Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Pernikahan ke 2


__ADS_3

Naina bangun kesiangan hari ini karena di tidak tidur sampai subuh, Ai sudah membuka toko dan sibuk sendiri. Setelah bersiap, Naina turun dan mulai membantu Ai.


” Mbak gak tidur semalaman?”


” Iya Ai, kenapa kamu tahu?”


” Wa mbak aktif terus, berkirim pesan sama siapa sampe semalaman?”


” Berarti kamu juga gak tidur ya Ai, aku berantem sama Kabir semalaman”


” Kirain sama mas Uwais” goda Ai.


” Apaan sih Ai” Naina kesal.


” Mas Uwais ngirim sarapan buat mbak Nai sama aku, aku udah makan tinggal mbak Nai” ucap Ai, seraya melirik meja dan Naina menoleh. Naina menatap kotak makanan berwarna putih itu lalu dia duduk, dia tarik kertas memo di atasnya lalu membacanya.


” Jangan memuji, Ini bukan masakan ku aku tidak bisa memasak, aku harap kamu mau memakan nya. Aku minta maaf” tulis Uwais, Naina diam sejenak lalu membuka kotak makanan. Naina memperhatikan nasi goreng yang dari bau nya saja membuat perutnya semakin bernyanyi. Naina memasukkan satu sendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya, dia berdoa terlebih dahulu dan Naina tersenyum karena rasanya sangat enak. Lalu dia melanjutkannya, walaupun Naina sesekali terlihat melamun dan memikirkan ucapan Syam sekaligus Ali yang harus dia lupakan sekarang. Setelah dia selesai sarapan, Naina mencuci kotak makanan itu dan kembali bekerja.


Ponsel Naina berdering dan panggilan masuk dari Kabir.


” Assalamu'alaikum Kabir, apalagi?”


” Wa'alaikumus Salaam, ini bapak”


” Astaghfirullah, maaf pak Nai kira Kabir


” Kamu sama Kabir masih ada suka berantem, bapak pengen denger suara kamu. Kenapa gak pernah angkat telepon dari bapak, karena lamaran itu kamu gak mau ngomong sama bapak?”


” Bukan begitu pak” Naina bingung.


” Jangan dipikirkan, Nai dengerin bapak baik-baik ya” terdengar serius.


” Iya pak?” Naina tegang.


” Kemarin ada seorang laki-laki sama kakeknya datang kemari, cucunya ganteng namanya Uwais salam kakeknya kakek Baskoro. Mereka datang ingin melamar kamu untuk Uwais nak, bapak udah ngetes dia, insya Allah Sholeh. Jadi janda itu gak enak Nai, enggak ngapa-ngapain aja jadi fitnah. Ini sudah satu tahun, bapak khawatir sama kamu” tutur pak Fahmi menjelaskan, prihal Uwais dan kakeknya yang datang untuk berniat melamar Naina tanpa sepengetahuan Naina. Naina jelas terkejut mendengarnya, memang sudah beberapa hari dia tidak melihat Uwais dia kira pria itu berhenti tapi malah datang langsung ke rumah orang tuanya.


” Dia gak sebaik itu pak, Naina gak mau”


” Ya kamu terus maunya yang kayak gimana, ini ada laki-laki yang berani datang langsung malah kamu cuekin Nai” suara pak Fahmi meninggi dan Naina diam.


” Nai, mau ya nak. Bapak udah ngajuin syarat sama Uwais.”


” Syarat apa?”


” Surah Ar Rahman setelah ijab qobul”


Naina terkejut.


” Bapak dia mantan narapidana”


” Iya bapak tahu, dia bilang sendiri”


” Terus bapak biasa aja?” Naina merasa syok, rayuan apa yang dilakukan Uwais sampai ayahnya begitu percaya.


” Semua orang pernah salah, orang dia masuk penjara karena kesalahan orang lain. Dia sudah cerita sejelas mungkin sama bapak”


Naina memijat dahinya berulang kali, merasa frustasi.


” Semoga Uwais segera nemuin kamu ya Nai, biar kamu ngobrol untuk urusan lamaran dan pernikahan”


” Emmm bapak Nai mau ngomong sama Kabir sebentar”


” Iya nih bapak kasih sama Kabir ya”


” Kenapa mbak?”


” Kamu kenapa gak bilang kalau kemarin ada orang yang datang, kita berantem semalaman kabir”


” Emang pantes ya ngomongin hal itu di saat mbak lagi marah, aku juga punya pikiran. Semua keluarga sudah setuju, mbak harus tahu bang Uwais bawa banyak makanan sama parsel buat mbak.”


” Mbak gak perduli Kabir”

__ADS_1


” Dih, marah. Bang Uwais baik, bapak sampe ngetes dia ngaji”


” Terus?”


” Lancar”


” Yang bener kamu?”


” Ya”


Naina diam, lalu ponselnya mati kehabisan baterai. Naina tidak habis pikir dengan Uwais yang nekad seperti itu.


******


Keesokan harinya, kedatangan Uwais berbarengan dengan kedatangan Rizal ke toko Naina. Hari sudah malam, Naina sedang beres-beres untuk menutup toko.


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam” jawab Naina dan Ai.


” Bu Nai” seru Iqbal dan memperhatikan Uwais dari ujung rambut sampai ujung kaki. Uwais membawa buket bunga dan dia memakai setelan baju begitu rapih, lebih rapih dari biasanya.


” Ikut” ajak Naina keluar dari toko dan Uwais mengikutinya. Rizal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


” Ai, dia siapa?” Rizal akhirnya bertanya.


” Calon suaminya mbak Nai” jawab Ai dengan ekspresi mengejek Rizal.


” Gak bener” Rizal melangkah keluar untuk menyusul Naina dan Uwais. Tapi sayang Naina sudah masuk ke dalam mobil dan Uwais menutup pintu mobil, dia memutari mobilnya dan dia pun masuk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ali terbakar rasa cemburu melihat Naina bersama pria lain, Ali bahkan sampai keluar dari toko untuk melihat jelas kepergian Naina. Ai juga keluar dan memperhatikan kedua laki-laki itu terlihat galau melihat Naina dibawa Uwais.


” Aku mau turun” Naina kesal.” Kenapa memaksaku masuk ke mobil kamu, kamu mau bawa aku kemana Uwais. Aku bisa teriak ya” ancam Naina dan Uwais meliriknya sekilas.


” Aku tidak mau berbicara di toko kamu, ada Ali terus memperhatikan kita”


” Kegeeran” cibir Naina sambil mendelik sebal.” Aku mau turun”


” Oke” Uwais melambatkan laju mobilnya dan menepi di tepi jalan. Naina mencoba membuka kunci pintu mobil tapi Uwais tidak membiarkan.


” Aku mau keluar, kamu memaksa, aku gak suka. Jangan macam-macam kamu” Naina mulai ketakutan, takut Uwais macam-macam padanya. Uwais membuka pintu mobil dan Naina keluar lalu Uwais menyusulnya. Naina ingin pergi tapi Uwais menghadang jalannya.


” No!”


” Naina, aku mohon” Uwais merentangkan tangannya menahan Naina agar tidak pergi.” Aku serius.


” Kenapa kamu datang ke rumahku?”


” Karena aku serius”


” Janji satu hal padaku Uwais”


” Apa?"


Naina menggigit bibir bawahnya kelu dan tidak memiliki pilihan lain.


” Aku mau, tapi aku kamu jangan membuat mas Syam di penjara. Aku tidak mau pernikahan yang mewah, dan aku mau kamu berubah untuk berhenti meneror mereka dan berusaha untuk membalaskan dendam. Kamu mau melakukan itu Uwais?” lirih Naina, tidak ada jalan lain selain menjinakkan Uwais agar Uwais berhenti meneror dan menguasai rasa dendam yang ada dihatinya. Uwais diam dan menatap kedua mata Naina. Uwais mengangguk lalu tersenyum.


” Aku janji” ucap Uwais begitu yakin.” Tapi bantu aku.”


” Akan aku bantu, mereka memang seharusnya mendapatkan hukuman bukannya kamu. Tapi jika mau meneror dan menyakiti mereka, apa kamu tidak takut akan masuk penjara lagi?”


” Awalnya aku tidak takut, tapi setelah melihat mu aku takut, takut tidak bisa melihatmu lagi”


Naina terdiam, mendengar ucapan pria dihadapannya yang membuat jantungnya berdegup kencang. Uwais memberikan buket bunga dan Naina ragu untuk menerimanya, namun melihat Uwais berharap banyak akhirnya dia menerimanya Uwais ingin memakaikan cincin dan Naina menolak, dan Uwais terkekeh geli karena dia baru ingat.


” Aku tidak akan menyentuhmu, sebelum kita benar-benar bisa bersama. Terima kasih” Uwais tersenyum, Naina diam. Uwais melihat jelas gadis itu sedih karena akan menikah dengannya, berharap Naina menyukainya adalah hal yang tidak mungkin tapi Uwais akan berusaha untuk membuat Naina mencintainya, seperti dia mencintai Naina.


*****


Hari pernikahan.


Hari yang berbahagia tiba, Naina menatap bayangannya sendiri di cermin. Dia tidak mau pernikahannya dengan Uwais dirayakan dengan megah, tapi Uwais tetap membelikan keperluan pengantin untuk Naina. Tiba-tiba air mata Naina menetes dan dia langsung menyekanya.

__ADS_1


” Nai, ini pernikahan kedua kamu semoga pernikahan ini pernikahan yang terakhir ya Nai” imbuh Husna." Jangan nangis”


” Iya mbak” mengiyakan.” Bagaimana bisa pernikahan terakhir, sementara mas Syam dan Uwais memiliki janji untuk menceraikan dan menikahi. Aku akan diceraikan olehnya setelah dia puas menyiksaku, aku akan kembali kepada mas Syam sebagai bekas pria jahat itu” gumam Naina sedih.


Di luar rumah, keluarga Uwais sudah datang. Para bodyguard berdandan memakai batik agar tidak membuat semua orang takut. Kakek Uwais begitu terlihat senang melihat cucunya yang begitu tampan dan gagah hari ini.


” Bos, bukannya bos gak setuju?” Zidan berbisik.


” Aku berpisah dengan Uwais bertahun-tahun, aku hanya pernah melihatnya saat kecil dan saat aku bertemu dengannya dia sudah dewasa. Anakku Clara dan menantu ku Herman sudah tiada, termasuk cucu perempuan ku Nafisah. Hanya tersisa Uwais, apapun yang membuatnya bahagia kamu kira itu tidak membuatku bahagia Zidan?” tutur kakek sambil tertawa kecil dan Zidan mengangguk.


Ijab qobul pun di mulai, Uwais terlihat gugup dan kakeknya menenangkannya.


Uwais dan pak Fahmi berjabat tangan.


” Saya terima nikah dan kawinnya Naina Inayah binti bapak Fahmi Husein dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai” seru Uwais dengan tegas dan lantang, pak Fahmi tersenyum dan kakek Baskoro juga merasa senang.


” Sah”


” Sah”


Seru semua orang, Uwais tersenyum dan Naina sebentar lagi akan dibawa keluar dari kamarnya. Husna dan bibi membawa Naina keluar dari kamar, Naina begitu terlihat sangat cantik dan membuat Uwais menatapnya begitu dalam. Naina duduk di sebelah suaminya, bergantian menandatangi apa yang harus keduanya tanda tangani. Naina ragu untuk menyalami tangan suaminya sendiri, dulu pernikahannya dengan Syam juga terpaksa tapi dengan Uwais dia benar-benar lebih takut. Bu Ratna meraih tangan Naina dan menyatukannya dengan tangan Uwais. Naina menyalami tangan suaminya sekilas lalu Uwais mengecup kening istrinya itu cukup lama, dagunya menyentuh hidung mancung Naina dan Naina menutup matanya. Ali yang juga hadir di sana memalingkan wajahnya dan memilih keluar mengajak adiknya Azizah. Andai Hasan kakaknya mau menerima, nenek, kakek dan bibi bibinya juga pasti dia yang ada disana bukan Uwais. Keluarganya melihat Naina adalah seorang janda dan cacat, dijelaskan sedetail-detailnya tetap saja keluarganya tidak mau menerima Naina. Dan Ali tidak bisa apa-apa.


Malam hari tiba, malam pertama Naina dan Uwais. Keluarga Uwais sudah pulang, Naina sedang duduk mendekap kedua lututnya di kamar. Kelakuan Husna, menghias kamarnya sedemikian rupa. Naina benar-benar kesal melihatnya. Sementara Uwais dan pak Fahmi sedang mengobrol di luar rumah.


” Kalau kamu gak sayang dan cinta lagi sama anak saya, bilang sama saya ya jangan sama Naina. Bilang saja sama saya” imbuh pak Fahmi dan Uwais terdiam sejenak.


” Bapak jangan bilang begitu, do'akan saja yang terbaik untuk saya dan Naina”


” Pasti, ya sudah kamu istirahat. Bapak juga mau istirahat”


Uwais mengangguk, keduanya masuk ke dalam rumah. Dan masuk ke kamar masing-masing, saat Uwais masuk ke kamar dia melihat Naina sudah tidur. Naina pura-pura tidur dengan menyelimuti seluruh tubuhnya. Uwais melangkah mendekat, dia tarik selimut perlahan-lahan dan Naina menariknya.


” Kenapa kamu pura-pura tidur Nai?”


” Aku,,, aku capek” jawab Naina dan menutupi seluruh wajahnya dengan kerudung pashmina. Uwais terus menarik selimut sampai adegan tarik-menarik terjadi antara keduanya, Naina kalah dan Uwais melemparkan selimut ke lantai. Dia duduk dan Naina juga sudah duduk karena berusaha menahan selimutnya. Uwais keburu masuk sebelum dia memakai kerudung dengan benar, itu sebabnya dia menutupi wajahnya sekalian. Uwais memegang ujung pashmina dan menariknya ke belakang sampai dia bisa melihat wajah cantik istrinya.


” Mau apa?” tanya Naina dan merasa bodoh karena menanyakan hal itu.


” Kamu maunya apa?" Uwais tersenyum dan Naina menarik kerudungnya tapi kerudungnya malah melorot jatuh ke belakang dan Uwais melihat rambutnya. Uwais diam memperhatikan istrinya itu dengan seksama, dia raih tangan Naina lembut.


” Aku sayang sama kamu” ucap Uwais. Lalu menekan tengkuk istrinya dan mengecup pipi istrinya lembut, Naina meremas seprai dan hampir menangis.


Uwais menempelkan keningnya di kening istrinya dan keduanya saling menatap lekat, Uwais mendekatkan bibirnya perlahan ke bibir Naina dan Naina tiba-tiba memalingkan wajahnya. Uwais tersenyum manis lalu memeluk Naina erat dan Naina semakin kaget.


” Mas” lirih Naina.


” Apa apa? panggil aku sekali lagi seperti itu” pintanya dan sangat senang mendengar suara lembut Naina. Uwais tidak melepaskan pelukannya dan ia malah menutup matanya rapat-rapat merasakan aroma tubuh istrinya.


Setelah merasa cukup Uwais melepaskan Naina yang terlihat gemetaran itu.


” Nai” panggil Uwais.


” Hemm?”


” Kamu mau melihat keluargaku?”


Naina mengangguk. Uwais bangkit meraih tas lalu mengeluarkan sesuatu dan dia mendekati Naina lagi, Uwais memperlihatkan pigura foto keluarganya.


” Ini ibu, ayah, aku, dan Nafisah” tunjuk Uwais satu-satu kepada keluarganya.


” Nafisah?”


” Iya, dia adikku” Uwais tersenyum dan Naina juga tersenyum.


” Dia cantik sekali, dimana dia sekarang?”


” Di surga, bersama ayah dan ibu” lirih Uwais dan Naina berhenti tersenyum.


” Aku minta maaf”


” Tidak apa-apa, menurutmu aku mirip siapa Naina?”

__ADS_1


” Mas mirip sama ibu” tunjuk Naina dan Uwais tersenyum. Naina terus memperhatikan foto tersebut dan Uwais merangkul bahunya, Naina menoleh menatap tangan Uwais di bahunya, Uwais terus bergeser dan menjatuhkan dagunya di pucuk kepala Naina. Dia cium rambut istrinya berulangkali dan Naina diam. Naina berharap Uwais hanya memeluk dan menciumnya tidak yang lain. Dia tahu itu salah tapi Naina benar-benar takut Uwais kasar padanya. Naina trauma karena dia sering diperlakukan kasar oleh Syam bukan hanya dengan makian yang dia terima tapi fisiknya juga.


” Tidur aja kalau kamu capek” imbuh Uwais lalu melepaskan rangkulannya, dia kecup mesra kening Naina kembali. Naina tersenyum tipis, merasakan sentuhan hangat dan lembut suaminya.


__ADS_2