Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

Uwais memutuskan untuk memberikan hadiah yang mahal dan yang berharga, walaupun dia lelah dia tidak perduli dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk membuat istrinya terkesan di hari bahagia istrinya itu. Sebuah kendaraan mewah, berwarna putih Uwais akan hadiahkan untuk istrinya dan satu lagi sebuah cincin yang dia beli dari hasil menjual gitarnya. Uwais memiliki gitar mahal, pemberian almarhum ibunya dulu dan dia ingin Naina yang memiliki hadiah berharga tersebut digantikan dengan sebuah cincin. Pukul 10 malam Uwais baru pulang, Naina menunggunya di ruang tamu.


” Simpan ini, nanti aku ambil” titah Uwais dan memberikan kotak cincin kepada Zidan. Zidan mengangguk dan keduanya terus melangkah.


Deg,,,, Uwais terkejut melihat istrinya ada di ruang tamu, Zidan lekas memasukkan kotak cincin ke saku jas nya. Uwais tersenyum dan Zidan pun pergi untuk pulang. Naina mengernyit heran melihat wajah panik kedua pria itu.


” Assalamu'alaikum sayang, belum tidur?”


” Wa'alaikumus Salaam, mana bisa aku tidur sementara suami aku belum pulang. Kamu kemana aja sih mas? kamu belum istirahat, kalau capek terus sakit gimana?” Naina berbicara cepat dan sedikit ketus, Uwais mencium bibir nya agar diam dan Naina memukul dadanya sambil melirik kanan-kiri.” Mas”


” Istriku cerewet, aku kerja. Ayo tidur” ajak Uwais dan merangkul pinggang istrinya.” Aku mau mandi dulu sayang”


” Ini udah malam mas"


” Ya gak apa-apa, mandi air anget”


” Rematik nanti”


” Ya jangan sampai”


Keduanya masuk ke dalam lift dan menuju kamar mereka, sesampainya di kamar Naina menyiapkan air di dalam bathtub. Dengan sedikit tetesan aroma terapi, tapi dia tambahkan lagi karena merasa kurang. Uwais masuk tanpa memakai pakaian sehelai benang pun dan Naina memukul lengannya.


” Pakai handuk, udah di siapin juga"


” Kamu kenapa marah-marah terus sih? sini berendam sama aku”


” Enggak mau mas”


” Sini dulu”


” Enggak mau”


Uwais malah sengaja menyiramkan air ke tubuh istrinya sampai baju Naina basah.


” Mas,,,” Naina merengek.


” Sudah basah kan ayo kemari, aku mau kamu tindih” pintanya dan Naina tidak mau, Naina melepas semua pakaiannya, dia tidak mau mandi dan hanya ingin berganti pakaian. Uwais terdiam terpaku melihat istrinya telanjang padahal sudah sering melihatnya, Naina melepaskan ikatan rambut nya dan rambut basahnya terurai. Naina meraih handuk lalu membalut tubuhnya, dan mengambilkan handuk juga untuk suaminya.


” Pakai ini” titah Naina, dan Uwais meraih handuk lalu melilitkannya di pinggang dia melangkah mendekati Naina. Naina terkejut saat Uwais menarik lengan dan membuatnya membentur dada telanjang suaminya itu, Uwais mencium bibir istrinya lembut dan Naina menerimanya.


” Kenapa kamu sangat seksi?” ucap Uwais setelah menghentikan aksinya.


” Kalau aku gak cantik lagi bagaimana? gak seksi lagi bagaimana? kamu pasti bakal ninggalin aku mas” lirih Naina.


” Apa aku pernah merendahkan fisik kamu ataupun fisik seseorang dan kamu mendengarnya?”


Naina menggeleng kepala.


” Terus kenapa kamu bisa berpikir begitu?”


” Aku cuma takut”


” Aku yang takut kamu tergoda oleh pria lain di luar sana”


” Kamu gak sadar juga aku sayang sama kamu seperti apa?”


Uwais tersenyum.


” Kamu sayang sama aku?” Uwais tersenyum simpul lalu menggesekkan hidungnya di pipi dan leher Naina. Naina merasa geli dan mencengkram bahu suaminya. Bibir Uwais bergerak di leher istrinya lembut dan Naina merasa geli.


Kalau sudah begini Naina tahu arah selanjutnya kemana. Uwais menggendong Naina dan membawanya keluar dari kamar mandi. Tubuhnya di baringkan perlahan. Uwais menarik selimut dan menyelimuti tubuh besarnya dan tubuh Naina juga. Keduanya melakukan pemanasan terlebih dahulu. Uwais tidak akan melakukan tindakan finish sebelum melihat Naina benar-benar merasakan puas akan sentuhannya. Naina meringis saat dadanya di hisap terlalu kuat. Uwais tersenyum saat rambutnya dijambak.


” Sakit sayang” protesnya.


” Ya kamu juga pelan-pelan dong mas”


” Iya iya iya” mengalah daripada gagal.


*****


Menghindar.


Hari ini Fatma pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan bertemu teman nya, dia hanya sebentar bertemu dengan temannya lalu berpisah. Syifa sedang berada di rumah orang tua Syam, Fatma berinisiatif untuk membelikan anaknya itu cemilan. Fatma terkejut saat melihat Kabir juga ada di sana, Kabir yang melihat Fatma sekilas melangkah cepat untuk menyusulnya dan Fatma buru-buru berlari menghindar.


” Aku mohon jangan lagi” gumam Fatma dan bersembunyi di balik tembok. Fatma membungkam mulutnya sendiri dan terus berharap Kabir tidak menemukannya.


” Aku tahu itu kamu Fatma, kenapa kamu menghindar” Kabir sedih sekaligus khawatir. Kabir terus melangkah dan mengedarkan pandangannya mencari pujaan hatinya.


Fatma mengintip sejenak dan melihat Kabir melangkah ke arah persembunyiannya. Karena ketakutan Fatma mundur dan berbalik namun dia membentur dada besar seseorang. Fatma mendongak dan melihat suaminya di hadapannya.


” Aku telat” imbuh Syam, Fatma memang meminta Syam menjemputnya. Kabir yang melihat Fatma bersama Syam buru-buru berbalik dan berharap Syam tidak mengenalinya.


” Enggak apa-apa mas” Fatma tersenyum. Syam mengusap peluh di kening dan di hidung istrinya itu.

__ADS_1


” Ada apa?” tanya Syam seraya mengedarkan pandangannya. Fatma langsung merangkul lengannya agar Syam berhenti.


” Enggak ada apa-apa mas, aku cuma ngerasa gerah aja. Ayo kita pulang mas tapi aku mau ke toko kue di sana dulu” ajak Fatma dan Syam mengangguk, keduanya pergi dan Kabir menoleh. Kabir merasa cemburu melihat Fatma merangkul tangan Syam seperti itu.


” Apa ini? apa dia mulai menerima suaminya?” Kabir bertanya-tanya. Fatma menoleh dan bersamaan dengan Kabir yang berbalik pergi dengan kepala tertunduk dalam.


” Kita salah Kabir, aku mohon jangan ganggu aku” gumam Fatma lalu mendongak menatap Syam, Syam merangkul pinggang nya dan Fatma terkejut karena belum terbiasa.


****


Aktivitas ku.


Uwais sedang memperhatikan Naina yang mulai memakai laptop barunya, itu juga Uwais paksa karena kesal tak di pakai pakai.


” Yang ini masih bagus sayang” tunjuk Naina ke laptop lamanya.


” Pakai yang aku beliin buat kamu” sahut Uwais cepat. Naina mengerucutkan bibirnya dan menyalakan laptop mahal itu, Uwais memasangkan cas'an lalu dia duduk di sebelah istrinya. Keduanya sedang berada di lantai dua ruko Naina. Uwais diam-diam memperhatikan Naina, istrinya dua hari lagi ulang tahun. Naina menoleh saat sadar Uwais memperhatikannya.


” Kenapa mas?”


” Panggil aku sayang lagi” pinta Uwais.


” Sayang ku” imbuh Naina seraya menekan-nekan kedua pipi suaminya dan Uwais tertawa renyah.


Tok tok tok


” Mas Uwais makanannya sudah sampai” seru Ai.


Naina dan Uwais menoleh ke arah pintu. Uwais bangkit untuk mengambil makanan yang dia pesan tadi.


” Sayang mau makan dimana?” tanya Uwais.


” Di bawah aja mas”


” Oke” Uwais tersenyum. Naina menutup laptopnya dan meraih Uwais yang mengulurkan tangannya, Ai juga kembali turun. Semua berkumpul untuk makan siang bersama, Ai terlihat terus menoleh ke ruko suaminya.


” Aku harus yakin dulu kamu makan baru aku kerja lagi” tutur Uwais lalu menyuapi Naina, Dita dan Mia menggigit sendok mereka. Ai juga diam karena tidak pernah disuapi oleh Ali apalagi langsung menggunakan tangan seperti itu. Ketiganya terperangah melihat keromantisan keduanya. Naina menoleh dan melihat ketiga pegawainya kebingungan.


” Uhuk,,,” Naina tersedak.


” Minum minum sayang, pelan-pelan” Uwais memberikan minum dan menepuk-nepuk pucuk kepala istrinya.


” Ekhem” Dita berdehem.


” Mas aku sendiri aja” kata Naina.


” Biasanya juga aku yang suapi” Uwais seolah menganggap ketiga manusia yang sedang panas dingin itu tidak ada. Naina memijat keningnya frustasi, dan Uwais lagi-lagi menyuapinya. Naina memperhatikan wajah Ai yang nampak sedih. Dita menyelesaikan makanannya lebih dulu karena ada pembeli yang datang. Di susul Uwais dan Naina yang juga sudah selesai. Uwais pergi untuk mencuci tangannya dan Naina pergi untuk mengambilkan tas suaminya.


” Bos bisa romantis juga ya, mana manja lagi sama mbak Naina” tutur Mia berbisik kepada Dita.


” Kalau semua orang di kantor tahu, ini akan menjadi bahan ghibah selama sebulan” Dita tersenyum.


Mia dan Dita cengengesan, Ai yang mendengar ucapan keduanya bingung kembali keluar dari ruko.


” Kenapa mbak Dita sama mbak Mia manggil mas Uwais Bos?” Ai bingung lalu di tersenyum.” Mas Uwais kan suami mbak Naina bos disini, gak heran mereka memanggil mas Uwais juga dengan sebutan bos” Ai menggeleng kepala dan tersenyum.


*****


Naina sakit.


Setelah sholat subuh Naina meringkuk lagi, tubuhnya demam. Uwais masuk ke kamar membawa semangkuk bubur untuk istrinya tercinta. Padahal besok istrinya ulang tahun, Uwais tersenyum melihat istrinya itu. Naina membuka matanya dan mengusap wajahnya kasar.


” Sayang, aku bikinin bubur nih” kata Uwais padahal dia beli, Naina langsung tertawa.


” Bohong, aku juga tahu kamu beli” Naina masih tersenyum dan Uwais terkekeh karena ketahuan bohong. Naina mengubah posisi nya dengan duduk dan bersandar. Uwais duduk di tepi ranjang dan memakan bubur suapan pertama dan Naina terkejut.


” Ihh sayang haha?” Naina tertawa-tawa kecil”katanya buat aku?” cemberut.


” Salah hehe” Uwais tersenyum.” Mau aku suapin gak?”


” Mau” Naina membuka mulutnya.


” Aaaa,,,,” Uwais menyuapi nya. Satu suapan pertama masuk.” Makan nya yang banyak ya, kamu tuh jangan kecapean aku udah bilang berkali-kali”


” Iya sayang makasih ya”


Uwais mengangguk lalu menyuapi istrinya lagi, Uwais sesekali mencium pipi istrinya lembut.


” Buat apa mas?”


” Supaya sakitnya pindah ke aku”


Plak! Naina menampar lengan besar suaminya.

__ADS_1


” Enggak boleh ngomong kayak begitu mas” Naina kesal dan mencubit dada suaminya lalu Uwais tertawa.


****


Kejutan


Rencana kejutan.


Pagi ini ada yang berbeda dari Uwais, Naina benar-benar terlihat sedih. sehingga dia menganggap tubuhnya yang semakin gemuk lah penyebabnya. Uwais keluar dari kamar mandi dan melihat Naina menyiapkan pakaiannya. Naina menoleh dan tersenyum.


” Jangan senyum” guman hati Uwais merasa geregetan.


” Mas” Naina memeluk suaminya yang bertelanjang dada itu padahal dada Uwais basah.


” Hemm?”


” Aku mau beli pakaian bayi, aku pergi sama Dita. Boleh?”


” Boleh, pulangnya aku jemput” kata Uwais seraya melepaskan pelukan Naina.” Aku di baju dulu" imbuhnya seraya mencubit hidung istrinya gemas. Uwais masuk kembali ke kamar mandi dan di sana dia menggigit kepalan tangannya.


” Kamu pasti sedih, aku janji setelah kejutan nanti aku yang akan memeluk kamu sayang” gumam Uwais di luar kamar Naina benar-benar terlihat sedih, dia tidak tahu apa kesalahannya.


****


Membeli pakaian bayi.


Di sebuah toko pakaian bayi, Naina memilih-milih pakaian untuk anaknya nanti. Tidak banyak, dan Naina membeli warna-warna netral. Dita juga memilih dan memegang pakaian bayi yang menarik perhatiannya.


” Apa mbak Dita gak mau menikah sekarang-sekarang saja? gemes kan lihat pakaian bayi hehe”


” Mau sih mau, tapi sama siapa mbak. Gak ada yang mau sama saya” Dita merendah.


” Mbak Dita itu cantik loh, mau gak sama sekertaris suami saya?”


Dita langsung mendelikan matanya.


” Haha enggak mbak, serem ah” Dita tertawa kecil. Naina juga tersenyum, Naina menoleh saat kedua kakinya di peluk erat oleh seorang anak kecil.


” Syifa” panggil Fatma.


Fatma dan Naina sama-sama terdiam sambil menatap lekat, Naina tersenyum lebar dan Fatma juga tersenyum. Syifa mengenal Naina, dia senang melihat Naina. Fatma terlihat gelisah takut ada Kabir juga di sana.


” Lagi cari baju juga?” tanya Naina.


” Iya Bu, cari baju buat kado sama buat Syifa”


” Oh iya” Naina tersenyum lalu mengelus rambut Syifa lembut.” Mau beli apa anak cantik? ayo kita cari baju sama-sama” ajak Naina ingin membelikan baju untuk Syifa, dia juga membeli untuk anaknya Husna. Fatma diam dan entah kenapa dia merasa malu bertemu dengan Naina. Setelah berkeliling mencari baju anak yang dia inginkan Naina berhenti karena mulai lelah, di kasir Naina membayar belanjaan Fatma. Fatma semakin malu.


” Bu gak usah Bu, biar saya ganti” ujar Fatma.


” Enggak usah, ibu yang senang bisa bertemu kamu dan Syifa. Bagaimana kalau kita makan di restoran di seberang sana?" ajak Naina.


” Emmm” Fatma bingung.


” Mau ya?” Naina berharap banyak, Fatma tidak tega dan akhirnya mengangguk. Dita diam di belakang memperhatikan Fatma dan Syifa yang terus minta gendong oleh Naina tapi Fatma tidak memberikannya karena Naina sedang hamil besar, takut perutnya terhimpit oleh Syifa. Semuanya keluar dari toko, dari kejauhan sebuah mobil nampak orang di dalamnya memperhatikan Fatma. Seorang pria yaitu sniper bersiap menembak Fatma dari atap gedung, Amira di dalam mobil terkejut melihat Naina juga ada di sana dia sudah tidak perduli dengan Naina, yang dia mau Fatma mati sekarang. Naina tersenyum dan melambaikan tangannya melihat kedatangan Uwais dan Uwais keluar dari dalam mobil, Uwais memarkirkan mobilnya di seberang karena parkiran di depan toko tadi penuh.


Naina mengarahkan tangannya dan meminta Uwais diam karena dia akan menyeberang, saat lampu merah menyala semuanya menyeberang. Dita berdiri paling belakang dan Fatma berendengan dengan Naina.


” Jangan sampai gagal” seru Amira yang berbicara dengan sniper lewat telepon.


Fatma menggendong Syifa dan Amira tidak mau Syifa terluka.


” Tembak sekarang, kamu menunggu apa?” bentak Amira.


Sniper menarik pelatuk senjatanya dan peluru melesat ke arah Fatma, namun Fatma membungkuk saat sepatu Syifa terjatuh dari kakinya. Kedua mata Uwais membulat, Dita menjerit histeris melihat Naina. Langkah Naina terhenti, peluru melesat dan mengenai kepalanya.


” Naina!” teriak Uwais. Dia berlari namun lampu hijau menyala.


Fatma mendongak saat darah menetes ke bajunya.


Brug! tubuh Naina terpental saat sebuah mobil menabraknya. Fatma menangis histeris, Dita berlari memburu tubuh Naina begitu juga dengan Uwais. Amira melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dia takut Uwais melihatnya, namun Amira kehilangan kendali. Mobilnya menabrak mobil lain dan tabrakan beruntun terjadi. Uwais memeluk tubuh Naina yang berlumuran darah, kejadian terjadi begitu cepat. Kemeja Uwais penuh dengan darah, Naina tak sempat membuka matanya lagi. Dia langsung tidak sadarkan diri.


” Sayang, Naina. Bangun, ini aku” lirih Uwais, air matanya tak terbendung lagi melihat kekasih tercintanya celaka di hadapannya. Kecelakaan maut waktu itu merenggut ayah, ibu dan adiknya dan sekarang dia tidak mau kejadian yang sama menimpa Naina. Semua orang berkerumun, kemacetan pun terjadi. Dita mengambil kunci yang dijatuhkan Uwais tanpa sadar dia berlari menuju mobil terparkir di sana untuk segera membawa Naina ke rumah sakit.


” Bu Naina” lirih Fatma, Syifa menangis dalam gendongannya. Dita mengendarai mobil dengan cepat dan Uwais menoleh saat mendengar suara klakson mobil. Dita keluar dan membuka pintu mobil, Uwais bergegas membawa Naina masuk. Dita masuk kembali dan menelepon Zidan.


” Dengarkan aku,,,,,” suara Dita terdengar berat dan Zidan tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


” Ada apa?”


” Bu Naina ditembak, kumpulkan semua bodyguard. Kejadiannya di depan toko Mario, aku sedang menyetir menuju rumah sakit terdekat” tutur Dita sambil menangis, Zidan bangkit dari duduknya dan setengah berlari untuk segera mengurus semuanya. Yang jelas nyawa Naina yang harus di prioritaskan lebih dulu, Dita melirik bos nya di belakang yang terus menangis. Kemeja putih Uwais penuh dengan darah, Uwais berulangkali mengecek urat nadi istrinya, Naina masih bernyawa namun denyut nadinya begitu lemah. Uwais tidak berhenti menangis padahal di rumah semua orang sedang bersiap untuk membuat kejutan ulang tahun istrinya itu.


” Jangan tinggalkan aku Naina” hanya itu yang dikatakan Uwais berulangkali.

__ADS_1


__ADS_2