
Naina dan Ai duduk berhadapan. Ai tertunduk dalam, dia takut Naina mengadukannya kepada keluarganya. Tapi Naina tidak akan seperti itu, Ai sudah lama ikut dengannya. Sudah seperti adiknya sendiri, kekhawatiran Naina bukan kekhawatiran yang dibuat-buat dia benar-benar menyayangi Ai.
” Kamu pacaran sama Akbar?” tanya Naina dengan tatapan sendunya juga membuat Ai semakin menunduk, Ai mengangguk. Membantah sudah tidak mungkin jika kejadiannya seperti tadi.
” Aku gak bakal melarang kamu Ai, tapi Akbar jauh lebih dewasa daripada kamu. Dia bahkan berani datang kemari, kamu bahkan memaksa tidur di ruko akhir-akhir ini, karena Akbar? kamu gak macam macam kan Ai?” tutur Naina khawatir, dari segi umur Akbar jauh lebih dewasa Naina takut Ai dimanfaatkan.
” Mas Akbar serius kok mbak”
” Buktinya apa? keseriusan dalam hubungan hanya dalam pernikahan, diluar itu hanya sebatas nafsu Ai. Terserah kamu mau pacaran dimana, tapi jangan disini kalau aku sama mas Uwais gak datang Akbar bukan hanya sekedar menyentuh tangan kamu Ai” tutur Naina yang terakhir dia bangkit untuk segera pergi ke bawah. Naina duduk lalu mengeluarkan ponselnya yang berdering, Ai juga turun walaupun suasana kini menjadi canggung.
” Halo assalamu'alaikum”
Naina diam, bibirnya tersenyum saat telepon tersebut dari seorang kepala sekolah yang menerimanya untuk menjadi guru di sana.
” Emmm ya baik, insya Allah Bu. Cuma saya butuh waktu untuk izin sama suami saya, insya Allah saya hubungi lagi nanti”
” Ya baik Bu, Wa'alaikumus Salaam” panggilan berakhir, Naina merasa senang tapi senyumannya lenyap dan tidak tahu Uwais akan setuju atau tidak.
*****
Di rumah keluarga Syam, kepanikan terjadi saat Syifa hilang dari kamar saat ditinggalkan karena sedang tidur. Jendela sudah terbuka, entah siapa yang membawa Syifa pergi.
” Syam ini gimana, Syifa hilang” mama Novi panik.
” Cari lagi, cari lagi mungkin ada yang mengajak Syifa bermain” imbuh Syam lalu berlari untuk memeriksa kembali ke setiap ruangan. Begitu juga dengan yang lain, untuk mencari Syifa. Ayah Rahman mengecek cctv untuk melihat apa yang terjadi.
” Amira” geram Asil saat melihat Amira dan Hamdan yang membawa Syifa saat semuanya sibuk, Syam masuk dan ayahnya menoleh.
” Syifa dibawa ibunya" ujar ayah Rahman dan Syam melihat cctv.
” Kurang ajar!" bentak Syam.
” Tenang Syam jangan marah-marah terus, aku telepon suami aku untuk minta bantuan dia” kata Asil dan menelepon suaminya, dia juga keluar meninggalkan Syam dan ayahnya.
” Hamdan keterlaluan” lirih ayah Rahman, begitu sedih dia meratapi nasib tari dan Hamdan benar-benar tidak perduli dengan anaknya itu, sekalipun tari sudah meninggal. Syam menelepon Amira berulangkali tapi tidak ada jawaban, bahkan tidak lama teleponnya terputus.
” Sialan kamu Amira" umpat Syam.
****
Naina dan Ai tidak banyak bicara seperti biasanya, Naina pamit untuk membeli makanan berjalan kaki seperti biasanya. Namun, Naina merasa mobil berwarna hitam itu terus mengikutinya. Naina membuat panggilan kepada Uwais, Uwais yang sedang bekerja merasa senang Naina menelepon lalu dia mengangkat teleponnya.
__ADS_1
” Halo assalamu'alaikum Nai”
Naina diam. Senyuman Uwais lenyap.
” Naina?”
” Ada yang mengikuti ku mas, aku gak tahu siapa" adu Naina dan melangkah lebih cepat semampai yang dia bisa.
” Dimana kamu?” Uwais panik.
” Tidak jauh dari ruko”
Uwais bangkit dari duduknya, dan keluar dari ruangannya mencari Zidan.
” Aku ke sana, menghindar sebisa mungkin. Sembunyi, dan jangan mematikkan panggilan” titah Uwais dan Naina menggigit bibir bawahnya kelu dia tidak berani berbicara lagi karena langkah seseorang mengikutinya dari belakang.
” Ada apa bos?” Zidan bertanya.
” Ada yang mengikuti istriku, siapkan semuanya" titah Uwais, Zidan memberikan senjata padanya dan Uwais menyelipkannya di pinggang.
Di tempatnya, Naina mulai ketakutan dan menyembunyikan ponselnya di dalam tasnya karena panggilan terus terhubung dengan Uwais.
Deg,,, seorang pria muncul dari gang kecil menghadang jalan Naina, Naina menoleh dan di belakangnya juga ada pria lain.
” Naina” panggil Uwais.
” Buang tas nya” seru pria yang membungkam mulut dan hidung Naina dengan sapu tangan yang membuat Naina pusing dan pingsan.
” Naina!” teriak Uwais dan panggilan terputus setelah mereka membuang tas dan ponsel Naina rusak.
” Cepat” Uwais kesal kepada Zidan dan Zidan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Uwais terus mencoba menelepon Naina tapi nihil, ponsel Naina mati.
Sesampainya di ruko, Ai panik melihat kedatangan Uwais dan bodyguard yang menyeramkan semua itu.
” Mbak Nai tadi mau beli bakso mas tapi gak balik-balik” adu Ai.
” Ke arah mana?” Uwais bertanya dengan raut wajah yang begitu khawatir terlihat jelas.
” Di sana mas” tunjuk Ai.
Uwais dan Zidan berlari dan Ai menunjukan nya, sesampainya di jalan yang Naina lewati Uwais memperhatikan tali tas yang dia kenali. Berwarna cokelat, dan itu adalah tas Naina yang dia belikan. Uwais melangkah lalu menariknya. Dia memeriksanya dan isinya masih utuh.
__ADS_1
” Ini jelas penculikan” ujar Zidan.
” Mbak Naina diculik?" lirih Ai, dia menangis tersedu-sedu dan takut Naina kenapa-kenapa.
” Jangan memberitahu siapapun, apalagi keluarga saya di kampung” tegas Uwais dan Ai mengangguk.” Kembali ke ruko, jika ada apa-apa telepon. Dan jangan tidur di ruko mulai sekarang” ucapnya lagi seraya memberikan kartu nama Zidan agar Ai menelpon Zidan, Ai mengangguk dan bergegas pergi.
” Aku butuh izin kakek untuk mengerahkan semua anak buahnya” ujar Uwais kepada Zidan.
” Kamu yang lebih berhak, bos sudah tua kamu yang sudah seharusnya mengatur semuanya sendiri tanpa melibatkan beliau” tutur Zidan, Uwais terdiam sejenak lalu mengangguk. Zidan mengajak Uwais untuk segera pergi dan Naina entah di mana sekarang.
****
Malam hari tiba, di sebuah rumah di tengah hutan di luar ibukota. Begitu lembab dan gelap. Seorang wanita, Naina dia dikurung di sana, penuh luka. Dahinya berdarah, bibirnya robek karena di tampar berulangkali. Kakinya sempat diinjak oleh Amira, tubuh yang awalnya baik-baik saja itu sekarang terkulai lemas. Tidak diberi makan dan minum.
” Air, air, air, beri aku air” lirih Naina, kedua matanya bengkak karena terus menangis.
Rangga mengintip dari balik kaca berdebu dan berjamur itu untuk memastikan Naina masih hidup atau tidak, setelah memastikan Hamdan dan Amira pergi dan anak buah Amira di luar begitu juga anak buah bayarannya. Rangga masuk membawa air dan roti.
” Nai, minum dan makan ini” Rangga membantu Naina tapi Naina memuntahkannya, dia tidak sudi menerima bantuan dari orang jahat seperti Rangga.
” Bunuh saja aku jangan pancing Suamiku kemari, dia sudah melepaskan kamu dari semua tuntutan pak kenapa bapak membantu Amira dan Hamdan untuk menyakiti saya dan suami saya Uwais. Jangan dekati saya” usir Naina, dia tidak menyangka Rangga seperti itu. Di tempat tersebut bahkan ada Syifa.
” Naina jangan membuatku marah, minum sendiri sana” Rangga kesal dan melemparkan air mineral ke kaki Naina lalu dia pergi, Naina meringis kesakitan.
Naina meraih botol air mineral lalu meminum airnya perlahan-lahan, sampai habis. Naina tidak diikat karena mereka semua yakin Naina tidak akan bisa kabur dalam keadaan seperti itu.
****
Di tempat lain Uwais sedang dalam perjalanan menuju tempat dimana Naina disekap, dia meletakkan pelacak di dalam liontin kalung Naina. Hamdan juga menelepon dan memintanya membawa uang sangat besar. Senjata sudah disiapkan, anak buahnya dikerahkan untuk mengepung dan menyelematkan istri bos mereka.
” Apa mereka mendapat bantuan dari orang lain Zidan?” tanya Uwais.
” Belum bisa dipastikan, anak buah yang sudah sampai di sana sedang menyelidiki”
Uwais mengangkat tangannya melihat jam tangan sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Uwais menutup matanya dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi istrinya tercinta saat ini, dia khawatir tapi harus tetap tenang agar bisa mengatur dan mengumpulkan tenaga untuk menolong Naina yang sudah pasti menunggu nya.
” Tunggu aku Naina, aku datang sayang. Bertahanlah, aku datang. Ya Allah, hamba bukan orang baik-baik meminta pun tidak pantas. Tapi hamba yakin Engkau Maha pengampun, lindungi istri hamba Naina Inayah ya Allah. Dia yang Engkau titipkan untuk hamba jaga” gumam Uwais, kedua matanya berair dan Zidan yang melihat merasa sedih.
Di tempatnya, Naina juga sedang berharap suaminya tahu jika dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
” Mereka menyiksaku, mereka membuatku terluka. Aku disini Uwais, aku disini, tolong aku. Ya Allah, hamba bukan istri yang baik, bukan pula manusia yang lepas dari dosa dan kesalahan. Hanya kepada-Mu hamba memohon. Kuatkan hamba, berilah petunjuk kepada suami hamba ya Allah. Aamiin” lirih Naina, air matanya terus mengalir. Satu botol air mineral cukup membuatnya kenyang dan memiliki tenaga untuk bertahan sampai ada yang menolongnya.
__ADS_1
****
Syam juga begitu, dia harus menyelamatkan Syifa dari Amira yang benar-benar tidak bisa dianggap sebagai seorang ibu apalagi meminta uang atas nama anaknya. Syam pergi bersama Aldi dan Rizal, Amira tidak mau ada polisi tapi Aldi tetap ikut dan mengatur strategi lain dengan rekan-rekannya untuk menyelematkan seorang balita.