
Syam dan Naina tidak jadi untuk melakukan kegiatan ranjang karena Resta terus berteriak memanggil Syam, Resta tidak akan membiarkan Naina dan Syam berduaan. Naina terlihat kesal karena Resta selalu berusaha mendekati suaminya.
” Dasar bocah" cibir Syam lalu menatap Naina.
” Resta juga mantan kamu ya mas?” Naina berucap lalu meraih hijabnya.
” Bukan, mana bisa aku berhubungan sama anak kecil Nai” Syam mengecup pipi Naina dan Naina menutup matanya. ” Jangan marah kita lanjutkan nanti”
” Siapa yang marah, seolah-seolah aku yang mau disini" Naina ketus.
Syam tersenyum lebar lalu membuka pintu sedikit. Syam tersenyum kecut saat Amira katanya datang meminta bertemu, Naina diam mendengarkan apa yang dikatakan Resta. Resta berbicara dengan suara lantang agar Naina mendengarnya.
” Baru juga mas Syam ngomongin mbak Amira, mbak Amira sudah datang. Panjang umur" imbuh Naina lalu kembali membaringkan tubuhnya dia ingin istirahat saja tidak mau ikut dan melihat Amira yang sudah pasti dekat-dekat kepada suaminya.
" Naina" panggil Syam dan Naina menoleh.
" Kenapa mas? aku kira mas sudah pergi" Naina bingung.
” Ayo keluar, aku maunya keluar sama kamu mama juga ngajak kita makan sama-sama" ajak Syam dan Naina tiba-tiba teringat dengan apa yang dilakukan oleh Hamdan.
” Ehm aku masih kenyang mas, aku gak ikut makan gak apa-apa kan mas?" Naina tersenyum dan dia akan berusaha menahan rasa laparnya.
” Kamu belum makan siang, nanti sakit ayo" Syam tetap memaksa dan Naina mengangguk.
Naina akhirnya keluar bersama Syam, Amira tidak mau masuk dan bersama Resta di luar rumah dia menunggu Syam sendiri yang memintanya masuk walaupun tidak mungkin. Arthur memperhatikan Hamdan dan Naina, Arthur melihat Naina tidak nyaman dan Hamdan sepertinya sedang melakukan sesuatu. Syam mengunyah makanannya dan menatap Hamdan tajam, dia injak kaki Hamdan di bawah meja lalu Naina melirik Syam.
” Mas Hamdan mending makan dengan benar ya jangan sampai saya marah" tegas Syam seraya menatap Hamdan tajam, Naina menundukkan kepalanya karena semua orang meliriknya. Tari menatap Naina tajam dan dia yakin Naina mengadu kepada Syam.
” Syam” tegur mama Novi.
” Mau lagi?" Syam mengambil piring udang goreng dan Naina mengangguk. Hamdan menatap wajah polos Naina kesal dan menatap wajah Syam penuh amarah.
Setelah makan bersama selesai, mama Novi mengajak Naina untuk bersamanya. Nenek dan Resta menarik-narik Syam agar keluar dari rumah. Mama Novi tidak tahu dengan kehadiran Amira, itu sebabnya dia juga mengajak Naina keluar.
” Nai kamu mau menginap sama Syam disini?” mama Novi tersenyum.
” Enggak tahu ma, nanti aku tanyain sama mas Syam" Naina tersenyum.
Mama Novi pamit untuk kembali masuk karena bibi mengatakan ayah Rahman membutuhkan sesuatu, Naina melangkah dan melihat-lihat pekarangan rumah mertuanya itu. Naina merasakan sakit di dadanya saat melihat Amira memeluk suaminya dari belakang saat Syam sedang berbicara dengan nenek.
” Amira lepas” Syam melepaskan tangan Amira dari dadanya. Syam melirik Naina yang menatapnya lekat.
” Syam" lirih Amira sedih karena Syam mendorongnya kasar padahal dia dan Syam sudah lama tidak bertemu apa Syam tidak merindukannya?
” Syam jangan kasar-kasar sama perempuan" tegur nenek, nenek mendukung Syam dan Amira kembali tidak perduli dengan Naina.
” Lepas" Syam kesal dan melepaskan tangan Amira lalu dia melirik ke arah dimana Naina berdiri tadi.
” Naina kemana? tadi dia disana?" gumam Syam.
Syam berlari kecil untuk mencari Naina, jangan-jangan Naina pulang sendiri padahal ini sudah sore dan sebentar lagi gelap Naina tidak akan bisa sendirian di kamar setelah kejadian bayangan yang dia lihat waktu itu.
__ADS_1
” Syam" teriak Amira yang di acuhkan begitu saja oleh Syam. Dan Syam tidak perduli.
” Naina" lirih Syam dan masuk ke rumah untuk mencari Naina kesayangannya.
Naina duduk di sebuah ayunan dia sedang berbicara di telepon dengan ayahnya, raut wajah Naina sedih dan dia merasakan sesak di dadanya.
” Kamu mau bapak bawain apa dari sini Nai?" kata pak Fahmi.
” Gak usah repot-repot pak, nanti kalau sampai di terminal Naina jemput ya gak usah naik bus naik taksi aja pak itu urusan Naina nanti" Naina tersenyum dan berusaha untuk tetap tenang walaupun sebenarnya dia ingin mengadu semua yang dia alami kepada ayahnya. Naina tersenyum lalu menyenderkan kepalanya ke tali ayunan yang terbuat dari tambang.
” Kamu baik-baik saja kan nak? Syam gimana apa dia baik atau kasar sama kamu?” pak Fahmi adalah orang pertama yang akan menyesal jika tahu Syam seperti apa ketika marah walaupun karena hal sepele.
” Nai gak kenapa-kenapa, bapak hati-hati nanti di jalan ibu sama Kabir juga. Naina bakal masak yang enak buat kalian semua" Naina antusias.
” Gak usah repot-repot kamu harus banyak istirahat nak, bapak melihat kamu aja senang.” Suara tawa kecil dari ayahnya membuat Naina tersenyum lebar.
” Iya pak" Naina tersenyum.
Setelah panggilan berakhir Naina masih duduk di atas ayunan, dia rindu saat-saat kecil saat dia bermain ayunan dengan kedua kakinya. Sekarang kaki kanannya tidak bisa dia gunakan untuk menendang tanah agar ayunan bisa bergerak. Air mata Naina jatuh saat bayangan ibunya terlintas di pikiran nya. Dia merindukan ibunya. Walaupun Bu Ratna baik tetap saja ketika Husna mendapatkan hal yang lebih kecil dari Naina Bu Ratna terlihat tidak senang.
” Mbak Naina ngapain disini?” tanya Arthur dan Naina meoleh, Naina tersenyum melihat kelinci yang sedang di gendong Arthur begitu sangat lucu.
” Aku habis menelepon, ayunan ini nyaman juga ternyata. Itu kelinci di rumah ini mas?” tanya Naina dan Arthur tersenyum.
” Kita belum kenalan, aku Arthur” Arthur mengusap tangannya takut kotor lalu dia ulurkan untuk berjabat tangan dengan Naina.
” Maaf mas, saya Naina" Naina merapatkan kedua telapak tangannya karena dia tidak bisa bersentuhan dengan Syam.
” Naina" suara Syam terdengar dan Naina menoleh. Naina panik lalu melirik Arthur. Syam menatap keduanya bergantian, begitu tajam dan seperti anak menerkam Arthur sekarang juga. Arthur melangkah untuk segera pergi dan Naina menggigit bibir bawahnya kelu saat Arthur pergi ke arah dimana Syam melangkah ke arahnya.
Brug!
” Mas Syam" Naina panik karena Syam mendorong tubuh Arthur sampai jatuh.
” Diam kamu!" bentak Syam dan Naina duduk kembali di atas ayunan.
” Kamu salah paham” kata Arthur dan menatap Syam kesal.
Arthur pergi dan Syam melirik Naina tajam. Naina menundukkan kepalanya dan terus menggeleng kepala karena Syam menyakiti Arthur yang tidak salah apapun. Syam mendekati Naina lalu berlutut di hadapan Naina yang masih duduk di atas ayunan.
” Kamu ngapain sama dia" tatapan Syam begitu tajam.
” Aku gak sengaja ketemu mas Arthur di sini, kamu jangan kasar begitu mas sama mas Arthur" lirih Naina.
” Manggil apa kamu sama dia? ” mas!” ngapain manggil Arthur begitu kamu cuma manggil aku Naina. Panggilan itu cuma buat aku” tegas Syam dan Naina mengerutkan keningnya.
” Sudah mas jangan teriak-teriak, aku pusing jadinya” Naina memijat kepalanya dan Syam menekan kedua pipi Naina.
” Kamu pusing? kenapa kamu pusing sayang? kita ke rumah sakit mau ya" ajak Syam lalu melepaskan pipi Naina.
” Bukan pusing itu mas” Naina kesal.
__ADS_1
" Kenapa? ayo kita ke rumah sakit terus pulang” ajak Syam dan meraih tangan Naina.
” Aku aku gak mau mas, iya aku gak pusing mas aku mau main ayunan aja” kata Naina dan Syam mendengus sebal.
” Nai ayo pulang aja, aku gak bakal bawa kamu ke rumah sakit Nai" ajak Syam dan melangkah ke belakang Naina dia menarik tambang ayunan lalu mengayunkannya. Naina tertawa-tawa karena takut jatuh. Syam tersenyum lebar mendengar Naina tertawa renyah seperti itu. Syam terus mengayunkan ayunan dan Naina memegang tambang kuat-kuat. Dari kejauhan Amira menangis melihat kebersamaan Naina dan Syam apalagi Syam yang terus tersenyum dan tertawa karena mendengar Naina tertawa.
” Mas pelan-pelan aku takut” Naina berteriak lalu menjerit-jerit kecil karena Syam terlalu kencang mengayunkannya. Syam menahan ayunan dan Naina mendongak menatapnya.
” Ayo pulang sudah sore" ajak Syam dan Naina mengulurkan tangannya. Syam meraih tangan Naina lalu membantu Naina berdiri. Naina menjauh saat melangkah bersama Syam tapi Syam merangkul pinggangnya.
” Kamu cemburu?” Syam bertanya dengan bibir tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke pipi Naina.
” Mas geli” Naina tersenyum dan berusaha menahan Syam.
” Kamu cemburu kan, ayo ngaku".Syam menjauh dan mengajak Naina melangkah kembali.
” Kamu masih sayang sama mbak Amira mas?” Naina bertanya seraya menatap kedua mata suaminya. Syam menggeleng kepala lalu mengecup kening istrinya sekilas padahal Amira masih memperhatikan keduanya dan keduanya tidak sadar.
” Ya enggak lah aku sayang dan cinta sama istri aku sendiri. Aku sudah bilang jangan mikir aneh-aneh aku juga kaget kenapa dia melakukan itu. Kamu percaya kan sama aku?" Syam tersenyum dan Naina mengangguk mengiyakan.
Syam memeluk Naina dan Naina tersenyum lalu membalas pelukan suaminya, Amira mengepalkan tangannya dan memilih pergi. Bukan Naina yang tidak memberikannya kesempatan untuk mendekati Syam tapi Syam sendiri yang menolak keberadaan nya. Amira tidak paham apa yang dilakukan Naina sampai Syam seperti itu, dia belum pernah melihat Syam menyayangi perempuan sampai seperti itu.
*****
Keesokan paginya, Naina diam memperhatikan Syam yang sedang membuat nasi goreng. Syam melarang Naina dan dia ingin membuat nasi goreng spesial untuk istrinya tercinta.
” Bapak,ibu sama Kabir mau kemari mas nanti tanggal merah" ucap Naina dan Syam menoleh sekilas.
” Cuma satu malam di sini?”
” Iya, kan Kabir harus sekolah”
Syam tersenyum lalu membawa satu piring nasi goreng dan Naina menatapnya lekat.
” Kenapa mas makan sendiri? kan aku juga mau” Naina cemberut.
” Satu piring berdua sayang, masa kayak beginian kamu gak paham. Naina” Syam kesal dan Naina cengengesan. ”Kamu kira aku apaan sayang bisa makan dengan porsi sebanyak ini.”
” Ya maaf aku kira kamu mau makan sendiri” Naina terus tersenyum dan mengambil sendok tapi Syam merebutnya.
Syam mengaduk-aduk nasi goreng dan suapan pertama untuk istrinya.
” Huf aaaa...” Syam meniup nasi di atas sendok lebih dulu lalu Naina membuka mulutnya.” Bismillahirrahmanirrahim..” Satu suapan pertama masuk dan Naina tersenyum.
” Enak mas" puji Naina.
” Enak doang Nai?” Syam yang cemberut sekarang.
” Enak banget” Naina memuji kembali dan Syam tersenyum lebar.” Gimana kalau kamu aja yang masak”
” Enak aja, kamu yang enak nanti” cibir Syam dan Naina tertawa-tawa.
__ADS_1
” Mas Syam kalau kayak begini kan lucu, tapi aku tahu gak bakal bertahan lama.” Gumam Naina dan terus menatap suaminya.