
Sepanjang perjalanan menuju rumah Syam dan Naina diam. Syam berulangkali menoleh, melirik lirik istrinya itu. Naina menatap keluar kaca mobil, melihat semua gedung, bangunan rumah, toko dan semuanya yang mobil lewati. Mobil berhenti saat lampu merah menyala, Naina menatap seorang gadis yang mengetuk-ngetuk kaca mobil berjualan tisu, Naina menurunkan kaca mobil sampai pengemudi mobil berwarna hitam di sebelah mobil Syam melihatnya.
” Berapa nak?" imbuh Naina bertanya dan mengeluarkan uang.
” Satunya lima ribu Tante" menjawab dengan penuh harap Naina membeli tisunya lebih dari satu. Naina mengambil 4, dan memberikan uang berwarna biru. Gadis tersebut bingung karena tidak memiliki kembalian.
” Tante, apa gak ada uang kecil? uang kecil saja Tante”
” Enggak apa-apa, kembaliannya ambil saja. Tante juga gak punya uang kecil, oke” Naina tersenyum lebar dan Syam menyunggingkan senyumnya.
” Terima kasih banyak tante”
” Sama-sama, nyeberang nya hati-hati ya”
” Iya tante” gadis itupun pergi dan Naina terus melambaikan tangannya, tidak sadar jika pria di dalam mobil itu memperhatikannya sambil tersenyum manis. Naina duduk kembali dengan tenang, melihat ke depan dan Syam meliriknya.
” Kamu gak mau ngomong sama aku Nai?” Syam merasa kehilangan sosok istrinya, istrinya ada tapi entah kemana pikiran Naina saat ini.
” Bukannya kamu gak percaya, aku gak mau ngomong. Kalau penting, nanti aku juga ngomong” kata Naina dengan nada bicara yang begitu datar dan Syam meraih tangannya, sampai Naina menoleh menatap suaminya lekat.
” Aku kangen sama kamu Nai, mau gak nginep di hotel?" Syam terus mengenggam tangan istrinya dan tangan lain memegang setir mobil, Naina tidak tersenyum ataupun menggeleng.
” Rumah ada, buat apa nginep di hotel" tuturnya menolak secara halus ajakan suaminya, Naina malah takut jika berduaan jika amarah suaminya kumat dan itu tidak akan terkendali dan membuatnya semakin sedih.
” Aku cuma mau sama kamu sayang, berdua. Jangan ada orang lain” Syam tak putus asa begitu saja untuk mendekati Naina yang dia jauhi karena dia marah, tapi malah berbalik Naina yang sedang begitu dingin padanya.
” Iya terserah kamu aja mas”
” Ya jangan terserah dong Nai ngomongnya, gak ikhlas banget ya kamu kalau nyenengin suami” Syam kesal dan melepaskan genggaman tangannya.
” Kamu apaan sih mas, aku mau turun saja disini. Capek aku dengerin kamu teriak-teriak terus" pinta Naina dan Syam menepikan mobilnya.
__ADS_1
” Mau turun kan kamu, sana turun" usir Syam dan Naina menatapnya lekat dengan kedua mata berair, Syam membuka kunci pintu mobil dan Naina akhirnya keluar sambil menangis. Syam memukul setir mobil kuat, dia merasa tidak dihargai hanya karena Naina menjawab ' terserah'. Naina melangkah pergi dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi karena banyak orang disekitarnya, pria yang mengikutinya sedari tadi keluar dari mobil dan melangkah mengikuti Naina. Sementara Syam, pria itu terus berteriak dan memukuli setir mobil nya sampai lecet.
” Naina Naina, susah banget kamu kalau di ajak ngomong sekarang” Syam berbisik dan terkejut saat sadar Naina sudah pergi entah kemana. Syam keluar dari mobil dan berlari kecil mencari Naina kesayangannya, Naina yang selalu dia sakiti, tapi dirinya merasa hal tersebut adalah hak nya sebagai seorang suami.
” Permisi, apa kamu melihat perempuan pakai seragam berwarna hitam, kerudungnya warna army?" Syam bertanya kepada pejalan kaki dan orang tersebut menggeleng kepala. Syam pergi dan berlari mencari Naina.
Naina berdiri di tepi jalan menunggu angkutan umum, dia memilih untuk pulang ke toko dan meminta Ai untuk merapihkan kasur disana karena dia sangat lelah. Pria yang mengikutinya adalah Ali, sepupu Mirza dan bahkan dia hadir saat pernikahan Mirza dan Husna dan dia mengenali Naina. Ali memperhatikan Naina dari kejauhan, pria bertubuh tinggi besar sedikit lebih pendek dari Syam mungkin hanya berbeda dua centi. Memiliki wajah tirus dengan kedua pipi menonjol saat tersenyum manis.
” Kenapa Naina ada disini? bukannya seharusnya dia di kampung" imbuh Ali berbisik kepada diri sendiri, dia baru pulang dari luar negeri dan tidak tahu jika Naina sudah menikah, yang dia lihat hanya perut besar gadis itu yang menjadi bukti. Dia bahkan belum bertemu dengan Mirza, pria yang berkutat dalam pekerjaan bisnis dan memilih menjadi bos dalam usahanya sendiri dan bisa memberikan lowongan pekerjaan untuk orang lain adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya.
” Mas” Naina panik saat Syam mencekal pergelangan tangannya, Ali yang melihat sontak mengeluarkan kedua tangannya dari saku celananya. Melihat Naina terus meringis dan ditarik oleh Syam. Ali melangkah cepat dan Naina terus ditarik oleh Syam. Naina terkejut saat tangan kanannya di tarik oleh tangan laki-laki dan Naina membentur dada pria tersebut.
” Sialan” Syam setengah berteriak melihat Naina disentuh pria lain.
” Jangan kasar-kasar, dia sedang hamil. Anda siapa?” ketus Ali dan menyembunyikan Naina dibelakang punggungnya.
” Dia istri saya, mau apa kamu” Syam mencengkram kuat kerah baju Ali dan menarik-narik nya, Naina berusaha menahan Syam dan merasakan perutnya ngilu. Ali mundur menjauh melihat Naina membela Syam, itu sudah membuatnya yakin bahwa pria itu benar-benar suami Naina tapi kenapa kasar sekali. Itu yang membuat Ali khawatir.
” Nai, kamu kenal sama dia. Kamu beneran selingkuh Nai?" Syam menatap tajam istrinya dan dia kecewa.
” Dia kerabatnya mas Mirza, udah mas ayo kita pergi. Ini salah paham” Naina terus menarik lengan Syam agar segera pergi dan juga supaya Ali selamat dari kemurkaan suaminya.” Mas” kata Naina kepada Ali dan Ali mengangguk. Akhirnya, Naina bisa mengajak Syam pergi dan Ali memperhatikan keduanya.
” Kasihan sekali Naina” lirih Ali lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Mirza, dia ingin menanyakan beberapa hal penting kepada Mirza.
****
Di kampung, Mirza sedang menonton TV bersama istri tercintanya dan sangat judes itu. Mirza meraih ponselnya yang berdering, Husna melirik dengan tatapan penuh curiga. Setelah dia berhenti bekerja, Husna jadi paham dengan bagaimana susahnya mengatur uang karena dia yang sudah tidak memiliki penghasilan dan hanya mengandalkan uang nafkah dari suaminya. Husna juga menjadi sangat posesif dan takut suaminya dicuri wanita lain.
” Halo, assalamu'alaikum. Ali”
” Wa'alaikumussalaam mas. Apa kabar?"
__ADS_1
” Alhamdulillah baik, kamu bagaimana? tumben nelepon”
” Ya aku juga baik Alhamdulillah, aku sudah pulang mas. Bagaimana mbak Husna sudah hamil belum?”
” Aku sama Husna masih menunggu, do'akan saja" Mirza tersenyum dan melirik Husna.
” Aamiin semoga secepatnya ya mas, begini aku lihat Naina. Dia hamil besar, kapan menikahnya ya?” Ali penasaran.
” Tidak lama setelah aku sama Husna menikah, apa dia baik-baik saja?" Mirza khawatir dan bangkit dari duduknya. Menjauhi Husna yang terus menatapnya curiga.
” Itu masalahnya, aku melihatnya menangis. Dia juga diperlakukan kasar sama suaminya, apa mbak Husna dan orang tuanya tahu? aku tidak bermaksud untuk ikut campur. Hanya saja Naina kan sedang hamil, mas Mirza yang tahu lebih jelas bagaimana kondisi fisik wanita hamil" Ali berbicara sambil mengemudi.
” Syamsul kasar sama Naina? Naina terluka?”
” Alhamdulillah nya sih enggak mas”
” Alhamdulillah kalau begitu, kamu jangan terlalu banyak ikut campur ya Ali. Itu bukan urusan kamu,”
” Iya aku juga paham, aku hanya ingin membicarakan ini mungkin mbak Husna bisa berbicara dengan Naina apa yang sebenarnya terjadi"
” Iya, aku tanya sama Husna nanti.”
” Oke, sudah dulu bang. Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumussalaam”
Panggilan pun berakhir dan Mirza kembali melangkah untuk menemui Husna.
” Sayang, apa Naina pernah cerita sama kamu tentang rumah tangganya?” Mirza bertanya.
” Apa-apaan sih kamu mas, perduli banget sama Naina. Aku kan gak dekat sama Naina, aku gak tahu” ketus, karena cemburu suaminya menanyakan Naina dan terlihat begitu khawatir.” Kamu masih cinta sama Naina?”
__ADS_1
” Aku akan nikahnya sama kamu, masih ragu?” Mirza tersenyum dan menggoda istrinya yang sedang cemburu itu. Husna tetap cemberut dan Mirza terus tersenyum.