
Nathan terus menemani Aira di kamarnya bahkan mereka sama sekali tidak keluar, semua makanan juga minuman di antara ke dalam kamar.
Aira benar benar hanya berada di atas tempat tidur sementara Nathan lah yang melakukan semuanya mulai dari menyuapi nya, ke kamar mandi Nathan langsung membopong nya.
bukan semua itu atas kemauan Aira namun Nathan lah yang sangat protektif terhadap istrinya.
" Mas Nathan " Ucap Aira yang mulai merasa bosan.
Nathan yang sedang menatap Layar Laptop nya pun menoleh dan segera menutup Laptopnya..
" Kenapa Hem "
" Aku bosan di kamar terus hanya berbaring di tempat tidur. "
Nathan menatap jam dinding yang menunjukkan Pukul 3 sore.
" Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" Ucap Nathan.
Aira yang mendengar nya pun sangat girang dan langsung mengangguk.
" Aku siap siap dulu " Ucap Aira yang langsung beranjak turun.
" Sayang,, hati hati " Ucap Nathan khawatir dengan Istrinya.
" Eum "
Nathan menggeleng dengan tingkah istrinya yang sungguh menggemaskan,, dia pun beranjak menyimpan Laptop nya di atas meja dan mengambil jaket jeans dan memakai nya..
Tidak lama Aira keluar dengan pakaian santainya, kaos lengan panjang dan celana jeans hitam panjang, rambut yang sengaja dia urai membuatnya terlihat cantik.
Walau setiap hari Aira selalu saja terlihat Cantik.
" Ayo Mas " Ajak Aira menarik tangan Nathan .
Sungguh seperti anak kecil yang sangat senang, Nathan menggeleng namun dia pun menuruti Aira dan berjalan turun.
Beberapa pelayan menunduk melihat mereka turun begitu Pun Seno yang langsung menghampiri mereka.
" Tuan, Nyonya " Sapa nya
" Saya dan Aira akan keluar, Jaga rumah baik baik"
" Baik Tuan "
Aira kembali menarik tangan Nathan sampai di depan Mobil..
" Kalian ,, Ikuti Mobil Saya " Ucap Nathan kepada dua Bodyguard yang berjaga di rumah nya.
" Baik Tuan "
Mereka masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil Tuan nya yang sudah lebih dulu melaju keluar.
Selama perjalanan sesekali Nathan melirik istri nya yang terlihat sangat senang, padahal bukan hanya kali ini mereka keluar namun entah kenapa Aira terlihat begitu senang dan semangat.
Nathan mengusap pucuk rambut Aira dan tersenyum.
____
Sementara di tempat lain,,
Anggita berada di Kantor polisi Untuk menemui Hendra di sana.
" Kamu,, Untuk apa datang menemui saya " Ucap Hendra menatap Anggita.
__ADS_1
" Tuan Hendra,, Apa kabar Anda " Ucap Anggita tersenyum.
" Ciih,, Simpan basa basi kamu, lebih baik kamu segera bicara untuk apa datang menemui saya "
Anggita menghela napas nya dan menatap sekeliling untuk memastikan jika tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Anggita sedikit mendekat,,
" Anda tau bukan soal Pernikahan Aira dengan Nathan ??"
" Jangan pernah sebut nama mereka, karena mereka Saya harus mendekam di sini."
" Aku tau soal itu, Tapi Apa Anda masih sangat menginginkan Aira untuk menjadi istri Anda ."
Hendra terdiam,,
bagaimana pun, Dia masih ingin membuat Aira menjadi istri nya.
kecantikan juga kemolekan tubuh Aira sungguh menggoda nya.
" Hahaha,, Aku tau Anda masih menginginkannya, Saya akan membantu Anda tapi dengan satu syarat."
" Apa yang kamu inginkan."
Anggita tersenyum dan bersandar,,
Dia pun beranjak bangun dan berjalan mendekat serta membisikkan sesuatu kepada Hendra.
" Baiklah Saya setuju." Ucap Hendra membuat Anggita tersenyum dengan penuh kemenangan.
" Baiklah Tuan Hendra,, Saya permisi .. "
Anggita berlenggang pergi begitu saja, sementara Polisi datang dan kembali membawa Hendra ke dalam sel.
Lihat saja kamu Aira..
karena jodoh kamu sebanarnya bukan Nathan tapi Hendra , si laki laki tuan itu.
Boy yang sangat di sibukkan dengan banyak pekerjaan meregangkan otot otot Tangan nya, dia terlihat sangat lelah namun dia tetap kembali menyelesaikan nya.
Tok,,
Tok,,
" Permisi Pak ,, Di luar ada seorang wanita yang memaksa untuk bertemu Tuan Nathan."
Boy mengernyit Bingung,,
Siapa wanita itu, sedangkan Bos nya tidak ada di kantor hari ini.
" Siapa dia ?" Ucap Boy
" Dia hanya bilang jika Adik Ipar Tuan Nathan "
Boy mengangguk dan beranjak bangun, kini dia tau siapa yang datang.
" Dimana dia sekarang"
Belum di Jawab namun sudah terdengar suara teriakan dari luar Kantor membuat beberapa karyawan saling berbisik dengan menatapnya,,
Anggita terdiam saat melihat Boy berjalan menghampiri nya,,
" Ada Apa ini " Ucapnya membuat Anggita segera melepaskan tangan nya dan berjalan mendekat.
__ADS_1
" Kamu bukannya Asisten Kakak Ipar ku, Dimana Kakak Ipar aku ingin bertemu Dengan nya."
Boy menautkan kedua alisnya, dia tidak paham apa yang Anggita maksud dengan Kakak Ipar.
" Maaf Nona, Siapa yang Anda cari dan siapa Kaka Ipar ?" Ucap Boy..
" Astaga,, Apa kamu lupa siapa Saya ? Saya Adik Aira istri dari Bos kamu."
Boy menghela napas nya dengan sikap Anggita yang sangat tidak tau diri.
" Maaf Nona, tapi Tuan tidak sedang berada di kantor saat ini."
" Tidak mungkin,, Aku tau bagaimana Kakak Ipar bekerja,, Jadi Aku mau masuk menemui nya."
Boy Menahan nya ,,
" Lepas " Ucap Anggita menampis tangan Boy..
" Silahkan Anda keluar, Tuan memang tidak berada di kantor, Karena harus menjaga Nyonya Aira yang sedang sakit."
" Apa sakit,, ?"
" Silahkan Anda keluar atau Mereka akan membawa paksa Anda." Ucap Boy menunjuk ke arah dua Satpam yang berdiri menatap nya.
" Baiklah,, Tapi Besok aku akan kembali menemui Kakak Ipar."
Anggita berlenggang pergi begitu saja membuat Boy menggeleng.
" Semuanya kembali bekerja " Ucap Boy berjalan masuk.
Anggita berjalan menyusuri jalanan, dia terus memikirkan ucapan Boy jika saat ini Nathan tidak ke kantor karena menjaga Aira yang sedang sakit.
Apa benar Gadis itu sakit, Bukan nya kemarin dia baru saja ke Rumah Sakit menemui Papa,, Atau jangan jangan Dia memang sengaja bermanja dengan Nathan..
tidak,, ini tidak bisa di biarkan..
enak saja hidup Aira sekarang, melihat Nathan yang begitu menyayangi nya aku tidak bisa ikhlas dan aku harus merebut nya.
Anggita mengepalkan tangannya,,
Dia pun teringat dengan ucapannya bersama Hendra, senyuman licik terlihat di wajahnya.
Oke,, permainan di mulai sekarang..
Anggita kembali melangkah pergi, dia akan kembali ke Rumah Sakit karena sudah seharian dia pergi sudah pasti kedua orang tuanya akan khawatir apalagi saat ini mereka sama sama tidak memiliki ponsel untuk saling berkomunikasi.
Di Rumah Sakit benar saja,
Melisa gelisah menunggu Anggita uang juga belum pulang setelah pergi dari pagi dan bagaimana dia bisa menghubungi putrinya.
" Ma,, Anggita belum pulang ?" Ucap Bratama yang sedari tadi terus menatap istrinya.
" Loh Pa, Papa Kapan bangun?"
" Dari Mama mulai mondar mandir,, Dimana Anggita, Apa dia belum pulang? "
Melisa menggeleng dan berjalan mendekat,,
" Belum Pa, mungkin. sebentar lagi "
Bratama mengangguk dan kembali memejamkan matanya,,
Sementara Melisa kembali menatap pintu, berharap putrinya segera kembali..
__ADS_1