
Nathan membuka pintu dan terlihat Aira yang sudah terlelap,,
Boy datang dan memberikan beberapa berkas yang perlu di tandatangani olehnya juga dia sudah sangat tau bagaimana kehidupan Aira selama ini.
Di tatapnya wajah Aira yang sudah terlelap, sangat damai seakan tidak pernah terjadi sesuatu yang sangat menyedihkan dalam dirinya.
Aira gadis yang sangat kuat, dia bisa bertahan dengan keluarga yang sama sekali tidak menyayangi dirinya.
Ting,,
Nathan merogoh saku jasnya dan mengernyit saat melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.
Tidak lama, ponsel nya berdering dengan nomor yang juga sama mengirimkan pesan kepadanya.
" Halo "
" Akhirnya kamu menjawab telpon dariku "
" Siapa ini "
" Aku Anggita, Kamu masih ingat bukan saat makan malam kita bertemu"
" Ada Apa Anda menelpon saya "
Nathan melirik Aira yang seakan terganggu oleh ucapan nya,,
Dia pun segera menjauh agar tidak menggangu nya.
" Tidak,, Bagaimana jika malam ini kita bertemu dan makan malam bersama."
" Silahkan anda menghubungi asisten saya, dia akan mengatur semuanya."
Nathan menutup telponnya dan menyimpan ponselnya,,
Sementara Anggita langsung tersenyum girang, dia mengira jika Nathan benar menyimpan perasaan untuknya.
Namun dia heran melihat kedua orang tuanya yang sudah terlihat rapi,,
" Pah, Ma ,, Kalian mau kemana ?"
Melisa menghela napasnya,,"
" Rumah Sakit " Ucap Melisa malas.
" Rumah Sakit, memangnya mau ngapain kalian baik baik saja bukan ?"
" Kita baik baik saja, Tapi Aira dia berada di sana." Lanjut Bratama
" Astaga Pah, Ma,, Biarin aja kenapa Dia di sana lagian juga ngapain sih masuk Rumah Sakit ngabisin uang Saja."
" Mama saja malas Sayang, tapi Nathan yang menelpon Papa kamu, mau tidak mau kita harus segera ke sana."
" Apa, Nathan ?? Kok bisa ?"
" Sudah lah,, Nanti saja kamu bertanya. kita harus segera ke Rumah Sakit."
" Aku ikut "
Bratama mengangguk dan mereka berjalan keluar.
Nathan sengaja menghubungi Bratama mengabarkan jika Aira di rawat di Rumah sakit, dia sangat ingin tau bagaimana sikap mereka terhadap Aira.
Sekitar 30menit mereka sampai di Rumah Sakit,,
" Tunggu,, Kita harus bersikap baik dan khawatir dengan Aira di depan Nathan"
" Astaga,, Buat apa sih Pah lagian,-
" Sayang,, Bukannya kamu ingin mengambil hati Nathan turuti permata Papah oke"
" Iya Iya "
Mereka berjalan masuk,,
dan bertemu Boy yang kebetulan masih berada di sana
__ADS_1
" Tuan Bratama,, Nyonya ,, " Sapa Boy tersenyum
" Dimana ruangan Keponakan saya "
" Mari Saya antar "
Bratama mengangguk dan mengikuti nya hingga mereka sampai di depan Ruang VVIP 01.
" Nona Aira di dalam dan Juga Tuan Nathan "
" Terimakasih "
Boy mengangguk..
Ceklek..
Pintu terbuka bertepatan dengan wajah laki laki menoleh ke arah pintu..
Bratama tersenyum dan berjalan masuk,,
" Astaga,, Aira " Ucapnya langsung menghampiri Aira dan mengusap wajah polos Aira yang seakan bingung dengan kedatangan mereka.
" Kamu kenapa tidak menelpon Bibi sih Ra, terus gimana keadaan kamu, mana yang sakit Sayang ?" Lanjut Melisa.
Sementara Anggita hanya diam berdiri namun matanya menatap dimana Nathan berdiri menatap ke arah Aira yang masih saja tampak kebingungan.
" A- air baik baik saja Bi,, "
" Mana mungkin Sayang, Buktinya kamu seperti ini , Bibi benar benar khawatir."
" Tuan Nathan,, Maaf sudah merepotkan Anda dan terimakasih sudah membawa keponakan saya ke Rumah Sakit."
" Sebenarnya saya tidak paham, Kalian tinggal satu atap tapi kenapa tidak ada yang tau akan sakit Aira, Aira bahkan selalu makan telat dan bekerja keras."
Deg..!
Bratama kaget dengan Ucapan Nathan,,
" Sakit Lambung Akut, itu karena makan telat, kelelahan bahkan stres. "
" Ini hanya salah Paham, Aira sangat sulit jika waktunya makan, dia juga sering pilih pilih makanan, Kadang masakan istri saya tidak sesuai dengan kemauannya hingga akhirnya tidak makan, berbeda dengan Anggita yang bisa makan apa saja tanpa pilih pilih."
Nathan tersenyum,,
" Tuan Nathan,, Saya sudah bertemu dan membicarakan masalah makan malam kita dengan Pak Boy." Anggita mencoba mencari celah untuk bisa dekat dengan Nathan.
" Jadi Kalian bisa jalan sekarang, biar Kami yang menjaga Aira.. iya kan Pah.."
Nathan melirik Aira yang tampak diam bahkan menunduk,,
" Apa kamu mau mereka yang menjaga di sini " Ucap Nathan menatap Aira.
Aira mendongak,,
Ingin rasanya dia menolak nya namun melihat wajah Paman juga Bibinya sudah membuat nya ketakutan.
" Aira.. " Lanjut Nathan
" Aku,, Aku,,
" Aira,, Biar Paman juga Bibi yang jaga kamu di sini ya"
Aira terdiam..
Namun Nathan menggeleng..
" Maaf Nona Anggita, Boy baru saja memberitahu Saya jika Anda sama sekali tidak berbicara dengannya saat di Lobi."
Jleb..
Anggita kaget,,
Kapan Boy mengatakan semua itu kepada Nathan , sedangkan Boy berada di luar tidak berada di sana.
" Ta- Tapi,,
__ADS_1
" Aira harus banyak istirahat,, silahkan Kalian pulang biar Saya yang akan menjaganya."
" Tapi Tuan, Bukannya Malam ini kita,-
" Silahkan keluar "
Anggita kesal dan langsung keluar begitu saja,,
" Sayang,, Paman pulang dulu.. kamu istirahat ya besok Paman kembali."
Aira mengangguk,,
Nathan menatap Bratama juga Melisa yang berjalan keluar.
" Istirahat,, Kamu perlu banyak istirahat." Ucap Nathan.
" Tuan terima kasih,, tapi Saya tidak apa apa jika sendiri, Tuan pasti sangat sibuk bukan ?"
" Saya yang bertanggungjawab atas kamu di sini. "
" Tapi Tuan,-
" Saya sudah pernah bilang panggil Nathan "
" Ma- Maaf "
Aira menundukan wajahnya,,
tatap Mata Elang Nathan sungguh sangat menakutkan.
Aneh banget,
kadang baik banget kaya malaikat tapi kadang galak ya seperti bakal nyabut nyawaku.
sebenarnya bagiamana sifatnya..
Aira memejamkan matanya,,
dia tidak mau kembali kena omongan dari laki laki di hadapannya itu,,
wajah datarnya membuat nya kesal.
Nathan menatap Aira yang sudah tertidur.
Dia mengambil ponselnya dan terlihat mengetikan sesuatu.
Hari pun semakin senja,,
Aira masih terlelap dengan lelapnya di sana, sementara Nathan terlihat menatap berkas yang sudah Boy bawakan untuknya.
Selama Aira di Rumah Sakit,
Boy akan selalu mengantar semua keperluan bosnya, bahkan jika ada Berkas yang perlu di tandatangani dia akan segera menuju Rumah sakit seperti saat ini.
" Maaf Tuan, Apa Anda membutuhkan sesuatu"
Nathan terdiam,,
dia tidak mungkin memakan setelan jas selama di rumah sakit seperti saat ini.
" Kamu kembali ke rumah, dan bawakan saya beberapa stell pakaian."
" Baik Tuan,, Untuk makan Anda Tuan"
" Saya bisa memesannya nanti."
Boy mengangguk,,
" Baiklah Tuan, Saya Permisi Apa ada sesuatu lagi Tuan ?
" Tidak hanya itu."
Boy berjalan keluar..
sementara Nathan kembali menatap wajah Aira yang masih berdamai bahkan sama sekali tidak terganggu dengan obrolan mereka tadi.
__ADS_1