersenyum saat mendapatkan paha ayam dari Bu Vika, Bu Vika terbilang royal untuk soal makanan dan suaminya juga sukses dalam usahanya.
”Bu Nai kenapa tadi berangkatnya naik taksi?" pak Bondan bertanya.
” Suami saya berangkat subuh,jadi gak bisa nganterin saya pak" Naina tersenyum.
”Oh”semua orang menjawab.
Naina tersenyum dan kembali menikmati makan siangnya, setelah selesai Naina bersiap untuk mengajar dan jam istirahat sebentar lagi habis.Naina sudah keluar dari ruangan guru,dia berdiri dan memperhatikan semua murid kelas 10A yang akan mendapatkan pengajaran darinya.Semua murid buru-buru masuk saat melihat Naina sudah siap mengajari mereka semua.Nai tersenyum melihat semuanya sangat baik-baik hari ini.Nai menatap tajam dua murid laki-laki yaitu Ridho dan Zaenal.Mereka yang mengambil gambar Syam dan Amira waktu itu.
”Anak-anak sangat penurut sama Bu Naina" seru Rangga dan Naina menoleh.Naina tersenyum sekilas.
”Semuanya memang penurut pak”Naina tersenyum.
”Iya cuma sama Bu Nai,sama guru-guru yang lain gak begitu"Rangga tertawa kecil.
”Iya pak,saya permisi pak untuk masuk ke kelas"imbuh Naina.
”Iya Bu silahkan”Rangga tersenyum dan Naina pergi.
****
Di rumah orang tua Syam,mama Novi dan Tari sedang menikmati secangkir teh hangat dan kue yang dikirimkan Naina kemarin.Mama Novi juga sempat sakit,Naina hanya bisa melihat sesekali dan mengirimkan makanan yang mertuanya inginkan.
”Tari,Naina kenapa belum ada tanda-tanda kehamilan ya?"mama Novi sedih dan takut,Syam dan Naina hanya pura-pura baik dihadapannya saja.
”Baru juga berapa bulan ma,sabar ya"Tari tersenyum.
”Kamu juga kan kenal adik kamu kayak gimana,mama tuh takut Naina tersiksa sama Syam.Ai bahkan bilang sama mama,kalau keduanya pernah bertengkar hebat Tari.Mama khawatir"lirih mama Novi dan Tari menganggukkan kepalanya.
”Ai jadi mata-mata mama ya hehe"Tari tertawa kecil.
”Mama paksa Ai buat ngomong,Syam sama Naina kayak gimana kalau gak ada mama.Ternyata begitu,Syam lama-lama harus mama interogasi kayaknya dia benar-benar jagain Naina apa enggak sih.”Mama Novi kesal dan Tari tersenyum.
*****
__ADS_1
Naina pulang dari sekolah naik taksi,saat dia pulang dari toko juga naik taksi.Naina tidak melihat Syam dari subuh, suaminya bahkan tidak memberinya kabar.Apa Syam kecewa padanya? berbagai macam pemikiran buruk dibenak Naina.Naina masuk ke kamar lalu menyalakan lampu,dia sendirian di rumah sekarang.Naina berhenti melangkah melihat boneka beruang berwarna pink dan sangat besar di atas kasur.Secarik kertas memo juga menempel di tangan boneka itu.Naina menarik kertas memo lalu membaca tulisan suaminya.
”Aku pulang jam 10, ponsel ku mati Nai.Gak bisa dipake seharian, aku minta maaf.Kamu tidur aja,aku sibuk kerja sampai gak bisa jemput sama nganterin kamu hari ini.I Miss you Naina”
Naina menyunggingkan senyumnya,dia sudah berpikiran buruk dan lagi-lagi Syam terus meminta maaf.Dia sudah memaafkannya, dan akan memberikan kesempatan untuk Syam menjelaskan semuanya.
”Kenapa aku kangen ya sama mas Syam, harusnya aku senang gak ada yang marah-marah gak ada yang teriak-teriak.Aku kangen sama mas Syam, tolong cepat pulang mas."Lirih Naina lalu mencium kertas memo itu sampai bekas lipstik nya tertinggal, Naina tersenyum simpul.Lalu menempelkan kertas memo di cermin.Naina mandi dan tidak lama dia keluar lalu tidur sambil memeluk boneka yang diberikan suaminya,sangat hangat seperti pelukan Syam.
****
Di kampung,pak Fahmi diam dan merasa sakit kepala mendengar Husna mengadu kepada nya karena penolakan Naina dan Syam waktu itu, Mirza tidak tahu jika Husna pulang ke rumah mertuanya dan mengadu, Mirza malu saat tahu Husna meminjam uang kepada Naina dan dia bersyukur Naina dan Syam tidak memberi uang kepada istrinya.Mirza tahu karena adik iparnya Kabir yang mengatakannya kepadanya, Mirza tahu beban Naina sudah banyak dan Husna hanya memikirkan dirinya sendiri.
”Kamu harus nya tahu, Naina juga gak bisa sembarangan meminta uang sama mertua dan suaminya Husna"suara pak Fahmi meninggi, istrinya merasa sakit hati karena Husna dibentak seperti itu, dia tahu Husna bukan anak suaminya yang sekarang tapi apakah tidak bisa berbicara baik-baik.
”Pak,bapak kan bisa baik-baik bicara sama Husna"tegur sang istri.
”Bapak memang baru kenal sama Syam,tapi dari cerita pak Rahman bapak tahu Syam orangnya tidak akan marah kalau gak dipancing.”Tegas pak Fahmi dan Bu Ratna terdiam.Perlahan-lahan Kabir bangkit dari duduknya dan melangkah pelan masuk ke kamarnya.Kabir tidak terlalu dekat dengan Husna, karena Husna kakak tirinya.Walaupun sudah lama tinggal bersama,Kabir tidak bisa dekat dengan Husna.
****
”Nai”Syam memanggil Naina pelan,saat melihat istrinya sudah tertidur.Dan tidur dengan rambut basah.Syam tersenyum, tenyata Naina menyukai boneka yang dia berikan.
”Seharusnya aku memberikan boneka itu sejak lama"gumam Syam.
Syam menarik kertas memo dan tertinggal lipstik Naina disana.Syam cemberut kenapa tidak di bibirnya langsung dan malah di kertas,dia tidak paham dengan isi pikiran Naina.Syam mencium bekas lipstik Naina dan lipstik Naina menempel di bibirnya,Syam tersenyum lalu menempelkan kertas memo kembali.
Syam pergi ke kamar mandi,Naina yang mendengar suara gemericik air membuka matanya seraya menggeliat.Naina melihat tas dan kertas memo sudah berpindah dari tempatnya Naina buru-buru bangun dan pasti suaminya sedang membersihkan diri sekarang.Naina buru-buru menyiapkan pakaian dan pergi keluar dari kamar untuk membuat teh hangat.
”Mas Syam pasti capek,aku buatkan teh spesial”Naina tersenyum dan terus melangkah, langkahnya terhenti saat melihat bayangan seseorang.”Apa itu?"Naina terus menatap tirai jendela dan dia menepuk pipinya.
”Aku melihat seseorang tadi”berbisik Naina,dia ingin melihat keluar tapi takut.Syam juga masih di kamar mandi,Naina menoleh saat mendengar suara langkah kaki di teras,suara langkah kaki yang di sengaja agar bersuara nyaring.Naina melangkahkan kembali ke kamar dan dia benar-benar ketakutan.
”Mas Syam!”teriak Naina saat masuk ke kamar lalu dia menutup pintu dan mengunci pintu, wajah Naina berkeringat karena ketakutan.Naina melangkah dan wajahnya menyenggol pinggiran lemari,Naina ketakutan sampai-sampai tidak memperhatikan jalan nya.
”Auw"Naina memegang bibir dan giginya yang terasa ngilu, bibirnya berdarah lalu Naina duduk ditepi ranjang.Syam keluar buru-buru mendengar suara teriakan Naina.
__ADS_1
”Nai"Syam melangkah mendekati Naina,hanya memakai handuk dan Naina langsung memeluk tubuh basah Syam.
”Aku takut"lirih Naina.
"Takut apa?ada apa Nai?"Syam ingin melihat wajah Naina,dan dia melihat sekilas bibir Naina berdarah tadi.Syam mendorong bahu Naina tapi Naina tidak mau melepaskan pelukannya.
”Aku takut mas, aku yakin itu orang.Aku melihat bayangannya mas, jangan-jangan maling"Naina terus memeluk Syam dan Syam membalas pelukannya lalu menatap tirai jendela dan mengajak Naina duduk ditepi ranjang.Syam menatap bibir Naina dan mengusap darah dari bibir Naina.
”Kamu ngapain?kenapa teriak-teriak Nai.Ini kenapa juga, kamu jatuh?"Syam khawatir dan menarik tisu lalu menahan darah yang terus keluar dari bibir bawah dan atas Naina.
”Belum juga aku cium,udah lecet”gimam Syam.
”Aku nabrak lemari tadi, sakit mas”Naina terus meringis.Syam menjauhkan tisu lalu mendekatkan wajahnya.Naina menatap wajah suaminya lekat, wajah Syam sangat dekat dengannya.Syam meniup bibir Naina perlahan-lahan lalu berhenti saat sadar Naina menatapnya.
”Nai"lirih Syam masih dengan bibir berjarak jari kelingking bayi saat ini.
”Eeem apa mas?"Naina gugup.
”Boleh gak?”Syam menggigit bibir bawahnya kelu.Dia ingin tapi ragu karena melihat bibir Naina bengkak sebelum dia melakukan apa-apa.
”Kurang ajar lemari”syam kesal.
Naina tersenyum tipis dan mengangguk,Syam tersenyum lalu mendekatkan bibirnya dan Naina menutup matanya melihat Syam juga menutup mata.Naina terkejut saat bibir Syam menempel di bibirnya.Lalu Naina mundur menjauh.
”Nai”Syam sudah tidak tahan lagi dan Naina bingung harus berbuat apa, bibirnya ngilu saat bibir Syam menempel di bibirnya.
”Mas”Naina takut melihat tatapan suaminya.
”Naina”Syam semakin mendekatkan wajahnya dan Naina terus mundur,kedua kakinya naik dan dia sudah berbunyi sementara Syam di atas nya.
”Mas Syam!!”teriak para tetangga sangat gaduh dan menekan bel.Syam mundur menjauh dan Naina panik entah apa yang terjadi di luar sana.
"Mas ayo kita lihat ada apa"ajak Naina lalu meraih hijab instannya yang panjang seperti mukena, Naina keluar dan Syam mendengus sebal.
”Apa aku harus bawa Naina ke tengah hutan agar kami tenang,kenapa semua orang membuatku stres!!"geram Syam dan memakai bajunya.
__ADS_1