Nathan Dan Aira

Nathan Dan Aira
No. 23


__ADS_3

Bratama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, senyuman serta sesekali terdengar tawa dari balik mobil mewah miliknya, bagaimana tidak hari ini cukup membuatnya bahagia seperti dia menang lotre.


Nathan memberikan uangnya cuma cuma untuknya dan itu sangat banyak melebihi uang yang di janjikan oleh Hendra saat itu.


Ting,,


Ponselnya berdering membuatnya mengecak kesal seakan mengganggu kebahagiaan nya.


Dengan satu tangan yang hanya merogoh saku jasnya dia langsung menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.


" Halo siapa ini " Ucapnya tanpa melihat layar ponsel.


" Waw, mulai berani kamu "


Bratama membulatkan matanya dan segera melihat layar ponsel yang ternyata Hendra lah yang menghubunginya.


" Maaf Tuan Hendra, Saya kira orang iseng yang menelpon karena akhir akhir ini begitu banyak orang yang menelpon hanya untuk menawarkan kartu kredit, Tapi Tumben sekali Tuan menelpon, pasti ada sesuatu Apa yang perlu saya Bantu "


" Langsung saja, Bagaimana dengan Keponakan kamu apa dia sudah mau menikah dengan Saya."


Deg..


Bratama terdiam, Dia bingung untuk menjawab nya bahkan hutang hutangnya di Hendra pun masih banyak,,


" Bratama,, Kamu masih di sana bukan ?"


" I- iya Masih Tuan,, "


" Hahahaha,, Bagaimana.. Saya sangat menyukai Keponakan kamu, dia sangat cantik, kamu tenang saja jika dia mau menikah dengan Saya, Semua hutang kamu saya anggap lunas bahkan uang yang saya janjikan waktu itu pun tetap akan saya berikan."


" Tuan Hendra tenang Saja, Saya pasti akan meminta Aira untuk datang ke tempat Anda secepatnya."


" Saya tunggu karena Saya sudah tidak sabar untuk menikahi keponakan kamu."


Bratama menyimpan ponselnya,,


Kini bukan lagi senyuman dalam wajahnya namun dia harus berpikir keras bagaimana bisa Aira datang dan menikah dengan Hendra atau hutang hutangnya akan semakin banyak apalagi Hendra selalu mengingatkan jika ada bunga di setiap bulannya yang terus saja bertambah.


______


Nathan masih menemani Aira di taman,


walau Aira sudah tidak lagi menangis namun masih jelas wajah sedihnya, sesekali pun terlihat tangannya masih menyeka air mata yang masih menetes.


Nathan terus menatapnya,,


Sesak, pedih, teriris rasanya melihat wanita di hadapan nya ini menangis entah kenapa alasannya dan itu sendiri pun Nathan tidak tau.


" Kita pulang sekarang , Ini sudah malam " Ucap Nathan namun Aira menggeleng dia masih ingin berada di sana.


" Tapi ini sudah malam dan Anginnya yang sangat dingin."


Aira tidak bergeming,


dia terus duduk di sana menatap lurus dengan pikiran yang entah kemana hingga Nathan melepas Jasnya dan memakaikannya pada tubuh Aira.

__ADS_1


Aira menoleh,,


" Kamu akan sakit jika hanya memakai pakaian seperti itu."


Sudah hampir satu Jam mereka di sana, Nathan setia menemani Aira ..


" Kita pulang sekarang, Jika terus berada di sini kamu bisa sakit"


Aira terdiam namun akhirnya mengangguk,,


Nathan membawa Aira menuju Mobil yang terparkir tidak jauh.


" Terima kasih " Ucap Aira saat Nathan membuka pintu mobil.


Nathan berjalan memutar dan duduk di kursi kemudi, Mobil pun melaju menyusuri jalanan malam.


Tidak ada obrolan, Hening dan keduanya hanya menatap lurus jalanan.


Nathan sesekali melirik Aira yang terdiam duduk di sampingnya.


Mobil yang melaju mulus sampailah di Depan Apartemen, namun di saat Nathan menoleh terlihat Aira yang malah terlelap di sana.


Nathan terus menatapnya,,


Masih terlihat bekas air mata di wajah Aira, Tangannya terangkat untuk mengusapnya namun dia urungkan karena tidak mau mengganggunya tidur.


Dengan perlahan Nathan membopong tubuh Aira, sedikit kesusahan namun akhirnya Nathan bisa membawanya masuk ke dalam.


Aira seakan merasa nyaman, dia malah bersandar pada dada Bidang Nathan dan sukses membuat Nathan menghentikan langkahnya.


Nathan kembali berjalan hingga sampai di dalam Apartemen,,


Dengan perlahan Tubuh Aira di baringkan di atas ranjang,,


Tangannya beralih mengambil Jas yang masih Aira pegang, namun Aira semakin kencang bahkan kini memeluk Jasnya.


Nathan menghela napas dan membiarkan nya, dia pun hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis yang kini sudah berdamai dengan alam mimpinya.


Nathan meninggalkannya,


dia berjalan keluar dan duduk di sofa, merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah.


Tangannya memijat pelipisnya dengan mata yang terpejam.


Bayangan dimana Aira menangis di taman terus saja berputar dalam otak dan pikiran nya, Aira tampak sangat kecewa dengan kenyataan yang telah dia terima selama ini.


Di tinggal kedua orang tuanya, tinggal bersama Paman dan Bibi yang sama sekali tidak menyayangi nya bahkan mereka memanfaatkan nya selama ini sungguh membuat Aira terpukul.


Gadis mana pun pasti sudah sangat menyerah jika berada di posisi itu namun berbeda dengan Aira yang seakan sabar dan ceria menjalani kehidupan nya selama ini.


Derrt..


Nathan membuka matanya saat merasakan getaran dalam saku celananya.


" Halo " Ucap Nathan saat melihat Seno lah yang menghubunginya.

__ADS_1


" Maaf Tuan jika Saya lancang, Apa Anda baik baik saja karena hingga kini Anda belum sampai di rumah."


" Astaga,, Malam ini Saya tidak kembali, Saya di Apartemen karena Aira tidak enak badan, Dan Tolong besok kirimkan pakaian saya juga sarapan untuk kami."


" Baik Tuan,, "


Nathan menutup telponnya dan meletakan ponselnya di meja, dia kembali bersandar.


Seharian meeting bersama banyak Klien, Staf , mengerjakan semua berkas membuat tubuhnya terasa begitu lelah.


Nathan pun merebahkan tubuhnya di sofa dan langsung memejamkan Matanya. ini


********


Sudah hampir pagi namun Bratama masih tidak bisa tidur, Pikiran nya terus dengan bagaimana caranya untuk Aira bisa kembali ke rumah dan tinggal bersama mereka karena hal itu mudah untuknya membuat Aira menikah dengan Hendra sesuai janjinya.


Aira akan melakukan apapun yang dia katakan.


" Pah,, belum tidur " Ucap Melisa


Bratama menoleh dan menggeleng.


Melisa beranjak duduk,


dia tau jika suaminya sedang memikirkan sesuatu.


" Papah mikirin apa sih, Ada Maslah di kantor ?"


Bratama menggeleng,,


" Terus kenapa tidak tidur ini sudah hampir pagi "


Bratama menatap Melisa,,


" Tuan Hendra menghubungi Papah lagi. "


" A- Apa, Dia tidak menagih hutang hutang itu Kan Pa ?"


Bratama menghela napasnya,,


" Dia minta untuk Aira menikah dengannya atau hutang hutang kita harus di bayar beserta bunganya."


Melisa menggeleng,,


bahkan jika mereka harus membayar hutang itu, mereka bisa jadi gembel dan hidup di jalanan.


" Terus bagaimana ini Pa, Aira sekarang bersama Nathan dan uang yang baru saja Nathan transfer, bagaimana itu Pa ?"


" itu juga yang sedang Papa pikirkan, Bagaimana Aira bisa kembali ke rumah ini dulu dan setelah itu kita baru bisa memintanya menikah dengan Tuan Hendra. Aira akan menurut jika sudah berada di rumah ini dan masalah uang yang sudah masuk, bagaimana pun bukan kita yang memintanya namun Nathan sendiri lah yang mengirimkan uang itu."


Melisa mengangguk,,


" Apa Papah sudah memikirkan caranya ?"


Bratama terdiam,,

__ADS_1


Dia memikirkan sesuatu, Untuk bisa membuat Aira kembali tanpa Nathan ikut campur dengan masalah mereka.


__ADS_2