
Adi merasa sangat cemas karena Aira yang sama sekali tidak ada kabar dari semalam bahkan hingga siang pun Aira belum sampai di Cafe.
Dia mencari ponsel nya berniat untuk menghubunginya namun malah sudah lebih dulu telpon masuk dari Aira yang langsung dia jawab dengan serangan kekhawatiran.
" Halo Ra, kamu dimana, kamu baik baik saja bukan ?"
terdengar suara kekehan dari balik Telpon selalu saja Adi merasa khawatir dengan dirinya,,
" Aku baik baik saja Ka, memangnya aku kenapa ?" Balik tanya Aira membuat Adi mengernyit.
Semalam Bahkan Bratama mendatangi Cafe dan mengajak Aira pergi, dan pagi ini Aira masih bersikap biasa bahkan tertawa padahal dirinya sangat khawatir.
" Ra, Hayo lah semalam bagaimana kamu dengan Paman kamu ?"
Terdengar suara helaan napas dari seberang, sudah pasti telah terjadi sesuatu antara Bratama juga Aira.
" Ra,, ?" Ulang Adi.
" Semalam Paman kembali meminta uang itu Kak. "
" Apa, ta- tapi kamu beneran gak papa kan Ra ?"
" Untung nya Nathan datang semalam tapi seperti sengaja Paman malah menceritakan semuanya semalam akhirnya Nathan membayar uang itu."
Deg..
Adi terdiam, Dia tidak ada bandingannya dengan Nathan yang memiliki banyak kekayaan.
bahkan hal seperti ini saja dirinya tidak bisa membantu Aira gadis yang di cintai ya.
" Kak Adi,, Masih di sana kan ?"
" Iya Ra,, "
" Ka, sebenarnya aku mau ijin kalau hari ini aku tidak bisa ke Cafe Nathan menyuruh aku untuk istirahat."
" Oh,, Ya gak papa Ra, Kamu istirahat saja hari ini dan masalah Cafe kamu jangan pikirkan."
" Makasih Kak, dan Maaf Ya Aku sering banget ijin "
" Astaga Aira,, Itu bukan masalah yang terpentingnya tubuh kamu, Sudah lah sekarang kamu istirahat dan jangan pikirkan Cafe."
Adi menutup ponselnya,,
Asia menghela napasnya, sedikit sesak namun siapa dirinya.
Mereka hanya sebatas kakak Adik seperti yang Selalu Aira katakan dan dirinya pun tidak berani untuk mengungkapkan perasaan nya, dia tidak mau jika malah akan merusak hubungan mereka.
selama Aira bahagia, dirinya pun akan ikut bahagia.
_____
Berbeda dengan Adi yang merasa putus asa, Anggita juga Melisa terlihat membeli banyak barang, pakaian juga perhiasan karena uang yang telah mereka dapatkan dari Nathan semalam.
Bratama memang memberikan nya kepada istri juga Anaknya untuk mereka membeli semua yang mereka inginkan.
Selama ini, Baik Melisa ataupun Anggita memang sangat suka belanja dan karena itulah perusahaan terkadang mengalami kerugian.
Hingga akhirnya Bratama meminjam uang kepada Hendra dengan balasan Aira menjadi istri mudanya.
__ADS_1
Bukan hal yang sulit dan menyedihkan bagi Bratama ataupun Melisa, mereka langsung setuju saja walau bunganya terus berjalan.
Mereka sangat yakin jika Aira akan menurut dengan semua ucapan mereka.
" Seneng deh Ma kalo sering shopping gini, Mama liat kan banyak banget baju model baru " Ucap Anggita dengan membuka paper bag di tangan nya.
" Ya dong Sayang,, Mama Juga seneng banget.. sudah lama juga kita tidak belanja kan."
Anggita mengangguk.
Mereka tersenyum menatap barang yang sudah mereka beli.
" Coba saja jika Aira mau menikah dengan laki laki tua itu, sudah pasti kita akan senang dan memiliki banyak uang untuk belanja ."
" Bener Ma, lagian Aira mencari apa lagi sih, sudah untung ada yang mau menerima dia walau laki laki tua gembul seperti Hendra "
Anggita menggidik mengingat tubuh gombal Laki laki tua yang sudah Benyak istri, perutnya buncit, tubuhnya pendek sungguh membuatnya jijik.
" Kamu harus bantu Papa Sayang,, "
" Bantu,, Maksud Mama "
" Jadi Hendra masih ingin menikah dengan Aira, kamu harus membujuk Aira untuk bisa menikah dengan Hendra dengan seperti itu kita bisa terus shopping. " Bisik Melisa.
Anggita tersenyum,,
Mama benar,,
Gue harus cari cara supaya mereka bisa menikah, Dan itu akan membuat gue juga Mama bahagia dengan terus mendapatkan uang dari laki laki tua itu.
Melisa menatap Anggita yang sedang memikirkan sesuatu, dia tau jika Putrinya pasti akan melakukannya.
Nathan terus sibuk dengan pekerjaan nya hingga dia lupa makan siang.
Tok,,
Tok,,
" Ada Apa " Ucap Nathan tanpa melirik datangnya Boy.
" Anda belum makan siang, Jadi Saya bawakan Makan siang. "
Nathan melirik jam di tangannya, sudah hampir jam 1 siang.
" Kamu letakkan di sana, Setelah selesai Saya akan memakannya."
" Baik Tuan "
Boy meletakkan bungkusan di meja dan berjalan keluar, namun berbeda dengan Nathan yang malah menyambar ponselnya dia terlihat mengetikan sesuatu di sana.
Aira yang hanya menonton televisi pun menatap ponselnya yang menyala.
Nathan,,
Ucap Aira menatap layar ponselnya..
Nathan.
Sudah siang, Kamu makan ingat tubuh kamu .
__ADS_1
jangan sampai lambung kamu kembali kambuh.
Aira tersenyum membaca pesan singkat itu, rasanya Nathan sangat baik juga perhatian dengan-nya.
dia pun membalasnya.
Ting,,
Nathan langsung menyambar ponselnya, Senyuman terukir saat tau jika Aira membalas pesannya.
Aira.
Iya,,
Aku makan sekaran, terimakasih.
Anda juga jangan terlalu sibuk, Istirahat dan makan lah.
Nathan menggeleng dan meletakan ponselnya, dia menatap bungkusan yang Boy bawakan untuknya.
Dengan melangkah, dia mendekati dan duduk di sofa sembari membukanya.
Bayangan wajah Aira juga pesan singkatnya sudah sukses membuat Nathan bahagia.
*****
Hari ini Cafe tidak terlalu ramai membuat Adi sering melamun memikirkan hubungan Aira dengan Nathan yang terlihat semakin dekat.
Bahkan Adi selalu memperhatikan bagaimana ekspresi wajah Aira jika sedang menceritakan Nathan , Aira terlihat begitu senang dan bahagia.
apa kamu juga menyukai nya Ra,
Kalian pasangan yang sangat serasi, Nathan bahkan sangat baik kepada kamu, melindungi kamu tidak seperti aku yang tidak pernah bisa melindungi kamu.
Tapi, Bagaimana dengan perasaan ini..
perasaan yang sudah sangat dalam, Kita mengenal sudah sangat lama, dan rasa ini tumbuh begitu saja.
Apa aku harus merelakan kamu bersama laki laki lain, apa aku sanggup melihatnya.
Ya Tuhan,,
Apa yang harus aku lakukan sekarang, Aku sangat mencintai Aira, namun Aku sendiri tidak bisa melindungi nya dari Orang orang yang selalu berbuat jahat terhadap nya.
Namun Nathan, dia selalu ada di saat Aira kesusahan, di saat Aira bersedih, di saat Aira membutuhkan bantuan.
Adi mengusap wajahnya.
" Astaga,, Pantas saja Cafe sepi seperti ini ,, Pemiliknya hanya malas malas an, bagaimana bisa maju"
Adi menoleh,,
Terlihat Anggita juga Melisa yang datang membuatnya semakin malas.
" Kalian, Mau apa kemari " Ketus Adi
" Seperti ini sikap Kamu terhadap pelanggan." Melisa mengacak pinggang mendengar ucapan Adi.
" Ya beginilah mereka Ma, Pantas saja Cafe sepi dan tidak maju." Lanjut Anggita yang seakan mengejeknya.
__ADS_1
Adi menghela napasnya,,
Sudah sangat malas jika berurusan dengan dua wanita seperti ini.