Nathan Dan Aira

Nathan Dan Aira
No. 08


__ADS_3

Adi terus menatap Aira yang sedang bekerja, senyuman terus Aira tampilkan saat sedang bersama pelanggan bahkan banyak dari pelanggan yang merasa puas dengan pelayanan yang Aira berikan.


" Huuft" Aira menghela napasnya dan berjalan masuk.


Adi tersenyum dan berjalan mengambil gelas yang sudah terisi air.


" Minum dulu, Kamu pasti lelah buka"


Aira tersenyum dan meneguknya.


" Makasih Kak,, Tapi aku senang bisa kembali bekerja setidaknya,-


Ucapan Aira terhenti saat dia kembali teringat untuk bisa mengganti uang 100juta itu.


" Setidaknya?" Ulang Adi menautkan alisnya.


" Gapapa,, "


Adi mengangguk dan menatap jam yang ternyata sudah cukup larut, dan sudah waktunya Cafe tutup.


" Sudah malam, kita tutup saja "


Aira mengangguk dan mulai membereskan kursi kursi Cafe dengan Adi yang membantunya.


Nathan yang sudah berada di rumah nya pun masih menatap langit langit malam di balkon kamarnya.


ingatan tentang Aira terus terbayang di pikirnya, bagaimana mungkin gadis selemah Aira bisa bertahan dengan Paman dan Bibinya yang selalu menyiksanya.


Astaga..


kenapa saya malah memikirkan gadis itu, Dia sudah hidup seperti itu selama ini sudah pasti dia kuat dalam menjalaninya.


Nathan menghela napasnya,,


dia masih betah berada di sana,,


Hari semakin larut,,


Jam pun sudah menunjukkan pukul 23.00 malam,,


Aira sudah bersiap pulang begitu juga dengan Adi.


" Aku antar kamu pulang Ra "


" Gak usah Kak, aku berani pulang sendiri kok."


" Ini sudah larut Ra, gak baik gadis pulang sendiri, Tidak ada penolakan. "


Aira pun akhirnya mengangguk dan masuk ke dalam mobil Adi.


Selama perjalanan tidak ada obrolan, Aira menatap lurus. .


tubuh yang terasa sangat lelah, bagaimana tidak..


dia harus menyiapkan makan, membersihkan rumah dan harus bekerja.


" Ra,, "


Aira tidak mendengar nya,,


dia larut dalam pikiran nya untuk bisa segera mengumpulkan uang itu.


" Aira "


" Ah Ya Kak, kenapa ?"


" Kamu kenapa, apa ada yang kamu pikirkan?"


Aira menggeleng,,


selama ini Adi sudah begitu baik kepadanya, sudah sering membantu nya.


" Maaf ya, kamu pasti capek gara gara pulang larut bukan?"


" Bu- bukan itu Kak,, Aku gapapa kok "


" Ra, Kalau kamu ada sesuatu bisa cerita sama aku.. siapa tau aku bisa bantu atau,-


" Iya Kak Adi,, Makasih ya Kak udah selalu baik sama aku."

__ADS_1


Adi mengangguk dan mengusap pucuk rambut Aira.


Hingga mereka sampai di depan rumah,,


Aira menatap Adi ,,


" Sekali lagi makasih ya Ka, Kak Adi hati hati di jalan."


" Kamu juga istirahat "


" Emm"


Adi menatap Aira yang berjalan masuk,,


dia pun melajukan mobilnya.


Baru saja membuka pintu,,


Aira sudah di kejutkan dengan adanya Melisa juga Anggita di sana.


" Jam berapa sekarang, kenapa baru pulang " Ucap Melisa menatap Aira.


" Maaf Bi, tadi Cafe rame jadi Aira baru pulang."


" Alah,,. bilang aja Lo habis pacaran kan sama Adi..


gue heran sama Lo, Apa hebatnya Adi coba dia cuma punya Cafe kecil, sedangkan Tuan Hendra, Dia pengusaha dan Lo malah menolak nya." Lanjut Anggita.


" Sudah lah,, Kamu sudah menolak Tuan Hendra tapi jangan melupakan uang 100jt itu."


Aira terdiam,,


menatap Melisa juga Anggita yang berjalan menuju kamar mereka.


Lagi dan lagi hatinya perih, sakit, kedua tangannya memegang dadanya yang sangat sesak.


Sampai kapan mereka akan menyiksa nya, sampai kapan dia bisa lepas dari penderita itu.


Dia pun melangkah menuju kamarnya,,


Kamar yang hanya sepetak dan sepadan dengan kamar pembantu di sana.


Setelah membersihkan tubuhnya,,


Aira membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah sedikit usam,,


Namun Aira sangat bersyukur karena baik Paman dan Bibinya tidak mengusirnya hingga dia bisa memiliki tempat tinggal.


Karena tubuh yang Sangat lelah Aira pun akhirnya terlelap dengan tangan yang memeluk boneka usang pemberian Ayahnya saat masih hidup.


Hari mulai terang,,


Suasana hening terlihat di sebuah Mention megah kawasan Elit dimana beberapa pelayan juga Seno tampak bingung karena tidak biasanya Nathan bos mereka masih belum terlihat keluar kamarnya.


Biasanya Nathan akan bangun pagi-pagi dan langsung ke Perusahaan namun pagi ini mereka belum melihat Nathan keluar kamar padahal sudah jam 7 pagi.


" Maaf Pa Seno, Apa Tuan sakit karena sudah jam 7 tapi Tuan belum keluar kamarnya."


Seno terdiam,,


" Saya juga masih berpikir, Coba saya ke kamarnya."


Seno melangkah menaikan tangga dan menuju kamar Bosnya, Dia kembali terdiam.


Namun akhirnya tangannya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Tuannya.


Beberapa kali tidak ada jawaban,,


membuat Seno semakin dibuat khawatir..


tok,,


tok,,


tok,,


" Tuan Nathan,, Apa Anda baik baik saja ?"


Tidak lama terdengar suara langkah,,

__ADS_1


Ceklek,,


Seno menatap dimana wajah Nathan yang baru bangun tidur,,


sedikit terkejut namun Seno bersikap tenang.


" Saya baik baik saja, Hari ini Saya ke Kantor siang tolong siapkan makanan untuk saya ."


" Baik Tuan "


Brakk..


Seno kembali turun dan segera meminta semua pelayan menyiapkan sarapan.


Nathan mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan jika dirinya baru akan ke Perusahaan siang.


Tubuhnya sedikit tidak enak, namun BUkan Nathan namanya jika dia sakit.


Semalaman dia tidak bisa tidur, dia kembali teringat Jesika wanita yang sangat dia cintai tunangannya..


Kembalinya rasa rindu yang amat membuatnya merasakan kehilangan.


Nathan pun seorang manusia normal, merasa kehilangan dia sangat terpukul dengan kepergian yang begitu cepat Jessica.


Tangannya kembali membuka laci meja, Mengambil Foto dimana gadis cantik tersenyum.


Seharusnya kamu di sini, di sisi aku, di samping aku menemani hari hariku, kita hidup bahagia bersama.


namun kamu pergi begitu cepat, meninggalkan aku yang masih belum bisa merelakan semua itu.


Nathan mengusap wajah Jessica,,


dia pun kembali menyimpan nya ,, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Aira,,


Dia baru saja selesai setelah menyiapkan sarapan untuk semuanya.


Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, hari ini Adi memintanya untuk lebih datang pagi ke Cafe karena ada yang akan membooking Cafe mereka.


Bratama, Melisa juga Anggita berjalan menuju meja makan dan langsung menikmati sarapan yang sudah ada di sana.


" Tumben sekali sarapan sudah siap, biasanya anak itu belum selesai " Keluh Melisa


" Iya Ma, Padahal semalam dia bahkan pulang sangat larut."


" Larut, jam berapa anak itu pulang semalam" Ucap Bratama yang terlihat tidak suka.


" Pagi Paman, Bibi,, Gita " Sapa Aira yang sudah siap


Bratama menatap tajam Aira,,


" Mau kemana kamu , Semalam pulang jam berapa "


" Cafe Paman, Jam 11 malam ."


Brakk..


" Dasar anak tidak tau diri, Pulang jam 11 malam dan masih pagi kembali pergi."


" Ta- tapi Paman, Aira bener dari Cafe."


" Bohong Pa, Semalam dia pulang di antar Adi pasti mereka pacaran."


Aira menggeleng,,


" Apa hebatnya Adi, dia hanya punya Cafe kecil dan kamu mau pacaran dengannya, Seharusnya kamu menikah dengan Tuan Hendra dengan begitu kamu bisa hidup enak Aira."


" Maaf Paman, Bibi,, Aira pamit "


Aira berjalan keluar walau Paman dan Bibinya terus berteriak memanggil nya..


Dia sudah cukup lelah dengan semua ucapan mereka, Dan dia sendiri sudah di tunggu Adi di Cafe.


Aira terus melangkah cepat,,


namun langkah nya terhenti saat seseorang memanggilnya,


" Aira "

__ADS_1


__ADS_2