
Melisa sudah menyiapkan semua barang barangnya termasuk barang milik Anggita, mereka akan pergi untuk sementara waktu.
menghindari Hendra yang mengejarnya untuk menagih semua hutang mereka, sementara mereka sendiri kini tidak lagi memiliki apapun. semua barang sudah di sita, rumahnya pun sudah di sita oleh Pihak Bank.
" Loh Ma, Kenapa semua barang Kita di luar " Ucap Anggita yang baru saja sampai di rumah.
Melisa menangis dan langsung memeluk putrinya,,
" Rumah kita di sita Sayang, sekarang kita tidak punya apa apa lagi."
Anggita menggeleng,,
" Engga Mah, ini gak boleh terjadi ini rumah kita."
Anggita berusaha membuka pintu rumah nya namun tidak bisa,,
" Sayang,, Sudah Nak.."
" Engga Ma, Gita gak mau tinggal di jalan."
Melisa menarik Anggita,,
karena mereka harus segera pergi sebelum Hendra datang dan bertemu dengan mereka.
" Gita dengerin Mama Nak, sekarang kita pergi "
" Gita gak mau Ma, ini rumah kita."
" Ayo Nak kita harus segera pergi dari sini."
Melisa menarik tangan Gita untuk segera pergi, Bratama sudah menunggu mereka untuk pergi dari kota.
___
Nathan masih memikirkan ucapan Aira siang tadi, dia tidak menyangka jika Aira bisa menanyakan hal itu kepadanya.
Dia pun memijat pelipisnya, memikirkan semua yang sudah terjadi Antara dirinya bersama Aira selama ini.
Mereka sudah dekat, bahkan Nathan seakan sulit untuk meninggalkan nya, dia sangat ingin berada di samping Aira , menemani nya, menjaga nya bahkan melindungi nya dari semua orang yang berniat mencelakai nya.
Namun, pertanyaan Aira membuatnya kembali berpikir.
Tok,,
Tok,,
Tok,,
" Permisi Tuan " Ucap Boy yang baru saja sampai di Mention.
" Masuk Boy."
" Baik Tuan."
Boy berjalan masuk dan berdiri di hadapan laki laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
" Apa semua persiapan untuk pernikahan sudah siap. "
" Sudah Tuan, semua sudah siap sesuai perintah Anda tinggal menunggu Anda juga Nona Aira saja."
Nathan terdiam,,
" Apa ada yang perlu Saya kerjakan untuk Pernikahan Anda Tuan."
" Tidak perlu,, "
Boy mengangguk dan masih terdiam di sana menatap Bosnya yang tampak berbeda, Nathan terlihat memikirkan sesuatu.
" Baiklah,, Saya akan membicarakan dulu dengan Aira kapan dia siap untuk melangsungkan pernikahan ini."
__ADS_1
" Baik Tuan, Saya permisi."
Nathan mengangguk dan berjalan keluar meninggalkan Bosnya yang terlihat berbeda.
Sementara Aira yang berada di kamarnya pun terlihat melamun.
Semua yang berada di pikirannya sudah dia tanyakan kepada Nathan, Walau Nathan tidak bisa menjawab nya namun paling tidak dia sudah menyampaikan apa yang dia pikirkan.
Pernikahan adalah Hal sakral, dan bukan main main saja, apalagi di saat mereka Baru saja saling mengenal.
Aira mengambil foto orang tuanya dan menatap nya,,
Andai mereka masih hidup dan berada di sampingnya, sudah pasti mereka akan bahagia melihat putri nya akan segera menikah, namun tidak saat ini, Aira hanya sendiri, hidup sendiri tanpa adanya keluarga yang menemani nya.
Aira terus menatapnya,,
Tersenyum membayangkan saat saat mereka masih bersama masih berkumpul.
___
Dan hari pun sudah malam,,
Nathan berjalan keluar, tidak terlihat Aira di luar.
setelah mereka berbicara, Aira langsung masuk ke dalam kamarnya dan belum keluar hingga saat ini.
Nathan berjalan turun, hanya ada Seno di lantai bawah.
" Seno " Panggilnya.
" Ya Tuan, Apa Tuan membutuhkan sesuatu."
" Tidak,, Apa kamu melihat Aira dimana dia "
" Nona Aira belum keluar kamar dari sore Tuan, Mungkin Ketiduran."
Nathan mengangguk,,
" Baik Tuan"
Nathan menunggu Seno yang masih menyiapkan nya, dia duduk di sofa dengan masih terus berpikir.
Santi yang melihat nya pun tersenyum, dia mendengar semua pembicaraan mereka sore tadi dan dia berharap jika mereka tidak jadi menikah dan Aira bisa keluar dari mention secepatnya.
Santi segera membuatkan Kopi untuk Nathan, dia berusaha kembali mendekati nya,,
" Loh Santi, Kopi buat siapa ?" Ucap Seno yang melihat Santi membuat secangkir Kopi.
" Tuan Nathan, Baru Saja meminta Saya untuk membuatkannya."
Seno mengangguk dan menatap makanan yang masih di siapkan..
Santi pun berjalan menghampiri Nathan yang masih berada di ruang tengah.
" Permisi Tuan, Ini Kopinya."
Nathan menautkan alisnya, dia tidak meminta untuk di buatkan Kopi tapi kenapa Santi malah membuatnya.
" Saya tidak meminta untuk kamu buatkan Kopi."
" Maaf Tuan, Saya Lihat Anda seperti kelelahan nasi saya sengaja membuatkan nya."
" Kamu Panggil kan Seno, suruh dia cepat."
" Baik Tuan, Kopinya silahkan di minum mumpung masih hangat." Ucap Santi sembari berjalan pergi
Nathan menatap nya namun dia tidak berniat untuk meminumnya,,
tidak lama seno datang dengan nampan yang bersi makan, minum juga potongan buah segar.
__ADS_1
" Apa Saya antar ke Kamar Nona Aira Tuan."
" Biar Saja "
Nathan membawa nampan berjalan menuju kamar Aira,
Sementara Santi menghentakkan kakinya kesal dengan sikap Nathan yang selalu saja dingin terhadap nya, bahkan kopi yang sengaja dia bikin pun sama sekali tidak di Sentuhnya apalagi di minum padahal dia sengaja membuat nya untuk membuat Nathan menerima.
Nathan mengetuk pintu kamar Aira namun tidak ada jawaban membuatnya membuka tidak terlihat adanya Aira bahkan suara dari dalam membuat nya segera masuk.
Namun langkahnya berhenti saat melihat Aira yang tertidur pulas.
Nathan berjalan mendekat dan meletakan nampan di Nakas samping tempat tidur Aira .
Dia pun duduk di sisi ranjang sembari menatap wajah polos Aira yang sangat pulas.
Cukup lama Nathan berada di sana ,menatap wajah Cantik Aira hingga si empunya wajah mengerjapkan Matanya.
Nathan tersenyum dan mengusap wajah Aira,,
" Nathan " lirih Aira
" Maaf Saya sudah mengganggu tidur kamu "
Aira beranjak bangun, dengan Nathan membantunya.
Aira melirik nampan berisi makanan, Pasti Nathan sengaja membawanya ke Kamar.
" Kamu ngapain di sini,"
" Kamu belum makan, Sekarang kamu makan dulu saya sudah membawanya."
Aira terdiam,,
kenapa Nathan selalu baik terhadap nya, Nathan bahkan bersikap biasa setelah dia bicara seperti tadi.
Nathan mengambil Nampannya,,
" Nathan,, "
" Hem,, Ada Apa "
" Maaf Aku sudah bicara seperti tadi, Kau hanya,-
" Ssstt.. Kamu tidak perlu minta Maaf, kamu berhak menanyakan semua itu kepada Saya, Saya minta Maaf karena tidak menjawab nya langsung.
Aira, Saya sudah berjanji untuk melindungi kamu, menjaga kamu bahkan Saya sudah berjanji untuk menikahi kamu.
Semua itu Saya benar untuk melakukan nya, walau kita baru mengenal, namun Saya sudah yakin untuk menikahi Kamu.
Rasa Cinta bisa datang kapan saja, bahkan setelah menikah.
Yan terpenting saat ini, Saya tidak mau melihat kamu menderita ataupun cedera.
Bagi Saya, Kamu sangat berharga Aira dan Saya tidak mau kehilangan kamu."
Aira menatap Nathan,
sorot mata yang sama sekali tidak ada kebohongan di sana, Mata yang seakan menyatakan kebenaran.
Hatinya bahagia mendengar nya,,
Dirinya pun merasa nyaman juga tenang jika berada di sisi Nathan, laki laki yang sudah sangat baik dengannya selama ini.
" Saya janji tidak akan pernah menyakiti kamu Aira." Lanjut Nathan membuat Aira meneteskan air matanya..
Aira mengangguk dan langsung Berhambur memeluknya,,
Nathan memeluk erat tubuh Mungil yang berada dalam dekapannya.
__ADS_1
Mengusap pucuk rambut panjangnya, dan sesekali mengecup nya dalam.