
Di sekolah, Naina sedang mengemil dan memeriksa buku murid-muridnya. Memeriksa jawaban dari soal yang dia berikan, Naina mengernyit heran melihat tulisan aneh di buku Rizal.
” Bu Naina, i love you”
Brakk! Naina membanting buku Rizal me meja sebelah kirinya. Bagaimana bisa Rizal seperti itu, Zidan sudah tobat muncul Rizal yang lebih berani.
” Astaghfirullah hal adzim, punya murid gak perempuan gak laki-laki bikin darah tinggi" berbisik Naina tapi dia tetap harus sabar menghadapi murid-muridnya dan akan menghukum Rizal sekarang juga.
#
Rizal mendelik sebal berulang kali dan melirik Naina, wajahnya terlihat kesal karena dihukum berdiri sambil memberikan hormat ke bendera. Naina memperhatikan dari kejauhan dan Romi yang memperhatikan Rizal dari dekat. Naina menoleh dan melihat Rangga datang.
” Bu Nai, sayang sekali bu Naina tidak datang ke pernikahan saya” tuturnya kecewa.
” Saya kan sudah kirimkan hadiah untuk isteri bapak, saya sibuk jadi gak bisa hadir. Mohon maaf pak” Naina melangkah ingin pergi tapi Rangga menghadangnya.
” Bu Naina benar-benar tidak apa-apa? saya ikut prihatin atas apa yang terjadi pada pernikahan Bu Naina. Syam memang tidak baik, sudah berulang kali ibu saya peringatkan” kata Rangga agar Naina menyesal telah memilih Syam daripada dirinya.
Naina hanya tersenyum tipis.” Alhamdulillah, saya menikmati dan sudah mulai bisa menerimanya. Seluruh dunia mengecap suami saya salah, tapi saya tahu suami saya adalah suami yang baik” tegas Naina dan melangkah pergi meninggalkan Rangga yang terus memperhatikannya, Rangga berdecak kagum melihat ketabahan Naina dan dia sedih melihat Naina seperti itu.
#
Pulang sekolah. Naina antusias saat Syam mengirimkan pesan bahwa dia sudah menunggu istrinya seperti biasa. Naina keluar dari ruangan guru untuk segera pulang. Naina menatap sinis saat Rizal ternyata menunggunya. Naina melangkah cepat dan Rizal mengejarnya.
” Ibu jangan memaksakan diri, kalau ibu jatuh gimana?"
” Ya kamu jangan dekat-dekat sama ibu”
” Ibu kenapa menghukum aku tadi? aku protes" Rizal merengek-rengek seperti anak kecil meminta jajan.
” Ya karena kamu salah Rizal”
” Apa mencintai itu salah? tidak ada yang salah dalam cinta Bu"
Naina menoleh dan menatap Rizal tajam, Rizal tersenyum manis dan mengedipkan matanya genit.
” Ishh” Naina sudah mengangkat bukunya ke udara dan Rizal kabur meninggalkannya.” Sabar Nai” katanya kepada diri sendiri dan melangkah pergi karena Syam sudah menunggunya.
Naina tersenyum saat melihat Syam benar-benar sudah menunggunya.
__ADS_1
” Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Naina menyalami tangan Syam dan Syam membukakan pintu mobil, Naina masuk dan tidak lama Syam juga masuk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan sekolah.
” Mas aku mau tanya"
” Iya apa?”
” Mas bukannya temenan sama pak Rangga? tapi mas Syam tidak bilang-bilang sama aku tentang pernikahan Rangga?" Naina menatap suaminya.
” Ngapain, gak penting" ketus Syam, dia menerima surat undangan pernikahan Rangga tapi dia tidak mau datang sekalipun membahasnya. Naina mengangguk dan tidak mau berbicara lagi setelah melihat raut wajah suaminya kesal karena dia membahas Rangga.
***
Di rumah, Amira sedang meminum susu hamil di balkon. Dia melamun dan merasa percuma, semua yang dia lakukan membuat Syam semakin jauh darinya sekalipun dia sudah menjadi istri Syam.
” Kapan dia bisa bersikap baik seperti bersikap baik sama Naina" lirih Amira sedih.
” Syam tidak akan pernah bersikap baik, selama Naina ada" kata Hamdan dan Amira menoleh melihat pria berumur hampir kepala 4 itu. Amira terus menatapnya, apa Hamdan mau membantunya? mau membantu agar Syam bisa bersikap baik padanya. Bagaimana pun caranya dia harus bisa menyingkirkan Naina.
” Maksudmu?”
” Setuju” Amira mengulurkan tangannya dan Hamdan tersenyum tipis lalu berjabat tangan dengan Amira. Keduanya tersenyum dan diam sambil menikmati minuman masing-masing.
Tari yang mendengar sekilas percakapan suaminya dan Amira khawatir dengan keselamatan Naina.
” Apa dia akan melakukan sesuatu sama Naina? jangan sampai. Naina wanita baik-baik, Syam benar-benar ditipu oleh Amira” Tari berbisik dan merasa bersalah kepada Naina.
Di luar rumah, Naina dan Syam baru sampai. Naina tidak ke toko dan ingin istirahat, Naina dan Syam bergenggaman tangan lalu masuk ke dalam rumah.
” Mas mau kopi?"
” Kamu istirahat saja sayang, aku bisa buat sendiri” Syam menolak, karena tahu pasti istrinya lelah saat ini. Dan dia bisa membuatnya sendiri.
” Tapi mas.."
” Duduk disini, aku buat kopi sekalian susu untuk kamu” Syam tersenyum dan Naina akhirnya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Syam pergi dan Naina menunggu sambil mengusap perutnya, Tari menuruni tangga dan mendekati Naina.
” Eh mbak Tari” sapa Naina.
” Nai, aku mau bicara ikut aku" ajak Tari dan Naina bingung.
” Mbak aku capek, disini aja ngomongnya” Naina menolak dan dia benar-benar lelah saat ini.
” Aduh Naina, sebentar saja ayo” Tari memaksa tapi dia berhenti saat melihat Amira menuruni tangga dan melangkah mendekatinya dan Naina, Tari tidak mau Amira ataupun Hamdan tahu kalau dia menguping tadi. Mungkin sekarang bukan waktunya dia berbicara dengan Naina.
” Mbak" panggil Naina saat melihat Tari pergi begitu saja dan Amira menabrak dada Tari sengaja, Amira dan Tari saling menatap tajam lalu Tari memilih pergi. Mengalah.
” Naina, Syam mana?” ketus Amira lalu duduk dan Naina melirik Syam yang datang membawa kopi dan susu.
" Oke terima kasih” Amira merebut segelas susu yang dibuat Syam untuk Naina.
” Itu untuk Naina, berikan sama Naina" titah Syam dan Amira tidak mau.
” Aku juga isteri kamu, apa salahnya?” Amira ketus dan meminum susunya.
” Mas” Naina menatap suaminya agar suaminya berhenti mengajak Amira berdebat, karena tidak akan ada habisnya." Aku mau air putih saja”
” Ambilkan air" titah Syam kepada bibi dan bibi pergi.
Syam dan Naina duduk bersebelahan, Amira merasa iri dan pindah. Kini, Syam berada di antara kedua istrinya.
Naina menerima air yang dia mau lalu meminumnya perlahan-lahan, Syam diam begitu juga dengan Naina. Amira mengoceh dan berulang kali menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
” Mas aku duluan, mbak Amira aku duluan” Naina berpamitan untuk pergi ke kamarnya. Syam ingin menyusul Naina tapi Amira menahannya.
” Walaupun kamu lebih mencintai Naina, kamu harus bersikap adil sama aku mas" tegas Amira.
” Lepas, aku mau ke kamar" Syam berusaha menyingkirkan tangan Amira dari tangannya tapi Amira terus menahannya.
” Auw" Amira meringis saat Syam tidak sengaja menyenggol perut besarnya kasar.
” Amira,” Syam panik.
” Kamu boleh gak suka sama aku, tapi jangan begini. Auw" Amira merasa linu dan terus memegang perutnya.
__ADS_1
” Kita ke rumah sakit, ayo" Syam menggendong Amira untuk segera di bawa ke rumah sakit, Amira merasakan sakit yang teramat sangat sekarang. Naina memperhatikan Syam yang menggendong Amira.
” Huff" hembusan nafasnya begitu lemah dan Naina benar-benar cemburu melihatnya.