
Naina membasuh wajahnya, berusaha menenangkan diri atas teror tadi di dalam toilet. Ponsel Naina kembali bergetar, kini panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Nomornya berbeda dengan nomor yang mengiriminya pesan. Karena Naina takut panggilan tersebut adalah panggilan yang sangat penting akhirnya dia mengangkatnya.
” Assalamualaikum” salam Naina dan dia menunggu orang yang meneleponnya menjawab salamnya.
” Jauhi Syam, betapa bodohnya kamu karena sudah di tipu sampai mau menikah dengannya” terdengar suara seorang pria yang marah kepada Naina. Naina diam, berusaha menguasai ketakutannya.
” Siapa ini?” suara Naina bergetar, dia benar-benar takut dan terus beristighfar dalam hati.
” Tinggalkan Syam” tegas pria di seberang sana lalu menutup panggilan begitu saja. Naina meneteskan air matanya, kenapa banyak orang yang mau memisahkannya dengan Syam. Dia tidak mau meninggalkan suaminya, selama suaminya mencintainya. Sekalipun dia harus dimadu.
***
Di rumah sakit, Amira memperhatikan suaminya yang sedang mengemasi semua barang-barang. Dia hanya di rawat satu malam, dan saat ini sudah bisa pulang dengan catatan harus istirahat total sampai waktu kelahiran anaknya.
” Syam” panggil Amira dan Syam menoleh.
” Apa?" ketus.
” Anak kita gak bisa diam Syam, lihat ini" Amira begitu antusias dan memperlihatkan perutnya yang bergetar karena bayinya terus menendang.
” Berhenti mengatakan bahwa itu anakku” tegas Syam dan Amira yang marah melemparkan bantal ke tubuhnya.
” Kamu boleh benci sama aku, tapi anak kita tak salah apa-apa” Amira sudah hampir menangis, seorang perawat masuk untuk melepas infusan dan memeriksa Amira lagi. Amira menangis dan Syam menatapnya kesal, perawat tersebut diam dan tidak mengeluarkan kata-kata, hanya bekerja dan tidak mau ikut campur dengan urusan pasien kecuali jika sudah menganggu ketenangan pasien lain dan melakukan tindak kekerasan.
*****
Pulang sekolah, Naina menunggu Rizal untuk meminta Rizal mengantarkannya ke kantor polisi dimana Aldi bekerja. Naina sudah merasa buntu, teror semakin menjadi dan dia butuh bantuan Aldi dan Asil. Asil sudah pasti tidak akan keberatan membantunya untuk membujuk Aldi agar mau membantunya, Naina takut bayinya menjadi korban orang yang menerornya.
” Rizal" panggil Naina dan Rizal menoleh.
” Kenapa ibu masih disini? seharusnya pulang dari tadi kan?" Rizal bingung, raut wajah kebahagiaan terpancar jelas. Tak apa jika tidak bisa memiliki, setidaknya jika Naina membutuhkannya berarti Naina mempercayainya.
” Kamu tahu mas Aldi bekerja di kantor mana? aku harus bertemu dengannya" kata Naina dan Rizal mengernyit heran.
” Kenapa harus melibatkan kakak ku" Rizal kesal dan tidak mau, dia tidak mau di ceramahin Aldi nanti.
” Ibu gak tahu harus meminta bantuan sama siapa lagi kalau bukan sama kamu dan mas Aldi, nanti ibu juga akan bicara sama mbak Asil. Dan jangan sampai suami ibu tahu, awas kamu” meminta sekaligus mengancam, Rizal malah tergelak mendengarnya. Rizal melangkah dan melirik kanan-kiri mencari taksi. Naina diam dan menunggu, taksi mendekat dan berhenti. Rizal membukakan pintu mobil dan Naina masuk di susul dirinya juga.
” Jangan dekat-dekat" Naina meletakkan tas nya di antara dirinya dan Rizal, Rizal menggeleng kepala dan menyenderkan kepalanya.
Mobil pun melaju dan Rizal yang mengatakannya, sesampainya di kantor polisi. Aldi sedang tidak ada, dan akhirnya Rizal meminta Aldi untuk datang ke restoran dan dia dan Naina akan menunggu disana. Naina diam dan menunggu sementara Rizal sibuk makan dan minum, Naina memijat dahinya berulang kali. Tidak tahu diri, muridnya itu benar-benar membuatnya rugi. Memesan makanan dan minuman mahal sesuka hati, katanya imbalan. Jelas sekali itu adalah perampokan. Naina tidak akan mau meminta bantuan Rizal, tapi karena dia sudah bingung, dia terpaksa.
__ADS_1
” Itu Abang" tunjuk Rizal dan Naina menoleh, Naina membuang nafas kasar. Sebagai bentuk kelegaan karena akhirnya Aldi menyempatkan waktu untuk mau bertemu dengannya.
” Assalamualaikum" ucap Aldi.
” Waalaikumsalam” jawab Naina dan Rizal.
” Pasti sudah menunggu lama, aku ada urusan tadi" kata Aldi dan memperhatikan Rizal yang makan dengan rakusnya.
” Saya yang merasa tidak enak hati karena menganggu mas Aldi, saya minta maaf sebelumnya. Tapi ini masalah penting dan saya tidak bisa lama-lama” tutur Naina dan Rizal berhenti menikmati makanannya.
” Iya silahkan, jika bisa membantu aku akan usahakan” kata Aldi dan Naina mengangguk.
” Saya pernah diserang, apa mas Aldi sudah bisa menemukan jejak atau apapun dan siapa pria yang hampir menyakiti saya itu?” Naina benar-benar gelisah.
” Oh itu, dia hanya orang suruhan. Ada orang lain di belakangnya" kata Aldo dan Naina memberikan ponselnya.
” Teror yang saya dapatkan semakin menjadi-jadi mas, ini pesan dan nomor yang menelepon dan mengancam saya" Naina meletakkan ponselnya dan Aldi meraih ponselnya. Aldi mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan serta nomor tersebut ke ponselnya untuk diselidiki.
” Saya usahakan untuk mencari siapa dan kenapa orang ini selalu menganggu dan meneror, saya akan memberitahu mbak Naina jika ada informasi yang saya dapatkan” tutur Aldi dan meletakkan ponsel Naina kembali.
” Terima kasih banyak sebelumnya mas, saya minta maaf karena sudah menganggu. Kalau begitu saya pamit karena harus segera pulang, saya tunggu kabarnya” Naina berharap banyak dari Aldi saat ini.
” Iya, saya usahakan. Emm maaf biar saya yang bayar Bu Naina bisa langsung pulang” Aldi tahu adiknya selalu memesan makanan mahal dan itu tanggung jawabnya.
” Enggak usah, adik saya ini memang sedikit tidak tahu diri. Biar saya yang bayar, sebaiknya Bu Naina segera pulang hati-hati di jalan” Aldi terus menepuk-nepuk bahu adiknya sampai Rizal tersedak.
” Tapi..”
” Ibu pulang saja, mau aku anterin?” seru Rizal dan Naina mengernyit.
” Ya sudah saya pulang, permisi. Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam"
Naina melangkah pergi meninggalkan keduanya, dan dia pergi keluar lalu mencari taksi.
*****
Di rumah Syam menunggu kedatangan Naina di teras, tatapannya begitu tajam dan Amira diam memperhatikan suaminya. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya Syam akan marah besar kepada Naina dan itu adalah saat-saat dimana dia harus menaklukan Syam. Syam dan Amira menoleh saat melihat taksi berhenti dan terlihat Naina keluar dari dalam taksi, Naina melangkah masuk melewati pintu gerbang setelah satpam membukanya. Naina tersenyum dan terus melangkah mendekati suaminya.
” Pergi” tegas Syam kepada Amira.
__ADS_1
” Kenapa?" Amira bingung.
” Pergi!” teriak Syam dan Amira terkejut, Amira pergi dan Naina berhenti tersenyum ketika melihat suaminya yang sedang berteriak-teriak itu.
” Assalamualaikum” ucap Naina.
Naina terkejut saat Syam memegang kedua bahunya kuat-kuat, mama Novi yang sedang menyiram tanaman terkejut melihatnya.
” Mas sakit” Naina merasa ngilu karena cengkraman suaminya, Hamdan diam dan memperhatikannya. Melihat Naina tersiksa adalah sebuah tontonan yang sangat menarik, apalagi gratisan.
” Dasar murahan, pulang jam segini karena keluyuran sama laki-laki lain hah!" berteriak.
” Syam, tenang. Masuk dan bicarakan baik-baik” seru mama Novi walaupun dia tidak tahu masalahnya apa sampai Syam marah seperti itu kepada Naina.
” Mama masuk!" bentak Syam dan mama Novi menatapnya kesal lalu pergi, merasa sakit hati karena dibentak anaknya sendiri.
” Mas sakit, lepas mas. Kalau aku salah ayo bicarakan baik-baik jangan begini, kamu selalu nyakitin aku, maki-maki aku, apa salah aku mas?" kedua mata Naina berkaca-kaca, begitulah suaminya yang selalu kasar padanya. Lebih tepatnya kepada semua orang.
” Apa ini, bikin malu!” Syam memperlihatkan foto Naina saat sedang berpelukan dengan Romi, padahal itu salah paham.
” Mas aku bisa jelasin, itu jebakan mas. Aku gak tahu apa-apa, pak Romi juga gak salah mas" Naina berusaha menjelaskan tapi Syam mencengkram kedua pipinya agar diam.
” Kamu memang selalu seperti ini Naina, kamu murahan” Syam berteriak dan melepaskan cengkeramannya, Naina mundur menjauh saat Syam membanting ponsel tepat di depan kakinya.
” Syam!” bentak nenek Wilda tapi Syam tidak perduli, Naina menangis dan Syam menatapnya tajam.
” Kamu udah bikin aku kecewa Nai" lirih Syam dan masuk ke dalam rumah dengan langkah tegas, Naina diam dan dia merasa malu karena semua orang di rumah tahu Syam selalu kasar walaupun dia adalah istrinya.
****
Keesokan paginya, Naina sedang melangkah sendirian menuju dapur untuk membuat susu untuknya. Amira datang dan keduanya sama sekali tidak saling menegur, Amira malas dan Naina sedang sedih karena suaminya sama sekali tidak datang padanya. Padahal semalam seharusnya Syam bersamanya, karena jatahnya.
” Mbak Amira maaf" tegur Naina yang penasaran dan ingin bertanya. Amira menoleh dan menatapnya.
” Jangan ngajakin aku ribut Nai, kata dokter aku gak boleh stres”
” Aku cuma mau nanya mbak, mas Syam semalam tidur di kamar Mbak?” lirih Naina.
” Iya, emang kenapa? gak boleh? bayi ku tidak bisa diam Syam memegang perutku. Anakku sangat peka, dia tahu ayahnya yang sedang menyentuhnya" Amira tersenyum lalu duduk menikmati sereal.
” Amira, buatkan aku kopi" titah Syam yang datang dan Naina memperhatikannya.
__ADS_1
” Biar aku yang buat mas, mbak Amira sedang makan" jawab Naina.
” Siapa yang ngomong sama kamu? aku bicara sama Amira bukan sama kamu" ketus Syam dan Naina menundukkan kepalanya. Amira mendelik sebal, yang benar saja dia harus membuat kopi. Walaupun malas Amira tetap bangkit untuk membuatkan kopi, mungkin dengan itu Syam bisa lebih dekat padanya.