Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Nazar


__ADS_3

Di rumah, semua keluarga datang tanpa sepengetahuan Naina. Uwais meminta Dita untuk mengulur-ulur waktu dan mengajak Naina kemanapun untuk membuatnya terlambat pulang, yang Naina tahu keluarganya akan datang besok tapi Uwais memiliki rencana lain untuk kejutan ulang tahunnya. Bu Ratna menoleh dan kebingungan mendengar pak Fahmi menangis dan pingsan.


” Bapak” teriak husna.” Bapak kenapa?”


” Pak istighfar pak” seru Bu Ratna tapi pak Fahmi terus menangis setelah sadar dari pingsannya.


***


Di rumah sakit.


Uwais menandatangani surat-surat yang menyatakan bahwa operasi sesar akan di lakukan untuk mengeluarkan bayinya, Uwais berharap kondisi anak dan istrinya baik-baik saja. Dita menangis merasa bersalah, Zidan datang dan duduk di sebelahnya.


” Ini salahku, aku harusnya hati-hati” lirih Dita.


” Ini bukan salah kamu, kenapa menyalahkan diri sendiri begini?” ucap Zidan, Dita menangis sesenggukan. Keduanya berada di luar ruangan operasi, Uwais berada di ruangan operasi karena dia inginnya begitu. Uwais memakai pakaian khusus dan melihat jelas bagaimana proses operasi sesar. Naina masih bertahan dan Uwais tahu istrinya itu kuat, suara tangisan bayi terdengar jelas. Uwais menatap bayi yang berjenis kelamin perempuan itu lekat. Setelah bayi tersebut siap untuk di berikan kepada ayahnya perawat menggendongnya.


” Bapak silahkan ikut saya” ajak perawat dan Uwais mengikuti, Uwais diminta mengadzani bayi perempuan tersebut dan Uwais terlihat takut saat menggendong bayi nya. Bayi yang hanya terbalut kain putih berlumuran darah itu terus menangis dan Uwais mengumandangkan adzan di telinganya. Uwais tersenyum dengan air mata yang terus menetes. Bayinya sangat cantik. Seperti Naina.


” *Mas aku mau di panggil mamah aja dan kamu papah, aku mau nama anak kita Nailah”


” Tapi aku sudah memiliki nama bagus, Naura*”


Bayangan kebersamaannya dengan Naina melintas, saat Uwais dan Naina berdebat tentang nama anak mereka dan akhirnya nama yang Uwais pilih menjadi nama yang di setujui Naina.


” Naura Zivanna Inayah, anak papah sama mamah kuat karena mamahnya juga kuat” lirih Uwais.


Uwais memberikan bayinya saat perawat meminta nya. Bayinya lahir dalam kondisi prematur, kelahiran yang dipaksakan karena kondisi ibunya. Kini Uwais diminta keluar karena dokter tidak mengizinkannya untuk hadir dalam operasi pengangkatan peluru di kepala Naina. Uwais melepaskan pakaian khusus berwarna hijau tersebut lalu keluar. Zidan Dita bangkit dari duduknya dan mendekati Uwais.


” Cari siapa yang melakukan ini kepada istriku” tegas Uwais.


” Amira yang melakukannya, dia meninggal karena mengalami kecelakaan di tempat tadi bos” tutur Zidan dan Uwais meninju tembok di sebelahnya, begitu mudahnya Amira mati sedangkan istrinya sedang berjuang saat ini.


6 jam kemudian, operasi selesai di lakukan. Peluru yang bersarang di kepala Naina sudah bisa di keluarkan, namun kabar buruknya adalah Naina dalam kondisi koma. Semua keluarga yang menunggu menangis, Uwais menundukkan kepalanya saat mendengar dokter berbicara tentang kondisi istrinya.


” Saya ingin melihat istri saya” tegas Uwais meminta. Dokter mengangguk mengiyakan, hanya Uwais saja yang boleh masuk sementara yang lain harus tetap menunggu di luar.


” Naina, kenapa jadi begini nak?” imbuh pak Fahmi dan terus menangis, Kabir memeluk ayahnya erat. Fatma diam memperhatikan Kabir yang sedang sedih itu, Syam juga tidak kuasa menahan tangisannya. Dia pergi dan Fatma menyusulnya.


” Mas” panggil Fatma seraya menepuk bahu Syam.


” Kenapa ini harus terjadi, Amira gak ada bosan-bosannya membuat onar. Sekarang dia meninggal begitu saja, begitu mudahnya. Naina sudah banyak menderita, dan aku adalah salah satu penderitaan nya Fatma” tutur Syam kesal kepada dirinya sendiri.


” Sutt tenang mas, semuanya sudah terjadi ini takdir. Kita do'akan Bu Naina sama-sama ya mas” ucap Fatma lalu memeluk Syam erat, dia tenangkan suaminya itu dan Syam membalas pelukannya. Fatma terdiam sejenak melihat Kabir berdiri tidak jauh darinya dan Syam saat ini sedang memperhatikan.


” Kita sudah benar-benar berakhir?” gumam Kabir. Fatma menundukkan kepalanya lalu mengusap-usap punggung Syam lagi.


Di ruangan dimana Naina berbaring, Uwais berdiri mematung menatap kondisi istrinya. Selang masuk ke dalam mulut Naina, rambutnya di cukur habis untuk memudahkan saat operasi, kening Naina juga robek. Uwais menutup mulutnya dan menangis terisak-isak pelan. Dia melangkah mendekat dan membelai wajah pucat istrinya.


” Sayang, selamat ulang tahun. Aku minta maaf karena gak meluk kamu hari ini, aku peluk sekarang, aku minta maaf hiks,,,,” lirih Uwais, dia peluk tubuh istrinya perlahan. Uwais mencium pipi istrinya berulangkali.” Selamat ulang tahun sayang, bangun. Semua orang nungguin kamu, belum satu hari tapi aku gak bisa lihat kamu diam begini terus Naina”


” Anak kita perempuan, sangat cantik seperti kamu. Hidung dan bibirnya seperti aku, matanya seperti kamu, kamu harus melihatnya. Jangan tidur terlalu lama, aku merindukan kamu sayang” suara Uwais semakin serak, tidak lama perawat datang dan memintanya keluar karena Uwais tidak bisa lama-lama.


” Sebentar lagi saya mohon” pintanya.


” Bapak harus keluar ini juga untuk kondisi pasien sendiri, kamu akan mengontrol nya setiap saat” tutur perawat, Uwais tidak bisa membantah dan akhirnya dia bangkit dari duduknya lalu mencium kening istrinya sekilas. Uwais melangkah mundur dan memperhatikan istrinya itu.


” Silahkan” seru perawat agar Uwais segera keluar.

__ADS_1


Uwais akhirnya keluar. Uwais meninggalkan semua orang menuju ke ruangan bayi, di sana dia memperhatikan bayinya Naura yang sedang menggeliat.


” Aku akan membiayai persalinan 1000 wanita hamil yang kurang mampu jika Naina sadar dan Naura baik-baik saja, segera cari baby sitter terbaik dari sebuah yayasan yang legal” tutur Uwais dan Zidan mengangguk. Uwais diam dan terus memperhatikan bayinya Naura.


Baby sitter


Satu Minggu kemudian, baby sitter datang diantar kedua yayasan jasa baby sitter ke rumah Uwais. Bi Astri yang menyambut keduanya sambil menjelaskan bagaimana baby sitter yang akan menjaga Naura harus bekerja dengan baik, karena ayah Naura Uwais tidak segan untuk memecatnya jika terjadi kesalahan.


” Nama kamu siapa?” tanya bi Astri kepada baby sitter tersebut.


” Saya Fatin, saya janji akan bekerja dengan baik” ujarnya lalu bi Astri tersenyum.


” Kami benar-benar turut berdukacita atas apa yang menimpa istri dari bos, semoga istri bos cepat sehat” ujar ketua yayasan dan Bi Astri mengangguk.


” Aamiin terima kasih” ucap bi Astri, ketiganya menoleh saat mendengar suara langkah kaki. Ketua yayasan menarik tangan Fatin agar bangkit memberi hormat kepada tuan rumah.


Deg,,,,, Fatin terkejut saat melihat siapa pemilik rumah besar dan orang yang disebut-sebut bos itu. Uwais teman sekelasnya dulu.


” Selamat pagi bos” seru Bi Astri, Uwais diam dan terus melangkah dan dia masuk ke dalam lift. Zidan menggeleng kepala kepada bi Astri agar tidak mengatakan apa-apa lagi, bi Astri melangkah mendekati Zidan.


” Keadaan Bu Naina bagaimana Zidan?”


” Masih sama” jawab Zidan putus asa. Bi Astri benar-benar terlihat sedih, Uwais sama sekali tidak pernah mengeluarkan suara setelah kejadian itu. Dia hanya bersuara ketika bekerja, dan saat menggendong Syifa. Di kamarnya, Uwais melepaskan kemejanya. Dia meraih segelas air lalu masuk ke kamar mandi dan masuk ke dalam bathtub kering itu. Uwais meringkuk di sana, air matanya menetes lagi melihat Naina hari ini masih tetap sana dan tidak ada kemajuan.


” Sangat jahat kalau kamu pergi ninggalin aku Naina, aku sama Naura butuh kamu” lirihnya, Uwais menjatuhkan gelas sampai pecah dan dia terus menangis. Dia begitu lemah karena wanita yang dia cintai sama sekali tidak merespon apa-apa saat dia ajak bicara.


*****


Kabir dan Fatma.


Fatma keluar dari rumahnya saat ini, dia ingin pergi ke rumah sakit untuk menengok Naina. Walaupun dia tidak bisa melihat Naina langsung. Kabir yang sudah mengintai rumah tersebut tersenyum melihat gadis yang dia tunggu-tunggu akhirnya muncul. Fatma terkejut saat sebuah mobil menghadang jalannya. Lebih terkejut nya lagi saat dia melihat Kabir yang ada di dalam mobil itu.


” Ngapain kan disini? kamu sengaja nungguin aku? sampai kapan kamu akan berhenti gangguin aku Kabir?”


” Kamu pikir bisa jauh dari aku Fatma? kamu mau masuk atau aku bilang sama suami kamu sekwdnag juga tentang hubungan kita” ancam Kabir. Kedua mata Fatma berkaca-kaca, tidak punya pilihan lain akhirnya dia masuk. Kabir tersenyum dan mengelus pipi Fatma tapi Fatma menepisnya kasar.


” Kamu mau apalagi Kabir hubungan juga udah selesai”


” Jangan membohongi diri kamu sendiri, kamu masih sayang kan sama aku?”


” Aku sudah menikah, aku mau berubah dan aku gak mau hubungan salah ini berlanjut Kabir aku mohon biarkan aku tenang”


Kabir menggeleng kepala dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Fatma sampai berpegangan takut kepalanya membentur body mobil. Kabir murka mendengar ucapan Fatma. Di jalan yang sepi mobil berhenti, Kabir melepaskan sabuk pengaman nya dan berusaha mencium Fatma.


” Lepas Kabir” berontak.


” Jangan pernah berpikiran bahwa aku mau melepas kamu Fatma” tegas Kabir dan masih terus berusaha, Fatma marah dan amarahnya memuncak saat Kabir berusaha menyentuh area sensitifnya.


Plak!! tamparan keras mendarat di pipi kiri Kabir, Kabir tersentak kaget karena ditampar oleh Fatma.


” Jangan ganggu aku lagi, aku mau berubah Kabir. Aku mohon, semua yang kita lakukan itu salah. Bunuh saja aku dari pada kamu mengajakku berbuat salah lagi, bunuh aku Kabir” ucap Fatma frustasi, dia menangis sejadi-jadinya. Kabir diam dan Fatma keluar dari mobil, Fatma berlari sebelum Kabir mengejarnya dia naik ke dalam bus dan Kabir memukul-mukul setir mobil frustasi.


***


Suasana berbeda


Ketiga pegawai Naina terlihat melamun, bos mereka Naina sedang koma. Para pembeli yang menanyakan kemana Naina pergi ikut sedih setelah tahu Naina mengalami koma dan masih berada di salah satu rumah sakit besar di ibukota tersebut, Uwais tanpa lelah datang dan pergi keluar rumah sakit untuk melihat istrinya tercinta. Tidak lupa dengan buket bunga yang selalu dia bawa.

__ADS_1


” Kapan ya mbak Naina bangun, aku kangen sama mbak Naina” ucap Mia.


” Aku juga kangen sama mbak Naina” Ai sedih.


” Apalagi aku, aku yang lihat bagaimana kejadian itu gak pernah lupa dan juga kangen sama mbak Naina” ucap Dita.


” Kita jangan lupa do'ain mbak Naina biar cepat sehat” kata Ai dan ketiganya sama-sama mengangguk.


Ketiganya kembali bekerja, Ai yang dipercaya memegang uang dan Ai memberikannya kepada Uwais. Di rumah Uwais semua orang makan bersama termasuk Uwais sendiri, diam-diam Fatin memperhatikan Uwais. Begitu berbeda dengan Uwais yang dulu, dia mengenali Uwais dengan melihat tahi lalat yang sama di bawah mata. Dia tidak menyangka Uwais adalah orang kaya.


” Bapak sama ibu tetap mau disini, bantuin jagain Naura juga apa gak apa-apa nak?” tanya pak Fahmi dan Uwais mengangguk.


” Enggak apa-apa, aku malah senang” kata Uwais tanpa membuat ekspresi apapun. Dia disini tapi isi pikirannya hanya ada Naina. Uwais menoleh saat Naura menangis dalam gendongan Fatin. Dia bangkit untuk melihat anaknya itu, Fatin gugup saat berdekatan dengan Uwais dan mencium aroma tubuh Uwais yang sangat wangi. Uwais menggendong bayi nya dengan sangat hati-hati dan membawanya pergi.


” Biarkan mereka berdua saja” kata bi Astri menahan Fatin yang hendak menyusul.


” Mungkin bos butuh sesuatu” kata Fatin.


” Silahkan kalau mau di pecat, bos sudah menyampaikan dengan tegas jika Naura bersamanya jangan ada yang menganggu” tegas bi Astri dan Fatin terdiam.


*****


Lima bulan kemudian.


Kondisi Naina masih sama, tubuhnya semakin kurus. Uwais mengenggam tangannya erat setelah meletakkan buket bunga di antara bunga-bunga yang sudah kering di atas meja. Naina berada di ruangan VIP. Uwais mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara tangisan Naura.


” Denger ini sayang, ini Naura kita”


” Saat Naura menangis aku jadi teringat sama kamu”


” Saat Naura tersenyum aku merasa melihat kamu, apa kamu tetap gak mau bangun? ayo bangunlah”


Uwais tersenyum tapi senyumannya lenyap dan dia menangis sambil menggenggam tangan istrinya, tangan Naina yang sebelah kiri bergerak tapi Uwais tidak sadar.


” Cukup, aku mohon jangan siksa aku seperti ini. Bangun Naina”


” Kita akan camping, traveling dan jalan-jalan ke luar negeri bersama Naura, itu kan yang kamu mau. Kamu juga ingin umroh, ayo sayang bangun”


Uwais terus menangis, dari luar ruangan perawat memperhatikannya. Cedera di kepala Naina sangat fatal, sudah tidak ada harapan lagi. Waktu yang akan menentukan kapan detak jantung Naina akan berhenti. Tapi Uwais tetap berharap banyak, dia tetap mau Naina istrinya bangun kembali.


” Aku punya hadiah untuk kamu, pakai ini” imbuh Uwais dan mengusap air matanya, dia mengeluarkan kotak cincin lalu memakaikan cincin ke jari manis istrinya, sedikit kendur.” Cantik bukan? ayo bangun, apa kamu gak mau melihat hadiah dari aku Naina?”


Dari balik kaca jendela, Fatin memperhatikan Uwais yang sedang berusaha keras untuk membangunkan istrinya yang tertidur cukup lama. Fatin belum pernah melihat Uwais seperti itu.


Fatin terkejut saat Uwais menoleh dan bangkit, Uwais keluar dari ruangan lalu mendekati Fatin dan mengambil alih Naura.


” Ayo kita ketemu sama mamah, bilang sama mamah supaya cepat bangun ya nak” imbuh Uwais dan masuk membawa Naura. Uwais duduk dan Naura memperhatikan ibunya yang berbaring seperti biasanya, tangan Naura menyentuh tangan Naina lembut. Uwais menciumi putri kecilnya itu sambil terus menatap Naina. Suami mana yang bisa tahan melihat istrinya tidak bereaksi apa-apa, bukan hanya rindu yang dirasakan Uwais, dia merasakan rasa takut setiap saat. Takut Naina meninggalkannya dan Naura. Sejak lahir Naura sama sekali belum pernah melihat ibunya berbicara padanya, Uwais yang takut Naura tidak mengenal sosok ibunya Naina tetap berusaha memperkenalkan Naina walaupun lewat foto, video dan aroma wangi dari pakaian Naina. Uwais tidak mau Naura merasa asing dengan ibunya sendiri. Entah sampai kapan Naina tertidur seperti itu, Uwais akan tetap setia menunggu istrinya.


***



papah Uwais



Naura

__ADS_1



Naina Inayah


__ADS_2