Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
kesedihan mama Novi


__ADS_3

Naina sedang duduk di taksi menuju tokonya, dia sudah mengubungi suaminya dan memberitahu apa yang terjadi dan Syam pun menuju tokonya. Dari belakang Rizal mengendarai motornya dan menjaga gurunya itu, apa susahnya dia bonceng? Rizal terus protes. Tapi Naina tetap tidak mau dah memilih menunggu taksi walaupun sangat lama. Sesampainya di toko, Naina dan Rizal duduk berseberangan. Ai memperhatikan keduanya bergantian dan Naina belum siap menceritakan apapun.


” Assalamualaikum” suara Syam terdengar. Naina bangkit dari duduknya untuk bergegas menyambut kedatangan suaminya.


" Waalaikumsalam" jawab Naina seraya terus melangkah.


” Waalaikumsalam” jawab Ai dan Rizal dan Ai menahan Rizal untuk tetap duduk.


Benar saja, di antara rak-rak pakaian yang berjajar Naina langsung memeluk suaminya erat. Dia ketakutan dan Syam membalas pelukannya, menciumi kening dan pucuk kepala istrinya berulang kali.


” Mas Aldi sedang menyelidiki semuanya, syukurlah ada Rizal. Apa kita ke rumah sakit saja sayang, aku takut kamu mengalami luka dalam” Syam sangat khawatir dan Naina senang akan hal itu.


" Aku baik-baik aja mas, aku takut. Apa orang itu ada hubungannya dengan orang yang sering meneror kita di rumah mas?” Naina mendongak menatap suaminya hangat.


” Aku akan mengurusnya, kalau aku bilang kamu harus pulang pergi dengan supir saat aku gak bisa kamu harus mau mulai sekarang" pinta Syam dan Naina mengangguk mengerti. Syam mengajak Naina masuk ke ruangan belakang saat melihat para pembeli datang ke toko istrinya itu, Ai sigap buru-buru pergi untuk melayani pembeli dan Rizal terlihat ketakutan saat berhadapan dengan Syam.


” Terima kasih Rizal, karena kamu sudah menolong istriku” kata Syam dan Rizal mengangguk.” Tapi bagaimana bisa kamu datang di waktu yang tepat?” ucap Syam dan Naina menatap wajah suaminya, wajah dengan ekspresi dan tatapan yang sama ketika suaminya sedang cemburu. Naina melirik Rizal takut, takut murid sekaligus adik iparnya Asil itu terkena masalah padahal sudah menolong dan mengantarnya


” Aku gak sengaja mendengar suara teriakan bang” kata Rizal seraya melirik Naina, Naina juga ketakutan melihat Syam seperti itu apalagi dirinya.” Jadi aku langsung melihatnya, ternyata Bu Naina dalam bahaya" katanya sambil kepala manggut-manggut.


” Oh, jadi kamu sangat perduli dengan Naina?" Syam tersenyum, tersenyum penuh ancaman. Sekilas sedikit rasa, jika Rizal memiliki itu untuk Naina nya, awas saja.


” Aku sangat perduli dengan semua orang bang, hehe" entah apa yang dia katakan akan dipercaya atau tidak, sejujurnya Rizal sedang mengikuti Naina karena penasaran kenapa Naina pulang tidak ada yang menjemput. Syam mengangguk entah paham atau pura-pura, dan tatapan tajamnya sama sekali belum berakhir juga.


” Kamu sangat baik ya ternyata, gak kayak cerita mas Aldi" sindir Syam dan seketika Rizal menelan salivarnya kasar.


Mampus, kenapa juga Abang harus mengatakan keburukan ku sama bang Syam?.


” Lalu kenapa kamu ada di lingkungan sekolah dimana istriku mengajar?" Syam terus menyelidiki, jika bisa sampai ke akar-akarnya dia tidak tahu jika Rizal pindah sekolah ke sekolah dimana Naina mengajar.


” Rizal murid pindahan, jadi dia murid aku mas" kata Naina menyela pembicaraan dua laki-laki itu, Syam menoleh kepada istrinya lalu menatap wajah panik istrinya penuh curiga. Syam kembali melirik Rizal dan Rizal membuka jaketnya memperlihatkan atribut sekolah di seragam sekolahnya. Tanpa menunggu lama setelah obrolan yang cukup menegangkan usai Rizal berpamitan untuk pulang, Syam dan Nain mengizinkannya apa gunanya juga di tahan malah semakin membuat Syam cemburu.


” Sayang apa kamu dibonceng naik motor sama Rizal?” tanya Syam seraya menatap Naina yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


” Aku naik taksi mas" lirih Naina ketakutan melihat tatapan suaminya. Kedua telapak tangannya berkeringat dan Naina menundukkan kepalanya


” Jangan mencoba berbohong Naina" kata Syam tidak mudah percaya dan Naina merasa sakit hati mendengarnya.


” Kamu bisa mengecek cctv, aku dibonceng apa enggak. Kecemburuan memang sumber masalah" ketus Naina dan ingin bangkit tapi Syam menarik tangannya. Syam memeluk Naina dan Naina diam membisu.


****


Malam hari tiba, di kampung pak Fahmi merenung di teras rumah di atas kursi panjang dan menatap langit gelap. Gelapnya malam tidak lebih gelap dari kehidupan putrinya, sesal tiada guna. Kini dia hanya bisa meratapi nasib Naina atas kekeliruannya. Pak Fahmi terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Naina. Pak Fahmi bangkit sampai punggungnya jauh dari senderan kursi tersebut. Pak Fahmi melihat kedatangan Mirza sendirian tanpa Husna. Di tangannya terlihat Mirza membawa sesuatu untuk keluarga mertuanya.


” Assalamualaikum pak" salam Mirza sembari tersenyum lebar.


” Waalaikumsalam" pak Fahmi berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Dia ajak menantunya itu masuk dan meminta Kabir membuatkan teh hangat. Mirza membawa kue bolu dan ayam crispy. Husna lembur dan pulang jam 8 malam jadi Mirza memilih mampir ke rumah mertuanya sebelum menjemput istrinya.


” Bapak gimana sehat?” Mirza tersenyum lebar menatap wajah pak Fahmi yang semakin terlihat kurus.


” Bapak khawatir sama Naina" suara pak Fahmi bergetar dan Mirza juga sedih saat mendengar kabar bahwa Syam menikah kembali padahal pernikahannya bersama Naina berjalan satu tahun pun belum.


” Naina gadis yang kuat pak, aku yakin Naina bisa bertahan dan kita sebagai keluarga harus siap saat Naina membutuhkan." Mirza berusaha menyemangati dan dia tidak bisa membayangkan sesedih apa Naina.


****


Di kediaman orang tua Syam, Naina dan Syam sedang berbaring untuk bersiap tidur. Syam ingin mengajak Naina untuk bermain malam ini dan Naina terlihat gugup.


” Nai aku mau tanya” ucap Syam dan Naina menoleh.


” Tanya aja mas" imbuhnya mempersilahkan Syam untuk bertanya apa pun itu.


” Kamu pakek uang penghasilan kamu untuk kebutuhan kita sehari-hari? kamu bisa menabung juga gak mungkin uang dari aku cukup untuk hal sebanyak itu, kalau kurang kamu bisa bilang sama aku Naina jangan pakek uang dari penghasilan kamu” Syam merasa bersalah dan Naina memperhatikannya. Syam merubah posisi dengan memiringkan tubuhnya.


” Enggak mas, aku pakek uang dari kamu. Itu cukup bahkan lebih. Emangnya kenapa mas?”


” Kamu gak bohong Nai?”

__ADS_1


” Ya enggak lah mas, sehari kan udah ketahuan habis berapa. Kita harus memikirkan untuk menabung juga walaupun sedikit” tutur Naina menjelaskan dan Syam terus memperhatikan bibir mungil istrinya.


” Aku memberi Amira nafkah dengan jumlah yang sama Nai, dia meminta lebih untuk memberikan lebih dari itu sungguh aku gak sanggup Nai.” Lirih Syam terus terang dan Naina paham.


” Jelaskan dengan baik, dengan lembut supaya mbak Amira mengerti” Naina tersenyum setelah meminta suaminya bersikap lembut kepada wanita lain, jujur Naina belum ikhlas.


” Aku pusing jelasin sama dia Nai, aku bilang bahkan kamu istri pertamaku masih bisa menabung” Syam merasa frustasi dengan tingkah Amira, Naina terkejut mendengar ucapan suaminya seperti itu.


” Seharusnya kamu jangan bandingkan mbak Amira sama aku mas, aku dan mbak Amira jelas berbeda. Mas harus paham akan hal itu” Naina takut suaminya membanding-bandingkan Amira dengan dirinya, jelas berbeda dan Syam harus menerima Amira bagaimana pun Amira.


” Amira harus sedikit demi sedikit belajar dari kamu Naina" Syam merasa bangga atas apa yang Naina katakan.


” Itu gak perlu mas, setiap orang bisa berubah dengan caranya masing-masing kita hanya perlu berdoa semoga mbak Amira menjadi pribadi yang lebih baik karena menjadi istri dan seorang ibu nanti gak mudah” Naina tersenyum dan Syam mengangguk. Syam meraih tangan Naina lalu mengenggam nya.


” Nai ketemuan yuk Nai” ajak Syam yang sudah tidak tahan lagi dan Naina tersenyum penuh rasa malu, dia raih bantal untuk menutupi wajahnya yang merah merona.” Kamu gak mau? udah lama kita gak ketemuan Nai" Syam berkata seraya terus bergeser mendekati istrinya, Naina tersenyum lalu mengangguk mengiyakan dan Syam merasa senang karena Naina mau kembali melayaninya.


*****


Keesokan paginya, Naina dan Amira membantu mama Novi memasak sarapan. Mama Novi terus menggeleng kepala melihat Amira memakai dres sebetis dengan bahu dan lengan yang terbuka. Naina tidak memiliki hak untuk menegur berlebihan, satu kali dan Amira tidak mau mendengarkan nya dia bisa apa?.


” Naina apa kamu ada acara dengan Syam malam ini?” Amira bertanya dengan terus mencincang wortel dan kol iris tidak jelas bentukannya.


” Bukan begini mbak, tapi memotongnya begini harus kecil-kecil mbak ikuti yang aku contohkan tadi mbak” pinta Naina dan Amira mendelik sebal.” Aku sama mas Syam gak kemana-mana” lirih Naina sedih, mau mengajak Syam kemana memangnya wanita itu?.


” Oh oke aku yang akan mengajak Syam jalan-jalan” kata Amira dan sangat senang.


” Nak, jangan memanggil nama suami kamu panggil suami kamu dengan sebuah sebutan yang pantas dan jangan terus memanggil namanya" tegur mama Novi dan Amira menghentikan aktivitasnya. Amira berkacak pinggang dan menatap ibu mertuanya.


” Aku istrinya aku bebas memanggil suamiku apapun, mama bukannya punya suami sendiri kenapa harus mengurusi suami orang lain" ketus Amira kesal dan Naina yang sedang mengaduk-aduk sayur berbalik cepat lalu menahan Amira yang melangkah mendekati mama Novi dengan raut wajah menantang.


” Astagfirullah hal adzim" mama Novi berseru, seraya mengusap air matanya lalu dia melangkah pergi meninggalkan dapur.


” Mbak Amira jangan bicara begitu, itu mama Novi mertua kita" Naina kesal dan menatap Amira sinis, lalu dia pergi untuk menyusul ibu mertuanya.

__ADS_1


" Terserah" kata Amira dan dia juga meninggalkan dapur ingin kembali masuk ke kamar.


__ADS_2