Nathan Dan Aira

Nathan Dan Aira
No. 43


__ADS_3

Melisa terus saja merasa ketakutan dengan tindakan nya hari ini, bisa saja mereka membuat Laporan ke Polisi dan membuatnya masuk Penjara.


" Ma,, Mama di dalam kan " Ucap Anggita mengetuk pintu kamarnya.


" Masuk Sayang "


Gita membuka pintu dan bingung dengan sikap Mamahnya yang terus berada di dalam kamar semenjak sampai rumah, wajahnya pun mulai pucat,,


" Mama kenapa, Mama sakit ?" Ucap Anggita yang merasa khawatir.


" Mama tidak apa , Ada apa kamu mencari Mama "


Anggita menghela napasnya,,


" Ma, Bagi uang dong.. Gita mau jalan sama temen temen Gita."


" Astaga Gita,, Kemarin baru aja Loh kamu shopping"


" Malu dong Ma kalau Gita gak beli sesuatu nantinya apa kata mereka Ma"


Melisa menggeleng dan mengambil uang simpanan nya,,


" Ini " Ucapan memberikan sejumlah uang namun Gita mengernyit.


" Ini sih cuma buat Jajan aja Ma, Lagi dong "


" Kamu Minta sama Papa, Mama sibuk "


Gita Langsung keluar dengan kesal,,


Di Perusahaan Bratama tampak membolak-balik Laporan yang telah di berikan oleh Asistennya, semua laporan keuangan Perusahaan.


" Apa tidak salah, Saham kita menurun drastis dan semua Perusahaan membatalkan kerjasama kita." Ucap Bratama .


" Benar Tuan, mereka secara bersamaan membatalkannya tanpa alasan yang jelas."


Bratama mengusap wajahnya,,


Apa yang terjadi dengan Perusahaan kali ini benar benar seperti mimpi buruknya beberapa Hari yang lalu.


Bagaimana nasibnya nanti, belum lagi hutang hutang dengan Hendra yang belum dia bayar.


" Kamu bisa keluar sekarang."


" Baik Tuan "


Bratama kembali menatap Berkas, tiba tiba ponselnya berdering terlihat Anggita yang menghubunginya..


" Ya Halo Nak "


" Pa, Transfer uang sekarang ya Gita mau Jalan sama temen."


..." Tapi Nak Papa,-...


Tut,,


Tut,,


Tut,,


Anggita begitu saja memutuskan Telponnya, Membuat Bratama semakin pusing.


" Kenapa Lagi Ta," Ucap Bratama saat Telp nya kembali berdering.


" Pa, Ini Mama bukan Gita.. "


" Astaga,, Maaf Ma Papa sedang Pusing."


" Mama Takut Pa, baru saja Mama menghampiri Aira dan akan membawanya ke Hendra tapi ternyata Nathan malah menyewa orang untuk melindungi Aira.


Gimana Nasib Mama Pa, Mama takut jika mereka melaporkan semua ini kepada Polisi."


" Astaga Mama, kenapa Mama bisa bertindak seperti itu, Mama tau apa resikonya jika Nathan tau Mama sudah melakukannya."


" Terus gimana Dong Pa, Mama bener bener takut sekarang "


Bratama semakin di buat pusing dengan tingkah istri dan Anaknya, mereka bukan membantu malah membuatnya semakin pusing.

__ADS_1


_____


" Bagaimana keadaan nya " Ucap Nathan saat Dokter keluar.


" Tidak ada luka serius Tuan, hanya sedikit memar dan Saya sudah mengoleksi salep pada memarnya."


" Syukurlah "


Nathan langsung berjalan masuk dan menghampiri Aira yang tengah bersama suster.


" Permisi Tuan " Ucap Suster keluar dan meninggalkan mereka.


Nathan menatap luka di pergelangan tangan Aira, walau hanya memar dan sedikit namun Nathan merasa bersalah karena sudah membuat Aira terluka hingga seperti itu.


" Hei Kenapa ?" Ucap Aira menatap Nathan .


" Maaf Saya tidak menjaga kamu Hinga Kamu terluka seperti ini." Ucap Nathan penuh sesal.


Aira tersenyum,,


" ini bukan salah kamu, Lagian aku juga baik baik saja jangan menyalahkan diri kamu sendiri."


Nathan memeluknya kembali,,


Dia bahkan sudah berjanji untuk menjaga Aira setelah menyatakan akan menikahinya.


" Kita pulang sekarang " Ucap Nathan dan Aira mengangguk.


Nathan benar benar menjaga Aira, dia sangat hati hati menggandengnya hingga sampai di Mobil.


Aira bahagia karena di perlakukan istimewa oleh Nathan.


Sesekali dia melirik laki laki di samping nya yang masih fokus dengan stir mobil.


sangat sulit di tebak bagaimana watak Nathan, dia sangat dingin namun sangat Perhatian.


Dan kabar tentang kebangkrutan Perusahaan Bratama pun telah menyebar hingga di telinga Hendra yang berada di Kantornya, Bukan hanya di surat kabar namun televisi pun menyiarkan berita tentang keadaan Perusahaan Bratama.


Apa,


Sial,,


saya harus segera mengambil tindakan.


Hendra beranjak bangun dan berjalan keluar, dia akan menemui Bratama untuk menagih semua hutang hutangnya juga Termasuk Aira.


_____


Nathan sampai di mention ya bersama Aira, beberapa pengawal pun sudah berada di sana menunggu Nathan.


" Hati hati " Ucap Nathan saat Aira keluar .


Aira menatap semua pengawal yang tampak menundukkan kepalanya,,


" Mereka,-


" Kita masuk ya " Potong Nathan membawa Aira masuk ke dalam., dia tidak mau jika Aira melihat saat dirinya marah terhadap pengawal yang tengah lengah menjaga nya.


" Tuan, Nona ,, Anda baik baik Saja ?" Ucap Seno


" Saya antar Air ke Kamar, Dan Kamu bawa semua ke ruangan Saya."


" Baik Tuan "


Seno segera keluar dan membawa mereka ke dalam ruang kerja Nathan.


Sesampainya di kamar,


Nathan menatap Aira ,,


" Kenapa kamu menatap Saya seperti itu , Ada apa ?" Ucap Nathan duduk di sampingnya.


" Semua bukan salah mereka Nathan, mereka sudah jaga aku kamu jangan marah sama mereka."


Nathan tersenyum dan mengusap rambut panjang Aira.


" Saya tidak marah kepada mereka , Saya hanya ingin tau dimana mereka saat itu."

__ADS_1


" Janji jangan marah "


" Iya, Sebentar ya "


Nathan mengusap pucuk rambut Aira dan meninggalkan nya,,


Sementara Aira menghela napasnya dan mengambil ponselnya yang berdering.


Kak Adi..


Gumamnya dan menggeser tombol hijau untuk mengangkat nya..


" Halo Kak Adi "


" Ra, gimana keadaan kamu , Tangan kamu tidak kenapa kenapa kan ?"


" Gapapa cuma memar saja Ka, Kak Adi gak usah khawatir ya "


" Syukurlah,, Sekarang kamu dimana ":


" Di Mention Nathan, setelah dari Rumah Sakit Nathan membawa aku pulang. ":


" Oh,, Kamu istirahat.. Maaf ya sudah mengganggu kamu Ra."


" Tidak Apa Kak "


Aira menutup telponnya dan meletakan nya kembali, dia penasaran apa yang di lakukan Nathan.


Tidak bisa di biarin jika Nathan menyalahkan mereka , sementara semua bukan kesalahan mereka.


Aira pun menekan sandal nya dan berjalan keluar, dia akan mencari dimana Nathan bersama para pengawalnya.


" Santi,, Kamu lihat kemana Nathan tadi " Ucap Aira saat berpapasan dengan Santi.


Santi menatap Aira dari atas hingga bawah bahkan pandangan matanya terlihat tidak suka,,


" Mana saya tau " Ucap nya pergi begitu saja membuat Aira menautkan Alisnya heran.


Kenapa Santi bersikap seperti itu, Padahal semua orang di Mention sangat baik Dengan nya.


Aira menggeleng dan berjalan mencari keberadaan Nathan.


Semua ruangan terlihat sepi, tidak terlihat nya Nathan atau pun Seno di sana.


Sementara Nathan masuk ke dalam ruang kerjanya, .dia menatap dua orang yang menjaga Aira.


" Apa yang kalian lakukan sampai membuat Aira cedera, Diman kalian tadi." Ucap Nathan tegas dengan Tatapan seakan ingin membunuh mereka.


" Kami berada di luar Cafe dan Kami mengira jika Wanita itu salah satu pelanggan Cafe , Namun dia malah menarik paksa Tangan Nona Aira.


Ini semua salah kami karena tidak menyadarinya.


Kami minta Maaf Tuan."


Nathan menghela napasnya,,


dia sudah berjanji untuk tidak marah kepadanya mereka,,


" Untung saja Aira tidak mengalami cedera parah, jika semua ini kembali terjadi kalian tau akibatnya.


Kalian bisa keluar . "


" Terima kasih Tuan, Saya permisi.":


Nathan duduk di kursi kebesarannya, memijat pelipisnya.


Ting..


Ponselnya terdengar bunyi, dia pun merogoh jasnya .


Boy.


Semua sudah sesuai perintah Anda Tuan.


Nathan terdiam,,


ini lah salah satu akibatnya telah bermain main dengannya.

__ADS_1


__ADS_2