
Sebuah Rumah kontrakan yang sangat kecil dan di dalam kawasan kumuh Nathan berjalan menuju dimana rumah Bratama tinggal saat ini, Boy terus mengikuti nya hingga anak buah mereka datang menghampiri.
" Tuan, Bos " Sapa mereka
" Bagaimana keadaan nya, Apa mereka melakukan sesuatu."
" Dari pagi tidak aktifitas di rumah Itu Bos, padahal biasanya Anak gadisnya itu selalu keluar dan duduk di teras."
Nathan mengangguk dan kembali melangkah hingga sampai di depan pintu.
Tok,,
Tok,,
Tok,,
" Permisi " Ucap Boy mencoba mengetuk pintu
Tidak lama terdengar suara dari dalam ,,
Kriet,,
Pintu terbuka dan terlihat Melisa dengan pakaian kumuh berdiri menatap mereka.
" Tu- Tuan Nathan " Ucapan Gugup.
" Siapa Ma "
Anggita berjalan keluar dan matanya membulat kala melihat laki laki tampan berdiri menatapnya.
Dia segera membenarkan rambut juga Pakaiannya.
" Tuan Nathan,, Lama sekali kita tidak bertemu. bagaimana kabar Anda sekarang."
Nathan memalingkan wajahnya dan menatap ruang dalam rumah itu.
" Apa boleh kita masuk " Ucap Boy.
" Si - silahkan Tuan "
Nathan berjalan masuk dan duduk di sana, sementara Anggita terus saja menatap dan tersenyum menggoda Nathan.
" Dimana Bratama sekarang"
Deg..
Melisa ketakutan, dia takut jika kedatangan Nathan untuk membawanya ke Kantor Polisi mengingat apa yang sudah mereka lakukan dulu.
" Saya Mohon Tuan, jangan bawa kami ke Kantor Polisi. Kami menyesal sudah melakukan semua itu dan Tuhan kini sudah memberi karma kepadanya kami. " Ucap Melisa berusaha memohon.
" Ma, Apa sih " Kesal Anggita yang masih saja terlihat sombong.
" Maaf Nyonya, Kami datang hanya ingin melihat keadaan Tuan Bratama.. apa kami boleh bertemu dengannya." Ucap Boy.
Melisa mendongak dan mengangguk,,
" Silahkan Tuan "
Melisa berjalan masuk di ikuti Nathan juga Boy, mereka datang ingin melihat kondisi Bratama sekarang.
" Papa " Ucap Melisa menggoyangkan tubuh suaminya.
__ADS_1
Bratama membuka matanya,
sungguh sangat mirip, tubuh nya kini sangat kurus dan hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang.
" Tu- an Nathan " Ucap Bratama hang juga tak kalah kaget dengan kedatangan mereka .
" Bagaimana keadaan Anda, Dan kenapa tidak di bawa Ke Rumah Sakit."
Melisa terdiam,,
Mereka sudah tidak memiliki apa apa lagi sekarang, Simpanan yang sebelumnya mereka miliki sudah habis untuk pengobatan Bratama selama ini.
" Anda lihat Tuan, bagaimana keadaan Papa Saya, Apa Anda sangat tega jika membiarkan kami tetap hidup di sini." Ucap Anggita
" Gita,, " Cegah Melisa.
" Tapi semua benar kan Ma, Kita sudah tidak punya apa apa lagi sementara Papa harus mendapatkan pengobatan apa Mama tega melihat Papa seperti ini."
" Maafkan Putri Saya Tuan "
" Saya akan membawa Tuan Bratama ke Rumah Sakit untuk pengobatan nya. semua akan di urus Oleh orang saya." Ucap Nathan .
" Tidak Usah Tuan. . "
" Bagaimana pun kalian Keluar Istri Saya, Dan Jika Aira melihat kalian seperti ini pun dia akan sedih, Saya tidak mau melihat Aira sedih. Anggap Saja semua ini Saya lakukan Untuk Aira."
Melisa meneteskan air matanya,,
Seperti apa yang sudah dia lakukan dulu kepada Aira, padahal Aira adalah keponakan kandungnya namun dia selalu menyiksanya.
" Saya telah berbuat banyak terhadap Aira dulu, Saya menyesal . tidak seharusnya kalian berbuat baik seperti ini kepadamu Kami Tuan."
" Berterima kasih dan Meminta Maaflah Kepada Aira, Karena dia lah yang sudah sangat menderita dengan sikap Kalian." Ucap Nathan berjalan keluar.
Anggita terus menatap Nathan,,
sungguh laki laki Idaman semua wanita di dunia, bukan hanya tampan, dan sukses dalam bisnisnya namun juga sikap nya yang seperti ini membuat semua kaum hawa klepek-klepek"
" Apa Tuan akan menceritakan semua ini kepada Nyonya " Ucap Boy saat mereka sudah dalam perjalanan.
" Entahlah ,, Aira pasti akan sangat sedih mendengar semua ini, Dan Saya tidak mau melihatnya sedih."
Boy mengangguk,,
" Tapi Maaf Tuan, lebih baik Anda menceritakan kabar ini kepada Nyonya, bagaimana pun mereka adalah keluarga Nyonya."
" Kamu benar Boy,, Saya akan menceritakan semuanya kepada Istri Saya."
Boy mengangguk dan melajukan mobilnya.
Sementara beberapa Anak buah Boy terlihat membawa Bratama, mereka akan membawa nya ke rumah sakit seperti perintah Bos nya.
Melisa juga Anggita pun terlihat mengikuti nya,
********
Aira terbangun karena bermimpi bertemu dengan Keluarga Pamannya, namun mereka hanya terlihat menangis di dalam mimpinya tanpa mau mendekati Aira yang terus memanggil nya.
Astaga,,
Pertanda apa ini,, Bagaimana kondisi mereka sekarang dimana mereka.
__ADS_1
Aira mengusap wajahnya,,
Kabar tentang hilangnya mereka sudah dia tau sejak lama namun dia sendiri tidak tau dimana keberadaan mereka dimana dan bagaimana keadaan mereka.
Ceklek,,
Aira menoleh dan terlihat Nathan yang berjalan masuk.
" Sayang " Ucapnya langsung mendekat.
Aira masih terlihat diam memikirkan mimpi buruknya, dia menatap jam yang ternyata sudah sore.
" Hei ada apa, Kenapa wajah kamu pucat Sayang.. apa kamu sakit ?"
Nathan khawatir dengan keadaan Aira sekarang,,
" Tidak Mas,, Aku hanya baru saja mimpi bertemu Paman Bratama juga Bibi, namun mereka tidak mau mendekat saat aku panggil, tapi di sana mereka terlihat begitu menyedihkan."
Nathan menghela napasnya dan memeluk istrinya,,
" Ssst,, Itu hanya mimpi buruk,, "
Aira mengangguk dan memeluk suaminya,
selalu saja pelukan Nathan membuatnya tenang.
" Maaf ya Mas, Aku malah baru bangun dan tidak bersiap menyambut Mas pulang kerja."
Nathan tersenyum dan menyelipkan rambut istri nya,,
" Tidak perlu semua itu Sayang, Ada kamu di rumah saat aku pulang sudah membuat rasa lelah ini hilang ."
Aira tersenyum,,
" Aku buatkan Teh sebentar."
Nathan mengangguk dan membiarkan istrinya berjalan keluar untuk membuatkannya teh hangat.
Dia pun melepas jasnya dan duduk bersandar dengan memikirkan bagaimana dia akan menceritakan kabar Bratama kepada Aira sekarang.
Namun, dia tidak mau kembali menyimpan rahasia darinya.
Aira berjalan keluar, namun dia mengernyit saat melihat Kamar pojok yang tidak lagi tertutup.
Dia berjalan mendekat dan benar saja jika pintu ruangan itu pun tidak terkunci dan terlihat terbuka.
Ceklek,,
Pintu terbuka, Matanya membulat saat melihat ruangan yang berbeda dengan apa yang di lihatnya kemarin.
Apa Nathan juga telah meminta Pak Seno untuk membersihkannya.
Aira menggeleng dan kembali keluar, bagaimana pun Nathan telah menjelaskan semua dan dia bisa menerima semua itu karena hanya masa lalu suaminya.
" Nyonya Aira " Sapa Seno yang melihat Aira keluar dari kamar tersebut.
Aira tersenyum dan kembali berjalan turun menuju Dapur.
Seno menatap bingung dengan sikap Istri bos nya,
Dia pun menghela dan kembali melangkah untuk membersihkan kamar itu.
__ADS_1
Seno tau jika sebelumnya Aira bingung dengan ruangan itu yang malah kini sudah terlihat bersih bahkan sama sekali tidak adanya foto foto Jessica.