Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Acara 4 bulanan


__ADS_3

Hari ini Naina dan Syam sudah kembali ke tanah air, lima hari menghabiskan waktu bersama dan tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Naina. Banyak oleh-oleh yang keduanya beli untuk keluarga dan teman. Naina sudah bertekad untuk mengirimkan oleh-oleh ke kampung agar ayahnya tidak perlu bolak-balik ke ibukota. Tujuan Naina dan Syam ka langsung ke rumah mungkin nanti malam keduanya akan ke rumah orang tua Syam. Sesampainya di rumah Naina ingin membantu suaminya dan satpam tapi dia tidak di izinkan menarik apalagi mengangkat barang-barang.


” Kamu masuk dan aku ingin air sirup dingin sayang" pinta Syam dan Naina mengangguk.


Naina membuat air sirup dingin untuk semua orang, Syam duduk menikmati minuman dingin begitu juga dengan Naina di sebelahnya.


” Capek ya?” Syam bertanya karena melihat Naina meminum minuman dinginnya sampai habis.


” Iya mas” Naina mengusap wajahnya pelan lalu menyenderkan kepalanya di sofa, Syam tersenyum melihat istrinya lalu dia mengajak Naina ke kamar untuk beristirahat.


****


Acara 4 bulanan.


Semua keluarga berkumpul di rumah orang tua Syam, ayah Naina pak Fahmi pun hadir dan Naina sangat senang. Naina sesekali berbincang dengan keluarga ayah dan ayah mertuanya. Acara akan di mulai sebentar lagi setelah isya. Ai juga diajak oleh Naina. Dan Ai terlihat canggung berada di tengah-tengah keluarga suami dari Naina. Naina melangkah mendekati Ai lalu mengajak Ai keluar untuk mencari udara segar.


” Mbak Nai semoga kehamilannya sehat-sehat sampai lahiran ya aamiin” kata Ai seraya menatap perut Naina dan Naina tersenyum lebar.


” Terima kasih, kamu udah makan belum? jangan sungkan-sungkan comot aja" Naina berbisik di bagian akhir dan Ai terkekeh-kekeh mendengar nya. Ai berhenti tertawa saat melihat seorang laki-laki yang sama dengan laki-laki yang di restoran itu.


” Mbak bukannya itu yang melamar mbak ya?” tanya Ai sambil menunjuk laki-laki yang dia maksud. Naina terkejut dan laki-laki itupun meliriknya.


” Bang itu siapa?" tanya Rizal kepada kakaknya Aldi.


” Itu Naina, istrinya Syam dia yang sedang menggelar acara 4 bulan kehamilannya" tutur Aldi dan alangkah terkejutnya Rizal mendengarnya.


” Aku bisa mati kalau wanita cantik itu mengadu sama suaminya, mas Syam? mustahil mas Syam mendapatkan wanita seperti dia." Gumam Rizal.

__ADS_1


Naina dan Ai saling menyikut tangan.


” Siapa yang melamar kamu Naina?” tegas Syam bertanya dan kedua perempuan di hadapannya berbalik, Naina mendorong-dorong bahu Ai agar pergi daripada suaminya banyak tanya nanti. Syam menatap semua orang yang berada di luar dan tidak menemukan laki-laki yang Ai katakan tadi, laki-laki itu pasti gugup jika tahu Naina adalah istrinya, tapi wajah gugup yang dia cari tak nampak sekilas pun.


” Syam" sapa Aldi dan memeluk Syam sekilas. Rizal menyalami tangan Syam dan Naina mundur ke belakang tubuh Syam saat Rizal mengulurkan tangannya. Syam meraih tangan Naina lalu menggenggamnya erat.


” Masuk aja bang” kata Syam dan menatap Rizal lekat, Rizal buru-buru menghindar lalu sempat melirik Naina dan berbicara tanpa suara agar Naina tidak mengadu tapi gadis itu hanya mengangkat bahu, tidak memperdulikannya.


” Nai, maksud Ai tadi apa?" Syam menatap Naina lekat, dia tidak mau Naina menyembunyikan sesuatu darinya.


” Ai mau dilamar atau pengen dilamar kayaknya mas bukan aku" Naina mencari alasan, dia bergumam berulang kali meminta ampun karena sudah berbohong kepada suaminya.” Ayo mas kita masuk" ajak Naina karena semua orang sudah datang dan Syam hanya bisa percaya. Acara berlangsung dengan lancar, Naina tidak berhenti berdoa meminta dan berharap anaknya kelak menjadi anak yang Sholeh ataupun Sholehah.


Syam sedang membagikan nasi kotak kepada anak-anak yang tidak kebagian tempat duduk di dalam rumah dan semuanya berkumpul di luar rumah. Langkah seorang wanita begitu tegas dan penuh nafsu menyeret tangan seorang gadis dan tangan kirinya menggenggam ponsel dengan sekuat tenaga. Syam menoleh dan terlihat keningnya mengkerut melihat kedatangan Amira di tarik tangannya oleh Hani dan dari kejauhan Rani berlari mengikuti keduanya. Syam yang takut akan ada drama yang terjadi meminta semuanya untuk segera pulang, bukan maksud mengusir tapi dia takut Amira berulah dan banyak yang melihat lalu nanti akan menjadi gosip.


Plak.. Hantaman keras mendarat di pipi Syam dan bunyinya begitu sangat nyaring. Syam memegang pipinya yang terasa ngilu karena di hantam ponsel yang sedang di genggam Hani.


” Apa itu?" mama Novi bertanya-tanya.


” Kenapa mereka harus pergi? biarkan mereka tahu laki-laki bajingan ini sudah menghamili putri ku Amira!" Hani berteriak-teriak dan semua orang terkejut, Naina terdiam dan hampir terjatuh lalu Tari memeganginya, pak Fahmi juga diam memperhatikan apa yang terjadi.


” Apa katamu? saya menghamili Amira?" dengan raut wajah kebingungan Syam berucap dan dia sontak melirik Naina yang diam sambil memperhatikan.


” Kamu masih mau mengelak? lalu apa ini?" Hani memperlihatkan foto Amira dan Syam di atas ranjang berdua, dan posisi Syam berada di atas Amira. Amira terlihat menangis dan terlihat seperti korban. Syam menatap Naina kembali dan Naina diam saat Hani melangkah padanya lalu mencengkram kuat pipinya agar Naina menatap layar ponselnya.


” Lihat ini, ini kelakuan bejat suami kamu" bentak Hani dan Rizal melepaskan cengkraman tangannya dari pipi Naina lalu mendorong bahu Hani agar menjauh. Naina menangis melihat apa yang sudah dia lihat baru saja. Foto bahkan sudah tersebar luas. Syam dan Amira sedang menjadi perbincangan hangat saat ini. Rani yang melihat Naina gurunya menangis seperti itu tidak tega dan ingin mendekatinya tapi Amira meraih tangan adiknya itu agar diam.


” Naina" tegas pak Fahmi meraih tangan putrinya untuk dia bawa pulang malam ini juga, Syam setengah berlari dan berusaha menahan ayah mertuanya.

__ADS_1


” Ini salah paham, tolong dengarkan aku dulu pak. Jangan bawa Naina, Naina istri aku pak" Syam terus berusaha dan semua orang menatapnya sinis, kecewa dan tidak menyangka bahwa Syam bisa melakukan hal seperti itu. Ayah Rahman sudah hampir menangis dan mama Novi bahkan pingsan dan dibawa Aldi dan Asil ke kamar. keadaan sudah tidak terkendali, Amira diam dan tersenyum tipis penuh kemenangan. Pak Fahmi tidak tega melihat putrinya harus kembali tinggal dengan pria mesum seperti Syam dan Syam tetap mempertahankan Naina wanita yang dia cintai.


” Pak aku mohon pak" Syam bahkan memohon-mohon agar ayah mertuanya tidak membawa Naina. Naina hanya diam di tarik-tarik oleh ayah dan suaminya.


” Naina, kamu percaya kan sama aku Naina" lirih Syam dan memeluk Naina yang tangannya masih di genggam erat ayahnya untuk dibawa pulang.


” Kita bicarakan baik-baik ini sudah pulang, kami gak mau bapak dan Naina pergi kita bicarakan baik-baik ya pak" ajak ayah Rahman kepada pak Fahmi yang tidak mau melepaskan tangan Naina.


” Nai kamu percaya sama aku kan, aku gak tahu apa-apa Nai aku mohon” Syam terus memeluk dan mencium Naina dengan menutupi tubuh istrinya agar tidak terlihat oleh siapapun dia tidak mau kehilangan Naina, dan anak buah cintanya bersama Naina Syam tidak mau.


” Bodoh kamu kalau masih percaya sama dia" kata Hani dan Naina menatap Syam yang terus memeluk dan memintanya agar percaya.


” Naina" lirih Syam.


” Kamu mengkhianati aku mas" lirih Naina dan menatap perut Amira yang sudah berusia 6 bulan itu." Kamu jahat sama aku mas”


” Nai kamu harus percaya sama aku Nai, jangan begini. Aku sudah bilang aku cuma sayang dan cinta sama kamu Naina, aku mohon percaya sama aku Nai” Syam terus meyakinkan Naina tapi Naina sama sekali tidak terlihat percaya padanya.


” Kamu kasar sama aku, kamu hina dan maki-maki aku aku gak apa-apa mas. Tapi untuk hubungan kamu dengan perempuan lain aku gak bisa lagi untuk tetap bertahan sama kamu mas, aku udah gak bisa aku gak kuat menghadapi kebohongan kamu selama ini. Kamu menghamili seorang wanita dan berhubungan tanpa ikatan pernikahan, dosa mas” geram Naina dan mencengkram kuat kerah baju suaminya. Naina melepaskan cengkraman tangannya, belaian lembut di wajahnya dari tangan kasar Syam perlahan-lahan terlepas saat gadis itu melangkah menjauhi suaminya yang sudah mengkhianatinya.


” Naina kita bicarakan baik-baik ayo" ajak ayah Rahman tapi Naina tidak mau menjawab dan terus memeluk ayahnya.


” Sudah cukup membuat putriku menangis, cukup" lirih pak Fahmi dan mengusap kepala Naina lembut, Naina menangis sesenggukan.


Nenek Wilda menampar Syam yang sudah melakukan hal memalukan dan menjijikkan sampai-sampai mengkhianati Naina, tidak lama nenek juga menampar wajah Hani karena sudah menghantam wajah cucunya Syam sampai berdarah.


” Kurang ajar” bentak Hani dan Amira menahannya bisa bahaya jika ibunya menyakiti nenek tua itu, pikir Amira.

__ADS_1


” Syam dan aku sudah sering melakukannya, hubungan kami masih berjalan sampai sekarang dan aku gak bisa menyembunyikan ini lagi. Aku hamil dan usia kehamilan ku dan Naina hanya berbeda dua bulan. Karena aku dan Syam masih terus berhubungan” kata Amira dan Naina terus menangis.


” Diam kamu” bentak Syam dan ingin sekali membungkam mulut Amira dan ayah Rahman menahannya. Syam kembali melirik istrinya, dia raih tangan istrinya dan menggenggamnya masih dalam posisi Naina memeluk pak Fahmi.


__ADS_2