Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Resepsi megah


__ADS_3

Naina sedang duduk di kursi di bawah pohon menunggu suaminya menjemput, sesekali Naina menyedot air minum nya.


Naina melihat mobil suaminya berhenti dan Naina bangkit untuk menyeberang. Uwais keluar dari mobil dan menggerakan tangannya agar Naina berhenti tapi Naina tetap menyeberang jalan. Naina tersenyum dan Uwais menunggu Naina sampai padanya, senyuman Naina lenyap saat melihat seorang pria membawa pisau tajam dan mengarah kepada Uwais suaminya.


” Tidak, jangan” lirih Naina, Uwais yang melihat kepanikan di wajah istrinya bingung.” Mas, awas!” Naina berteriak.


Uwais menjauhkan punggungnya dari pintu mobil, langkah kaki Naina semakin cepat sampai Naina tidak sadar jika di berlari menuju suaminya.


” Naina, jangan berlari!” teriak Uwais. Uwais juga berlari dan memeluk istrinya erat, Naina meringis kesakitan. Uwais memperhatikan seorang pria yang memegang pisau berdarah di tangannya.


” Mas” lirih Naina.


” Naina, Nai” Uwais mendekap tubuh istrinya dan Naina jatuh pingsan tapi Uwais menahannya, Uwais terkejut melihat tangan istrinya tertusuk pisau tajam pria tadi. Pria tadi kabur entah kemana Uwais merogoh ponselnya untuk meminta semua anak buahnya mencari pria itu.


” Ada apa bos?” tanya Zidan.


” Hubungi dokter, istriku terluka. Ada yang menusuk nya aku tidak perduli apapun, aku mau mereka yang menyakiti istriku atau pun hanya berniat harus kalian temukan!" tegas Uwais dan mematikkan panggilan, Uwais menggendong istrinya dan melangkah menuju mobil. Tidak ada kesempatan untuk mengejar pria tadi, dia tidak bisa membiarkan Naina lebih lama dan harus segera membawanya ke rumah sakit.


Di kantor, Zidan panik dan meminta semua bodyguard berkumpul untuk mencari siapa dalang penusukkan Naina.


*****


Di perjalanan, Kabir dan supir sedang menjemput keluarganya dari kampung. Ayah Naina meminta menginap di rumah Uwais saja, mengingat di sana banyak kamar dan daripada membayar kamar hotel lebih boros. Kabir membaca pesan dari Uwais dan dia terkejut, Uwais meminta Kabir datang ke rumah sakit dan jangan sampai semua keluarga tahu Naina masuk rumah sakit terutama pak Fahmi.


” Mbak Naina, kenapa lagi? aku harap dia baik-baik aja” gumam Kabir.


” Naina ada di rumah kan Kabir?” tanya pak Fahmi dan Kabir menoleh.


” Emm enggak pak, mbak Nai sama bang Uwais lagi di luar ada urusan. Kita langsung ke rumah aja istirahat” tutur Kabir, pak Fahmi memperhatikan anak laki-lakinya yang terlihat gugup.


Mobil terus melaju dan Kabir diam sambil berkirim pesan dengan Uwais. Sesampainya di kediaman Uwais, dua mobil tersebut masuk. Husna terperangah melihat rumah Naina yang sekarang. Milik Uwais sama juga dengan milik Naina. Uwais bahkan sudah berencana untuk mengubah nama kepemilikan rumah, dan aset yang lain atas nama istrinya tercinta. Apalagi tiga bulan lagi Naina ulang tahun.


” Naina dimana?” tanya Husna, dia berada di mobil yang berbeda dengan orang tuanya tadi.


” Lagi di luar, nanti juga pulang” jawab Kabir.


” Kita kan mau datang, Naina kenapa malah keluar. Aneh banget” kata Husna.


” Mungkin Naina dan suaminya sedang sama-sama mengurus untuk acara resepsi pernikahan nanti, mereka berdua lagi repot Husna” tutur pak Fahmi menegur Husna yang berbicara seperti itu tentang Naina.


” Mari masuk" ajak Bi Astri kepada semuanya. Semuanya masuk dan Mirza yang terakhir, dia tertegun melihat rumah besar dengan pekarangan seluas itu.


****


Di toko, Ai sedang makan siang bersama Dita dan Mia. Dia memiliki teman sekarang, kedua mata Ai berbinar saat melihat kedatangan mobil suaminya. Dan mobil Ali berhenti. Ali terus tersenyum lalu keluar dan dia membukakan pintu untuk istrinya, Rosa. Rosa keluar dan tangannya langsung di raih oleh Ali.


” Biar aku aja” kata Ali saat Rosa hendak membawa tas cukup besar. Rosa tersenyum lebar dan menoleh, tatapannya dan tatapan Ai bertemu. Untuk pertama kalinya, keduanya di pertemukan setelah Ali dan Ai menikah. Rosa melepaskan genggaman tangan suaminya dan Ali menoleh, Ali melihat ke arah yang dilihat oleh Rosa. Dia raih lagi tangan Rosa dan mengajaknya berjalan bersama, Ai juga bangkit dan mendekati keduanya.


” Mas" sapa Ai lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Ali, genggaman tangan Ali terlepas dan Rosa terlihat akan menangis.


” Mas, aku duluan” ucap Rosa dan melangkah pergi belum sempat Ali mencegahnya.


Mia dan Dita memperhatikan cinta segitiga tersebut.


” Di poligami gimana rasanya ya?" tanya Mia kepada Dita dan Dita menoleh.


” Kalau mau nyobain, cobain aja” sahut Dita dan Mia tersenyum kecut.


” Kamu kerja aja lagi, aku ke ruko dulu” kata Ali dan Ai mengangguk, Ali pergi membawa tas Rosa. Rosa akan kembali tinggal bersama dengan Ali di ruko, untuk sementara Ai tinggal di rumahnya karena Ali mengusulkan untuk mengontrak sebuah tempat tinggal, Ai menolak.


” Rosa” panggil Ali dan Rosa sedang di lantai dua ruko.


” Iya mas?” jawab Rosa, suaranya terdengar berat.


” Kenapa ninggalin aku tadi, jangan bicara aneh-aneh kepada Ai. Kalian harus bisa akur” kata Ali dan memegang kedua bahu Rosa, Rosa yang merasa dianggap selalu salah hanya bisa mengangguk dan dia pamit ke kamar mandi. Rosa mengunci pintu agar Ali tidak melihatnya menangis di kamar mandi.


*****


Di rumah sakit, Uwais menunggu di luar ruangan dimana Naina sedang di obati. Uwais yang tidak sabar memaksa masuk dan melihat Naina sudah siuman dari pingsannya.

__ADS_1


” Sayang” imbuh Syam dan mendekati Naina.” Bagaimana keadaan istri saya dokter?”


” Istri bapak baik-baik saja, lukanya untuk tidak terlalu dalam.”


” Apa lukanya di jahit?” Uwais panik, lalu memegang pipi istrinya.” Sakit ya sayang?”


” Tidak di jahit pak” seru perawat.


” Terus kenapa kalian lama sekali? aku hampir gila memikirkan istriku” Uwais berteriak-teriak. Semuanya diam dan Naina mendongak melihat suaminya.


” Mas aku gak kenapa-kenapa, kamu bisa tenang kan mas?” imbuh Naina dan menatap semua orang di ruangan tersebut, semuanya pergi karena memang sudah selesai.


” Mana yang sakit Nai? bilang sama aku. Aku minta maaf gak bisa jagain kamu, aku gak ngerti kenapa kamu teriak-teriak tadi. Aku bodoh Naina” Uwais benar-benar merasa bersalah, dia peluk istrinya sekilas lalu mengelus perut istrinya.” Anak kita baik-baik aja kan sayang?”


” Alhamdulillah aku sama anak kita baik-baik aja mas, jangan khawatir. Tenang ya mas” Naina menenangkan Uwais, dia usap usap punggung suaminya itu lalu Uwais menciumnya.


” Beneran kamu gak apa-apa sayang? kalau ada yang sakit bilang”


” Enggak mas” Naina tersenyum.” Keluarga aku dari kampung udah sampai mana mas? tas sama ponsel aku dimana?”


” Semuanya sudah di rumah, barang-barang kamu di mobil tadi. Aku lupa” ucap Uwais dan memeluk istrinya lagi. Naina tersenyum dan mengelus rambut suaminya.


” Sayang tadi kamu berlari, kita tunggu hasil Rontgen nya dulu” kata Uwais seraya melepaskan pelukannya.


Naina terdiam sejenak. Lalu menatap kakinya yang memang terasa ngilu.


” Apa kaki aku akan bertambah parah mas?"


” Enggak sayang enggak, kamu baik-baik aja” Uwais menenangkan, padahal dia juga sangat khawatir seperti itu. Naina tersenyum lebar.


****


Malam hari tiba, di ruko Ali kedatangan tamu yaitu Mirza. Keduanya berbincang di depan ruko.


” Bang Hasan tidak mau bicara sama aku mas” kata Ali.


” Gara-gara kamu sendiri, gadis itu hamil dengan kekasihnya kenapa kamu yang harus nikahin dia. Keluarga Rosa terutama Rosa pasti kecewa Ali, seharusnya kamu memikirkan hal ini sebelum melakukannya” Mirza juga kesal dengan keputusan Ali, semua keluarga kecewa dengan Ali dan tidak mau menganggap Ai apalagi anaknya.


” Kamu menikahi Ai dan jangan sampai melupakan Rosa, hubungan kamu dan Rosa akan terus terganggu. Rosa juga sedang hamil, kenapa kamu lebih memperdulikan Ai?”


” Karena Akbar yang menitipkannya padaku, aku sama sekali tidak memiliki perasaan untuk Ai mas”


Ai diam mendengarkan percakapan keduanya, Ai juga ada di ruko Ali tapi tidak bertegur sapa dengan Rosa. Ai akan diantar pulang sebentar lagi.


Di kediaman Naina, suasana hangat sedang menyelimuti rumah tersebut. Kakek mengobrol dengan pak Fahmi, Naina sibuk bermain-main dengan anak perempuan Husna dan Mirza yaitu Keyla.


” Nai, kamu kenapa? tangan kamu kayaknya bukan karena jatuh ya sampai terluka begitu” tutur Husna dan Naina terdiam, dia melirik pak Fahmi yang masuk ke dalam rumah lalu mendekatinya.


” Aku jatuh mbak” jawaban yang sama Naina berikan, pak Fahmi menepuk pucuk kepala Naina dan Naina menoleh.


” Uwais dimana?” tanya pak Fahmi.


” Ada urusan sebentar pak katanya" jawab Naina.


" Oh, besok kamu jangan terlambat bangun. Kamu duluan ke gedung, sekarang istirahat aja ya” kata pak Fahmi yang khawatir akan kondisi Naina dan Naina mengangguk. Naina meraih ponselnya dan mengetikkan beberapa kata untuk dia kirimkan kepada suaminya.


” Assalamu'alaikum mas, kamu dimana?” pesan terkirim.


Di kantor, Zidan yang memegang ponsel Uwais melirik Uwais yang sedang menyiksa pria yang sudah melukai Naina. Zidan tidak berani bersuara dan menunggu sampai Uwais selesai.


” Siapa yang menyuruhmu?” tegas Uwais dan mencengkram kuat kerah baju pria yang sudah berlumuran darah itu.


” Siapa?" teriak Uwais lagi karena pria itu malah tersenyum, Uwais memukuli nya lagi dan Zidan melirik bodyguard agar menghentikan Uwais. Uwais di tarik dan Zidan mendekatinya.


” Bu Naina” Zidan berbisik, tatapan Uwais berubah dan dia menyambar ponselnya. ” Biarkan saya yang urus dia"


Uwais melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut dan Zidan yang menghajar pria tadi.


” Bukan hanya babak belur, kau juga akan dipenjara. Kami bisa membayar siapapun di dalam penjara untuk menyiksamu setiap saat di sana." Tegas Zidan agar pria itu mau bicara.

__ADS_1


” Agghhh sakit” teriaknya saat Zidan menginjak tangannya.


” Bos ku sudah tidak bisa menawar lagi” Zidan juga mulai kesal.


Di luar ruangan, Uwais melangkah diikuti bodyguard dan Uwais sedang menelepon Naina. Di rumah, Naina sudah masuk ke kamarnya.


” Sayang, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam, mas kamu dimana? besok acaranya harusnya kamu gak kemana-mana mas”


” Iya sayang aku pulang sekarang”


” Beneran ya sekarang?”


Uwais tersenyum lebar.


” Kangen ya sama aku?"


” Iya” jawab Naina malu-malu dan Uwais bisa membayangkan bagaimana merah pipi istrinya jika sedang malu-malu begitu.


” Iya aku pulang sekarang”


” Ya udah Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Uwais memasukkan ponselnya kembali dan dia menoleh saat Zidan mendekat.


” Bagaimana?” tanya Uwais.


” Amira yang menyuruhnya bos, bos dan Bu Naina harus terima jika bodyguard terus menjaga. Bos besar akan khawatir jika tahu”


” Jaga kami dari kejauhan, aku tidak mau Naina risih dengan kalian semua"


” Baik" singkat Zidan dan Uwais melangkah pergi lalu Zidan mengikutinya.


Sesampainya di rumah Uwais buru-buru ke kamar dan benar saja Naina belum tidur karena menunggunya.


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


” Kenapa belum tidur?” Uwais bertanya dan memperhatikan cemilan biskuit, keripik, buah-buahan dan kue brownies coklat di kasur. Uwais tahu Naina mengalami nafsu makan yang meningkat setelah hamil.


” Kamu kenapa mas?” Naina meraih tangan suaminya yang penuh dengan darah kering dan lebam, Uwais merasa bodoh karena lupa dengan tangannya.” Kamu berantem? mas”


” Enggak sayang enggak, ada masalah tadi. Aku gak berantem tapi berusaha melindungi diri. Jangan khawatir, mau ini gak?” tutur Uwais lalu meraih buah anggur dan menggigitnya, dia mendekatkan bibirnya ke bibir Naina agar Naina menikmati buah anggur langsung dari mulutnya. Naina tersenyum sejenak lalu dia menggigit buah anggur sekaligus mendapatkan kecupan dan ciuman dari suaminya itu.


” Kunyah” titah Uwais dan Naina mengunyah buah anggur di mulutnya, Uwais tersenyum lalu meraih botol minum istrinya di atas meja dan meminumnya sampai habis. Uwais memindahkan semua cemilan istrinya ke atas meja dan dia naik ke atas ranjang dan Naina langsung merapat padanya.


” Aku belum mandi” Uwais berbisik.


” Enggak apa-apa mas” Naina tersenyum lalu menggesekkan wajahnya ke dada suaminya, Uwais mengelus rambut istrinya lembut dan menciumnya berulangkali. Dia tidak akan meminta jatahnya malam ini, Naina harus istirahat untuk besok.


******


Keesokan harinya, gedung sudah ramai di datangi oleh para tamu undangan. Ada larangan untuk membawa amplop kecuali hadiah dan hadiahnya hanya diperuntukan untuk Naina saja, entah mau apa Uwais yang jelas dia hanya mau hari ini menjadi hari spesial untuk nya dan untuk Naina. Keluarga Syam, bahkan keluarga besar dan ternama di tanah air yaitu keluarga Harsya sudah hadir. Uwais terlihat tidak sabar untuk melihat istrinya. Pelaminan megah, cahaya lampu berwarna-warni dan layar yang besar menampilkan foto Naina dan Uwais secara perlahan berganti.


” Ini bukan pernikahan Uwais, gugup sekali kamu” ujar Kaindra.


” Aku belum melihatnya dari subuh, mertuaku menyanderanya” Uwais tersenyum.


” Sabar” kata Kaindra lagi.


Semua tamu menoleh saat layar besar mati, lalu menampilkan beberapa gambar pemandangan dan tulisan nama Naina dan Uwais. Semuanya bersorak gembira saat layar besar tersebut terbuka perlahan dan menampilkan sosok Naina dengan ayah dan Kabir di sebelahnya, balutan gaun mewah berwarna abu-abu membuat Naina sangat anggun dan cantik hari ini. Uwais tersenyum dan Naina juga tersenyum.


” Naina!” teriak Kiran sambil melambaikan tangan dan Naina membalasnya.


” Cantiknya"

__ADS_1


” Cantik sekali” puji semua tamu.


” Cantik” puji Syam sambil tersenyum lebar, Fatma yang mendengar menoleh dan dia melihat senyuman tidak biasa dan tatapan dalam dari Syam untuk mantan istrinya itu. Fatma benar-benar tahu sekarang, bahwa Syam masih sangat mencintai Naina walaupun keduanya sudah bercerai.


__ADS_2