
Anggita terus merasa kesal apalagi ketika Ayahnya malah terus menceritakan Aira di hadapan Nathan, padahal dirinya sudah bersusah payah berdandan cantik untuk menarik perhatian Nathan namun nyatanya malah Nathan sama sekali tidak meliriknya dan yang lebih membuatnya kesal karena Aira malah datang bersama Nathan.
" Pokoknya Papah harus membuat Nathan berada di sisi Gita Pah, bagaimana pun caranya.. " Kesal Anggita membanting pintu kamarnya.
" Anggita,, Sayang * Ucap Melisa.
" Lagian bagaimana bisa mereka saling mengenal, dan Papah tau bagaimana Nathan terlihat sangat melindungi Aira."
Bratama terdiam,,
terlihat jelas memang bagaimana sikap Nathan terhadap Aira di sana hingga sama sekali tidak memperhatikan keberadaan Anggita.
Tidak lama Terdengar suara mobil,,
Bratama berjalan menuju jendela, dan terlihat Aira yang pulang.
Sementara Aira tersenyum,,
" Terimakasih Tuan sudah mengantar saya, dan Gaun ini "
" Simpan Untuk kamu,, Saya yang seharusnya berterimakasih karena kamu sudah menemani saya tadi."
Aira mengangguk,,
dia menatap lampu rumahnya yang masih menyala dan terlihat mobil Pamannya sudah terparkir di sana.
" Saya masuk Dulu, Tuan Hati hati "
" Aira tunggu "
" Ya "
" Panggil saja Nathan, "
" Ya Tu- em Maksud Saya Na-than "
Nathan mengangguk,,
Aira melangkah masuk, walau sebenarnya hatinya tidak karuan apa yang akan terjadi setelah ini.
sudah pasti Paman dan Bibinya sudah menunggu nya di dalam.
Nathan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil nya..
Ceklek,,
pintu terbuka,, Aira berjalan hati hati masuk ke dalam rumah berharap jika Paman ataupun Bibinya sudah tidur.
" Pulang juga kamu Aira, "
Deg..!!
Aira berhenti,,
Terlihat Bratama juga Melisa berjalan mendekat, Aira menunduk dengan berusaha berdoa agar mereka tidak bertanya macam macam atau malah menyiksanya.
" Bagaimana bisa kamu mengenal Nathan " Ucap Bratama menatap Tajam Aira.
" Oh,, atau kamu sengaja menggoda Nathan.. Aira dengar asal kamu tau, Sebenarnya yang Nathan suka itu Anggita dan bukan Kamu, sadar siapa kamu, lihat bagaimana kamu sangat berbeda jauh dari Anggita yang sangat cocok dengan Nathan dan bukan kamu."
Perih, sesak, sakit dengan apa yang Melisa katakan,,
" Dengar Aira, mulai sekarang kamu jauhi Nathan atau kamu keluar dari rumah ini."
Aira masih terdiam,,
antara dirinya dengan Nathan tidak ada hubungannya apa pun, namun bukan itu yang membuatnya sedih, tapi semua ucapan yang mereka katakan jika itu sungguh membuatnya sangat sakit sakit hingga butiran bening berhasil menetes di wajahnya.
__ADS_1
Tangannya menyeka,
dia kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya,,
melepas semua pakaian nya dan membersihkan wajahnya.
Nathan sampai di rumah nya di sambut Seno yang memang selalu akan setia menunggu di rumah.
" Selama malam Tuan "
Nathan mengangguk dan terus berjalan menuju kamarnya, namun langkah nya berhenti.
" Pak Seno "
" Ya Tuan, Ada yang Anda butuhkan."
Nathan menghela napasnya dan berbalik menatap laki laki paruh baya namun masih terlihat segar.
" Saya mau seseorang untuk menjaga Aira, dan langsung laporkan semua yang terjadi dengannya apapun itu."
" Baik Tuan " Ucap Seno yang sangat heran dengan perintah Tuan nya itu.
Nathan pun melepas jasnya,,
melingkis lengan kemejanya dan berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya sebelum dia membasahi semua tubuhnya.
***********
Setiap Harinya,,
Aira selalu sibuk dengan berbagai pekerjaan, mulai membersihkan beberapa ruangan hingga menyiapkan sarapan selalu dia lakukan setiap hari.
pagi ini Aira pun masih sibuk dengan beberapa alat dapur, dia masih sibuk dengan membuat sarapan sebelum semua terbangun.
" Gue minta Lo jauhi Nathan "
Anggita berdiri menatapnya dengan kedua tangan yang menyilang di atas dada.
" Aku sama sekali tidak hubungan apapun dengan Nathan "
" Lo harusnya sadar diri Ra, siapa Lo, Lo lihat bagaimana Lo, sangat tidak cocok bersanding dengan Nathan yang sangat sempurna. tapi kalau Adi sih cocok. "
Aira memejamkan matanya berusaha menahan diri untuk tidak membalas semua perkataan Anggita.
Selama ini Anggita sudah sangat keterlaluan , dia selalu saja membuat masalah dengannya.
" Aku sangat sadar siapa aku, dan kamu tidak perlu cemas karena Antara aku dengan Nathan tidak ada hubungan apa pun "
Aira berjalan meninggalkan Anggita yang berdiri di sana,,
Sialan Aira,,
awas saja, gue gak akan pernah biarin semua itu terjadi.
Semua milik gue dan bukan Lo Aira.
Aira masuk ke dalam kamarnya,,
Dia sangat kesal dengan sikap Anggita yang seenaknya saja, bukan hanya sikapnya namun juga semua perkataan nya selalu saja membuat nya sakit hati.
Aira menatap sebuah foto di samping tempat tidurnya, Foto dimana dirinya bersama kedua orang tuanya.
Pah,, Ma,,
Andai saja kalian masih ada di samping Aira, semua ini tidak akan terjadi,,
Aira kangen kalian,, Andai saja Aira bisa ikut bersama kalian rasa sakit, lelah ini sudah pasti tidak akan Aira dapatkan.
__ADS_1
Tapi semua ini sudah takdir Tuhan, dan Aira harus bisa menerima nya dengan ikhlas.
Maafin Aira karena malah bersedih seperti ini.
Aira mengecupnya,,
dia menatap jam dan akan bersiap untuk bekerja,,
Bratama, Melisa yang baru saja keluar kamar di buat bingung dengan sikap putrinya Anggita yang terus urung uringan.
" Sayang ,, heii kamu kenapa sih masih pagi sudah urung uringan " Ucap Melisa mengusap wajah putrinya.
" Sudah pasti karena Aira,, Dia bilang mau merebut Nathan dari Gita Mah,, Anggita gak mau Nathan jadi milik Aira..
Pokok nya Anggita mau Papa cepat berbuat sesuatu."
" Astaga Aira keterlaluan,, "
Bratama segera berjalan mencari Aira..
" Aira keluar " Ucapnya di depan pintu kamar Aira.
Ceklek,,
Pintu terbuka..
" Paman,, *
Plakk..
Tamparan keras Aira dapatkan, pedih rasanya walau bukan hanya saat ini dia alami.
* Sudah berapa kali Saya bicara, Jangan pernah buat Anggita menangis,, Kamu sadar siapa kamu, Kamu hanya numpang di rumah ini, Jika saja uang 100juta sudah kamu berikan kepada kami, kamu keluar rumah ini pun tidak bakal saya cegah."
Tes..
Butiran bening menetes,,
Bukan lagi rasa sakit dan pedih yang Aira rasakan karena tamparan di pipinya, namun juga di hatinya kini.
Melisa juga Anggita tersenyum melihatnya,,
mereka sangat puas dengan apa yang sudah Aira dapatkan,,
Aira hanya mereka gunakan sebagai pelampiasan saat dia sedang marah karena menyiksa Aira bisa untuk meluapkan emosi.
Dengan langkah gontai,,
Aira berjalan menyusuri jalanan biasa yang selalu dia lewati untuk menuju Cafe.
Dia terus berpikir untuk segera mendapatkan uang itu, dan dia akan keluar dari rumah.
Air mata yang terus menetes, rasa sakit hatinya melebihi rasa sakit tamparan Pamannya.
gaji dari Cafe tidak bisa dia andalkan, dia pun berniat untuk mencari pekerjaan tambahan agar uang itu segera kumpul.
" Aw... " Rintihnya memegang perutnya yang terasa sakit..
Aira berusaha menahannya,,
Dia berhenti sejenak dan mengambil napas panjang .
namun rasanya sangat sakit,,
Dia berusaha menahan nya namun rasa sakit yang sangat membuatnya malah terjatuh.
* Aw ... sakit " rintih nya semakin histeris
__ADS_1
Aira terus mengusap bahkan meremas perutnya yang sangat sakit,,