Nathan Dan Aira

Nathan Dan Aira
No. 12


__ADS_3

Air pun terjatuh dengan tangan masih memegang perutnya yang bahkan terasa semakin sakit..


" Aira "


Seseorang yang kebetulan lewat langsung memarkirkan mobilnya,,


Dia lah Nathan, dengan segera berlari menghampiri Aira yang sudah terduduk.


" Aira,, "


Aira mendongak namun rasa sakit yang amat membuatnya jatuh pingsan.


Nathan segera membopong tubuhnya dan membawa ke mobil, dia akan segera membawanya ke Rumah sakit.


Wajah pucat Aira membuat Nathan khawatir juga panik, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap segera sampai di Rumah Sakit.


Rumah Sakit Medistra


Nathan terus membawa masuk Aira dalam gendongannya, beberapa orang bahkan suster di sana menatapnya heran.


Setelah kepergian Jesika juga Mama nya, Nathan sama sekali tidak pernah datang ke Rumah Sakit.


Bagaimana pun,,.


Rumah Sakit Medistra, merupakan salah satu Rumah Sakit milik Keluarga Pratama.


Semenjak semua orang orang yang Nathan sayang meninggal di Rumah Sakit itu, Nathan sama sekali tidak pernah datang ke sana.


" Tu- Tuan Nathan " Ucap Salah Satu Dokter


" Biar Kami yang menangani nya Tuan "


Nathan mengangguk dan menatap wajah Aira yang masih pucat.


Nathan mengusap wajahnya,,


Antara sadar tidak sadar, Dia merasa khawatir dengan keadaan Aira sekarang.


mungkin karena Aira yang sangat mirip dengan Jesika atau memang dirinya sudah mulai menyukai Aira.


Derrt..


Nathan mengambil ponselnya yang bergetar,


Boy lah yang menghubunginya..


" Halo Boy "


" Maaf Tuan, Saya menganggu..


Saya hanya mengingatkan jika jam 9 pagi ini Anda ada janji bertemu dengan Klien "


Nathan menatap jam di tangannya,,


" Batalkan semua Janji saya hari ini "


" Baik Tuan, Tapi Maaf Anda baik baik saja Bukan "


" Saya baik baik Saja."


" Baik Tuan "


Nathan menutup dan kembali menyimpan nya,


matanya menatap dimana pintu tertutup dimana Para Dokter sedang menangani Aira di dalam.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi,


Kenapa dia bisa kesakitan dan pingsan seperti ini.


" Tuan Nathan."


Nathan menoleh saat mendengar Dokter memanggilnya,,


" Bagaimana keadaannya "


" Apa pasien sering makan telat, Karena lambungnya terluka dan ini menyebabkan perut terasa sakit. "


Nathan mengernyit,,


Dia sama sekali tidak mengerti, pantas saja tubuhnya begitu kurus sudah pasti karena sering telat makan.

__ADS_1


" Tapi Tuan tidak perlu khawatir, kami sudah menanganinya dan kami akan segera membawanya ke ruang Inap untuk melakukan beberapa pemeriksaan lagi."


" Lakukan yang terbaik."


Dokter mengangguk dan kembali masuk,,


Nathan berpikir dan semakin merasa heran dengan kehidupan Aira selama ini.


Sementara Adi,,


Dia terus menatap pintu Cafe yang sudah terbuka, dia menunggu Aira yang belum juga sampai hingga siang hari bahkan ponselnya tidak bisa di hubungi.


Ra,,


kamu dimana, kenapa belum Sampai sih..


aku sangat cemas, ponsel kamu saja tidak bisa di hubungi.


Adi terus berusaha menghubungi Aira, namun tetap saja tidak aktif.


" Loh,,Loh,, dimana Aira, kenapa Lo sendiri."


Adi menoleh,,


Anggita datang bersama teman temannya,,


" Git, Dimana Aira, Dia baik baik saja bukan?"


Anggita mengernyit,,


" Kenapa Lo tanya gue, bukannya Lo pacarnya "


" Gita gue serius,, Sampai siang ini Aira belum datang dia tidak sakit kan ?"


" mana gue tau Adi,, Lagian Aira sudah keluar dari rumah pagi."


Adi terdiam,,


Dia semakin khawatir, Aira sudah pergi dari rumah dan kemana dia sekarang.


Nathan yang kini masih menemani Aira di Rumah Sakit pun tak lepas menatap wajah pucat gadis di depannya, terbaring lemah dengan tangan yang terpasang infus.


Apa yang terjadi dengan Gadis di hadapannya itu, apa perlakuan keluarga nya begitu tidak baik terhadapnya.


Dia bekerja dari pagi hingga malam, bahkan keluarga nya bisa terbilang kaya, Sepupunya pun kuliah di salah satu Universitas Ternama sedangkan Aira..


Sedikit yang dia tau tentang Aira namun kini membuatnya semakin penasaran.


Tangannya merogoh saku jasnya,,


tidak lama terdengar suara orang dari seberang.


" Cari tau tentang kehidupan Aira selama ini, dan Laporkan hari ini juga."


Nathan segera menyimpan ponselnya saat melihat Aira yang tersadar.


" Aku dimana " Lirihnya.


Nathan segera mendekat,,


" Lebih baik kamu tetap berbaring."


Deg..


Aira segera mendongak,,


" Aw " Rintihnya kembali memegang perutnya yang masih terasa nyeri.


" Perut Kamu masih sakit, Saya panggil Dokter."


" Ti- tidak Tuan "


Nathan menoleh,,


" saya baik baik saja "


" Baik baik saja kamu bilang, Terus kenapa Kamu pingsan di jalan, jika tadi Saya tidak lewat bagaimana nasib kamu."


Aira menunduk,,


Wajah Nathan yang begitu menakutkan, bahkan Ucapan yang keluar membuat nya sama sekali tidak berani menatapnya.

__ADS_1


" Maaf,, " Ucap Nathan tau jika Aira ketakutan.


Aira menatap jam yang sudah pukul 12 siang,,


" Astaga,, Tuan saya harus bekerja sekarang "


" Tapi kamu masih sakit Aira,"


" Ti- tidak Tuan, Saya baik baik saja."


Aira berusaha bangun,,


dia harus segera mengumpulkan uang untuk Paman dan bibinya, jika tidak dirinya akan kembali di bawa untuk menjadi istri laki laki tua itu.


" Kenapa kamu begitu ingin bekerja, Apa kamu sama sekali tidak menyayangi tubuh kamu."


Aira terdiam,,


Bukan tidak sayang dengan tubuhnya,


namun bayangan wajah Paman juga Bibinya membuat nya takut, apalagi wajah laki laki tua itu.


" Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Kamu mengalami tekuk lambung dan itu karena telat makan, Kamu terus bekerja dan tidak memikirkan tubuh juga kesehatan kamu."


Aira hanya terdiam bahkan menunduk,,


bukan seperti ini yang dia inginkan, sakit dan merepotkan orang.


namun setelah kepergian kedua orang tuanya, dia sudah terbiasa bekerja keras.


Menghidupi dirinya juga keluarga pamannya hingga dia harus kehilangan cita citanya.


Nathan mengusap wajahnya,,


tidak seharusnya dia berkata keras seperti ini, bagaimana pun Aira masih sakit.


" Saya minta Maaf tidak seharusnya saya bicara kasar seperti ini."


Aira mengangguk dan tersenyum namun masih terlihat wajah pucatnya.


Tok..


tok..


tok..


" Permisi Tuan,, Ini Makan siang juga obat nya "


Nathan mengangguk dan menerimanya.


" Saya Permisi Tuan, jika perlu sesuatu bisa memanggil saya "


Nathan menarik kursi untuk duduk lebih dekat,,


" Sekarang kamu makan juga minum obatnya, untuk beberapa hari kamu mesti di rawat."


" Sa- saya bisa sendiri Tuan"


" Tangan kamu masih sakit, "


Aira terdiam,,


Menatap Nathan yang mulai menyendok makanan untuk dirinya.


Dengan perlahan mulutnya terbuka.


satu,dua suap,,


Namun Aira kembali merasa sakit karena memang perutnya belum bisa menerima banyak makanan yang masuk.


" Sudah Tuan, perut saya ,-


Nathan mengangguk dan memberikan obat.


Aira meminumnya,,


" Lebih baik kamu banyak istirahat, Saya tinggal sebentar."


Aira mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya, dia masih Bingung dengan sikap Nathan kepadanya yang begitu baik namun dia juga merasa risih karena sikap juga tindakan Nathan kepadanya.


Mereka baru saja saling kenal, apalagi mengingat siapa Nathan dan dirinya yang terbilang berbeda sangat jauh.

__ADS_1


__ADS_2