
Nathan terus menatap Aira , dia tau gadis di depannya ini sedang memikirkan sesuatu.
Peka itulah salah satu sifat Nathan setiap melihat gerak gerik Aira, dia tau apa yang Aira sedang rasakan juga pikirkan.
Mungkin karena itu lah dia menjadi laki laki yang sangat di kagumi banyak orang terutama kaum hawa.
" Pasti kamu berpikir kenapa Saya bicara akan menikahi kamu bukan. ?" Ucap Nathan membuat Aira mendongak menatapnya.
" Aira dengar, Kamu jangan pernah berpikir itu hanya omong kosong hanya untuk membuat Bratama tidak menganggu kamu.
Bagi Saya Sebuah Pernikahan itu hal yang sangat sakral, sekali dalam hidup dan setelah saya menyatakan hal itu maka semua sudah saya pikirkan dengan matang.
Kamu jangan berpikir jika pernikahan ini hanya pra nikah dan setelah semua masalah selesai maka saya akan menceraikan kamu."
" Ta- Tapi,, Kenapa Anda bicara seperti itu,, Kita bahkan baru saling mengenal " Ucap Aira mengungkapkan semua yang di pikirkan.
Nathan tersenyum,,
" Apa kamu tidak mau menikah dengan Saya " Godanya membuat Aira Langsung memalingkan wajahnya.
Bisa bisanya Nathan malah menanyakan hal semacam itu, Apa dia sedang melamarnya atau hanya menggodanya.
Nathan tersenyum melihat ekspresi wajah Aira yang sangat menggemaskan.
" Lupakanlah dan jangan pernah berpikir jika saya hanya akan mempermainkan kamu dalam pernikahan ini, kamu fokuslah dengan kuliah kamu lusa."
Aira mengangguk,,
Nathan bukan hanya baik, peduli namun dia sangat tau apa yang Aira butuhkan, Sikap dewasa nya lah yang membuat Aira sangat nyaman berada di dekatnya walau mereka belum lama saling kenal, namun selama ini Nathan selalu bersikap baik kepada nya.
Tidak lama makanan mereka datang,,
Baik Nathan ataupun Aira terlihat menikmati nya, Nathan pun menikmati makanan yang Aira pesan untuk Ya.
_____
Sementara Bratama terlihat seperti kebakaran jenggot, dia harus bersiap dengan segala yang akan terjadi dengannya, Keluarganya juga perusahaan miliknya yang sudah dia rintis dari bawah.
Nathan akan menikahi Aira, dan dirinya sudah tidak bisa lagi membuat Aira kembali ke rumah, Bagaimana dengan Hendra, dengan Ancaman Hendra.
Apa dia bisa melunasi hutang hutangnya yang semakin banyak belum lagi dengan bunga yang semakin tinggi, rumah ya pun tidak cukup untuk membayar semuanya.
Derrt,,
Bratama menatap ponselnya, terlihat Hendra yang kembali menghubungi nya.
Dia pun bingung apa harus mengangkat nya atau tidak, jika tidak maka Sudah Pasti Hendra akan mendatanginya dan jika dia mengangkat nya apa yang akan dia ucapkan.
Bratama terus berjalan mondar mandir, ponselnya pun terus berdering.
hingga akhirnya Bratama mengambil dan mengangkatnya.
" Ha- Ho Tuan Hendra " Ucapnya gugup
__ADS_1
" Lama sekali kamu angkat telpon Saya, Kamu tidak sedang bermain main dengan Saya bukan ?"
Bratama menelan Saliva nya,,.
Baru Saja di telpon dan tidak bertemu namun sudah membuatnya takut bagaimana jika nantinya mereka bertemu apa dan Hendra tau tentang semuanya. bagaimana nasibnya nanti.
" Maaf Tuan, Saya baru saja masuk ke ruangan sementara Ponsel saya tertinggal."
" Bagaimana Aira, Kapan kamu akan membawanya kemari, Ini sudah lebih dari satu Minggu kamu menjanjikan nya. jangan pernah bermain main dengan Saya Bratama."
" Mana berani saya bermain dengan Anda Tuan, Berikan Saya waktu Tuan."
" Minggu depan,, dan jika Minggu depan Kamu belum juga membawa Aira jangan harap kamu bisa menghirup udara lagi dunia ini juga melihat keindahan alam."
Tut,,
Tut,,
Tut,,
Hendra memutuskan telponnya begitu saja, sedangkan Bratama semakin di buat stres dengan semuanya, belum lagi istri dan Anaknya yang selalu memintanya mentransfer sejumlah uang untuk membeli apa yang mereka inginkan.
Jika seperti ini terus,,
Saya bisa mati ketakutan, Apa yang harus aku lakukan sekarang.
bagaimana aku bisa membawa Aira dan membatalkan pernikahan itu.
Dia terus berpikir untuk menggagalkan pernikahan Nathan dan Aira sebelum Hendra mengetahui nya lebih dulu.
******
Hari semakin senja,,
Nathan tidak kembali ke Kantor dan masih bersama Aira..
Mereka berada di sebuah Taman namun dengan keadaan saling diam.
Sebenarnya bukan Nathan, Aira lah yang terus diam semenjak dari Restoran siang tadi.
" Ada Apa, Apa yang kamu pikirkan?" Ucap Nathan membuat Aira menggeleng.
" Kita bahkan akan menikah Aira, katakan apa yang mengganjal di pikiran kamu. "
Aira menghela napasnya,,
" Aku hanya bingung bagaimana bicara dengan Kak Adi untuk keluar dari Cafe, Sementara aku harus kembali kuliah."
Nathan mengacak pucuk rambut Aira ,,
" Saya membebaskan kamu untuk semua Itu Aira, Jika Kamu memang masih ingin bekerja silahkan, Saya hanya ingin kamu kembali kuliah mengejar mimpi mimpi kamu bahkan jika setelah menikah kamu masih ingin bekerja saya tidak akan melarang nya, Lakukan lah semua yang ingin kamu lakukan."
Aira terdiam,,
__ADS_1
Bahkan Nathan tidak melarang nya melakukan hal yang dia sukai,,
Kenapa Nathan bisa bersikap sangat baik terhadapnya.
" Kenapa Anda sangat baik, peduli terhadap Saya "
Nathan tersenyum menatap Aira,,
" Apa sepenting itu untuk kamu tau ?"
Aira mengangguk,,
Nathan menghela napasnya,,
" Karena Saya telah kehilangan dua orang yang sangat saya sayangi, Saya tidak mau kejadian itu kembali karena keterlambatan apa yang saya lakukan."
Aira mengernyit,,
Dia tidak tau maksud dari ucapan Nathan.
" Intinya,, Saya tidak mau melihat kamu kembali menderita setelah selama ini kamu lalui Aira. "
Aira terdiam,,
Matanya mulai berkaca Mendengarnya, Dia bisa bertemu dengan Malaikat yang sangat baik.
Dari awal mereka bertemu hingga saat ini, Nathan lah yang selalu melindungi nya, Jika dia dalam masalah selalu Nathan lah yang datang membantu nya.
" Jangan lagi menangis Aira, Air mata ini terlalu mahal untuk kamu kembali teteskan" Ucap Nathan mengusap air mata yang berhasil menetes di wajahnya.
Aira langsung Berhambur memeluk nya, bukan Air mata kesedihan namun air mata kebahagiaan lah yang dia rasakan saat ini, setelah kepergian orang tuanya dia bahkan tidak pernah lagi merasakan kebahagiaan hanya kesedihan dan tangisan yang dia rasakan setiap hari.
Nathan tersenyum dan membalasnya, mengusap lembut pucuk rambut Aira yang masih memeluknya erat.
Maaf karena Saya datang terlambat Aira,
seharusnya Saya datang lebih cepat hingga kamu tidak akan merasakan kesedihan terlalu lama.
Saya janji, Tidak akan ada lagi air mata kesedihan yang kamu teteskan, Tidak akan ada lagi orang yang bisa membuat kamu menderita.
Aira melepaskan pelukannya dan Nathan mengusap wajahnya yang basah,,
" Kita pulang sekarang, Langit sudah mulai mendung sebentar lagi akan turun hujan " Ucap Nathan.
" Eum "
Nathan mengandeng tangan Aira, mereka berjalan melewati jalan setapak di taman yang tidak ramai..
Angin berhembus terasa dingin, langit mulai gelap seakan ingin menumpahkan genangan Air.
Setelah tidak lama Aira masuk ke dalam mobil, gerimis mulai terlihat.
Mobil melaju meninggalkan Taman kota dengan rintikan gerimis sore.
__ADS_1