
Ali mengetuk pintu rumah adiknya Azizah berulang kali namun adiknya dan dua keponakannya tidak terdengar.
” Assalamu'alaikum Azizah” seru Ali entah sudah berapa kali. Ali pulang ke kampung untuk halamannya untuk melihat adiknya Azizah, yang tinggal di rumah nenek dari ibunya itu.
” Wa'alaikumussalaam mas” jawab Azizah yang sedang melangkah memegang kedua tangan anak-anaknya. Robi dan Hawa. Ali menoleh dan kedua anak itu berlari memburunya.
” Assalamu'alaikum” ucap Ali lembut.
” Wa'alaikumussalaam paman” jawab Robi dan Hawa kompak.
” Pulang gak bilang-bilang mas, ayo masuk” ajak Azizah setelah membuka pintu.
” Emang aku gak boleh kemari Azizah? suami kamu kemana?”
” Ya bolehlah mas, masa gak boleh. Mas Eza lagi kerja sif pagi” Azizah menjawab dan dia pergi untuk membuat minuman. Ali mengeluarkan mainan dan makanan yang dia bawa untuk semua orang.
” Paman, kata nenek buyut paman akan menikah sama siapa?" Hawa bertanya.
” Nanti paman akan menikah” Ali tersenyum.
” Nenek sudah tidak sabar ingin melihat mas Ali menikah” imbuh Azizah seraya meletakkan segelas teh hangat di atas meja.
” Ah nenek heboh aja kerjaannya, aku nikah nanti kalau udah ketemu jodohnya. Kalau maksa-maksa asal pilih aku gak mau nanggung resiko” imbuh Ali dan Azizah tersenyum.
” Emang mas Ali mau yang lulusan pondok juga?”
" Ya enggak harus dek, lulusan dari manapun tidak jadi jaminan gadis itu baik atau tidak. Aku mau yang menerima aku apa adanya, udah itu aja cukup”
” Tapi aku udah gak sabar pengen punya kakak ipar dari mas Ali”
” Iya nanti” Ali tersenyum.
” Pokoknya mas Ali harus punya istri tahun ini, biar sahurnya berdua”
” Ya Allah Azizah, gak bisa dipaksa. Do'ain aja, udah diem” Ali lama-lama kesal mendengar ocehan adiknya. Azizah terkekeh-kekeh melihat ekspresi wajah kakaknya itu.
******
Malam hari tiba, Naina sampai di rumahnya dan keluarganya yang sudah pada tidur cukup lama membukakan pintu. Laila naik travel dan tidak mengatakan apapun bahwa dia akan pulang.
” Makasih bu” ucap Naina saat ibunya meletakkan satu gelas teh hangat di atas meja.
” Ayo diminum, kamu pasti capek”
__ADS_1
” Kenapa pulang mendadak?”
” Naina....” Lirih Naina dan menatap kedua orang tuanya lekat, air matanya menetes deras sampai ibu Ratna dan Pak Fahmi saling menatap bingung. Naina terus menangis sembari menceritakan apa yang terjadi, kecelakaan 11 tahun yang lalu dan Syam yang menceraikannya berulang kali sampai talak habis. Tapi Syam sempat menelepon Naina kemarin dan Naina tidak menjawab panggilannya, Naina belum siap berbicara lagi dengan pria yang sudah menyakitinya, menghinanya dan mempermainkan pernikahan. Bu Ratna dan pak Fahmi begitu terpukul mendengar cerita Naina.
” Ya sudah” kata pak Fahmi dengan suara begitu berat dan sangat pelan. Bu Ratna tidak bisa berbicara apa-apa lagi, dia hanya menangis mendengar anaknya tersiksa.
*****
Keesokan harinya, Naina sedang menuju rumah Husna dengan membawakan makanan untuk kakaknya itu. Naina mengernyitkan keningnya saat melihat seorang pria memakai baju Koko, memakai sarung dan peci yang baru keluar melewati pagar masjid. Usai melaksanakan sholat Ashar. Naina diam sampai dia melewati pria tersebut dan melihat wajahnya sekilas.
” Mas Ali?" lirih Naina dan menoleh memperhatikan Ali yang melangkah masuk melewati pagar rumah adiknya Azizah dan Ali sama sekali tidak melihat Naina, tidak berani dia untuk memperhatikan seorang wanita. Naina, Azizah dan Mirza beda kampung tapi masih satu kecamatan. Dan Ali memang jarang pulang jika tidak ada urusan penting dan hanya pulang jika merindukan adiknya dan keponakannya.
Sesampainya di rumah Husna, Naina turun dari motor dan Husna sedang menyapu halaman. Husna terkejut melihat kedatangan adik-adiknya.
” Assalamu'alaikum mbak”
” Wa'alaikumus salaam”
Naina dan Husna berpelukan, Kabir menyalami tangan Husna sekilas.
” Bang Mirza kerja mbak?” Kabir bertanya dan tidak melihat mobil Mirza.
” Iya, ayo masuk” ajak Husna dan merangkul bahu Naina.
” Kamu pulang kapan Nai?”
” Tadi malam mbak naik travel”
” Naik travel? ngapain naik travel” Husna terkejut dan Naina tersenyum.
” Kabir beli es batu sana sama cemilan” titah Husna dan memberikan uang agar Kabir pergi.
” Males” sahut Kabir tapi menerima uang dari Husna.
” Gak boleh begitu ayo pergi sana” seru Naina dan akhirnya Kabir pergi.
” Lihat dia Nai, nurut sama kamu sama aku susahnya minta ampun” gerutu Husna dan Naina hanya tersenyum.” Heh, Naina. Maksud kamu apaan tadi pulang naik travel, Syamsul kemana?”
” Aku sudah cerai sama mas Syamsul, sedang di urus di pengadilan”
” Gila kamu Naina, bapak sama ibu pasti sedih. Kalau bisa di pertahankan, rujuk aja. Usaha kek kamu buat dapetin Syam lagi” usul Husna ada benarnya jika cerainya bukan talak tiga.
” Talaknya sudah habis mbak, sudah talak tiga. Mau gimana lagi, aku gak bisa apa-apa walaupun masih sayang sama mas Syam" lirih Naina lalu menangis. Husna jadi tidak tega melihat tangisan Naina seperti itu, adik tirinya itu memang sangat menjengkelkan. Tapi dia juga masih punya hati nurani, Naina sudah kehilangan calon bayinya dan sekarang di ceraikan suaminya. Jika menjadi Naina, Husna sendiri mungkin dia sudah gila.
__ADS_1
” Kamu sabar Nai, kurang ajar itu laki sok kecakepan banget. Gak apa-apa, laki-laki masih banyak. Dia orang kayak jadi bisa seenaknya sama kita, udah jangan nangis Nai. Kamu jangan ke kota dulu di sini aja tinggal, kalau ada panggilan dari pengadilan baru kamu ke kota lagi” kata Husna seraya memeluk adiknya Naina, Naina mengangguk dan terus menangis.
*****
Di rumah Syam, Syam menatap baju Naina yang masih ada di lemari, tersusun rapih karena Naina sendiri yang merapihkan nya. Syam memegang dadanya, dadanya sesak menahan rindu. Rindu kepada Naina, salah siapa? salah dirinyalah yang membuat Naina pergi. Syam bahkan melarang foto pernikahannya dan Naina akan disimpan di gudang oleh Amira.
” Kamu lagi apa Nai? kamu kangen gak sama aku?” Syam berbisik.
” Ada aku disini Syam, dan kamu malah masih mikirin Naina” imbuh Amira yang berdiri di depan pintu mendengar ucapan suaminya.
” Aku ingin sendiri” usir Syam dan mengarahkan tangannya ke pintu. Amira tidak mau dan tangannya bergelayut manja di wajah suaminya itu, menggoda suaminya agar melakukan sesuatu padanya malam ini.” Amira” Syam mendorong tangan Amira agar berhenti tapi Amira malah menciumnya paksa. Syam tidak mau dan mendorong Amira sampai terjatuh kasar ke lantai.
” Syam!” Amira berteriak.
” Keluar, aku sudah bilang. Aku mau sendiri” bentak Syam dan Amira bangkit lalu dia menangis dan ingin pergi, Amira diam saat melihat foto pigura berisi foto Syam dan Naina, dia raih dan....
Pranggg.... Amira membanting pigura foto tersebut ke lantai sampai pecah dan menimbulkan suara gaduh. Syam terkejut dan Amira buru-buru pergi keluar dari kamar.
” Amira! kemari kamu” Syam berteriak dan menarik kertas fotonya bersama Naina. Amira tidak perduli walaupun Syam memakinya dia terus melangkah pergi ke kamar dimana Syifa berada.
*****
Malam semakin larut, Ali belum juga sampai di rumahnya. Dia masih di perjalanan menuju pulang dari kampung, Ali menoleh saat ponselnya berdering, Ali memakai headset dan menerima panggilan tersebut.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus salaam. Ali, saya ke rumah kamu tapi kamu sedang tidak ada. Kata bibi di sana kamu pulang kampung.”
” Iya ustadz, saya menjenguk adik saya Azizah”
” Bagaimana kabarnya? saya sudah lama tidak melihat Azizah”
” Alhamdulillah baik ustadz, apa ada hal yang penting ustadz? tidak biasanya menelepon saya” Ali tersenyum.
” Iya ada hal yang sangat penting, Ali Begini, anak saya Rosa kan sudah lulus SMA. Bagaimana kalau nak Ali ta'aruf dengan anak saya Rosa. Nak Ali juga sudah dewasa, saya hanya mempercayakan anak saya kepada laki-laki seperti nak Ali” imbuh ustadz tersebut lalu tertawa renyah, Ali terdiam dan raut wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda dia mau. Rosa memang menyukai Ali dan baru berani mengatakannya setelah dia lulus sekolah.
” Bagaimana nak Ali?”
” Emm iya, iya ustadz. Tidak ada salahnya juga, saya mengenal dek Rosa dia gadis baik. Cuma, apa saya pantas ustadz? ustadz juga tahu pekerjaan saya seperti apa. Saya hanya berdagang dan ustadz tahu itu” lirih Ali dan terus menyentir.
” Tidak masalah Ali, semua pekerjaan baik selama pekerjaan tersebut halal.. Alhamdulillah kalau begitu, saya akan memberitahu Rosa”
” Iya ustadz”
__ADS_1