
Aira sampai di Cafe namun dia masih saja berpikir tentang kebaikan Nathan kepadanya,,
" Ra,, Kamu baik baik saja bukan atau ada yang sakit kita ke Rumah Sakit " Ucap Adi
" Tidak Ka, Aku baik baik saja hanya,-
Aira tidak melanjutkan ucapannya, tidak mungkin dia menceritakan semua kepada Adi.
" Hanya ? " Ulang Adi menautkan alisnya
" Tidak,, Gapapa Ka "
Aira tersenyum dan berjalan masuk,
Sementara Adi menatap bingung dengan sikap berbeda Aira hari ini.
Seno baru saja sampai di mention, tidak lama ponselnya berdering dan sudah pasti Nathan lah yang menghubunginya.
" Selamat Siang Tuan "
" Bagaimana Aira, Dia sudah sampai di Cafe "
" Sudah Tuan, baru saja Saya mengantar nya sampai di Cafe."
" Bagus "
" Maaf Tuan, Apa setelah pulang nanti Saya menjemput Nona Aira kembali."
" Tidak Perlu "
" Baik Tuan "
Seno menggeleng,,
Dia sangat paham betul bagaimana sifat Bosnya,,
Nathan menyandarkan kepalanya,,
Dua hari tinggal bersama Aira di Apartemen membuatnya selalu memikirkannya, dulu di saat Aira tinggal di rumahnya Nathan tidak begitu memperdulikan nya namun setelah dia tau bagaimana kehidupan Aira, hingga sampai masuk Rumah Sakit entah mengapa dirinya ingin selalu berada dekat dan melindungi nya.
Tok..
Tok..
Tok..
" Permisi Tuan, Tuan Bratama ingin bertemu dengan Anda." Ucap Boy
" Bratama,, Mau apa lagi dia datang "
" Dia hanya menyampaikan jika ingin bertemu dengan Anda."
" Bawa dia Masuk."
" Baik Tuan "
__ADS_1
Boy keluar dan tidak lama terlihat Bratama datang dengan wajah yang berbeda saat di Restoran.
" Maaf jika Saya datang mengganggu Anda Tuan Nathan tapi Saya,-
" Silahkan Duduk " Potong Nathan
Bratama duduk dengan wajah yang masih sedikit menunduk.
Selama perjalanan Bratama terus berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan Maaf dari Nathan, dia tidak mau jika mendapat masalah bahkan bisnisnya bangkrut hanya karena Ucapannya.
" Saya tidak punya banyak waktu, Silahkan langsung katakan apa yang ingin Anda katakan."
Bukan Nathan jika langsung berkata sarkas, dalam dunia Bisnis Nathan sangat terkenal sebagai pembisnis muda yang tegas dan kejam hingga banyak di takuti oleh banyak orang.
" Saya Minta maaf atas ucapan di Restoran, bukan maksud Saya mengatakan semua itu terhadap Anda bagaimana Aira keponakan Saya dan Anda sudah menolongnya, Saya benar benar tidak sengaja mengatakan semua itu. "
Nathan tersenyum sinis..
" Apa alasan Anda datang menemui Saya dan Minta Maaf, Bukannya Anda bahkan akan melaporkan Saya?"
" Ti - tidak Tuan,, Itu hanya gertakan saya saja dan saya sama sekali tidak serius."
" Gertakan,, Apa Seperti itu juga yang Anda lakukan kepada semua orang juga Aira selama ini ?"
Bratama tidak menjawab dan hanya menunduk.
" Saya bisa saja melaporkan Anda atas apa yang sudah Anda lakukan terhadap Aira, dan sudah pasti jika Anda akan di hukum seberat beratnya, namun Saya melihat Bagaimana Aira yang berhati baik mau memaafkan Anda membuat Saya mengurungkan niat saya."
" Saya Minta Maaf Tuan, Saya janji tidak akan mengganggu Aira atau mengganggu nya."
" Baik Tuan Saya Mengerti,Saya permisi Terima kasih Atas waktu Anda."
Nathan mengangguk,,
Dia sama sekali tidak mengantar Bratama yang berjalan keluar.
Boy yang melihat Bratama Keluar Pun tersenyum,,
Sebenarnya Apa yang sudah Aira lakukan hingga seorang Nathan begitu melindungi nya, Mereka sudah sering tinggal bersama atau malah Mereka sudah melakukan nya, Atau mungkin Aira telah menggodanya hingga Nathan bisa bersikap seperti ini, melindungi nya.
Bratama terus berpikir dengan semua yang menurutnya tidak masuk akal.
Bahkan semua orang sangat tau jika Nathan sangat menjaga jarak dengan seorang wanita karena namun Aira,?
Dengan sangat mudahnya Nathan bisa luluh terhadapnya.
Bratama melajukan mobilnya kembali ke Perusahaan, setidaknya untuk saat cukup tenang baginya, Dan untuk hubungan antara Aira dengan Nathan dia akan mencari tau.
Di Kediaman Bratama,,
Melisa terus merasa kesal, tidak ada lagi Aira yang bisa dia siksa, bahkan kini sudah tidak ada pelayan di rumahnya dan dia sendiri yang harus membersihkan dan menyiapkan makanan untuk orang rumah.
Beberapa Pelayan mengaku tidak betah dan keluar kerja karena sikap mereka yang begitu sombong juga seenaknya saja.
Di saat Ada Aira, Tidak ada pelayan pun Melisa tenang karena semua akan di kerjakan Aira namun sekarang dia sendiri lah yang melakukan nya.
__ADS_1
" Ma,, Kok belum ada makanan sih Gita Lapar " Ucap Anggita yang baru saja sampai rumah.
" Astaga Gita,, Gak usah teriak mending kamu masak Mie atau apa lah, Mamah Capek seharian beresin rumah."
" Mie Instan Lagi ,, Ma, Kemarin, semalam Gita makan Mie terus Loh masa sekarang juga mie lagi yang ada usus Gita ikut kriting lagi."
" Ya Udah Pesan bisa Kan,, "
" Uang Gita Habis Ma, Papah belum transfer lagi "
" Sama Mama juga sudah tidak ada Uang, Andai saja Aira di sini, Kita tidak akan seperti ini, Mama tidak akan capek, rumah beres makanan pun siap bahkan kita bisa keluar membeli apa saja."
" Iya Ma, Lagian kenapa sih Mamah juga Papah gak bisa ajak Aira balik, aku juga sudah pengin ngerjain dia lagi Ma."
" Sayang,, Sekarang Aira bersama Nathan dan kita tidak bisa dulu mengganggu nya."
" Kenapa sih Aira harus mengenal Nathan, Kenapa tidak sama Adi aja coba."
Melisa mengangguk,,
" Terus gimana Ma, Gita Laper banget."
" Ya Sudah Kamu masak Mie, Mama Capek mau istirahat."
" Mamah."
Melisa terus berjalan masuk ke dalam kamarnya, Sementara Anggita menghentakkan kakinya kesal, tidak ada makanan di rumah, Dia bahkan selalu makan mie jika merasa Lapar.
Mie Lagi Mie Lagi..
tiap hari makan Mie instan, Bisa kriting usus gue..
lagian Apa sih yang di sukai Aira, Cantika juga gue, **** juga tubuh gue..
Kenapa Nathan bisa suka dengannya,,
Anggita berjalan masuk dapur dan memasak Mie, Dia terpaksa karena memang sangat lapar.
Melisa merebahkan tubuhnya yang terasa sangat pegal, mulai pagi dia bangun, memasak dan membersihkan rumah, membereskan semua semua bekas makan mereka.
Rasanya sangat lelah, semua tubuh ini sangat pegal, pengin rasanya pijat.
Kapan Aira kembali, Jika dia ada sudah pasti aku tidak akan seperti ini, Makan tinggal makan, Pegal panggil dia dan langsung pijat, Rumah bersih bahkan Aku bisa belanja dengan gaji miliknya.
Melisa merebahkan tubuhnya,,
memejamkan matanya dan tidak lama pun terlelap karena rasa lelahnya.
Sedangkan begitu berisik juga berantakan di dapur, Anggita hanya memasak Mie namun semua barang di sana berantakan juga sampai berserakan padahal baru saja semua di bersihkan juga di bereskan oleh Mamahnya.
Akhirnya matang juga,,
Makan dulu deh..
Anggita membawanya ke meja makan dan meninggalkan dapur yang seperti Kapal pecah.
__ADS_1