Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Semakin menjauh.


__ADS_3

Naina semakin sedih karena Syam sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Selalu menghindar dan tidak mau mendengar penjelasannya. Naina mengusap wajahnya kasar, dia sudah bisa pulang sekarang dan Naina akan pergi ke tokonya. Walaupun Ai melarangnya tapi Naina lebih memilih di toko, ketimbang melihat Syam yang sengaja bermesraan dengan Amira di depan matanya. Naina tahu niat suaminya apa, tapi Naina tidak bisa menerima. Dia sangat sakit hati, di perlakukan seperti itu oleh suaminya.


” Bu Naina mau pulang?” tanya Bu Nurul.


” Iya Bu, saya duluan ya. Assalamualaikum”


” Waalaikumsalam”


Naina pun keluar dari ruangan guru, seperti biasa. Rizal selalu memperhatikannya, Rizal tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi Naina sampai setiap hari wajahnya begitu terlihat tidak bersemangat, tidak seperti biasanya.


” Apa mungkin bang Syam menyakiti Bu Naina? aku tidak rela kalau begini. Jika Bu Naina bercerai dengan bang Syam, aku siap menjadi suami yang baik dan ayah sambung untuk anak Bu Naina. Model gila itu tidak ada apa-apa nya dengan Bu Naina" lirih Rizal sambil menggaruk kepala dan dia mundur, bersembunyi. Saat melihat Naina sedang melangkah dengan kedua mata berkaca-kaca.


Naina memeluk bukunya di dada, sambil menunggu angkutan umum. Naina hanya melihat bus, dia pun melambaikan tangannya dan bus berhenti. Naina masuk dan mencari tempat duduk di saat itu juga diam-diam Rizal masuk dan menutupi kepalanya dengan Hoodie jaketnya. Naina duduk didekat kaca jendela bus, dia terus mengelus perutnya. Bayinya menendang-nendang.


” Ya Allah ya Rahman ya rahim, hanya Engkau yang bisa menguatkan hamba. Beri hamba kekuatan, hamba selalu meminta supaya suami hamba bisa berlaku adil untuk kedua istrinya, tapi malah begini. Hanya Engkau tempatku mengadu. Kuatkan hati dan fisik hamba ya Allah, aamiin ya rabbal alamiin.” Naina bergumam, meminta dan berdoa. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Naina tersenyum dan terus mengelus perutnya. Rizal yang melihat seorang pria akan duduk di sebelah Naina, dia dorong pria itu lalu dia yang duduk di sebelah Naina.


” Tidak tahu sopan santun" ketus pria tersebut yang akhirnya harus berdiri, Naina sama sekali tidak perduli dengan kejadian di sekitarnya. Dia diam dan menunggu sampai di tempat tujuannya.


” Bu” seru Rizal yang merasa bosan dan Naina menoleh, Naina terkejut dan bergeser.


” Ngapain kamu disini?”


” Aku juga mau pulang”


” Rumah kamu gak lewat ke jalan ini Rizal”


” Ibu sok tahu”

__ADS_1


” Ya emang tahu, aku tahu kamu memang serumah sama mbak Asil. Aku tahu rumah mbak Asil” ketus Naina dan bangkit untuk turun tapi Rizal menghalangi menggunakan kakinya.


” Ibu mending duduk, ibu kelihatannya kurang sehat. Aku cuma mau jalan-jalan, daripada ibu turun lagi mending duduk sebentar lagi sampai di toko ibu” pinta Rizal dan bergeser sedikit jauh agar Naina mau duduk, Naina akhirnya duduk kembali dan Rizal diam. Setelah sampai di depan toko Naina, Naina turun dan Rizal memperhatikannya dari dalam bus. Bus pun kembali melaju dan Rizal terus memperhatikan Naina. Sesampainya di depan pintu toko, Naina menoleh dan menatap kepergian bus tersebut. Tidak lama, Naina kembali melangkah dan masuk ke dalam toko nya.


*****


Syam sedang mengemudikan mobil, menuju toko Naina. Naina tetap mengirimkan pesan kepada suaminya. Kemana dia pergi dan naik apa, karena takut kesalahpahaman akan semakin besar. Tapi Syam sama sekali tidak membalas pesannya, tidak membalas ucapannya jika sedang bersebelahan.


” Turun” titah Syam kepada Amira dan Amira bingung.


” Masih jauh dari rumah, kamu waras nurunin aku disini?" Amira kesal.


” Aku bilang turun” tegas Syam dan Amira tidak mau.


” Amira turun!"


Mobil kembali melaju dan Syam tidak mau datang ke toko membawa Amira.


***


Malam hari tiba, Syam sedang sibuk bekerja dengan laptop, pensil dan kertas di pangkuannya. Naina diam, dia berbaring dengan membelakangi suaminya. Naina tidak sanggup melihat Syam yang terus mendiamkannya dan tidak mau berbicara dengannya. Syam membereskan semuanya dan dia letakkan di atas meja. Syam berbaring dan menatap punggung istrinya. Naina sudah tertidur dengan pipi basah dan mata bengkak, saking lelahnya menangis Naina sampai tertidur.


” Nai, aku capek. Pijitin aku Nai" pinta Syam dan Naina sama sekali tidak merespon.


” Nai” panggil Syam lagi dan bergeser lalu melihat istrinya. Syam menyisir rambut Naina, Naina sudah tertidur pulas dan Syam mengangkat kepalanya. Memindahkan Naina agar tidur bersandar di dadanya. Tangan dan bibir Syam sama sekali tidak bisa diam. Dia kecup mesra seluruh wajah dan leher istrinya, dia juga sedih mendiamkan istrinya, tapi itu untuk membuat Naina tidak berani untuk mencoba-coba bermain di belakangnya, begitulah Syam selalu seenaknya sendiri.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, Naina sedang mengobrol bersama ayahnya di telepon. Naina sama sekali tidak terlihat sedih dan berniat menceritakan apapun kepada ayahnya, ayahnya hanya cukup tahu dia baik-baik saja dan bahagia. Hanya itu, jangan yang lain.


” Kapan acara 7 bulanan kamu nak?”


” Ya nanti tanggal 27 pak"


” Bapak pasti datang"


” Bapak memangnya udah benar-benar sehat? Naina khawatir, bapak jangan maksain”


” Bapak udah sehat, melihat kamu nanti bapak yakin bapak semakin sehat dan bahagia. Nanti bapak ajak Kabir, tapi gak bisa lama-lama” pak Fahmi begitu antusias ingin melihat anaknya.


” Iya Naina tunggu, nanti Naina juga mau ngomong sama Kabir biar jagain bapak di jalan" Naina tersenyum lebar.


” Iya, Syam dimana?”


Naina terdiam sejenak mendengar pertanyaan ayahnya mengenai Syam. Syam yang mendengarkan Naina sedari tadi juga diam.


” Mas Syam lagi di kamar” raut wajah Naina terlihat begitu sedih.


” Kamu baik-baik aja kan nak?"


” Iya Naina baik-baik saja”


” Kalau ada apa-apa ngomong, bapak gak mau anak bapak tersiksa. Kalau Syam gak adil, gak bisa adil ikut bapak pulang Nai. Tinggal disini, mending kamu jauh-jauh dari suami kamu sama wanita itu” pak Fahmi kesal.


” Bapak jangan begitu, mas Syam adil. Insya Allah mas Syam adil untuk kedua istrinya” Naina berusaha tenang walaupun air matanya sudah menetes.

__ADS_1


” Syukurlah, tapi tetap aja bapak gak tenang. Jaga diri baik-baik ya nak, jangan terus mengalah. Kamu harus tegas dan jangan sampai kamu yang pertama menjadi yang kedua” seorang ayah yang khawatir memberikan usul yang membuat Naina hanya bisa mengangguk, dia tidak sekuat itu. Ada sedikit perasaan ingin menyerah atas semua yang dia hadapi saat ini, dan hanya Allah yang bisa membuatnya kuat menghadapi sikap Syam dari awal sampai saat ini.


__ADS_2