
Pukul 12 malam, Ali tak bisa tidur. Dia sudah biasa tidur dengan memeluk istrinya Rosa. Dia menoleh dan melihat Ai sudah tidur. Ali bangkit dan mendekat, dia menyelimuti tubuh istri keduanya perlahan dan akan pergi untuk menemui istrinya Rosa. Dia mendapatkan kabar dari ayah mertuanya, bukan hanya kabar tapi makian yang diterima karena sudah menduakan anaknya. Rosa pulang ke rumah orang tuanya, walaupun Ali tidak mengizinkan dia tetap pulang. Dia malas tinggal sendirian di ruko dan malam ini adalah malam pertama suaminya dengan istri yang lain. Ali meraih tas dan memakai jaketnya. Dia keluar dari kamar dan berpapasan dengan bibi Ai.
” Mau kemana?” bertanya, karena bingung melihat Ali berkemas.
” Istri saya sedang sakit, saya pergi sebentar bi" ujarnya, raut bibi Ai terlihat berubah. Tidak suka dengan Ali yang akan pergi meninggalkan Ai di malam pertama.
” Ya sudah” ketus bibi.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Ali pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, untuk pergi ke rumah mertuanya menjemput Rosa. Sesampainya di rumah mertuanya, Ali menelepon Rosa tapi Rosa mematikkan panggilan. Rosa belum tidur.
” Aku minta maaf Rosa” lirih Ali, dia buka pintu mobilnya dan keluar. Ali menyenderkan punggungnya di pintu mobil, dan memperhatikan kamar Rosa. Kamar Rosa masih dengan lampu menyala. Rosa tidak bisa tidur jika lampu di kamarnya masih menyala. Dia lebih suka tidur di kegelapan.
” Angkat sayang" imbuh Ali, yang terus-menerus menelepon. Tidak berani dia mengetuk pintu rumah mertuanya. Takut menganggu dan pasti mertuanya akan marah jika melihatnya. Di kamarnya Rosa terus menangis. Dia membaca pesan dari Ali satu-persatu yang memintanya pulang ke ruko.
” Sayang pulang” pesan masuk dari Ali." Aku di luar sayang”
” Kamu pergi aja mas, aku sudah bilang sama bapak dan ibu. Aku mau cerai” pesan balasan terkirim. Ali di luar rumah yang sedang memperhatikan kamar Rosa terkejut. Ali menelepon lagi tapi Rosa menolak panggilannya. Kini Rosa mematikan ponselnya. Ali semakin panik dan bingung harus bagaimana. Dia tidak mau kehilangan Rosa.
*****
Keesokan harinya, Naina memasak makanan untuk suaminya. Dia akan pergi ke kantor hari ini. Suaminya pasti senang jika dia datang mengejutkannya.
” Kamu masak apa Naina?” tanya bi Astri.
” Ini bi, sayur bening sama ikan goreng. Mas Uwais gak tahu aku akan ke kantor" Naina tersenyum. Bi Astri juga tersenyum melihatnya.
” Biar bibi suruh supir untuk bersiap” kata bibi.
” Iya Bi terima kasih”
Bi Astri mengangguk dan dia pergi untuk meminta supir bersiap dan hati-hati di jalan. Setelah Naina bersiap, dia pergi bersama supir menuju ke kantor. Sesampainya di kantor di disambut oleh Zidan dan Zidan menemani Naina untuk sampai ke ruangan Uwais.
” Apa dia tidak sibuk?” tanya Naina.
” Bos sedang istirahat, bos akan senang jika Bu Naina disini” Zidan tersenyum dan Naina juga tersenyum. Naina masuk saat Zidan membuka pintu, dan Zidan menunggu di luar. Naina melangkah pelan dan memperhatikan suaminya yang tidur dengan posisi duduk, punggungnya bersandar ke tepi sofa dan wajahnya mendongak ke atas. Uwais sangat kelelahan, tapi dia tidak pernah menunjukkan nya di hadapan istrinya. Naina duduk di sebelah Uwais, dia usap dan belai lembut rambut tebal suaminya.
Uwais membuka matanya perlahan dan menoleh, dia terkejut istrinya sudah ada di sebelahnya.
” Sayang, kamu kemari? aku sebentar lagi juga pulang” imbuh Uwais. Naina menyalami tangan suaminya lembut.
” Sengaja, aku mau makan di kantor sama kamu mas”
Uwais tersenyum lalu meletakkan telapak tangannya di perut istrinya.
” Anak ayah mau menemani ayah bekerja, begitu?” Uwais tersenyum dan Naina menundukkan kepalanya melihat tangan suaminya di perutnya.
” Aku bawa makanan buat kamu, ini masakan aku mas”
Uwais memperhatikan Naina yang membuka rantang makanan di atas meja.
” Kamu masak? kamu capek nanti”
” Enggak capek kok, di makan ya”
” Suapi aku” pinta Uwais dan Naina menyuapinya. Uwais memeluk istrinya erat sambil mengunyah makanannya lembut, Naina memperhatikan pemandangan dari ruangan suaminya. Malam semakin larut, Uwais memperhatikan wajah istrinya yang sangat dekat dengan wajahnya itu. Naina terus tersenyum dan menoleh, dia mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Uwais tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke bibir Naina, hidungnya sudah beradu dengan hidung Naina tapi Naina memalingkan wajahnya saat ponselnya berdering. Uwais cemberut dan melihat Naina membuka pesan dari seseorang.
” Dari siapa sayang?"
” Dari Ai, katanya mau kerja lagi mulai besok mas”
” Oh" singkat Uwais dan Naina meletakkan ponselnya, Naina memeluk suaminya lagi erat dan Uwais mencium pipi Naina lembut.
” Kita pulang yuk mas”
” Ayo, kita pulang. Kamu harus istirahat”
Keduanya bangkit dari duduk, dan membereskan semuanya untuk pulang m Naina sangat senang suaminya menikmati makanannya dengan lahap.
*****
__ADS_1
Rosa masih tidak mau bertemu.
Ai diam memperhatikan Ali yang sedang bersiap entah akan pergi kemana. Ai ingin berbicara pun sangat canggung. Ali menoleh dan memperhatikan istrinya itu.
” Ada apa?”
” Emm enggak mas”
” Butuh sesuatu?”
Ai terdiam sejenak.
” Begini mas, aku besok mau mulai kerja lagi. Boleh kan mas?”
Ali mengangguk dan tersenyum.
” Boleh”
” Makasih mas, emm mas Ali mau kemana?”
” Aku harus pergi, ada urusan. Sudah waktunya aku sama Rosa malam ini. Kamu paham kan Ai?"
Ai mengangguk, dia juga tidak perduli dengan jatahnya dan Rosa yang diatur oleh Ali agar adil. Setelah berbincang sebentar, Ali pergi dan Ai merebahkan tubuhnya untuk segera tidur agar besok tidak kesiangan.
Sesampainya di rumah keluarga Rosa, Ali mengetuk pintu berulangkali namun mereka tidak mau membuka pintu untuknya. Rosa juga diam dan tidak mau bertemu dengan suaminya lagi, dia ingin bercerai. Dia tidak sanggup lebih lama lagi menjadi seorang istri yang dimadu. Apa salahnya? satu tahun pernikahan adalah momen terbaik untuk suami istri namun dia malah dimadu.
” Sayang, aku mau ketemu” pesan terkirim untuk Rosa. Di kamarnya Rosa membaca pesan dari Ali.
” Pergi mas” balas Rosa.
” Aku gak mau pergi, sebelum kamu keluar. Kamu gak kangen sama suami kamu ini Rosa?” pesan terkirim.
Rosa membaca pesan suaminya dengan air mata yang terus menetes, dia mematikkan ponselnya lagi dan menyelimuti tubuh nya dengan selimut. Suara Guntur dan gemuruh hujan terdengar, Rosa menenangkan selimutnya dan dia turun dari ranjang lalu membuka tirai jendela dan jendelanya. Rosa terkejut melihat Ali di luar sana memperhatikan kamarnya, Ali berdiri di bawah hujan dan tetap menunggu sampai Rosa mau menemuinya.
” Rosa” imbuh ibu Rosa dan Rosa menoleh. Rosa menjauh dari jendela dan mendekati ibunya.” Ayo temui suami kamu, sudah cukup kamu mendiamkannya. Masalah tidak akan selesai jika kita menghindar, kamu sudah dewasa. Bersikaplah dewasa” imbuh ibu dan Rosa diam.
” Mendiamkan suami kamu begini, dosa sayang”
” Ini sudah takdir, Ali menikahi gadis itu karena terpaksa. Untuk menolong bayi dalam kandungan gadis itu, Ali bukan pria sembarangan dia juga paham agama. Dia tidak akan pernah menyentuh istrinya yang sedang hamil saat dia nikahi entah itu anaknya ataupun bukan, karena menggauli istri yang sudah hamil sebelum pernikahan tidak boleh di gauli. Dia tidak akan pernah menyentuh gadis itu Rosa. Dia terus datang setiap malam kemari cuma untuk kamu” tutur ibu lagi, air mata Rosa menetes dan ibunya mengusap air matanya lembut.. Setelah ibunya mengatakan banyak hal, akhirnya Rosa mau untuk menemui Ali. Rosa keluar dari rumah membawa payung. Ali yang melihat istrinya keluar di malam dan hujan seperti itu merasa khawatir.
” Kenapa kamu kemari mas?” tanya Rosa. Dia memayungi dirinya dan Ali, Ali memegang payung sekaligus memegang tangan istrinya.
” Kenapa mau nanya begitu? aku suami kamu”
Rosa menundukkan kepalanya. Ali tersenyum tipis, akhirnya dia bisa melihat Rosa dari dekat. Istrinya yang sangat cantik itu.
” Kita ngomong di dalam aja mas, gak enak kalau di luar begini” ajak Rosa. Ali mengangguk dan keduanya melangkah bersama. Rosa menoleh saat Ali merangkul pinggang nya. Sesampainya di kamar Rosa mengambil pakaian suaminya dan Ali memperhatikannya, dia hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggang nya.
” Aku bikin teh dulu” kata Rosa gugup, dia sudah membuka pintu tapi Ali mendorong pintu sampai tertutup lagi. Rosa menoleh dan melihat dada telanjang suaminya di hadapannya. Rosa mendongak saat Ali membelai wajahnya lembut, menginginkan sesuatu darinya.
” Aku mau bikin teh hangat buat kamu mas” berusaha menghindar tapi Ali mengusap bibirnya dengan jarinya agar diam.
” Kamu gak kangen sama aku?”
Rosa diam.
” Aku benar-benar merasa kedinginan”
” Aku mau tanya sama kamu mas, aku harap kamu jujur”
” Apa?”
” Kamu sudah berhubungan dengan istri muda kamu itu?” lirih Rosa, kedua matanya berair. Ali mencium bibirnya cukup lama dan melepaskan ciumannya setelah merasa cukup.
” Aku hanya tidur satu ranjang sama kamu, sampai sekarang kamu yang pertama dan tidak ada yang kedua. Aku menikahi Ai untuk melindungi anak Akbar, Akbar sudah seperti keluarga ku. Jika Ai berpikiran yang tidak-tidak, aku benar-benar akan merasa bersalah. Sudah cukup aku melihat Akbar meninggal di hadapan ku, aku tidak mau ada seorang ibu dan anak dalam kandungannya yang seperti itu’ tutur Ali menjelaskan, Rosa menangis dan Ali mengusap air matanya.” Aku minta maaf, karena sudah membuat kamu kecewa. Dukung aku, sebesar apapun tanggung jawab ku untuk Ai dan anaknya. Tidak akan melebihi cinta dan tanggung jawab aku untuk kamu dan anak kita Rosa” suara Ali kini berat, telapak tangannya dia letakkan di perut istrinya.
” Aku sayang sama kamu mas” lirih Rosa.
” Apalagi aku, aku sayang banget sama kamu. Jaga kesehatan, jangan stres, kamu sedang hamil. Anak kita”
Rosa mengangguk sambil tersenyum, lalu diam saat Ali menghapus air matanya. Ali merasa senang dan merasa bahagia, Rosa mau paham akan posisinya sekarang. Dia tahu, itu tidak mudah dan sangat menyakitkan. Tapi Rosa benar-benar baik padanya, Ali merasa beruntung karena memiliki istri seperti Rosa.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, hari ini adalah hari ulang tahun Uwais. Naina terlihat melamun, dia bingung memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk ulang tahun suaminya yang ke 30 ini. Naina ingin sesuatu yang spesial, tapi dia tidak tahu caranya.
” Mbak kenapa?” tanya Ai.
” Ai kemari” Naina meminta Ai duduk dan Ai duduk. Ai terlihat bingung dan Naina ingin meminta saran darinya.
” Kenapa mbak?”
” Mas Uwais ulang tahun, aku gak tahu cara orang kaya merayakan ulang tahunnya seperti apa. Apa kamu punya ide Ai?”
Ai terdiam, terlihat berpikir keras.
” Aku gak tahu mbak, aku kan bukan orang kaya. Mbak ngapain capek-capek. Mas Uwais lihat mbak aja udah seneng gak perlu aneh-aneh. Mbak harusnya gak usah ke toko, resepsi pernikahan mbak kan sebentar lagi” tutur Ai.
” Enggak Ai, aku bisa jaga kesehatan. Ulang tahun kan setahun sekali, aku pengen yang terbaik untuk mas Uwais” Naina bersikukuh dan Ai mengangguk.
Di kantor, Uwais sedang mengomel. Naina tidak bisa di hubungi dari pagi.
” Dia kerja atau apa disana? aku sudah bilang jangan ke toko tapi tetap saja dia pergi" Uwais kesal dan Zidan mendengarkan.
" Saya akan menghubungi Dita, untuk menanyakan Bu Naina sedang apa bos” kata Zidan seraya mengeluarkan ponselnya.
” Iya telepon dia.” Tegas Uwais lalu dia duduk sambil memangku satu kakinya.
Zidan menelepon Dita, tapi Dita bilang Naina sedang keluar. Naina pergi bersama Ai entah kemana. Uwais memperhatikan raut wajah tegang Zidan saat ini. Dia bangkit dan merebut ponsel Zidan.
” Dita, ini saya. Istri saya kemana?”
Di seberang sana, Dita terkejut.
” Begini bos...”
” Begini apa?” setengah berteriak.
” Bu Naina pergi sama Ai bos. Gak tahu kemana”
” Bodoh kamu, kenapa gak bilang sama saya?” Uwais benar-benar kesal.
” Saya kira cuma ke warung depan bos”
Uwais mematikkan panggilan sepihak dan memberikan ponsel Zidan, Uwais meraih ponselnya dan menelepon bodyguard langsung untuk mencari tahu dimana Naina berada.
****
Di sebuah pusat perbelanjaan, Naina dan Ai sedang berbelanja. Naina juga mengajak Kabir untuk membantunya, di tempat yang sama Syam, Syifa dan Fatma juga ada sedang jalan-jalan atas permintaan dua pihak keluarga. Untuk membuat keduanya agar semakin dekat.
” Mbak, mau beli apalagi?” tanya Kabir.
” Mau beli kue ulang tahun, ada toko kue yang enak disini katanya” Naina tidak mau mengecewakan suaminya, dia ingin kue yang paling spesial.
” Mbak gak boleh capek-capek, kalau bang Uwais tahu habis aku” kata Kabir dan Naina tersenyum. Ketiganya kembali melangkah, Naina memperhatikan toko pakaian bayi dan terlihat semua bayi yang digantung sangat bagus di sana. Naina sudah berniat belanja pakaian bayi nanti setelah kehamilannya sudah 8 bulan. Kabir berhenti melangkah saat melihat gadisnya menggendong seorang anak perempuan, seorang pria di sebelahnya yaitu Syam. Naina memperhatikan wajah adiknya dan dia menoleh. Naina memperhatikan Syam yang bersama seorang gadis dan Syifa. Dari belakang Asil dan anak-anaknya juga ada.
” Naina” imbuh Asil begitu senang melihat Naina. Naina tersenyum dan keduanya berpelukan.
” Bu Naina" gumam Fatma. Tatapannya dan Kabir bertemu, Kabir belum tahu siapa Fatma sampai bisa menggendongnya Syifa.
” Kabir” sapa Syam kepada Kabir tapi Kabir mendelik sebal.
” Naina, kamu lagi belanja?” tanya Asil.
” Iya mbak" Naina tersenyum.” Fatma, kita ketemu lagi” ujarnya.
” Kalian saling kenal? ini Fatma calon istrinya Syam. Calon ibunya Syifa” tutur Asil, Naina tersenyum dan Fatma memperhatikan Kabir. Kabir tidak menyangka Fatma membohongi nya.
” Kurang ajar kamu Fatma” gumam Kabir marah. Fatma menundukkan kepalanya dan Syam terus memperhatikan Naina yang terlihat berisi sekarang.
” Kamu lagi hamil?” tanya Asil, karena melihat dus susu hamil di plastik belanjaan yang Naina bawa.
” Iya mbak Alhamdulillah” Naina tersenyum.
Syam mengepalkan tangannya mendengar Naina hamil, berarti? Uwais benar-benar menyentuh Naina selama ini dan tidak menghiraukan ucapannya. Syam memintanya untuk menikahi Naina dengan syarat tidak boleh menyentuh Naina, tapi nyatanya sekarang Uwais berbohong. Naina sedang hamil.
” Sial" umpat Syam dalam hati." Aku yakin kamu terpaksa melayani pria kriminal itu Naina” gumamnya lagi, merasa iba dengan Naina yang mau mengorbankan dirinya untuk nya agar tidak dimasukan ke penjara oleh Uwais.
__ADS_1