
Aira membuka matanya merasakan perutnya yang sangat tidak enak,, sangat mual membuat nya segera bangun dan berlari masuk kamar mandi.
Uwek,, Uwek,,
Perut yang sangat mual namun sama sekali tidak ada apapun yang keluar hanya cairan saja lah,,
Aira mencoba mengatur napasnya dan memejamkan matanya, Dia berusaha menahannya.
Cukup lama Aira berada di dalam kamar mandi,,
Tok,,.Tok,,
" Sayang,, Kamu di dalam ?" Ucap Nathan dari balik pintu.
" Ya Mas sebentar"
Aira membersihkan mulutnya dan beranjak bangun, dia tidak mau membuat Suaminya khawatir.
Dengan menarik Napasnya dalam Aira membuka pintu dan terlihat Nathan yang tengah berdiri dengan wajah khawatir.
" Astaga Sayang, Wajah Kamu sangat pucat "
" Gapapa Mas,, Aku hanya sedikit mual "
Nathan memapah Aira kembali ke ranjang dan membantunya Duduk.
" Kita Ke Rumah Sakit ya "
Aira menggeleng,,
Dia hanya ingin istirahat saja di kamar,,
" Gapapa Mas, Mungkin aku hanya kelelahan saja."
Nathan menggeleng dan menggenggam tangan Aira serta mengecupnya.
" Aku buatkan teh hangat sebentar oke "
Aira mengangguk dan Nathan beranjak bangun,,
" Selamat Pagi Tuan " Sapa Seno yang melihat Bos nya turun.
" Tolong buatkan Teh hangat Sekarang." Titahnya kepada salah satu Pelayan rumah.
" Baik Tuan "
Seno menautkan alisnya,,
tidak biasanya Bos nya keluar dan meminta buatkan Teh hangat dan biasanya selalu Aira yang turun untuk membuatkannya teh.
" Ini Tuan "
Nathan menerimanya dan kembali menuju kamarnya,,
Aira yang masih meras mual pun berusaha menahannya, bukan kali pertama baginya merasakan sakit seperti ini dulu di saat dirinya hidup dan tinggal bersama Paman dan Bibi nya sakit pun dia tetap bekerja juga membersihkan rumah dan kali ini dia tidak boleh manja.
" Sayang,, Kamu mau kemana ?" Ucap Nathan yang langsung meletakkan gelas nya dan menghampiri Aira yang akan turun.
" Siapin Sarapan Mas,, "
" Tidak tidak,, Kamu lemas seperti itu , Kamu harus istirahat."
" Tapi Mas,-
" Nurut Apa kata suami."
Aira akhirnya mengangguk dan kembali bersandar pada tepi ranjang.
Nathan mengambil gelas dan memberikan nya kepada Aira.
" Pela Pelan "
Gluk,,
Gluk,,
__ADS_1
Aira meneguk nya bahkan Langsung habis membuat Nathan heran namun dia membiarkan nya asal istri nya tidak lagi lemas.
" Makasih Mas " Ucap Aira memberikan gelas kosongnya.
Nathan duduk di sisi Aira dan mengusap wajahnya yang sedikit pucat, satu tangannya masih menggenggam erat tangan Aira.
" Mas tidak ke kantor , Ini sudah siang "
" Tidak Sayang,, Aku bakal di rumah temani kamu."
Aira tersenyum dan menggeleng,,,
" Mas ,, Aku bener gapapa mungkin tadi karena aku kaget saat bangun, dan ini aku sudah mulai baikan."
" Aku akan ke kantor setelah kondisi kamu baik Oke."
Aira mengangguk,,
karena Nathan akan tetap dengan pendirian nya dan dia lah yang harus menurut.
" Istirahat lah,, Aku bakal di sini temani kamu "
" Eum "
Aira mencoba memejamkan matanya,
Sedangkan Nathan setia di sana menggenggam dan mengusap pucuk rambut Aira.
Seperti di Nina Bobo kan oleh sentuhan tangan Nathan, Aira langsung tertidur lelap.
Nathan membenarkan selimut dan menutupi tubuh Istrinya, dia pun mencari Ponselnya untuk menghubunginya Boy jika dia tidak bisa ke Kantor hari ini.
" Selamat Pagi Tuan." Ucap Boy di Seberang.
Nathan melirik Aira dan berjalan menjauh agar tidak menggangu nya.
" Hari ini Saya tidak ke Kantor, kamu urus semuanya dulu dan beberapa berkas yang perlu Saya tanda tangani kamu bawa ke rumah."
" Baik Tuan, Tapi Maaf Anda baik baik saja ?"
" Nyonya Aira sakit ,, Apa perlu Saya panggilkan Dokter Tuan."
" Tidak Perlu, Aira tidak mau dan saat ini sedang istirahat."
" Baik Tuan, Mudah mudahan Nyonya Aira segera pulih kembali."
" Terima kasih Boy,, Kirimkan laporan ke email saya "
" Baik Tuan ."
Nathan menutup ponselnya dan kembali menatap Aira yang masih terlelap,,
Dia pun meletakan ponselnya dan berjalan keluar.
Dia akan meminta Pelayan untuk menyiapkan bubur dan sup untuk istrinya.
" Tuan,, Apa Nyonya Baik baik Saja ?" Ucap Seno.
" Aira tidak enak badan, Tolong siapkan bubur juga sup untuk istri Saya ."
" Baik Tuan"
Nathan mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar, dia tidak mau meninggalkan istrinya yang masih terlelap.
*******
Sementara di Rumah Sakit,,
Bratama telah di periksa oleh Dokter spesialis yang Nathan Carikan untuknya.
" Bagaimana keadaan Suami Saya Dokter" Ucap Melisa .
" Bisa kita bicara di ruangan Saya Nyonya."
Melisa menatap Bratama yang hanya bisa terbaring, dia pun mengangguk dan mengikuti Dokter.
__ADS_1
" Jadi,, Apa yang terjadi dengan suami Saya Dok."
Dokter terdiam dan melihat hasil pemeriksaan Bratama.
Terlihat jika Bratama mengalami Kelumpuhan di bagian pinggang hingga kakinya.
" Tuan Bratama mengalami Kelumpuhan dari mulai pinggang hingga kakinya."
Melisa menutup mulutnya tidak Percaya,,
selama ini dia mengira jika suaminya hanya mengalami kram biasa dan masuk angin saja.
" Apa Dok, Suami Saya Lumpuh ?"
" Benar Nyonya, Dan sebenarnya ini sudah lama tapi kenapa Anda tidak langsung membawanya berobat, Jika lebih Cepat berobat tidak akan separah ini Nyonya."
Melisa meneteskan air matanya,,
" Itu karena Kami tidak memiliki uang Dok, dan kali ini pun karena Keponakan Saya yang membawanya ke rumah sakit, tapi Dok Saya minta usahakan yang terbaik Untuk nya."
" Pasti Nyonya,, Tuan Nathan sudah meminta Saya melakukan nya."
Melisa mengangguk dan menyeka air matanya,,
" Terima Kasih Dokter, Saya permisi ke ruang Suami Saya kembali."
" Silahkan Nyonya."
Melisa berjalan keluar dengan pikiran kosong, kenapa bisa suaminya mengalami Kelumpuhan, apa semua ini karena sikap dan tindakan mereka yang selalu menyakiti Aira dulu.
" Mama,, " Ucap Anggita .
Melisa kembali menyeka air matanya, dia tidak mau jika Putri juga suami nya tau kabar buruk ini, cukup dia yang menanggung nya apalagi Bratama, dia tidak boleh tau bagaimana kondisi nya sekarang.
" Mama habis menangis, Kenapa Ma, Ada apa ?"
Melisa menggeleng dan tersenyum,,
" Tidak Sayang,, Mama hanya kelilipan."
" Oh,, terus bagaimana kondisi Papa "
" Pa- pa,, Baik baik saja Nak, tidak ada hal yang serius."
Anggita mengangguk dan menatapnya keluar,,
" Gita,, Kamu mau kemana Nak sudah rapi seperti ini."
" Oh,, Gita mau keluar sebentar Ma, Gita mau ketemu temen Gita."
" Teman,, Siapa Nak ?"
" Bukan siapa siapa Ma,,, Ya Sudah Gita jalan dulu."
" Ta- tapi Nak, -
Anggita langsung saja berjala pergi tanpa mendengar apa yang akan Ibunya katakan.
Melisa menggeleng dan masuk ke dalam kamar inap suaminya,,
Namun terlihat Bratama yang sudah terbangun .
" Papa,, " Ucap Melisa mendekat.
" Ma,, papa haus "
Melisa mengangguk dan mengambil gelas di atas Nakas.
Karana kondisi Bratama yang hanya bisa terbaring, Melisa tidak sama sekali meninggalkan Bratama Walaupun hanya sebentar.
" Papa Sarapan dulu ya, biar Maka suapi " Ucap Melisa DNA Bratama mengangguk.
Dengan hati yang sangat perih,
Melisa berusaha ikhlas dan tidak memperlihatkan kesedihannya, dia tidak mau jika kondisi suaminya akan memburuk.
__ADS_1