Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Mencari Amira


__ADS_3

Pukul 3 dini hari, Naina terbangun. Dia tatap dada telanjang suaminya. Tangan Uwais memeluk tubuh telanjang istrinya di bawah selimut. Naina tersenyum dan menyentuh wajah suaminya lembut. Naina bergeser untuk bangkit sedikit melihat pelipis Uwais. Uwais menarik pinggangnya dan Naina terkejut.


” Peluk aku, dingin” pintanya. Naina tersenyum, dan merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya itu. Uwais juga tersenyum tipis.” Baru jam 3, kenapa sudah bangun? lapar? anak kita meminta makan jam segini sayang?”


” Aku cuma haus mas”


Uwais melepaskan pelukannya, dia meraih piyama kimono nya dan memakainya. Naina diam memperhatikan Uwais mengambilkan air untuknya. Uwais mengusap-usap wajah dan rambutnya, dia setengah mengantuk. Dia melangkah dengan kedua mata tertutup dan terbuka lagi setelah kakinya menyentuh ranjang. Naina meminum air nya dan Uwais tersenyum.


” Uhuk” Naina tersedak, Uwais menepuk-nepuk pucuk kepala nya dan Naina mengusap bibirnya.


” Pelan-pelan”


Naina tersenyum setelah menghabiskan air minumnya.


” Jahat sekali tidak menyisakan air untukku” Uwais cemberut dan memperhatikan gelas di tangannya.


” Aku ambilkan”


” Jangan, aku cuma bercanda sayang”


Naina mengangguk dan keduanya tersenyum, Uwais mengelus pipi istrinya lembut dan dia membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Naina, Naina membiarkan suaminya itu. Suaminya sangat lelah apalagi dia harus ke kantor lagi.


*****


Memburu Amira.


Naina terpaksa datang ke tokonya setelah dari rumah sakit, semalam rukonya hampir terbakar. Ada yang sengaja ingin menghancurkan bisnisnya. Naina diam di dalam mobil dan Uwais yang sedang mengurus semuanya di luar sana. Uwais mencari sekiranya ada cctv di sekitaran ruko. Ruko Naina tidak dipasang cctv, karena biasanya juga aman-aman saja. Naina juga menolak saat Uwais menawarkan, karena takut pegawainya risih.


” Ini rekaman cctv dari minimarket di sana” kata Zidan dan memberikannya kepada Uwais. Uwais membuka kacamata hitamnya dan melangkah mendekati mobil, dia masuk dan Naina memperhatikannya.


” Mas, bagaimana?”


” Ini teror sayang” jawab Uwais seraya mengambil laptopnya. Naina diam dan memperhatikan suaminya.” Aku akan memasang cctv hari ini juga, waktu itu pos satpam di rumah kita di bakar, sekarang ruko kamu. Bagian depan harus di renovasi, ada beberapa barang yang terbakar juga. Kamu diam saja aku yang mengurus semuanya, jangan pergi meninggalkan ku. Aku benar-benar khawatir”


Naina meraih tangan suaminya.


” Tenang mas, aku percaya kamu bisa melindungi aku. Kamu jangan capek-capek ya mas” Naina tersenyum, dia menenangkan suaminya. Uwais menyentuh pipi istrinya lembut.


” Tersenyumlah, agar aku tenang Naina”


Naina mengangguk dan Uwais merasa tenang melihatnya.


Naina akan menutup toko selama tiga hari, Uwais tidak mengizinkan Naina keluar dari rumah selama dia tidak ada.


Di tempat lain, Amira sedang duduk sendirian. Setengah wajahnya rusak, terbakar karena kejadian di rumah tua di hutan waktu itu. Amira tidak bisa meminta bantuan Hamdan yang kini dipenjara, jika dia membantu Hamdan bebas itu malah akan membuatnya kesusahan. Amira sedang di buru oleh kepolisian dan oleh orang-orang Uwais, di keluar dari persembunyiannya sudah tidak aman dan harus hati-hati.


” Dia akan menikah lagi, semudah itu? aku tidak akan membiarkannya”


” Syifa, anak ibu” imbuhnya lagi, dia tatap foto anaknya di layar ponselnya.


Amira ingin mengambil Syifa, dan dia tidak bisa merelakan Syam bahaya begitu saja dengan Fatma. Naina yang mendapatkan kehidupan lebih menguntungkan dari pada dirinya membuat Amira iri, dia tidak suka Naina bahagia.


*****


Pernikahan Syam dan Fatma.


Hari ini adalah hari dimana pernikahan Syam dan Fatma berlangsung, jarum jam menunjukkan pukul 2 malam. Naina dan Uwais juga akan datang, Uwais yakin Amira akan datang untuk mengacaukan acara. Dia sudah meminta Zidan dan yang lain bersiap. Naina sudah bangun karena merasa lapar dan ingin ke kamar mandi.


” Mas” panggil Naina karena melihat suaminya bergerak-gerak seperti ketakutan dan mencengkram kuat selimut, dalam posisi tidur. Naina bangkit dan berlari memaksakan kakinya.” Mas bangun”


Uwais terbangun, dia duduk di atas kasur. Keningnya berkeringat dingin, tangannya terkepal kuat. Dia bermimpi buruk, mimpi yang nyata. Kecelakaan maut itu benar-benar membuatnya trauma.


” Mas, kamu mimpi buruk?” tanya Naina seraya mengusap bahu suaminya.


” Iya” singkat Uwais, dia terlihat ketakutan. Naina menekan kepala suaminya agar bersandar di dadanya. Naina masih berdiri, dia usap keringat di wajah suaminya lembut.


” Peluk aku” pinta Uwais, Naina mengangguk dan Uwais bergeser. Naina merebahkan tubuhnya, dia memeluk suaminya erat dan mengecup pipi suaminya sekilas. Uwais tersenyum dan merasa tenang.

__ADS_1


Keesokan paginya, Kabir terlihat panik dan Naina memperhatikannya.


” Dia kenapa?” tanya Uwais.


” Enggak tahu mas, gelisah banget kelihatannya”


Uwais dan Naina terus memperhatikan Kabir, Kabir pergi ke luar dari rumah dan dia menelepon Fatma. Sudah berapa hari Fatma tidak bisa dia hubungi. Panggilan akhirnya tersambung dan diangkat.


” Halo”


” Kenapa terus menelepon ku Kabir? jangan ganggu aku aku mohon”


” Memangnya kamu bisa melakukan itu?”


Fatma diam.


” Aku akan menikah”


” Aku tidak perduli”


” Keluarga mas Syam sudah tahu tentang hubungan kita Kabir, jika mereka mengadukan ku kepada keluargaku bagaimana? belum lagi Bu Naina pasti akan kecewa dengan sikap kita berdua. Pikirkan baik-baik, aku tidak bisa berbicara lama-lama denganmu”


” Tega kamu Fatma, kita sudah berjanji untuk menjalin semuanya walaupun kamu sudah menikah. Jangan begini Fatma”


” Aku minta maaf, aku tidak bisa”


Tut... Panggilan terputus. Kabir meremas rambutnya frustasi dan ingin sekali membanting ponselnya, Kabir berbalik dan dia terkejut melihat Naina ada di belakangnya. Melipat kedua tangannya di dada dan menatapnya tajam.


” Siapa tadi?”


” Teman mbak”


” Kabir” tegas Naina. Uwais yang baru melangkah keluar dari rumah setelah mengambil kunci mobilnya terdiam memperhatikan istri dan adik iparnya.


Plak! tamparan keras mendarat di pipi kiri Kabir, terdengar begitu nyaring sampai semua orang terkejut apalagi Uwais yang langsung berlari dan meraih tangan Naina tapi Naina menepisnya.


” Kamu,,,,” Naina menunjuk-nunjuk adiknya itu dan Uwais menahan tangannya ke bawah.


” Kabir, Astaghfirullah. Mbak malu” Naina marah dan kecewa, dia menangis dan Uwais panik melihat istrinya menangis seperti itu.” Kamu hentikan sekarang juga atau jangan pernah menganggap mbak ini mbak kamu Kabir, mbak malu, Kabir” Naina kesal dan terus memukuli dada adiknya, Uwais memeluknya dari belakang menahan. Kabir diam karena dia memang salah.


” Bukan mbak yang malu, semua keluarga kita malu. Otak kamu dimana sih Kabir sebenarnya, apa mbak pernah ngajarin kamu begini”


Plak! Naina memukul Kabir lagi. Naina terus menangis dan Uwais memeluknya.


” Kabir, ada apa ini sebenarnya?” Uwais juga kesal, Naina mana mungkin marah saking kesalnya sampai menangis seperti itu jika bukan kesalahan fatal.


” Kabir masuk, kita bicara setelah mbak pulang. Kalau kamu kabur, awas kamu” ancam Naina dan Kabir melangkah pergi masuk ke dalam rumah, Naina mengusap air matanya. Uwais membungkuk dan mengelus pipi istrinya lembut.


” Sayang, ada apa sebenarnya?”


” Kita sudah telat mas, nanti aku ceritakan di jalan" imbuh Naina, seraya merapihkan kemeja, dasi dan jas suaminya. Uwais tersenyum, dia tarik kedua sudut bibir istrinya dan Naina juga tersenyum walaupun terpaksa.


” Ayo kita berangkat, boleh diceritakan sekarang nanti juga tidak apa-apa. Tenangkan dirimu sayang, jangan menangis” Uwais merangkul pinggang istrinya, dan mengajak Naina untuk segera pergi. Terserah mau sekarang ataupun nanti, Uwais yakin Naina akan terbuka dengannya.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Fatma, Naina diam. Uwais sesekali mengenggam tangannya lembut dan Naina mencium tangan Uwais sesekali. Setibanya di acara pernikahan, Syam dan Fatma sudah resmi menjadi suami istri. Naina dan Uwais telat karena terjebak macet. Uwais melirik anak buahnya dan semuanya mengangguk. Naina dan Uwais duduk, keduanya begitu mencolok. Dari pakaian mewah, mobil yang keduanya naiki dan kewibawaan keduanya sangat terlihat. Naina tersenyum saat Asil melambaikan tangan padanya. Naina juga terus memperhatikan Fatma yang terlihat menundukkan kepalanya terus-menerus, tidak menunjukkan tanda-tanda jika ia bahagia.


” Sayang, aku pergi dulu” Uwais bangkit dari duduknya.


” Mau kemana?” Naina meraih tangan suaminya dan tidak mau di tinggalkan.


” Aku mau ke toilet sebentar, tunggu disini. Oke?”


” Hanya sebentar?”


” Ya, hanya sebentar”


Naina melepaskan tangan suaminya dan Uwais tersenyum lalu pergi meninggalkan Naina, Uwais meraba senjata di pinggangnya dan mencari keberadaan Syifa. Incaran Amira adalah Syifa, Fatma dan Syam. Juga mungkin istrinya. Uwais sudah meminta Mia dan Dita berada dekat dengan istrinya untuk menjaganya tanpa sepengetahuan Naina, terserah bagaimana keduanya harus menyamar.

__ADS_1


” Naina” sapa mama Novi. Naina menyalami tangan mama Novi lembut dan keduanya duduk bersama.


” Dita, Dita halo. Kau bisa mendengar ku?” imbuh Uwais setelah menekan earphone nya.


” Ya bos” jawab Dita sangat pelan.


” Awasi istriku dengan baik, lecet sedikit saja. Aku pecat”


Glek Dita menelan salivarnya kasar dan terus memperhatikan Naina.


” Iya bos”


” Terus terhubung denganku” titah Uwais dan Dita mengangguk.


Dita terus memperhatikan Naina bersama mama Novi, Uwais dan Zidan terus mencari keberadaan Syifa yang dibawa baby sitter entah kemana karena Syifa terus menangis. Baby sitter kewalahan menghadapi Syifa yang semakin kencang dengan tangisannya.


” Beli balon ya, hush hush” imbuh baby sitter berusaha menenangkan Syifa yang menangis. Amira melangkah cepat mendekati Syifa yang digendong baby sitter nya. Baby sitter Tia itu terkejut saat seorang wanita merebut Syifa secara paksa.


” Nyonya” lirih Tia.


” Ini anak saya”


” Tidak nyonya, tolong kembalikan Syifa” Tia berusaha merebut Syifa, Syifa menangis sejadi-jadinya karena di tarik-tarik seperti itu oleh keduanya.


” Syifa anak saya, jangan macam-macam kamu Tia”


” Tidak nyonya, saya mohon” Tia menangis dan berusaha mempertahankan Syifa. Dua anak buah Amira datang dan menarik lalu mendorong Tia, Tia di tusuk di bagian perutnya. Dia langsung pingsan tidak sadarkan diri.


Syam di pelaminan terkejut dengan keributan yang terjadi, dia melihat Amira berusaha membawa anaknya.


” Sial” umpat Amira saat semua orang berlari memburunya. Amira berlari dan Syifa di gendong oleh bodyguard.


Uwais diam, setelah mendapatkan kesempatan dia keluar dari balik mobil dan merebut Syifa. Uwais menggendong Syifa dengan tangan kiri dan menodongkan senjatanya dengan tangan kanan.


” Aku akan menembak mu jika melangkah lagi” ancam Uwais, Syifa terus menangis dalam gendongannya. Amira dan anak buahnya mengangkat tangan ke atas.


” Amira, kurang ajar kamu” maki Syam saat melihat Amira. Syam melangkah mendekati Uwais dan mengambil anaknya, Amira menarik senjata dari pinggang bodyguardnya lalu menembak Fatma yang berdiri di sebelah Naina. Uwais menendang senjata di tangan Amira saat Amira juga ingin menembak istrinya. Fatma jatuh dan Naina menahannya di pangkuannya.


” Fatma” seru semua orang.


” Fatma” Naina menepuk-nepuk pipi Fatma tapi Fatma pingsan. Naina menahan darah yang terus menetes dari perut Fatma. Amira kabur dan semuanya tidak sadar, Syam memberikan Syifa kepada ibunya, Amira dan Tia harus segera dibawa ke rumah sakit. Suasana pernikahan yang bahagia itu berubah menjadi suasana duka. Naina bangkit di bantu Uwais. Naina menatap tangannya yang berlumuran darah.


” Mas” lirih Naina.


” Sayang, mana yang sakit?”


” Aku,,, aku baik-baik aja mas” lirih Naina, Uwais memeluk Naina erat dan Naina terus menangis.


” Tidak apa-apa sayang, aku disini”


Uwais memapah istrinya menuju mobil, suasana acara pernikahan benar-benar kacau saat ini. Di dalam mobil Uwais membersihkan tangan istrinya dengan tisu basah. Naina benar-benar syok melihat apa yang terjadi. Amira benar-benar nekad. Dia tak segan mengakui Fatma.


” Sayang jangan melamun, lupakan semuanya.”


” Bagaimana bisa mas, Fatma dan Tia terluka”


” Mereka akan baik-baik saja, Amira benar-benar gila. Jangan jauh-jauh dari ku”


” Apa dia akan menyerang kita juga mas? aku pernah keguguran karena dia. Aku sekarang sedang hamil, aku takut,,,,”


Naina berhenti bicara saat bibirnya di tekan oleh jari telunjuk suaminya.


” Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kamu dan anak kita tanggung jawab ku. Jangan cemas berlebihan, kamu tidak boleh stres” Uwais cemas, dia mengelus pipi istrinya lembut dan Naina mengangguk. Naina benar-benar takut.


*****


Di rumah sakit, Tia dan Fatma langsung mendapatkan penanganan. Fatma yang memakai gaun pernikahan menjadi sorotan banyak orang.

__ADS_1


” Anak kita hiks,,,,,” Bu Anggi terus menangis, Syam melirik sekilas dan memperhatikan mertuanya sedang menangis.


” Fatma akan baik-baik aja, kita do'akan mereka sama-sama” kata mama Novi dan memeluk besannya itu. Syam diam dan mendongak menatap langit-langit rumah sakit. Syifa hampir dibawa oleh Syifa, Asil terlihat sibuk menelepon Aldi dan polisi sedang mengejar Amira dan komplotannya.


__ADS_2