Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Penguntit


__ADS_3

Hari ini Naina ingin jalan-jalan, dia memakai jaket karena udara sangat dingin. Sore hari yang begitu ramai walaupun sudah turun hujan. Naina melangkah perlahan dan Uwais berada tepat di jalan yang akan dia lewati, Uwais mengusap wajahnya kasar, berusaha menahan tangisnya. Dia benar-benar ingin memeluk istrinya, Naina terlihat mengeluarkan ponselnya dan melangkah sambil menekan-nekan layar ponselnya.


Brugg! Naina menabrak tubuh Uwais.


” Haaa,,,,” Naina hampir terjatuh, Uwais merangkul pinggang istrinya itu dan menariknya. Naina menabrak dada Uwais kencang, pipinya menempel di dada Uwais. Uwais menutup matanya merasakan aroma wangi dari tubuh istrinya. Naina juga merasakan aroma tubuh pria yang sedang memeluknya itu, tercium tidak asing tapi entah siapa. Uwais membuka matanya saat Naina mendorongnya tiba-tiba.


” Maaf” kata Naina dan terus menunduk, dia melangkah pergi dan Uwais menatap ke langit mendung begitu merasa frustasi. Naina berhenti melangkah dan menoleh.


” Aku mengingatnya” lirih Naina dan setengah berlari mendekati Uwais.


” Aku ingat kamu” kata Naina dan Uwais menoleh, kedua matanya berbinar mendengar ucapan Naina.


” Kamu ingat aku? siapa aku?” Uwais memegang kedua bahu Naina, tapi Naina menepisnya dan Uwais bingung.


” Dasar pria mesum, waktu di rumah sakit anda juga memeluk saya dan sekarang anda mengikuti saya?” tuduh Naina dan menatap tajam Uwais.” Berhenti menyentuh saya atau saya teriak!" ancam Naina. Dan berlalu pergi meninggalkan Uwais, Uwais meremas rambutnya frustasi. Naina terus melangkah cepat meninggalkan nya Uwais berhenti melangkah saat ponselnya berdering dan dia lekas mengangkatnya.


” Halo”


” Bos Naura demam” adu Zidan. Uwais melirik Naina dan melangkah berlawanan arah.


” Ikuti Naina, aku pulang sekarang" titah Uwais dan Zidan mengangguk, Uwais berlari untuk segera pergi menuju parkiran dan segera pulang melihat Naura.


Sesampainya di rumah, Naura sedang digendong oleh bi Astri. Uwais melepaskan jaketnya dan mengambil Naura seraya menyelimutinya dengan jaketnya.


” Sejak kapan Naura demam?"


” Dari satu jam yang lalu bos, Naura terus memanggil Fatin” tutur Bi Astri sedikit takut.


” Siapkan mobil bi, saya akan bawa Naura ke rumah sakit sekarang”


Bi Astri mengangguk dan dia pergi.


” Papah” lirih Naura.


” Ini papah sayang, kita ke rumah sakit ya nak”


Naura menggeleng kepala ketakutan.


” Cuma di periksa, sama dokter Fani. Enggak di suntik kok, mau ya nak?"


” Iya papah”


Naura menurut, Uwais melangkah membawa putrinya pergi.


” Anak kita sakit, bohong kalau kamu tenang-tenang saja” gumam Uwais.


*****


Zidan berhenti melangkah setelah Naina masuk ke ruko nya, setelah bertemu dengan Uwais Naina pulang karena hari pun sudah sangat sore dan sebentar lagi gelap. Naina melepas kerudungnya, tapi dia cium kerudungnya itu dan parfum Uwais menempel di sana.


” Kenapa dia selalu ada dimana-mana?” imbuh Naina lalu menggantung kerudungnya dan ke kamar mandi untuk bersiap-siap untuk tidur.


Pukul 2 dini hari, Naina masih belum juga tidur. Dia terus memiringkan tubuhnya dan berusaha untuk tidur tapi tetap tidak bisa. Naina duduk di atas kasur sempitnya itu lalu diam melamun. Dia tidak bisa menyingkirkan bayangan Uwais di pikirannya, pria itu terus terbayang-bayang apalagi pelukannya yang begitu menghangatkan.


Keesokan paginya, Naina terlihat lesu karena tidak tidur semalaman. Ai datang sambil menggendong Alika. Naina menoleh dan memperhatikan Alika yang terus menatapnya. Naina tersenyum lalu meraih tangan mungil Alika.


” Alika berapa bulan Ai?”


” Baru 16 bulan, gak beda jauh sama Naura...”

__ADS_1


Glek! Ai menelan ludahnya kasar.


” Naura?” lirih Naina, tiba-tiba air matanya menetes tanpa sebab. Naina mengusap air matanya dan memperhatikan air matanya di jemarinya.” Siapa Naura?”


” Dia seorang anak perempuan berumur 18 bulan yang sama sekali belum melihat ibunya secara nyata, lewat foto dan video dia mengenal ibunya.”


” Apa ibunya meninggal?"


” Ibunya ada, hanya saja sedang sakit”


” Apa ibu dan ayahnya bercerai?"


” Enggak mbak, justru ayahnya Naura selalu menunggu kepulangan istrinya”


” Kenapa bisa begitu?” Naina bingung.


” Susah di jelasinnya mbak”


Naina terdiam, dan Ai memperhatikannya berharap ingatan Naina terpancing dengan ucapannya. Naina terlihat sedih, merasa dia yang sedang diceritakan oleh Ai.


***


Fatin kembali.


Karena Naura selalu menanyakan Fatin, mau tidak mau Uwais memanggil Fatin kembali. Dia tidak tega apalagi Naura sedang sakit.


” Kalau bukan karena Naura, kamu sudah jadi pengangguran Fatin. Tidak ada yang mau mempekerjakan kamu dengan sikap seperti ini” ketus bi Astri dan Fatin tidak peduli.


" Dasar nenek tua” makinya.


” Fatin" teriak Naura merasa senang melihat Fatin lagi.


” Awasi dia” titah Uwais kepada pelayan dan bodyguard lalu semuanya mengangguk. Uwais pergi ke ruangan kerjanya di sana Zidan sudah menunggu.


" Telepon Dita, aku mau berbicara dengannya" pinta Uwais dan Zidan mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Dita. Panggilan tersambung, Dita harus pergi keluar agar Naina tidak mendengar percakapannya.


” Bos mau bicara” kata Zidan.


” Oke" singkat Dita.


Zidan melangkah lalu memberikan ponselnya kepada Uwais.


” Halo Dita, aku mengirimkan sarapan untuk kalian semua. Khusus untuk istriku yang ada stikernya, bagaimana kabarnya hari ini?” tutur Uwais lalu memijat dahinya berulang kali, kepalanya terasa pusing.


” Bu Naina terlihat sedih pagi ini bos, jarang ngomong”


” Kenapa dia?" Uwais khawatir.


” Saya gak tahu bos" kata Dita.


” Saya bicara sendiri, gak ngomong sama kamu Dita"


” Iya maaf bos”


” Ya sudah, saya lagi kerja" kata Uwais dan mematikkan panggilan. Dia berikan ponsel kepada Zidan dan Zidan menerimanya.


Di toko Naina, Naina menatap makanan yang dikirim Uwais sementara ketiga pegawainya sudah memakannya. Naina bingung kenapa ada stiker di atas wadah sarapannya, karena sudah merasa lapar Naina membuka nasi kotak tersebut dan mendapatkan kertas memo berwarna pink.


”Selamanya adalah waktu yang lama, tapi aku tidak keberatan menghabiskan waktu untuk menunggumu.” Tulis Uwais di kertas tersebut.

__ADS_1


Naina tidak menghiraukannya, dia menempelkan kertas tersebut di dalam bukunya lalu menikmati sarapan tersebut dengan lahap. Yang dia tahu Dita membeli sarapan tersebut, jika ada seorang pria yang membelikannya tidak mungkin Naina mau menerima.


****


Tak sengaja bertemu.


Hari ini Uwais seperti biasa mengikuti Naina, dia mengendarai moge nya dan mengikuti Naina yang membawa motor matic. Naina sedang memikirkan sesuatu hal, yaitu saldo ATM nya. Dia mencari tahu dari mana dia mendapatkan transferan uang setiap harinya dan nama Uwais yang tertera.


” Uwais” imbuh Naina lalu berhenti saat lampu merah menyala. Naina berhenti bersebelahan dengan mobil Syam, Syam menoleh dan terkejut melihat Naina. Sementara dari belakang Uwais terus memperhatikan istrinya. Syam menurunkan kaca mobilnya untuk melihat Naina lebih jelas, Naina yang sadar di perhatikan menoleh. Naina bingung dan Syam tahu ingatan Naina sedang terganggu. Naina menatap lurus ke depan, begitu acuh karena tidak mengenal Syam. Uwais yang melihat Syam dari kaca spion terkejut, dia tidak mau Syam memanfaaatkan keadaan istrinya. Lampu hijau menyala, Naina kembali melaju dan Uwais juga, Uwais berusaha menghalangi Syam yang ingin mengikuti istrinya. Syam berulangkali menekan klakson mobil tapi Uwais tidak perduli.


” Ini orang ngapain sih?" gerutu Syam.


Uwais terus menghalangi Syam sampai dia melihat Naina berbelok masuk ke dalam gang dia merasa lega, tapi Uwais terus menghalangi Syam sampai dia menghentikan motornya mendadak dan Syam hampir kehilangan kendali.


” Sial” umpat Syam dan memegang keningnya yang membentur setir mobil, dia keluar dari mobil dan Uwais juga turun dari motornya. Syam melangkah cepat dan mencengkram kuat kerah baju Uwais. Uwais tersenyum dari balik kaca helm nya.


” Siapa kamu?” tegas Syam bertanya. Uwais menarik helm nya dan Syam terkejut, Uwais membalas cengkraman tangan Syam lebih kuat.


” Berhenti mendekati istriku”


” Naina hilang ingatan, itu yang kamu takuti?” Syam tersenyum lebar dan Uwais mencekik lehernya.


” Walaupun Naina mengalami amnesia, bukan berarti siapapun bisa mendekatinya untuk memanfaatkan. Karena aku masih ada, untuk menjaganya”


” Kita lihat saja Uwais, Naina lebih percaya sama kamu atau sama aku.”


” Kita lihat saja” tegas Uwais sama sejak tidak takut dengan ancaman Syam, Uwais melepaskan cengkeramannya dan dia kembali naik ke atas motornya lalu pergi meninggalkan Syam. Syam terus tersenyum, ada kesempatan untuknya kembali dengan Naina. Uwais pergi menyusul istrinya, Naina berhenti di sebuah taman dan Uwais juga berhenti di sana. Uwais masuk ke taman dan mencari Naina, Naina sedang duduk sendirian dan Uwais duduk di belakangnya. Memperhatikan punggung istrinya dengan seksama. Naina terlihat begitu kurus. Uwais sedih melihatnya.


” Aku siapa? seperti apa aku dulu. Kenapa ada bekas operasi sesar di sini" gumam Naina seraya menyentuh perutnya.” Apa aku pernah hamil?” gumamnya lagi.


Naina menangis, dia merasa terpuruk karena tidak mengingat apapun. Uwais menoleh saat ada penjual es krim, dia bangkit dan membeli satu es krim untuk istrinya yang sedang menangis. Uwais meletakkan es krim di sebelah istrinya lalu menepuk bahu Naina sampai Naina menoleh dan melihat es krim di sana, sementara Uwais duduk lagi di belakang. Naina meraih es krim tersebut lalu menoleh ke belakang dan melihat Uwais di sana.


” Kamu lagi?” lagi-lagi Naina marah melihat Uwais.


” Jangan menangis, kamu pasti bingung harus percaya pada siapa. Dan orang yang paling kamu benci ini adalah suami kamu sendiri” tutur Uwais dan Naina tidak percaya semudah itu.


” Penguntit, anda sama sekali tidak lebih dari seorang penguntit”


” Kamu sedang bingung karena saldo ATM kamu kan? saya Uwais, saya yang membuat kamu bingung dengan saldo ATM kamu Naina” ucap Uwais dan Naina terkejut mendengarnya. Naina menadahkan tangannya.


” KTP” tegas Naina meminta, Uwais merogoh sakunya. Menarik KTP dari dompetnya dan dia berikan kepada istrinya itu, Naina mendelik sebal lalu menyambar KTP dari tangan Uwais. Naina terdiam melihat KTP Uwais dan memberikannya lagi. Tapi dia tetap tidak percaya, Naina melangkah pergi dan Uwais meraih es krim yang dia beli mencair. Uwais memasukkannya ke tong sampah dan menatap kepergian istrinya. Uwais benar-benar merasa sedih.


*****


Naura.


Malam hari tiba, seperti biasa Naura tidur bersama papahnya. Uwais membelai rambut Naura yang berwarna hitam kecokelatan itu lembut, Naura tak kunjung tidur dan Uwais menatapnya lekat begitu juga sebaliknya.


” Kenapa anak papah belum juga bobo? bobo ya?"


Naura menggeleng kepala.


” Mamah” lirih Naura, bibirnya tiba-tiba mengerucut. Kedua matanya berair dan hidungnya merah, tangannya pecah. Ingin mengadu tapi bingung caranya bagaimana, sore ini bi Astri mengajaknya jalan-jalan dan anak-anak lain juga ada di sana. Menikmati waktu sore mereka dengan orangtuanya, Naura sedih saat melihat anak-anak sebayanya bisa memeluk ibu mereka dengan dan bermain bersama, sementara dirinya. Hanya papahnya yang selama ini menemani.


Uwais memeluk Naura erat, putrinya terus menangis sesenggukan.


” Papah janji, nanti Naura ketemu sama mamah. Papah janji sayang” lirih Uwais.


Naura tetap menangis, saking lelahnya dia menangis. Dia tertidur dalam pelukan papahnya, Uwais melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh mungil Naura perlahan. Uwais menarik selimut sampai ke dada putrinya itu lalu diam menatap wajah cantik putrinya.

__ADS_1


” Sudah waktunya, Naura bertemu dengan Naina secara langsung. Apapun yang terjadi, Naina harus bisa aku buat percaya jika aku suaminya dan dia memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik dan pintar” tutur Uwais lalu mengecup kening Naura sekilas.


__ADS_2