Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Diamnya Naina


__ADS_3

Naina diam, sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Syam. Tidak perduli walau diacuhkan, dia akan berusaha menjelaskan semuanya. Naina menunggu di kamar, menunggu kedatangan suami tercintanya. Yang sangat pemarah dan pencemburu itu. Naina menoleh dan melihat suaminya masuk ke kamar. Naina melangkah mendekati suaminya.


” Mas aku mau ngomong”


” Aku capek Nai, besok aja” masih ketus.


” Kasih aku kesempatan untuk jelasin semuanya mas, jangan begini. Aku gak mau kamu cuekin terus mas" Naina sudah akan menangis dan Syam menatapnya.


” Mau ngomong apalagi Nai? mau cari pembelaan kamu ya? kamu udah nyakitin perasaan aku Naina" Syam kesal dan berteriak kepada istrinya.


” Itu salah paham mas, aku yakin ada yang sengaja. Pak Romi guru di sekolah yang sama, dia gak maksud peluk aku mas. Ada yang membuat ini seolah-olah aku sama pak Romi berpelukan” Naina berusaha menjelaskan dan Syam mengibaskan tangannya, meminta istrinya untuk diam.


” Bukan satu dua kali kamu begini Nai, kamu terus berusaha mengelak. Kamu harus bisa menjaga jarak dengan laki-laki manapun, jangan malah begini. Belain laki-laki itu dan seolah-olah aku yang salah. Aku memiliki hak untuk menyadarkan kamu, istri aku yang sudah berpelukan dengan laki-laki lain. Jijik aku Naina"


” Kamu mikir gak sih mas ngomong kayak begitu sama aku, aku bukan wanita murahan mas. Aku harus jelasin sama kamu kayak gimana lagi, kamu jijik sama aku? berarti kamu juga jijik sama anak aku mas" Naina kecewa mendengar ucapan suaminya, berusaha menjelaskan tidak ada gunanya, dia malah mendapatkan hinaan terus-menerus dari suaminya itu.


” Enggak apa-apa mas kalau kamu jijik sama aku, tapi kamu harus tahu kalau aku berusaha menjaga kehormatan aku sebelum maupun sesudah aku menjadi istri kamu. Aku juga bisa sakit hati mas di sebut murahan, ini itu. Sekarang kamu bilang jijik sama aku? aku juga punya hati mas, hati aku sakit dengernya apalagi anak aku" Naina memegang perut besarnya, dan menangis. Syam membuang muka dan dia menyesal atas apa yang dia katakan kepada Naina.


” Naina kamu mau kemana?" Syam meraih tangan istrinya, karena Naina membuka lemari.


” Aku mau pulang mas, aku gak kuat tinggal satu atap sama maduku sendiri" lirih Naina dan mengambil tas nya, Syam menyambar tas Naina dan membantingnya ke atas meja.


” Awas kamu kalau berani keluar dari rumah ini Nai, aku gak ngizinin kamu” tegas Syam dan mengacungkan jari telunjuknya.


” Buat apa mas? buat apa aku tinggal disini. Aku bisa tinggal di toko, kamu cuma perduli sama mbak Amira kan sekarang. Aku kira kamu bisa adil mas tapi enggak. Kamu kecewa sama istri kamu dan bermesraan dengan istri yang lain di depan mata aku, aku sakit mas aku gak kuat” lirih Naina dan mengambil tasnya kembali. Syam mengunci pintu dan melemparkannya entah kemana.


” Mas, aku mau keluar”

__ADS_1


” Keluar sana kalau bisa, lewat jendela sana kalau kamu mau” bentak Syam dan merebahkan tubuhnya, Naina terus menangis dan memilih pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan dia belum sholat isya.


*****


Keesokan harinya, mama Novi meminta Syam untuk mengantarkannya ke dokter. Mama Novi juga ingin berbicara kepada anaknya itu. Mama Novi menoleh dan menatap Syam yang sedang menyetir.


” Ada apa ma?”


” Mama mau ngomong Syam, kamu sudah keterlaluan. Mama sampai gak bisa tidur mikirin kamu sama Naina, Naina tidak mungkin seperti itu. Dia tidak mungkin berpelukan dengan laki-laki lain, kamu lihat dengan benar foto itu, kamu juga keterlaluan sampai bilang Naina murahan. Jika pak Fahmi tahu, jangan harap kamu bisa melihat Naina Syam. Apalagi Naina sedang mengandung anak kamu, kamu malah lebih dekat dengan Amira yang kamu juga tahu kalau dia hamil anaknya Miko” lirih mama Novi berusaha mengingatkan Syam untuk bertutur kata dengan baik sekalipun dia sedang marah.


” Kamu cemburu wajar, kamu cinta dan sayang sama Naina. Tapi kalau kecemburuan kamu seperti itu dan kamu tak bisa mengontrol emosi, Naina lambat laun akan sadar kalau banyak laki-laki di luar sana yang lebih bisa menghargai dan menjaga perasaannya” imbuh mama Novi kembali dan Syam diam.


” Ayah kamu, sekalipun ayah kamu marah dia tidak pernah memaki mama. Kamu harus belajar dari ayah kamu, dosa Syam kamu memaki istri kamu sendiri dengan kata-kata yang tidak pantas, kamu memiliki kewajiban untuk menegur istri kamu, tapi caranya bukan begitu” mama Novi berbicara dengan suara serak, dia tarik tisu dan mengusap air matanya. Tak kuasa mama Novi mendengar menantunya di hina oleh anaknya sendiri.


” Terus aku harus gimana ma? ini keterlaluan. Naina sudah keterlaluan”


****


Malam hari tiba, Syam memperhatikan Naina yang tidak berbicara padanya sedari pulang mengajar. Naina merasa lelah, terserah suaminya mau berpikir seperti apa tentang dirinya, Naina takut kehamilannya terganggu.


” Nai buatin aku kopi” titah Syam dan Naina bangkit dari duduknya, Naina melangkah pergi untuk membuat kopi tanpa mengatakan apapun.


” Dia beneran marah?” Syam berbisik dan menatap kepergian Naina menuju dapur.


Amira turun dari lantai dua, melangkah mendekati suaminya.


” Syam uang ku habis" adu Amira seraya menadahkan tangannya meminta uang kembali kepada suaminya itu.

__ADS_1


” Aku sudah bilang, kamu harus bisa mengatur uang” Syam memijat dahinya berulang kali dan merasa lelah karena hanya uang yang ada dipikiran Amira.


” Kamu pelit banget sih jadi suami, aku gak bisa cari uang. Cuma kamu yang bisa ngasih aku uang Syam” ketus Amira tak menyerah, dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan yang dia inginkan.


” Ya kamu kira-kira dong, minta duit seenaknya” ketus Syam dan menatap Amira kesal.


Naina melangkah mendekati suaminya dan Syam diam, lalu merangkul bahu Amira. Amira tersenyum lebar dan Naina meletakkan secangkir kopi permintaan suaminya.


” Iya aku kasih uang nanti" kata Syam begitu mesra kepada Amira, Naina duduk kembali dan membaca bukunya kembali. Buku novel yang baru dia beli. Syam memperhatikan Naina yang hanya diam tidak terlihat tanda-tanda kecemburuan, sakit hati atau terganggu dengan kemesraannya bersama Amira. Jika begini, malah dia yang rugi karena sudah mengiyakan Amira yang ingin uang.


******


Di tempat lain, Rizal dan kakaknya Aldi sedang joging bersama. Joging di malam hari biasa Aldi lakukan bersama adiknya jika dia sedang memiliki waktu luang. Rizal terus melirik Aldi karena dia ingin berbicara sesuatu hal yang sangat penting untuk hidupnya dan masa depannya. Aldi berhenti dan mengusap keringatnya. Rizal juga pergi dan Aldi menoleh.


” Ada apa?" tanya Aldi dan Rizal menggeleng kepala.” Butuh uang? mau beli buku apa lagi Rizal. Awas saja kalau bohong, akan aku tanyakan sama Naina nanti kamu meminta uang memang ada tugas sekolah atau kamu menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak berguna” kata Aldi dan Rizal cemberut.


” Bukan itu bang”


” Terus apa?”


” Aku mau minta izin”


” Izin apa?"


” Kalau aku nikah sama janda boleh gak?"


Bug... Rizal langsung mendapatkan tendangan di pantatnya oleh Aldi. Rizal kabur dan Aldi mengejarnya.

__ADS_1


” Sekolah aja yang bener, nikah nikah" teriak Aldi kesal.


__ADS_2